Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hugo bisa menyuapkan sarapannya ke dalam mulut dengan perasaan damai, tanpa perlu diiringi suara tangisan atau bentakan di pagi hari.
Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya dan meneguk segelas air putih, Hugo melirik jam tangan. Sudah waktunya dia bertugas. Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu memundurkan sedikit kursi rodanya.
"Ibu, aku berangkat kerja sekarang," pamit Hugo, memecah keheningan di meja makan. Ia mengulurkan tangan, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.
"Iya, hati-hati di jalan, Hugo. Semoga tugasmu lancar hari ini," doa Nyonya Malinda tulus.
Melihat Hugo bersiap pergi, Asia segera berdiri dari kursinya. Dengan gerakan yang natural, ia menghampiri Hugo dan memosisikan diri di belakang kursi roda pria itu, lalu mulai mendorongnya perlahan menuju area depan rumah.
Hugo melirik sekilas dari sudut matanya. Setiap kali Asia melakukan hal seperti ini, ada rasa tidak nyaman yang menyelusup di hatinya. Hugo merasa terbebani. Bagaimanapun, ini adalah pernikahan kontrak. Asia tidak perlu melayaninya sampai sejauh ini. Tapi di depan ibunya, Hugo sama sekali tidak bisa menolak karena hal itu pasti akan terlihat aneh dan memicu kecurigaan.
Begitu mereka sampai di dekat pintu depan, Gilang sudah berdiri tegap menyambut mereka.
Melihat kedatangan ajudan, Asia dengan sopan melepaskan pegangannya pada kursi roda. Gilang pun langsung melangkah maju, memosisikan diri untuk menggantikan tugas Asia mendorong kursi roda sang Kapten ke arah mobil dinas.
"Terima kasih," lirih Hugo pelan pada Asia, memberikan apresiasi singkat yang canggung sebelum kursinya didorong menjauh.
Asia tersenyum tipis dan mengangguk. "Ya. Hati-hati di jalan."
Hugo membalas dengan anggukan samar. Sebelum memutar kursi roda Hugo sepenuhnya ke arah halaman, Gilang sempat berhenti sejenak. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit mengangguk hormat pada Asia yang secara otomatis kini telah menjadi atasannya juga.
***
"Jenny sudah siap?" tanya Nyonya Malinda begitu melihat cucu perempuannya turun. "Adikmu dan Tante Asia sudah siap berangkat."
Bola mata Jenny bergerak melirik tajam ke arah Asia.
"Kita bareng?" tanya Jenny seraya menyatukan kedua alisnya. Suaranya datar, namun sarat akan penolakan.
"Ya. Kan adikmu berangkat sekolah juga hari ini. Sudah beberapa hari dia enggak mau sekolah, kan? Mumpung dia mau sekarang, biar Tante Asia yang mengantar kalian," kata Nyonya Malinda menjelaskan.
Namun, Jenny tidak bergeming. "Aku berangkat sendiri, Oma," tekan Jenny tegas, tanpa ada nada merengek sama sekali. Sorot matanya melirik sinis ke arah Asia, menunjukkan batasan yang jelas.
Nyonya Malinda mengernyitkan alis, tidak setuju dengan sikap kaku cucunya. "Itu tidak mungkin, Jenny. Adikmu bagaimana? Masa kalian harus jalan terpisah?"
Asia yang baru saja hendak duduk di kursi meja makan untuk sarapan bisa mendengar jelas ketegasan dalam intonasi Jenny. Ia menoleh sekilas, menatap punggung tegap gadis remaja itu.
Dia enggan denganku. Ya, wajar saja, batin Asia. Tiba-tiba saja ada wanita asing yang dibawa papanya masuk ke rumah ini dan langsung harus dianggap sebagai ibu. Kalau aku jadi Jenny, aku juga mungkin enggak akan mau.
Asia sangat mengerti dan menghargai sikap tegas itu daripada kepura-puraan.
"Kalau begitu aku naik motor sendiri," ucap Jenny mutlak. Kalimatnya bukan sebuah rengekan minta izin, melainkan sebuah keputusan yang dia ambil.
