NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Suasana di dalam kamar utama itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara pelan pendingin ruangan. Malam ini adalah malam kelima mereka berbagi kamar yang sama, namun atmosfer canggung masih terasa pekat menyelimuti udara.

Gelisah karena pikirannya terus berputar memikirkan noda di seragam Jenny, Asia beberapa kali mengubah posisi tidurnya. Kain selimutnya bergesek berkali-kali, menciptakan suara kresek pelan di tengah keheningan malam.

"Kamu belum tidur?" tanya Hugo tiba-tiba. Suaranya yang berat dan berat memecah kegelapan.

Meskipun mereka tidur di ranjang yang berbeda. Hugo tetap bisa merasakan pergerakan wanita itu. Indra pendengarannya sebagai seorang tentara masih terlampau peka untuk mengabaikan suara sekecil apa pun.

Asia terlonjak sedikit, terkejut karena mengira pria itu sudah terlelap sejak tadi. Ia segera menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah ranjang besar Hugo.

"Ah, maaf, Pak Hugo. Saya mengganggu tidur Anda, ya?" bisik Asia merasa bersalah. Ia refleks kembali memanggil pria itu dengan sebutan formal karena merasa jarak di antara mereka masih terlampau jauh.

Hugo tidak langsung menyahut. Di bawah temaram lampu tidur, pria itu menghela napas pendek sebelum membalas dengan nada datarnya yang khas.

"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu tidur di rumah orang lain sangat tidak nyaman."

Kata-kata Hugo yang dingin namun blak-blakan itu seketika membuat lidah Asia kelu. Pria itu benar. Meskipun kini statusnya adalah istri sah di atas kertas, berada di rumah dan kamar ini yang asing pasti ada sedikit tidak nyaman yang ia hadapi.

Apalagi keluarga yang penuh dengan banyak hal yang perlu ia hadapi. Itu membuat Asia merasa seperti orang asing yang menumpang.

Asia akhirnya memilih diam, menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Ia memaksa tubuhnya untuk tidak bergerak lagi. Menahan semua kegelisahan dalam hati agar pria itu bisa beristirahat dengan tenang.

Dia juga paham betapa sulitnya menjadi seorang ayah dengan dua anak dan tetap bekerja dengan kondisi tubuh seperti itu.

Semua sedang berjuang. Dirinya juga.

***

Keesokan paginya, kekacauan kecil sudah terjadi di lorong depan kamar mandi lantai bawah. Nero bertingkah. Bocah itu berdiri bersedekap dengan wajah cemberut, menolak mentah-mentah saat diminta bersiap-siap.

Nyonya Malinda berdiri di depan cucunya, mencoba membujuk dengan suara selembut mungkin. "Nero sayang, ayo mandi dulu. Lihat, Kak Jenny sudah rapi pakai seragam. Nanti kamu telat ke sekolah, Nak."

"Gak mau, Oma! Aku gak mau mandi!" tolak Nero ketus, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Dingin! Lagian badanku masih bersih, gak bau."

"Mandi sebentar saja, ya? Pakai air hangat, biar badannya segar," bujuk Nyonya Malinda lagi, mulai tampak lelah menghadapi keras kepalanya sang cucu yang tidak ada habisnya sejak subuh.

"Tetap gak mau! Mandi itu membosankan. Cuma guyur-guyur air terus selesai. Aku mau main aja!" bantah Nero keras kepala, kakinya dihentakkan ke lantai mengekspresikan penolakan.

Melihat mertuanya mulai kewalahan, Asia segera melangkah maju menghampiri mereka.

"Aku masak air panas ya?" tawar Asia, mencoba menurunkan ketegangan.

"Enggak! Aku enggak mau mandi kok. Aku mau main game!" balas Nero berteriak, masih bersikeras menolak.

"Jangan begitu, Nero," potong Hugo ikut bicara. Suaranya yang berat dan tegas seketika memotong perdebatan. Sebagai seorang ayah dan perwira, ketidaksabaran mulai tersirat dari nadanya.

