Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Sekutu Tak Terduga
Jensen meminta Sekar bertemu di rumah kaca kecil dekat taman belakang keesokan paginya.
Permintaannya disampaikan lewat pelayan lama, seolah itu hanya obrolan keluarga biasa. Sekar tahu tidak ada yang biasa di Kediaman Liem. Tetap saja, ia datang. Bukan karena percaya pada Jensen, melainkan karena orang yang tahu tentang lukisan palsu tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa dibaca.
Jensen sudah menunggu dengan dua cangkir kopi.
"Aku tidak tahu kamu minum apa," katanya. "Jadi aku pilih kopi. Kalau salah, salahkan aku sebagai tuan rumah yang buruk."
"Ini bahkan bukan rumahmu."
"Semua rumah Liem sedikit milik semua orang Liem, dan pada saat yang sama bukan milik siapa pun kecuali Engkong." Ia mengangkat cangkir. "Filosofi keluarga yang menyebalkan."
Sekar tidak duduk dulu. "Kamu tahu sejak kapan?"
"Sejak melihat foto yang Celine kirim ke seseorang yang katanya ahli seni." Jensen tersenyum kecil. "Ahli itu kebetulan kenal asistennya temanku. Dunia antik sempit. Dunia orang sombong lebih sempit lagi."
"Kamu tahu itu palsu?"
"Aku tahu itu terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan." Ia menaruh cangkir. "Pemalsu yang membuatnya paham cara menggoda orang tamak. Cukup tua untuk dipercaya, cukup cacat untuk nanti dibantai."
Sekar akhirnya duduk. "Kenapa tidak memberi tahu Celine?"
"Kenapa aku harus menyelamatkan orang yang sedang mencuri hadiah Engkong?"
Jawaban itu ringan, tetapi bukan main-main.
Jensen mengambil sendok kecil dan mengaduk kopi yang tampaknya tidak ia minum. "Aku pernah melihat terlalu banyak orang menghancurkan benda lama karena ingin terlihat kaya. Lukisan itu bukan sekadar uang. Ada tangan orang mati di sana. Ada musim, ada tinta, ada kesabaran. Celine melihatnya sebagai angka. Orang seperti itu pantas kehilangan angka."
"Kamu terdengar lebih marah daripada kelihatannya."
"Aku selalu lebih marah daripada kelihatannya. Itu bakat keluarga."
"Kamu di pihak Renard?"
Jensen tertawa pendek. "Tidak ada yang benar-benar di pihak Ko Renard kecuali orang yang cukup gila untuk berdiri di dekatnya saat dia marah."
"Hans?"
"Hans sudah melewati kategori manusia normal."
Sekar hampir tersenyum.
Jensen melihatnya dan ekspresinya melunak sedikit. "Aku netral, Ci Feli. Setidaknya sejauh netral masih mungkin di keluarga ini. Darren punya ambisi. Kevin punya kebodohan. Shireen punya rencana sendiri. Ko Renard punya dunia yang terlalu gelap untuk kebanyakan orang. Aku punya barang antik dan keinginan hidup tenang."
"Tapi kamu memilih tidak membongkar."
"Karena kamu tidak terlihat seperti sedang mencuri. Kamu terlihat seperti sedang bertahan."
Kalimat itu membuat Sekar diam.
Orang-orang di rumah ini sering melihatnya sebagai posisi. Tunangan Kevin. Anak Tan. Calon menantu. Alat Lilian. Mata Renard.
Jarang ada yang menyebut bertahan.
"Jangan salah paham," Jensen menambahkan. "Aku tetap akan memilih diriku sendiri kalau situasinya buruk."
"Itu lebih jujur daripada janji palsu."
"Bagus. Kita bisa saling tidak membohongi terlalu banyak."
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan resmi. Jensen tidak menawarkan bantuan besar. Tidak berjanji melindungi. Ia hanya mengatakan jika Engkong bertanya soal lukisan, ia akan menjawab sesuai fakta yang menguntungkan benda asli, bukan pencurinya.
Untuk ukuran keluarga Liem, itu sudah hampir seperti sumpah.
