Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Langit yang Retak
Sepasang mata merah itu perlahan terbuka di balik celah kegelapan yang sangat pekat dan juga menakutkan sekali.
Tidak ada raungan keras, namun tatapannya saja sudah sanggup membuat seluruh Aula Delapan Gerbang membeku dalam keheningan.
RUMMM!
Lantai batu bergetar tanpa henti, sementara retakan besar mulai menjalar hingga tepat di bawah kaki Lin Yuan.
Debu kuno berjatuhan dari langit-langit, dan pilar-pilar raksasa mulai mengeluarkan suara retakan yang sangat memekakkan telinga siapa pun.
Lin Yuan menggenggam pedang besinya lebih erat, merasakan seluruh naluri bertarungnya berteriak memberikan peringatan bahaya yang sangat besar.
Makhluk di balik celah itu jelas berada pada level yang jauh melampaui semua lawan yang pernah ditemuinya.
Suara sistem kembali terdengar di kepalanya, namun kali ini nada mekanisnya dipenuhi oleh gangguan statik yang sangat kacau.
[Target... tidak dapat... dianalisis... Seluruh data mengenai entitas ini tidak ditemukan dalam pusat data sistem saat ini...]
Detik berikutnya, sistem benar-benar terdiam tanpa memberikan satu pun rekomendasi strategi bertarung yang biasanya selalu muncul secara otomatis.
Wajah Lin Yuan tetap terlihat tenang, namun di dalam hatinya ia menyadari bahwa ancaman kali ini benar-benar sangat nyata.
Jika sistem tidak mampu mengenali makhluk tersebut, berarti ia berada di luar batas pengetahuan yang dimiliki oleh dunia.
Lelaki tua di samping prasasti mengembuskan napas panjang, tatapannya tidak pernah lepas dari celah hitam yang semakin melebar.
"Akhirnya... hari yang paling aku takuti selama ribuan tahun ini tetap datang juga menyapa dunia kita," ucapnya lirih.
Suara lelaki tua itu terdengar sangat lelah, seolah ia telah memikul beban yang sangat berat selama waktu lama.
Lin Yuan melangkah mendekat dengan waspada. "Siapa sebenarnya makhluk mengerikan yang sedang mencoba keluar dari celah kegelapan itu?"
Lelaki tua tidak langsung menjawab, tangannya perlahan menyentuh permukaan prasasti hitam yang mulai memancarkan cahaya putih sangat terang.
Cahaya itu menyebar ke delapan gerbang batu, membentuk delapan pilar sinar raksasa yang mencoba menahan retakan di langit-langit.
WUUUUNG!
Getaran di seluruh menara sedikit melemah, namun sepasang mata merah itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun.
Lelaki tua akhirnya membuka suara dengan nada berat. "Selama ini, kau mungkin mengira Menara Takdir dibangun untuk memilih pewaris."
Lin Yuan mengangguk pelan karena semua ujian yang ia lalui memang tampak seperti proses seleksi untuk memilih seorang penerus.
Lelaki tua tersenyum pahit menatap Lin Yuan. "Itu memang benar, tetapi itu bukanlah tujuan utama dari pembangunan menara ini."
Lin Yuan langsung menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Lalu, apa maksud sebenarnya dari keberadaan seluruh menara suci ini?"
Lelaki tua mengangkat kepalanya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kenangan masa lalu yang sangat pahit dan menyakitkan.
"Menara Takdir ini sebenarnya adalah sebuah segel raksasa yang dibangun untuk mengurung sesuatu yang sangat berbahaya bagi seluruh dunia."
Kalimat itu menggema di seluruh aula, membuat jantung Lin Yuan berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya karena merasa terkejut.
"Setiap pewaris yang berhasil melewati ujian akan meninggalkan sebagian kekuatannya di tempat ini untuk memperkuat segel kuno tersebut."
Mata Lin Yuan membelalak lebar menyadari bahwa seluruh ujiannya adalah bagian dari mekanisme pertahanan segel yang telah berlangsung lama.
Pada saat itu, sepasang mata merah di balik kegelapan berkedip perlahan, dan sebuah senyuman tipis muncul di balik celah.
Seketika, seluruh cahaya putih yang keluar dari prasasti mulai bergetar hebat seolah sedang menghadapi tekanan yang sangat luar biasa.
KRAAAK!
Salah satu pilar cahaya tiba-tiba retak, disusul oleh pilar-pilar lainnya yang mulai hancur satu demi satu secara beruntun.
Wajah lelaki tua langsung berubah menjadi sangat pucat pasi. "Mustahil... bagaimana mungkin segel kuno ini bisa melemah secepat ini?"
