Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 20
"ELSA!" panggil Tama dengan suara baritonnya yang menggelegar memecah keheningan kebun.
Elsa dan Ardana terkejut setengah mati. Dengan cepat, Ardana menarik kembali tangannya dari pinggang Elsa, lalu mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
"Ardana! Kamu bisa pergi sekarang!" perintah Tama dengan nada suara yang teramat datar namun dingin menghujam.
"Baik, Juragan," ucap Ardana gemetar, bergegas melangkah pergi meninggalkan area tersebut.
Kini, tatapan tajam Tama mengunci sepenuhnya pada tubuh Elsa. Gadis itu sama sekali tidak gentar, dia justru membalas tatapan Tama dengan raut wajah menantang yang kentara.
"Berduaan di tengah kebun saya... bersama bawahan saya sendiri! Wah... luar biasa! Hebat sekali permainan kamu, Elsa," ucap Tama sinis, melangkah lambat namun mengintimidasi mendekati gadis itu.
Elsa menatap Tama dengan tatapan tidak suka. 'Makin lama, pria tua ini makin nyebelin ya. Rasanya pengen banget gue timpuk mukanya pakai buah jeruk!' batin Elsa emosi.
"Jawab, Elsa! Apa kamu sengaja berniat menggoda si Ardana tadi, hm? Semalam kamu menggoda saya dengan menyerahkan tubuhmu itu, sekarang kamu mau mencoba menggoda Ardana? Sebenarnya kamu ini jenis perempuan apa, sih?!" ucap Tama, suaranya meninggi, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan istri mudanya.
"Stop jadi perempuan gatal, Elsa...!" tekan Tama dengan penekanan yang menghina di setiap kalimatnya.
Plakkk!
Satu tamparan keras berganti mendarat telak di pipi tegap Juragan Tama, membuat wajah pria besar itu sempat terenggut ke samping.
"Perempuan gatal?! Juragan tahu apa tentang perempuan gatal, hah?!" teriak Elsa, melampiaskan seluruh amarah dan rasa sakit hatinya yang sudah mencapai batas. Napasnya memburu egois.
"Iya! Saya memang gatal! Saya murahan! Semaunya aja saya memberikan hal paling berharga di hidup saya pada laki-laki egois seperti Juragan semalam! Kalau dipikir-pikir lagi, saya sangat menyesal sudah menyerahkannya pada pria seperti kamu!" maki Elsa berapi-api.
"Karena Juragan sekarang sudah tahu kalau saya ini perempuan gatal dan murahan, jadi tunggu apa lagi? Sekarang juga, Juragan ceraikan saja saya!" tantang Elsa berani. Dia sudah benar-benar muak dengan drama toxic di dalam lingkaran keluarga ini. Belum urusan istri tuanya selesai, sekarang ditambah tuduhan keji suaminya. Jiwa Hana di dalam tubuh ini bisa gila kalau bertahan lebih lama.
Tama menyugar rambutnya ke belakang, lalu berdecih sinis mendengar kata cerai keluar dari bibir tipis istrinya. "Cerai...?" tanyanya mengulang dengan nada meremehkan.
"Boleh saja. Saya tidak keberatan mendepakmu dari rumah ini sekarang juga. Tapi ingat kesepakatannya... asal kamu bisa membayar lunas semua utang orang tuamu saat ini, beserta seluruh bunganya sekalian. Totalnya seratus lima puluh juta rupiah. Apa kamu sanggup?" ucap Tama, melempar angka nominal yang fantastis dengan senyuman dingin.
Sepasang mata Elsa seketika membulat sempurna, jantungnya mencelos. "Juragan gila, ya?! Buat apa Ayah dan Ibu meminjam uang sebanyak itu?!" tuntut Elsa tidak percaya. Seratus lima puluh juta di tahun ini adalah nominal yang luar biasa besar, setara dengan miliaran rupiah!
"Kalau kamu tidak percaya, sebaiknya kamu pulang dan tanya sendiri pada orang tuamu... untuk apa uang sebanyak itu mereka pinjam dari saya sampai rela menumbalkan anak perempuan mereka," ucap Tama dingin.
Tanpa memedulikan keterpautan Elsa yang membeku, pria bertopi koboi itu berbalik arah dan melangkah pergi dengan angkuh, meninggalkan Elsa yang tertegun sendirian di tengah rimbunnya pohon jeruk dengan pikiran yang berkecamuk hebat.