NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNGA YANG GUGUR SEBELUM MEKAR

 “Mbak Maira, mau gak sesekali kita ikut pengajian ke pesantren tempat aku dulu mondok? Di sana biasanya ngadain pengajian mingguan untuk umum, setiap malam Minggu,” ajak Aisyah di sela-sela waktu istirahat kerja mereka di kafe. Matanya menatap Maira dengan penuh harap.

Maira sempat terdiam sejenak, menimang-nimang ajakan tersebut. Ada rasa ragu yang sempat mencuat, takut jika lingkungan pesantren terlalu asing untuk orang seperti dirinya. Namun, mengingat tekadnya untuk terus belajar, ia akhirnya mengangguk. “Eumhh... boleh deh, Syah. Gue ikut.”

Saat malam Minggu tiba, Maira berdiri di depan cermin kamarnya dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia mengenakan sebuah gaun panjang longgar berwarna hitam yang baru ia beli dari hasil menyisihkan sisa gajinya. Sebuah pashmina dengan warna senada kini membingkai wajah indah dan cantiknya dengan sangat pas. Penampilan Maira malam ini terlihat jauh lebih syar'i, namun tetap modis dan anggun. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan diri sendiri sebelum melangkah keluar.

Aisyah kemudian mengirimkan share location rumahnya ke ponsel milik Maira. Tanpa membuang waktu, Maira langsung memesan taksi online untuk berangkat menuju ke sana.

Begitu mobil taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang bernuansa asri dan sejuk, Maira turun dengan langkah pelan. Ia mengetuk pintu, dan detik berikutnya, pintu terbuka menampilkan sosok Aisyah yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

Tidak hanya Aisyah, Maira juga disambut dengan sangat ramah oleh keluarga Aisyah yang sedang berkumpul di ruang tengah. Dan di sana, duduk pula Fatih yang mengenakan baju koko putih bersih serta peci hitam.

Saat Maira melangkah masuk, Fatih secara tidak sengaja mendongak dan melihat Maira sekilas. Detik itu juga, jantung Fatih berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Ada sebersit rasa takjub yang menelusup ke dadanya melihat betapa anggun dan cantiknya Maira dengan balutan busana syar'i malam ini. Fatih dengan cepat langsung menundukkan pandangannya kembali demi menjaga syariat.

Di sisi lain, Maira pun merasakan hal yang sama. Dadanya berdesir hebat mendapati tatapan sekilas dari Fatih. Namun, dengan cepat Maira menepis perasaan itu. Rasa rendah diri yang pekat langsung membentengi hatinya, mengingatkan siapa dirinya yang sebenarnya.

“Umi... ini temen Aisyah di tempat kerja. Senior Aisyah yang sering Aisyah ceritain, Mbak Maira,” ucap Aisyah dengan ceria, memperkenalkan Maira kepada seorang wanita paruh baya berwajah teduh yang mengenakan mukena.

Umi Aisyah tersenyum sangat ramah, menatap Maira dengan pandangan keibuan yang tulus. “Masyaallah... cantik sekali temannya Aisyah. Ini mau kemana rapi sekali, Nduk?”

Maira tersenyum sopan, lalu menyalimi tangan Umi Aisyah dengan takzim. “Mau ikut pengajian, Tante... sama Aisyah,” ucap Maira dengan nada suara yang lembut dan sedikit malu-malu.

Fatih yang duduk tidak jauh dari sana dan sayup-sayup mendengar percakapan lembut mereka, diam-diam menyunggingkan sebuah senyuman manis di bibirnya. Ada rasa bahagia dan syukur yang membuncah di dalam hati Fatih melihat perubahan Maira yang sedikit demi sedikit berjalan ke arah yang lebih baik.

Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di kompleks pesantren yang sudah dipadati oleh ratusan jamaah dan santri. Suasana malam itu begitu hidup dengan lantunan salawat yang menggema syahdu.

Saat mereka sedang berjalan di koridor dekat aula pengajian, seorang wanita cantik berpakaian syar'i yang sangat anggun tiba-tiba menghampiri Aisyah. Wanita itu memiliki wajah yang manis, teduh, dan memancarkan aura seorang berilmu. Keduanya langsung terlibat dalam obrolan yang tampak sangat akrab.

