Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
.
Sejak hari kegagalan itu, Raditya berjuang mati-matian demi kelangsungan perusahaan. bahkan terkadang sampai lembur, berharap dengan begitu masalahnya akan cepat selesai. Berangkat paling pagi, pulang paling malam, seringkali tertidur di ruang kerjanya. Namun, segala usaha kerasnya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada kemajuan sedikit pun yang terlihat. Segala hal di dalam perusahaan terasa semakin carut-marut, berantakan tak beraturan, dan semakin jauh dari kata baik-baik saja.
Suasana kerja menjadi sangat mencekam. Tidak ada lagi ketenangan bagi para karyawan. Setiap hari yang mereka dengar hanyalah suara kemarahan, teriakan, dan cacian dari mulut Raditya. Kesalahan kecil sekalipun akan menjadi masalah besar di matanya, dan tidak ada satu pun pekerjaan yang dianggapnya cukup baik.
Pagi itu, di ruang rapat besar, ketegangan kembali memuncak. Raditya berdiri di ujung meja panjang dengan wajah merah padam menahan amarah sambil menatap tajam wajah-wajah di sekelilingnya.
"Dasar kalian semua orang-orang bodoh!" teriak Raditya dengan suara menggelegar memenuhi ruangan.
"Apa saja yang kalian kerjakan selama ini? Yang kalian bisa hanya membuat proposal sampah yang isinya tidak ada gunanya sama sekali! Kalau hasil kerja kalian terus begini, lebih baik kalian tidak usah bekerja di perusahaan ini sama sekali!" teriaknya lagi sambil menggebrak meja.
Dengan napas memburu, Raditya menatap satu per satu wajah bawahannya yang menunduk tak berani menatap ke arahnya.
"Aku tidak sudi mempekerjakan karyawan yang hanya makan gaji buta! Datang pagi, pulang sore, dapat gaji besar, tapi tidak bisa menunjukkan hasil kerja yang sama sekali! Apa susahnya mencari jalan keluar?! Kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak?!"
Dengan wajah yang masih memerah karena amarah, Raditya membanting map tebal yang sedari tadi ia pegang ke atas meja hingga kertas-kertasnya berhamburan keluar. Tanpa menatap para karyawannya yang diam ketakutan, ia berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah lebar dan penuh emosi.
Raditya masuk ke ruang kerjanya, lalu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. Kursi yang selama ini menjadi kebanggaan, kekuasaan dan kejayaannya. .
Baru beberapa menit Raditya menenangkan napas dan menata kembali pikirannya, pintu ruangan terbuka perlahan. Darius masuk dengan wajah pucat, dan map tebal berwarna hitam tergenggam di tangan.
"Ada apa?!" bentak Raditya kasar, menatap tajam ke arah map yang dibawa oleh asisten nya dengan dada berdegup kencang, seakan sudah merasa adanya berita buruk.
Darius menelan ludah susah payah, suaranya keluar berbisik namun cukup jelas terdengar.
"Maaf, Tuan. Laporan keuangan baru saja masuk. Penjualan bulan ini turun lagi bahkan mencapai 15 persen dari bulan lalu."
Jantung Raditya seakan berhenti berdetak. Matanya seketika terbelalak lebar menatap Darius. Punggungnya yang semula bersandar seketika duduk tegak.
"Dan..." Darius menundukkan kepalanya makin dalam, tak berani menatap wajah tuannya yang mulai berubah wajah. "Ada beberapa pemegang saham besar yang mengirimkan pesan. Mereka mengatakan... ingin mencabut seluruh investasi mereka dari perusahaan ini."
"APA?!"
Raditya menyambar map yang ada di tangan Darius dengan sangat kasar. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka lembar demi lembar kertas itu dengan cepat, matanya bergerak liar mencari angka-angka yang tertera.
Dan... Semuanya merah. Semuanya minus. Penurunan drastis di sana-sini. Dan di halaman terakhir, surat resmi dari para pemegang saham yang menyatakan ketidakpercayaan mereka.
Raditya mengangkat tinggi map itu dan membantingnya keras. Kertas-kertas beterbangan ke segala arah.
"Aargh….!" Raditya berdiri dari duduknya dan berteriak sekuat tenaga. Dua tangannya bergerak kasar menyapu bersih semua yang ada di meja hingga berjatuhan dengan keras di atas lantai, meluapkan segala rasa kecewa dan kemarahannya yang tak lagi punya tujuan. Semua hancur. Sama seperti mentalnya yang telah benar-benar hancur.
"Dasar pengkhianat!! Mereka semuanya pengkhianat!" teriak Raditya dengan suara parau. "Saat aku sukses, mereka berbondong-bondong menawarkan kerjasama. Sekarang, saat aku baru saja terpuruk, mereka semua berlomba-lomba meninggalkanku!"
