Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peresmian markas baru
"Cek aqua, satu dua.. Aqua di cek satu dua ... Ehem, ehem! Teng-teng-teng-teng... Welcome to para hadirin yang terhormat, yang saya sapa dengan ceria pak Jeremy Aslan selalu pemilik tanah dan bangunan,"
Jeremy yang berdiri tak jauh di depan Claire membuka mulutnya, tercengang dengan apa yang sedang dia saksikan di depan matanya. Istrinya sedang berdiri paling depan tepat di depan bangunan kecil yang baru selesai di bangun itu. Ada pita merah putih melintang di pintu masuk, dan di tangannya sudah tergenggam gunting besar yang berkilau. Di sampingnya berjejer Kiara, Lordan dan Kean yang sudah datang tepat waktu.
"Terimakasih juga kepada semua pekerja di rumah ini yang telah dengan senang hati turut hadir merayakan peresmian markas kami tercinta ini," Seru Claire lagi dengan suara lantang, tangan yang satunya menggenggam botol aqua yang dia jadikan mic. Claire begitu percaya diri menatap semua orang yang dia panggil berkumpul untuk meresmikan markas itu bersama, seolah dirinya sedang berpidato di depan ribuan orang.
Astaga, Jeremy terus menahan dirinya. Menahan malu dengan tingkah istrinya. Ryan yang berdiri di sebelahnya sudah mati-matian menahan tawa. Kalau tahu akan ada drama begini dari istrinya itu, dia tidak datang.
"Baiklah," lanjut Claire lagi dengan wajah cerianya yang tak pernah padam.
"Di kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin memanggil mister Jem sebagai pemilik tanah dan bangunan ini untuk mendampingi saya menggunting pita,"
Jeremy menutup matanya dalam-dalam, merutuki nasibnya dalam hati. Walau sebagian besar orang yang berada di situ rata-rata adalah pengawal dan pelayan, tetap saja dia malu.
"Ayo mister Jem, silahkan maju. Kalau istrimu memanggil, harap langsung bergerak ya." yang lain menahan tawa mereka, tapi tak mampu tertawa langsung di depan tuan mereka. Tentu karena mereka takut.
Jeremy itu ibarat serigala buas. Yang tidak takut mengusiknya saat ini pemenangnya jatuh kepada Claire. Ia tidak mau maju, tapi bagaimanapun juga, tak ada jalan lain. Dengan langkah berat dan wajah yang tetap datar namun menyembunyikan rasa malunya, Jeremy melangkah maju berdiri di samping Claire. Gadis itu langsung menyodorkan ujung gunting besar ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya sendiri masih memegang erat botol aqua kesayangannya itu.
"Siap? Tiga, dua, satu... potong bersama-sama!" serunya riang.
Cekrek!
Pita merah putih terbelah rapi, dan seketika tepuk tangan terdengar riuh dari semua orang yang hadir. Claire bahkan sempat melambaikan tangan tinggi-tinggi seolah baru saja meresmikan gedung tertinggi di kota, membuat sudut bibir Jeremy tak kuasa menahan senyum kecil yang mulai muncul. Padahal cuma tempat sekecil itu. Ada-ada saja.
"Sekarang, mari kita masuk ke dalam markas kebanggaan kita!" ajaknya sambil menarik tangan Jeremy masuk duluan. Begitu pintu terbuka lebar, mata semua orang seketika terbelalak takjub.
Di luar terlihat sederhana, tapi di dalamnya ternyata sangat canggih dan tertata rapi. Ada tiga ruangan. Satu ruangan santai dengan sofa besar-besar empuk, yang satu ruangan menyusun strategi dadakan dengan meja panjang dan layar proyektor canggih yang terpasang di dinding, serta ruangan terakhir yang pintunya tertutup rapat dengan kunci digital khusus. Itu ruang rahasia seperti yang dikatakan oleh Claire.
Jeremy penasaran dengan ruangan itu, tapi begitu dia menyuruh Claire membukanya, tak ada yang tampak mencurigakan. Padahal Jeremy punya firasat Claire sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh dia ketahui. Tapi ruangan ini, tampak seperti ruangan biasa yang hanya dipakai untuk bersantai.
Claire menatapnya dengan senyum paling polos dan tidak berdosa yang bisa ia buat, lalu melambaikan tangan santai ke arah lemari rak buku dan kursi malas di sudut ruangan.
"Kamu lihat sendiri kan, mister Jem? Ini adalah tempat istirahat kalau kita capek berpikir. Tidak ada yang istimewa," ucapnya enteng, padahal jantungnya berdegup sedikit lebih kencang di balik dada. Ia tahu Jeremy sangat teliti, dan tak mudah menipu insting pria itu. Tapi Claire juga mahir membuat mode ruangan tersembunyi untuk menyembunyikan semua peralatan dan bahan-bahan pembuatan bom-nya yang sudah lengkap. Benda itu tersembunyi di dalam ruangan ini, tapi hanya mereka berempat yang tahu.
Jeremy menyusuri setiap sudut ruangan dengan tatapan tajam, matanya meneliti celah dinding, pola lantai, hingga posisi gagang pintu yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada benda mencurigakan, tidak ada alat berat, tidak ada lemari besi raksasa seperti yang ia bayangkan. Namun firasatnya tetap berbisik keras bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di sini.
"Kunci digital canggih untuk ruang istirahat biasa?" tanyanya pelan, nada bicaranya datar namun menyiratkan keraguan besar.
"Mm. Hebat aku kan?"
Claire tersenyum lebar yang di balas dengan tatapan menyelidik Jeremy.
"Ingat baik-baik. Aku mengijinkan kau dan teman-temanmu membuat tempat ini, berkumpul di sini untuk bersantai. Bukan melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Jangan sampai berani berbuat kacau lagi. Kalau kau mau menciptakan benda-benda aneh seperti menyetrum orang lagi, aku tidak akan segan-segan mengunci semua akses ke sini dan menyimpan kuncinya sendiri," tegas Jeremy dengan nada yang perlahan menurun berat, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Claire.
Gadis itu hanya memanyunkan mulutnya sebagai bentuk protes kecil kepada suaminya tapi tidak membantah. Laki-laki itu tidak tahu saja apa yang dia dan para sahabatnya akan buat bukan perkara setrum menyetrum lagi, tapi bikin bom. Sepertinya mereka memang harus sangat berhati-hati, jangan sampai ketahuan Jeremy.
Ia dan ketiga temannya yang berdiri di ambang pintu itu salung bertukar pandang penuh arti. Ryan juga berdiri tak jauh dari mereka, mengamati semua gerak-gerik Claire dan teman-temannya. Melihat ekspresi mereka, Ryan semakin yakin pasti ada sesuatu yang akan mereka lakukan. Tapi dia memilih diam dan menikmati.
Karena semua yang dilakukan Claire pasti akan membuat bos-nya sakit kepala dan kewalahan. Dia suka melihat sang bos sakit kepala akibat ulah istrinya sendiri.