Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Api Fitnah Kian Membesar
Malam itu, Daril pergi ke warung kopi yang tak jauh dari rumahnya. Dari kejauhan ia melihat beberapa pria duduk melingkari meja sambil merokok. Saat semakin dekat, aroma kopi panas dan asap rokok mulai menyapa indera penciumannya.
Daril tinggal beberapa langkah lagi dari warung itu ketika sebuah suara memanggilnya.
"Ril." Seorang pemuda melambaikan tangan. "Duduk sini."
Daril menarik kursi lalu duduk di antara mereka.
"Katanya Vira mau dilamar Hartato, ya?"
Daril hanya mengangkat bahu.
"Iya, tapi sekarang malah muncul gosip baru." Pemuda lain merendahkan suaranya. "Katanya Vira sudah gak perawan."
Daril pura-pura terkejut. "Hah? Dari mana dengarnya?"
"Gak tahu siapa yang mulai. Yang jelas seharian ini orang-orang ngomongin itu."
Semua mata kini beralih kepada Daril.
"Kamu mantannya. Masa gak tahu apa-apa?"
Daril terdiam sejenak. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakan dan menghisapnya, lalu mengembuskan asapnya pelan.
"Aku..." Ia menggantung ucapannya.
Beberapa orang makin penasaran.
"Gimana, Ril?"
Daril mengusap tengkuknya. "Namanya juga kami pacaran hampir empat tahun."
Tak ada penjelasan lagi darinya. Namun justru kalimat itu yang membuat mereka saling berpandangan.
"Sampai empat tahun, lho."
"Iya," sahut Daril singkat.
Seseorang menyenggol lengan Daril. "Jangan-jangan gosip itu benar?"
Daril menghela napas panjang. "Maaf." Ia menundukkan kepala. "Aku gak enak kalau harus ngomongin mantan. Tapi..."
Daril tersenyum tipis. "Aku cuma bisa bilang... hubungan kami memang jauh lebih dekat daripada yang orang-orang kira."
Lagi-lagi ia berhenti. Tak ada pengakuan atau bantahan. Namun kalimat itu sudah cukup membuat imajinasi mereka bekerja sendiri.
"Wah..."
"Pantes aja."
"Kalau gitu berarti..."
Daril buru-buru mengangkat tangan. "Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Apa pun yang terjadi, aku tetap gak mau jelek-jelekin Vira."
Ucapan yang terdengar seperti membela itu justru menjadi pemantik terbesar.
Beberapa pria langsung mengangguk seolah telah menemukan jawabannya.
"Iya, iya... kami paham."
"Namanya juga laki-laki."
Daril menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris terbit di sudut bibirnya.
Ia tidak perlu menyebarkan fitnah. Ia hanya membiarkan orang lain menyimpulkan sendiri.
"Mendengar kata-kataku mereka pasti bakal berimajinasi. Lalu membuat kesimpulan dari kebohonganku. Siapa suruh Vira mutusin aku," batin Daril merasa menang.
***
Keesokan paginya, Vira membuka tokonya seperti biasanya. Lima menit kemudian, beberapa ibu yang sepertinya sedang jalan pagi mampir.
"Ra, beli telur sekilo."
"Ibu beli beras dua liter."
"Aku mau beli mie instan."
Yang lain memilih dan mengambil barang belanjaan masing-masing.
"Silakan pilih, Bu," ujar Vira sambil mulai menakar beras.
"Eh, Vira," ucap ibu-ibu yang membeli beras. Namun tatapannya diam-diam berhenti di leher Vira.
"Iya, Bu?"
"Leher kamu kenapa itu?"
Vira refleks menyentuh lehernya.
"Oh, ini?" Ia tertawa kecil. "Tadi subuh kena tomcat. Bangun-bangun langsung perih. Kayaknya pas tidur nempel di bantal."
"Oh..."
Beberapa ibu mengangguk pelan. Namun, entah siapa yang memulai, salah seorang berbisik lirih.
"Kok merahnya mirip..."
"Maksudmu..."
"Bekas cupang?"
Suara itu memang pelan, tetapi cukup terdengar oleh beberapa orang di sekitar.
Vira tidak terlalu memedulikannya. Ia melanjutkan menakar beras.
Di depan warung, Yanti yang hendak menyapu halaman langsung menghentikan langkahnya.
Tatapannya tertuju pada bercak merah di leher Vira. Jantungnya berdegup kencang.
"Bercak merah..." Sudut bibirnya nyaris terangkat. "Tuhan pun membantuku."
Ia buru-buru mulai menyapu agar tak ada yang melihat senyum puasnya.