Lin Yuan segera mengangkat pedangnya, ia dapat merasakan bahwa sesuatu di balik celah hitam itu sedang berusaha keras keluar.
Tekanan dari balik kegelapan terus meningkat secara drastis, membuat udara di sekeliling Lin Yuan terasa menjadi semakin berat sekali.
Lelaki tua tiba-tiba melangkah maju ke depan, mengangkat telapak tangan kanannya ke arah langit-langit aula dengan penuh tekad besar.
"Bangkitlah, Segel Delapan Gerbang!" serunya dengan suara lantang yang menggetarkan seluruh ruangan aula yang sangat luas dan megah itu.
BOOOOM!
Delapan gerbang batu memancarkan cahaya menyilaukan, membentuk lingkaran raksasa yang mencoba menekan retakan hitam di atas kepala mereka.
Untuk sesaat, getaran di seluruh aula berhenti total, namun kedamaian itu hanya bertahan selama beberapa detik yang sangat singkat.
KRAAAK!
Suara retakan yang jauh lebih keras kembali terdengar, dan lingkaran cahaya itu mulai dipenuhi oleh garis-garis hitam pekat.
Lelaki tua memuntahkan seteguk darah segar, tubuhnya mundur tiga langkah dengan wajah yang terlihat semakin lemah dan juga pucat.
Lin Yuan langsung menahan tubuh lelaki tua itu agar tidak terjatuh. "Senior, apakah Anda baik-baik saja menghadapi tekanan ini?"
Lelaki tua menggelengkan kepalanya perlahan. "Jangan pedulikan keadaanku, segel ini sudah terlalu lemah untuk menahan kekuatan besar makhluk itu."
Lin Yuan kembali menatap sepasang mata merah tersebut, dan anehnya tatapan itu tidak dipenuhi kebencian melainkan rasa lapar besar.
"Akhirnya... cahaya para pewaris yang selama ini mengurungku mulai padam sepenuhnya," suara berat itu menggema dari balik celah kegelapan.
Suara itu mengandung tekanan yang mampu mengguncang jiwa siapa pun, membuat lelaki tua langsung menggertakkan giginya dengan sangat rapat.
"Diam!" teriak lelaki tua sambil kembali mengangkat tangannya, meskipun kini seluruh lengannya tampak bergetar dengan sangat hebat sekali.
Lin Yuan terkejut melihat tubuh lelaki tua itu mulai berubah menjadi titik-titik cahaya kecil yang perlahan menghilang ke udara.
"Senior... apa yang terjadi dengan tubuh Anda?" tanya Lin Yuan dengan nada suara yang dipenuhi oleh rasa khawatir mendalam.
Lelaki tua tersenyum tipis menatapnya. "Aku sebenarnya sudah lama mati, yang berdiri di hadapanmu hanyalah sisa kehendak jiwaku."
Lin Yuan tertegun menyadari bahwa selama ini ia berbicara dengan sosok yang telah tiada sejak ribuan tahun yang silam.
Lelaki tua menatap Lin Yuan dengan penuh harapan. "Kau memiliki Benih Jalan Pedang, itu berarti kau memiliki kesempatan yang besar."
"Jangan buru-buru mencari kekuatan semata, tapi carilah alasan yang paling mendasar mengapa kau harus menghunus pedang besimu itu sekarang."
Begitu kalimat itu selesai, Benih Jalan Pedang di jiwa Lin Yuan berdenyut kuat seolah sedang merespons nasihat bijak tersebut.
Suara sistem yang lama terdiam akhirnya kembali muncul memberikan misi tersembunyi yang sangat penting bagi keselamatan seluruh Menara Takdir.
[Misi Tersembunyi: Lindungi Segel Delapan Gerbang! Kegagalan dalam misi ini akan menyebabkan seluruh Menara Takdir runtuh dan hancur total!]
DUAAARRR!
Ledakan dahsyat mengguncang aula, dan salah satu dari delapan gerbang batu hancur berkeping-keping menjadi pecahan batu yang tajam.
Dari balik debu yang pekat, perlahan muncul sebuah tangan hitam raksasa yang dipenuhi oleh sisik merah gelap yang mengerikan.
Jari-jarinya mencengkeram lantai aula dengan sangat kuat, sementara makhluk itu mulai menarik tubuh besarnya keluar dari celah kegelapan tersebut.
Lelaki tua memejamkan matanya dengan wajah penuh keputusasaan. "Sudah terlambat, Segel Delapan Gerbang akhirnya telah berhasil diretas sebagian."
.........
Bersambung...