"Jenny... Papamu tidak mengizinkan kamu membawa motor sendiri ke sekolah," Nyonya Malinda mencoba mengingatkan aturan tegas dari Hugo.
"Aku tetap berangkat sendiri, Oma. Pakai ojek online kalau tidak boleh bawa motor," balas Jenny tenang namun tidak bisa dibantah.
Melihat situasi yang mulai kaku dan tidak ingin suasana pagi menjadi makin dingin, Asia segera menyela. "Ibu, biar aku antar Nero naik motor saja," usul Asia menawarkan jalan tengah. Dia tidak mau perdebatan ini berlanjut panjang.
"Naik motor?" tanya Nyonya Malinda terkejut. Beliau langsung memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Asia yang masih duduk di meja makan.
"Ya," Asia tersenyum tulus. Sorot matanya meyakinkan ibu mertua bahwa ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Nyonya Malinda terdiam, lalu kembali menatap cucu perempuan di depannya. Di seberang sana, Jenny hanya menipiskan bibirnya dalam diam.
Di sudut meja, Nero yang tadinya sama sekali tidak tertarik dengan perdebatan para wanita itu mendadak mendongak. Ada satu kata yang berhasil menangkap radar perhatiannya: motor.
"Apa enggak apa-apa, Asia?" tanya Nyonya Malinda masih diliputi rasa ragu.
"Ya. Saya biasa naik motor sehari-hari, Bu."
"Tapi Nero..."
Belum sempat Nyonya Malinda mengkhawatirkan sifat pemilih sang cucu bungsu, Nero sudah melompat dari kursinya dengan mata berbinar-binar.
"Aku mau! Aku mau naik motor! Ngenggg... Ngenngg ...!" seru Nero heboh, menirukan suara gas sepeda motor dengan kedua tangannya yang bergerak-gerak di udara.
"Aku akan berangkat sendiri sekarang," putus Jenny final. Gadis itu langsung meneguk air putihnya sampai habis. Lalu menyandang tas sekolahnya, bersiap berangkat lebih dulu tanpa membuang waktu.
Nyonya Malinda yang tahu tabiat tegas cucunya tidak lagi mendebat. "Ya sudah. Hati-hati di jalan."
"Ya. Aku berangkat!" Nada bicara Jenny seketika kembali tenang dan ceria seperti biasa begitu ia berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencium takzim tangan Nyonya Malinda sebelum akhirnya melangkah mantap keluar rumah.
Asia yang memperhatikan perubahan sikap itu dari meja makan hanya bisa tersenyum tipis. Dia lebih tenang jika tidak denganku. Ini normal, batin Asia berdialog dengan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati karena dia paham proses adaptasi anak remaja memang butuh waktu.
Nyonya Malinda kemudian memutar tubuhnya kembali menghadap Asia. "Asia, kamu pakai motor matik saja yang ada di belakang. Jarang dipakai sih, tapi tetap rutin dibawa ke bengkel sama mamang tiap bulan untuk diservis."
"Iya, Bu," jawab Asia patuh.
Mendengar kepastian bahwa motor yang akan digunakan sudah siap, Nero yang sejak tadi menahan napas langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku jadi naik motor kan?!" tanya Nero memastikan dengan mata bulatnya yang berbinar antusias.
"Iya. Kamu pergi sama aku," sahut Asia sambil menjentikkan jarinya dengan gaya keren di depan bocah itu.
"Asyiiik!!!" seru Nero girang sambil melompat kecil.
Senyum Nyonya Malinda melebar melihat pemandangan di depannya. Ketegangan yang sempat menyelimuti ruang makan sejak subuh tadi kini menguap begitu saja, digantikan oleh tawa riang sang cucu bungsu yang biasanya sangat sulit dijinakkan.
Beliau menatap Asia dengan binar mata yang memancarkan rasa lega sekaligus kekaguman mendalam. Wanita muda yang dinikahi putranya ini ternyata memiliki pesona alami yang mampu membawa suasana baru yang menyegarkan di dalam rumah mereka yang kaku.