Salah seorang ibu kembali berbisik. "Kemarin Yanti juga bilang pernah lihat leher Vira merah-merah."
"Iya..."
"Terus katanya sering dengar suara laki-laki dari kamar Vira."
"Jangan-jangan..."
Tak ada yang berani menyelesaikan kalimat itu.
Namun tatapan mereka kepada Vira mulai berubah. Penuh tanda tanya dan prasangka.
Yanti pura-pura mendesah pelan sambil menyapu.
"Saya sebenarnya berharap semua itu cuma salah paham," ucapnya lirih, cukup keras agar beberapa ibu mendengarnya.
"Tapi... saya juga bingung harus bilang apa."
Ucapan singkat itu justru membuat keraguan di hati mereka semakin membesar.
Sementara itu, Vira yang sibuk melayani pembeli sama sekali tidak menyadari bahwa bercak merah akibat tomcat di lehernya telah berubah menjadi "bukti" yang menguatkan fitnah yang sengaja ditebar Yanti.
Dalam hitungan menit, bisik-bisik kembali menyebar dari satu orang ke orang lain.
Dan seperti biasa, gosip berkembang jauh lebih cepat daripada api yang menjalar di sekam.
***
Menjelang sore, Mirna pulang dari warung dengan langkah tergesa-gesa. Begitu masuk rumah, wajahnya tampak berseri-seri.
"Ril!"
Daril yang sedang duduk di ruang tengah menoleh. "Ada apa, Bu?"
"Kamu tahu gak? Sekarang satu kampung lagi ngomongin Vira."
Daril mengernyit. "Ngomongin apa?"
"Katanya Vira sering bawa laki-laki masuk ke kamarnya. Bahkan ada yang bilang dia berzina di rumahnya sendiri."
Mata Daril langsung membulat. "Apa?"
Ia mengenal Vira cukup lama. Seburuk apa pun hubungan mereka sekarang, ia sulit mempercayai tuduhan itu.
"Itu gak mungkin," gumamnya pelan.
Mirna hanya mengangkat bahu. "Entah benar apa gak. Yang jelas, sekarang orang-orang lagi ramai membahasnya."
Daril terdiam. Ada keinginan untuk membantah, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat.
Mirna memerhatikan perubahan raut wajah putranya, lalu tersenyum tipis. "Justru ini kabar bagus."
Daril menoleh.
"Semakin rusak nama Vira. Mirna tersenyum licik. "semakin kecil kemungkinan ada laki-laki yang mau mendekatinya."
"Tapi..."
"Kamu tahu kabar itu awalnya dari mana?" potong Mirna.
Daril menggeleng.
"Ibu yang lebih dulu menggiring orang-orang supaya berpikir hubunganmu sama Vira dulu sudah kelewatan."
Daril membelalak. "Ibu?"
"Iya." Mirna tersenyum puas. "Tapi soal gosip dia berzina di rumah, itu bukan dari Ibu."
"Lalu dari siapa?"
"Gak tahu." Mirna mengangkat bahu. "Mungkin ada orang lain yang juga gak suka sama dia."
Mirna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ya syukurlah. Jadi Ibu gak perlu capek-capek lagi."
Daril mengusap wajahnya pelan. "Bu... apa Ibu yakin orang-orang bakal percaya?"
Mirna terkekeh kecil. "Gosip itu gak perlu dipercaya semua orang."
"Maksudnya?"
"Selalu ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada yang gak percaya." Mirna menatap putranya lekat. "Tapi itu gak penting."
"Yang penting?"
"Nama Vira sudah terlanjur rusak."
Daril terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Ia tidak percaya Vira melakukan semua itu.
Namun... Ia juga tidak berniat meluruskan fitnah yang kini semakin membesar.
Daril mengepalkan tangannya. "Selama gosip itu membuat laki-laki lain menjauh dari Vira... maka peluangku buat dapetin Vira akan tetep ada."
...✨"Kebohongan menjadi semakin kuat ketika orang yang mengetahui kebenaran memilih diam."...
..."Tak semua yang menghancurkanmu melempar batu. Ada yang hanya melempar kata, lalu membiarkan orang lain menyelesaikan sisanya."...
..."Prasangka adalah pengadilan paling kejam. Vonis yang dijatuhkan sebelum kebenaran diberi kesempatan berbicara."...
..."Lidah yang menebar fitnah mungkin berhenti berbicara, tetapi luka yang ditinggalkannya bisa bertahan sangat lama."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄
mirna sm daril hukim untuk minta maaf dan denda sejumlah uang.. krn dia sdh menyebabkan usaha vira menurun., dan biarkan hukuman sosiak daru masyarakat..