Asia menoleh cepat ke arah kepala meja. Ia melebarkan matanya. Tanpa sadar menatap tajam langsung ke netra Hugo seolah memberi sinyal tanpa suara agar pria itu menahan diri dan tetap tenang.

Wanita ini tahu betul, jika pria berwibawa ini ikut campur dengan ketegasannya yang kaku ego Nero akan semakin memberontak dan suasana pagi ini pasti akan berakhir kacau total.

Hugo mengerjap. Ia sempat terkejut mendapat tatapan tajam dan berani yang menuntut kepatuhan dari Asia. Sesuatu yang jarang ia terima dari orang lain. Terlebih itu dari istri kontraknya.

Bola mata Hugo bergeser kembali menatap Nero yang masih merengut, lalu kembali pada Asia yang masih menatapnya penuh peringatan.

Melihat keyakinan di mata wanita itu, Hugo akhirnya memilih mengalah. Ia menutup mulutnya kembali dan diam, membiarkan Asia mengambil kendali penuh atas putranya.

Setelah berhasil menenangkan Hugo dengan tatapannya, Asia kembali berbalik menghadap Nero. Ia melipat tangan di dada dengan ekspresi santai, seolah bentakan bocah itu sama sekali tidak memengaruhinya.

"Oh, mau main game? Ya sudah, ayo main air aja di dalam," ajak Asia tiba-tiba dengan nada ceria. Ia sama sekali tidak mendikte Nero untuk mandi lagi.

Nero langsung mendongak. Alisnya bertaut curiga. "Main air? Bukan mandi?"

"Bukan."

"Jadi aku boleh main?" kejar Nero memastikan.

"Boleh kok, main aja sana di dalam. Bawa mainan bebekmu atau yang lain juga boleh," jawab Asia meyakinkan, memberikan lampu hijau dengan ekspresi tanpa beban.

"Boleh bawa mainan?!" Mata bulat Nero seketika berbinar senang.

"Iya, boleh. Tapi ingat, setelah selesai harus dibawa keluar lagi. Kembalikan ke tempatnya. Nanti kalau basah terus, mainanmu bisa rusak."

"Hore!!! Oke! Aku mau main air!" seru Nero riang.

Ini berhasil mematahkan pertahanan Nero. Merasa menang karena dikira bebas dari kewajiban mandi dan justru diizinkan bermain, Nero langsung berlari riang masuk ke dalam kamar mandi tanpa perlu diseret lagi.

Begitu pintu tertutup, terdengar suara gayung berdebur heboh. Asia tersenyum tipis. Dia tahu sekali bocah itu menyentuh air, ujung-ujungnya dia pasti akan sabunan juga.

Nyonya Malinda menjauh dari sana setelah tahu Nero sudah bisa diatasi dengan baik. Wanita tua itu mengembuskan napas lega, berjalan kembali ke meja makan dengan senyum kecil, diam-diam mengagumi cara Asia yang selalu punya trik unik untuk menjinakkan sifat keras kepala cucunya tanpa memicu drama tangisan yang panjang.

Sementara itu, Jenny yang sudah duduk rapi dengan seragam sekolahnya sama sekali tidak peduli. Gadis itu tetap fokus menyuap makanannya, bersikap acuh tak acuh seolah keributan di dekatnya hanyalah angin lalu.

Pagi ini, suasana meja makan sedikit berbeda. Menu sarapan disiapkan sepenuhnya oleh bibi pelayan rumah. Ia sengaja fokus mengurus Nero.

Mungkin itu sebabnya Jenny mau sarapan. Ia bahkan tampak tenang menghabiskan makanan. Tidak seperti kemarin.

Hugo di sisi lain, masih menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali pada Asia. Ada terbesit rasa heran sekaligus apresiasi yang tersembunyi di balik wajah datarnya yang kaku.

Ternyata, wanita ini tidak hanya berani menatapnya tajam, tapi juga benar-benar tahu cara mengendalikan situasi di rumahnya yang biasanya selalu penuh kekacauan setiap pagi. Ia menyuapkan makanan dengan perasaan damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!