bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arga," panggil Nadira pelan.
Pria itu tidak bergerak. Bahu Arga mengeras, seolah menolak kehadiran siapa pun di
ruang pribadinya.
Nadira menghampiri, meletakkan cangkir teh itu di atas meja kayu. Cahaya lampu taman yang redup membuat wajah Arga terlihat lebih tajam dan lelah dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, bukti
kurang tidur yang sudah berlangsung selama berminggu-minggu.
"Ini, minumlah," ucap Nadira, suaranya sengaja dilembutkan agar tidak terdengar seperti perintah.
Arga menoleh perlahan. Alisnya berkerut dalam saat matanya menangkap sosok Nadira yang berdiri di sebelahnya. Pandangan mereka bertemu, namun mata Arga terasa tajam, penuh dengan kecurigaan yang merasuk sejak pagi.
"Kamu buat ini?" tanyanya, nada suaranya parau namun terdengar sangat dingin.
"Aku yang menyeduhnya sendiri. Tidak pakai gula, seperti yang kamu suka," jawab Nadira,
mencoba menunjukkan perhatian kecil yang mungkin bisa mencairkan suasana.
Arga mengambil cangkir itu, namun jari-jarinya sengaja tidak menyentuh kulit tangan Nadira. Ia mencium aroma teh tersebut, lalu menatap cairan itu dengan curiga.
"Apa ini bagian dari rencanamu?" tanyanya tiba-tiba, matanya menyipit tajam menatap wajah Nadira. "Kamu inginku lengah, lalu kamu akan meminta tanda tangan untuk pemindahan saham? Atau kamu menaruh sesuatu di dalamnya agar aku bisa tidur nyenyak dan kamu bisa isi membongkar lemariku?"
Nadira terdiam. Hatinya sesak mendengar tuduhan itu, namun ia tahu kemarahan tidak
akan menyelesaikan masalah. Ia menghela napas pelan, berusaha menahan emosi
Clarissa yang seolah ingin meledak dan memaki Arga.
"Aku hanya ingin kita memulai segalanya dari awal, Arga," ucap Nadira, menatap langsung ke dalam mata suaminya.
"Dari awal?" Arga mendengus keras, meletakkan cangkir itu kembali ke meja dengan suara dentuman keras. "Jangan bercanda, Clarissa. Kamu tahu persis tidak ada awal yang bisa diperbaiki dari pernikahan ini. Kau membenciku, dan aku membenci keberadaan kamu di rumah ini."
"Tidak," sela Nadira cepat. "Mungkin dulu aku membenci kamu, tapi sekarang ini berbeda. Aku tidak ingin berperang dengan kamu lagi."
Arga menatapnya dengan pandangan yang sulit diterka. Ada kebingungan di sana,
bercampur dengan amarah yang sudah mengakar.
"Kamu selalu pandai bicara," gumamnya.
Namun, perlahan, ia mengambil cangkir itu lagi dan menyesapnya. Gerakan tenggorokannya yang bergerak saat menelan teh itu adalah satu-satunya tanda bahwa ia
mulai sedikit mencair, meskipun ragu.
Melihat Arga mau menerima tawaran itu, Nadira merasa ada harapan kecil. Ini adalah
langkah pertama yang sangat krusial. Jika ia bisa membuat Arga percaya bahwa ia bukan
lagi wanita jahat yang dulu, maka posisinya di rumah ini akan lebih aman. Ia membutuhkan
sekutu, bukan musuh tambahan, terutama menghadapi Dinda yang terus berusaha
mengambil alih warisan kakek.
"Terima kasih," bisik Arga, suaranya sedikit parau. Nadira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah ia berikan pada Arga sejak ia masuk ke tubuh Clarissa.
"Aku akan meninggalkanmu istirahat sekarang. Besok pagi, aku akan menemanimu sarapan jika kamu berkenan."
Nadira berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Arga kembali bicara.
"Nadira," panggil pria itu. Napas Nadira tertahan. Bagaimana Arga bisa tahu nama itu? Clarissa tidak pernah ingin dipanggil Nadira. Namun, ia memilih untuk tidak menoleh, takut jika ia berbalik, wajahnya akan menunjukkan keterkejutan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia hanya mengangguk pelan di kegelapan, lalu masuk kembali ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Nadira bersandar pada pintu yang tertutup. Dadanya naik turun, mencoba
menenangkan diri. Ternyata, tugas mendapatkan warisan dua ratus triliun itu tidak hanya soal mengalahkan Dinda. Ia harus menghadapi hantu masa lalu Clarissa di setiap sudut rumah ini.
Jika ia salah sedikit saja, semua yang ia rencanakan akan hancur dalam sekejap.
Sementara itu, di balkon, Arga menatap cangkir kosong di tangannya. Keraguan masih mengganjal di kepalanya. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari teh tadi. Rasanya persis seperti yang biasa ia minum saat masih kuliah dulu, resep yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Ia mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya wanita yang tidur di kamar
sebelah itu?
Arga menarik napas panjang, suara gesekan kain jasnya yang kusut terdengar jelas di
ruang tamu yang sepi. Ia menatap tumpukan dokumen di meja, lalu membuang
pandangannya ke jendela besar yang membingkai kegelapan malam.
Clarissa biasanya akan langsung berteriak meminta kopi atau menggebrak meja jika melihat kerutan di kening Arga. Namun, malam ini Nadira hanya duduk diam di sofa bersebelahan, menunggu dengan kesabaran yang tak biasa. Arga membuka rahasia masa lalunya yang kelam dengan suara parau, menceritakan tentang pengkhianatan yang membusukkan kepercayaannya kepada orang-orang terdekat.
Nadira mendengarkan dengan penuh perhatian, menyeruput air putih hangat dari cangkir kaca agar tangannya sibuk. Ia menyadari bahwa pria urakan yang selalu ia anggap dingin ini sebenarnya menyimpan luka yang mendalam, tersembunyi di balik tatapan tajamnya.
Di bawah sinar rembulan yang menembus celah gorden, suasana di antara mereka terasa lebih intim daripada sebelumnya.
Keheningan mengudara, bukan keheningan yang menyesakkan, melainkan ruang aman
bagi Arga untuk meletakkan beban hatinya.
Nadira merasakan ada koneksi yang mulai
terbangun, sebuah benang tipis yang mengikat mereka dalam kerentanan yang sama.
Namun, ketenangan itu menguap seketika saat sebuah suara denting pelan terdengar dari arah samping ruangan. Nadira menoleh cepat, melihat bayangan yang bergerak di balik dinding kaca ruang kerja. Ia tahu bahwa di balik kemegahan rumah ini, musuh-musuh
sedang mengintai, mungkin saja Dinda atau konspirator lainnya yang memasang telinga.
Insting Nadira untuk bertahan hidup segera bangkit, memaksanya untuk tidak lengah
sedikit pun meski hatinya sedang melembut.
Ia harus tetap waspada, memisahkan empati
sesaat dari ambisi besarnya untuk mengamankan warisan dua ratus triliun tersebut.
Arga mendongak, matanya menyipit menatap kegelapan di luar jendela.
"Kamu mendengarnya juga?" tanyanya dengan suara bergetar, menunjukkan bahwa ia juga merasakan bahaya yang mengintai.
Nadira mengangguk pelan, menutup buku kenangan yang tadi dibacanya dengan hati-hati. Malam ini adalah awal dari perubahan besar, sebuah titik di mana batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Nasibnya di keluarga ini akan ditentukan dalam waktu dekat, tergantung pada seberapa jauh ia bisa memanfaatkan
kerapuhan Arga tanpa terjatuh ke dalam perangkap yang lebih dalam.