Raditya mencengkeram tepian meja kerjanya hingga buku jarinya memutih, napasnya naik turun tak beraturan.
"Manusia-manusia rakus! Kalian pikir aku tidak akan bangkit lagi?! Kalian pikir RA Group akan runtuh begitu saja?!" ia menggeram, matanya berkaca-kaca menahan air mata amarah. "Kalian semua akan menyesal! Aku akan membuktikan! Aku akan buat kalian semua datang kembali merengek minta maaf!!"
Tubuh Raditya melemah setelah puas berteriak lalu kembali jatuh terduduk di kursinya.
"Tapi bagaimana caranya?" gumamnya menyadari bahwa ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa lagi. Di dalam otaknya semua masalah menari mengejeknya. Hutang pada bank gelap, juga hutang hutang pada bank resmi dan hutang pada perusahaan lain sebelumnya. Dan semua akan segera jatuh tempo. Bagaimana dia akan membayarnya?
Raditya memejamkan matanya rapat, sambil memijit pelipisnya yang terasa pening. Seketika bayangan masa lalu berseliweran jelas di dalam kepalanya. Bayangan saat Anindya masih ada di sisinya, masih berdiri tegak di samping meja kerjanya, mengatur segalanya dengan cerdas dan tenang. Betapa mulusnya jalur perusahaan saat itu. Aliran dana masuk dengan deras, semua orang memuji dan menghormati namanya.
Dulu, dia hanya harus duduk di kursi, menunggu berkas-berkas penting disodorkan ke hadapannya untuk ia tanda tangani saja. Semua strategi, semua negosiasi, semua perjuangan di belakang layar, dia tidak tahu bagaimana prosesnya. Dulu ia mengira semua kejayaan itu murni hasil kemampuannya sendiri, dan Anindya hanya sekadar pelengkap.
"Apa aku benar-benar salah...?" tanyanya dalam hati.
Namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui kebenaran itu. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras, menepis pemikiran itu.
"Tidak... Tidak mungkin! Aku tidak salah! Ini hanya sementara saja," tekadnya, matanya terbuka kembali menatap langit-langit ruangan dengan pandangan berapi-api. "Aku akan berusaha lagi, aku akan bekerja lebih keras dari sebelumnya! Pasti aku bisa, aku pasti sanggup membawa perusahaan ini bangkit kembali lebih hebat dari sebelumnya!"
Dengan semangat yang dipaksakan, Raditya bangkit dari duduknya, meraih telepon di atas meja. Ia menyusun daftar nama-nama klien besar dan mitra kerja sama yang dulu sangat akrab dengannya. Ia yakin, hubungan baik yang ia bangun selama bertahun-tahun ini pasti masih berarti bagi mereka.
Raditya mulai menelepon satu per satu nama itu.
Panggilan pertama...
"Selamat siang, Pak Bimo. Ini Raditya, dari RA Group. Saya ingin mengajukan tawaran kerjasama baru..."
Namun, belum selesai ia bicara, suara dari seberang sudah memotong dengan nada canggung. "Ah... Tuan Raditya... Maaf sekali, saat ini kami sudah memiliki mitra tetap dan belum berencana menambah lagi. Maaf ya, Tuan. Saya masih ada urusan lain," dan sambungan telepon terputus.
Raditya mengerutkan kening, sedikit kesal tapi mencoba tetap tenang. Ia mencoba nomor berikutnya.
"Halow, Pak Hendra? Saya Raditya. Bagaimana kabar? Saya ada proyek menarik..."
"Waduh, Tuan Raditya... Maaf ya, kami sedang menyesuaikan anggaran tahun ini. Belum ada dana lebih untuk kerjasama baru. Maaf sekali ya..."
Satu per satu ia hubungi. Dan satu per satu pula jawaban yang ia terima sama saja:
"Maaf, Tuan… "
"Mohon maaf, belum bisa..."
"Maaf sekali, kami tidak bisa..."
Yang ia dengar hanya alasan yang intinya sama. PENOLAKAN. Bahkan ada yang langsung mematikan telepon, ada yang dengan jujur mengatakan mereka sudah tidak percaya dengan kondisi RA Group saat ini.
Tangan Raditya gemetar hebat saat meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Harapan yang baru saja ia bangkitkan sebentar tadi, kini runtuh kembali jauh lebih parah. Ia sadar, nama besarnya yang dulu begitu harum dan diidamkan, kini ternyata sudah tidak ada harganya sama sekali di mata mereka semua.
"Semua pergi... Semua meninggalkanku..."
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....