Sebelum Sekar pergi, Jensen berkata lagi, "Satu hal."
Sekar berhenti.
"Kalau suatu hari Ko Renard terlihat seperti sedang membakar seluruh ruangan, jangan buru-buru mengira dia tidak tahu kamu masih di dalam."
"Itu peringatan atau pembelaan?"
"Keduanya. Dia berbahaya, tapi tidak sembarangan." Jensen tersenyum tipis. "Itu sudah pujian sangat besar dari seorang Liem."
Siang harinya, kabar tentang Bos Cao datang dari arah yang tidak Sekar duga.
Ia sedang melewati koridor dekat garasi ketika mendengar Kevin bicara di telepon. Suaranya rendah, tetapi cemas.
"Aku bilang dua minggu. Uangnya baru masuk sebagian."
Sekar berhenti di balik dinding.
"Jangan sebut nama itu di telepon," Kevin mendesis. "Aku tahu Bos Cao tidak suka menunggu. Aku juga tidak suka diancam."
Darah Sekar mendingin.
Bos Cao.
Nama itu membawa ingatan ke Eclipse, meja makan gelap, dan Renard yang berkata bahwa batas dibuat untuk orang yang masih ingin hidup.
Kevin mengakhiri telepon dengan napas kasar. Ketika ia keluar, Sekar sudah mundur ke tikungan lain. Ia menunggu sampai langkah Kevin menjauh, lalu mengirim pesan kepada Renard.
Kevin berhubungan dengan Bos Cao. Ada utang. Dia bilang dua minggu.
Balasan Renard datang lebih cepat dari biasanya.
Jangan dekati dia sendiri.
Sekar menatap layar.
Hanya itu?
Pesan kedua masuk.
Malam ini ke Rumah Tua.
Renard menemuinya di ruang kerja. Wajahnya tidak berubah saat membaca ulang laporan Sekar, tetapi udara di ruangan terasa lebih dingin.
"Kevin berjudi?" tanya Sekar.
"Judi, investasi bodoh, jalur barang yang gagal. Pilih salah satu. Mungkin semuanya."
"Bos Cao akan menagih."
"Sudah menagih."
"Lalu Celine?"
"Biarkan dia tumbuh sombong," kata Renard. "Orang sombong akan membuat kesalahan yang lebih besar."
Sekar memandangnya. "Kamu tidak akan langsung membuka transaksi lukisan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku memotong satu kepala terlalu cepat, tubuhnya masih bisa berlari." Renard menutup map. "Aku ingin tahu siapa saja yang ikut memegang pisau."
Sekar mengerti.
Ia tidak menyukai pemahaman itu.
"Kalau pisau itu mengarah padaku?"
"Maka aku patahkan tangannya."
Jawaban Renard datang tanpa jeda.
Sekar seharusnya merasa takut. Sebagian dirinya memang takut. Tetapi bagian lain, yang lebih jujur dan lebih lelah, merasa dilindungi dengan cara yang tidak pernah ia minta namun mulai ia kenali.
Malam itu, sebelum kembali ke Paviliun Mei, Jensen mengirim pesan lewat nomor baru.
Aku dengar Celine sangat bahagia hari ini. Orang bahagia biasanya ceroboh.
Sekar tidak tahu apakah harus merasa punya sekutu atau hanya penonton baru.
Tetapi di rumah yang semua orangnya memakai topeng, seseorang yang mengaku bisa memilih diri sendiri justru terasa lebih mudah dipercaya.
Ia menyimpan nomor Jensen tanpa nama.
Hanya satu huruf.
J.
Bukan karena percaya. Karena di dunia yang dipenuhi rahasia, bahkan kemungkinan kecil bahwa seseorang tidak sedang menunggunya jatuh sudah layak disimpan. Sekar mematikan layar, lalu melihat bayangannya sendiri di kaca jendela.
Untuk pertama kalinya, papan permainan di Kediaman Liem tidak hanya berisi orang-orang yang ingin memindahkannya.
Ada satu orang yang mungkin bersedia memberitahu arah tangan yang bergerak.