Maira terpaku di tempatnya berdiri. Matanya tidak bisa beralih dari menatap wanita tersebut. Di dalam hatinya, Maira merasa teramat kagum melihat kecantikan alami, tutur kata yang santun, serta keanggunan yang memancar dari setiap gerak-gerik wanita itu.

Menyadari Maira yang terdiam, Aisyah segera menarik lengan sahabatnya itu mendekat. “Kak Halwa, kenalin... ini Kak Maira, temen Aisyah di tempat kerja,” ucap Aisyah memperkenalkan.

Wanita bernama Halwa itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Maira. Ia tersenyum manis, lalu mengulurkan tangannya dengan anggun. “Halwa,” ucapnya lembut.

Maira membalas jabatan tangan itu dengan senyuman yang dipaksakan sehangat mungkin. “Maira,” sahutnya pendek. Di dekat Halwa, Maira mendadak merasa seperti sebutir debu yang tidak ada apa-apanya. Halwa adalah definisi wanita salihah yang sesungguhnya.

Hingga beberapa menit kemudian, saat waktu pengajian resmi dimulai, seluruh jamaah mulai tertib menduduki tempat masing-masing. Di barisan depan aula, sebuah siluet laki-laki yang sangat tidak asing bagi Maira tampak melangkah maju ke depan mimbar.

Maira mengernyitkan dahi, mempertajam pandangannya. Jantungnya mencelos seketika. Lelaki itu adalah Fatih. Ternyata, penceramah utama dalam pengajian akbar malam ini adalah Fatih sendiri. Begitu Fatih duduk di depan mikrofon, riuh bisik-bisik kagum dari barisan santriwati langsung merebak, membuat suasana aula sempat heboh sesaat oleh kekaguman mereka terhadap sosok Fatih yang muda dan berwibawa.

Di tengah kehebohan tipis itu, seorang santriwati yang duduk tepat di sebelah Halwa menyenggol bahu Halwa dengan wajah menggoda.

“Masyaallah ya, Halwa... kamu beruntung banget bisa dapet calon suami kayak Kang Fatih. Udah alim, pinter, ganteng lagi,” ucap santriwati itu dengan suara setengah berbisik yang cukup jelas terdengar oleh telinga Maira yang duduk tidak jauh di belakang mereka.

Mendengar godaan temannya, Halwa tidak membantah. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang mendadak bersemu merah jambu dengan senyuman malu-malu yang tersungging di bibirnya. Reaksi Halwa seolah membenarkan setiap kata yang diucapkan oleh temannya tadi.

Deg.

Mendengar kata "calon suami" keluar dari mulut santriwati tersebut dan melihat reaksi Halwa, dada Maira seketika bergemuruh hebat. Rasanya seperti ada sebuah hantaman tak kasat mata yang menghujam tepat di ulu hatinya, menyisakan rasa sesak yang teramat perih hingga ia kesulitan untuk bernapas sejenak.

Maira menatap kosong ke arah mimbar tempat Fatih kini mulai membuka ceramahnya dengan untaian ayat suci yang terdengar begitu merdu. Namun, fokus Maira sudah pecah berantakan. Kalimat-kalimat ceramah Fatih seolah meredam di telinganya.

“Oh... ternyata Fatih udah ada calon toh,” batin Maira dengan senyum miris yang tertahan di sudut bibirnya. Hatinya terasa begitu perih, robek oleh kenyataan yang baru saja ia ketahui.

Ia kembali menatap punggung Halwa yang anggun, lalu beralih menatap Fatih di depan sana. “Mereka cocok banget. Sama-sama berilmu, sama-sama good looking, dan yang paling penting... mereka berada di dunia yang sama. Dunia yang bersih.”

Maira menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jilbabnya di atas pangkuan. Air mata yang hampir saja menetes dengan cepat ia seka sebelum Aisyah menyadarinya. Desiran manis yang sempat tumbuh di hatinya sore kemarin, kini dipaksa gugur bahkan sebelum sempat mekar menjadi sekuntum bunga. Maira sadar, benteng pemisah di antara dirinya dan Fatih bukan lagi sekadar masa lalu, melainkan sesosok wanita sempurna bernama Halwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!