NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003: Bukan Orang Biasa

Hidup ternyata tidak otomatis menjadi lebih mudah hanya karena seseorang pernah mati dengan gagah.

Malam pertama Keira di rumah Prasetyo dimulai dengan nasi dingin, tempe sisa, dan suara Bu Sri yang lebih tajam daripada sendok aluminium yang beradu dengan piring.

"Makan pelan-pelan, Keira. Jangan seperti orang nggak pernah lihat nasi."

Keira menatap piringnya.

Ia baru mengambil dua suap.

Di meja kecil itu, Laras duduk di samping Bu Sri dengan ponsel baru di sebelah mangkuk. Layarnya menyala beberapa kali, menampilkan notifikasi Instagram. Pak Prasetyo makan sambil menunduk. Bayu duduk paling ujung, kaki kirinya diluruskan sedikit di bawah meja agar tidak terlalu sakit.

"Besok Laras ada tambahan matematika," lanjut Bu Sri. "Biayanya tiga ratus ribu. Bapak jangan lupa transfer ke gurunya."

Pak Prasetyo batuk kecil. "Uang bulan ini..."

"Jangan mulai." Bu Sri langsung memotong. "Kalau untuk masa depan anak, harus diusahakan. Laras itu harapan keluarga. Masuk UI bukan perkara gampang."

Laras menunduk manis. "Mama, aku juga nggak mau merepotkan."

Keira hampir tertawa.

Hampir.

Ingatan pemilik tubuh ini memberi tahu bahwa uang seragam Keira pernah ditunda tiga bulan, uang makan siangnya sering dipotong, sedangkan Laras punya les, ponsel baru, sepatu baru, dan alasan baru untuk dipuji.

Bayu diam-diam mendorong potongan tempe ke piring Keira.

Gerakan itu kecil, tetapi Bu Sri melihatnya.

"Bayu."

Anak itu membeku.

"Kamu sendiri makan saja susah, masih bagi-bagi? Nanti kalau sakit kaki lagi, siapa yang bayar? Jangan bikin Ibu pusing."

Jari Bayu mengencang di tepi piring. "Iya, Bu."

"Dan kamu," Bu Sri menoleh ke Keira, "jangan biasakan adikmu kasihan sama kamu. Dia itu sudah cukup jadi beban keluarga."

Udara di ruang makan tiba-tiba berubah.

Pak Prasetyo mengangkat kepala. "Sri..."

"Apa? Memang salah? Kaki begitu sudah bertahun-tahun. Dokter spesialis mahal. BPJS antre terus. Kalau kita punya uang lebih, pasti sudah Ibu bawa. Tapi uangnya dari mana?"

Bayu menunduk lebih dalam.

Keira meletakkan sendok.

Suara kecil itu membuat Laras melirik. Ia mungkin berharap Keira menangis atau membela diri dengan cara bodoh seperti dulu.

Keira hanya menatap Bu Sri.

"Kalau tidak bisa mengobati, jangan jadikan sakitnya bahan omongan."

Tidak keras.

Tidak tinggi.

Tapi semua orang di meja itu berhenti bergerak.

Bu Sri mengerjap, seperti tidak yakin telinganya benar. "Kamu bilang apa?"

Keira mengambil potongan tempe dari piringnya, mengembalikannya ke piring Bayu. "Makan."

Bayu menatapnya, bingung dan takut.

Laras tertawa kecil. "Mbak Keira sejak bangun dari rumah sakit jadi sensitif sekali, ya. Mama cuma bilang kenyataan."

Keira menoleh padanya.

Laras masih tersenyum. Lalu senyum itu pelan-pelan kaku.

Tatapan Keira tidak seperti tatapan orang tersinggung. Tidak panas. Tidak sedih. Justru terlalu kosong. Seperti seseorang sedang mengukur jarak antara tangan dan leher.

Laras tanpa sadar menarik ponselnya lebih dekat.

Pak Prasetyo cepat berdiri. "Sudah, sudah. Keira baru pulang. Jangan ribut."

Bu Sri mendengus, tetapi kali ini ia tidak melanjutkan.

Setelah makan, Keira masuk ke ruang belakang. Bayu mengikutinya dengan langkah pincang yang ia coba sembunyikan.

"Mbak."

Keira berhenti di depan kasur tipisnya.

"Kaki kamu sejak kapan begitu?"

Bayu terdiam. "Sudah lama."

"Jawab dengan jelas."

Anak itu menelan ludah. "Waktu SMP jatuh dari motor. Awalnya cuma keseleo, tapi... lama-lama kalau jalan jauh sakit. Kadang kebas."

Keira berjongkok di depannya tanpa meminta izin. Tangannya menyentuh sisi lutut Bayu, lalu pergelangan kaki, lalu titik di belakang betis. Bayu tersentak.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Bohong."

Wajah Bayu memerah. "Nggak apa-apa, Mbak. Aku sudah biasa."

Kalimat itu membuat dada Keira terasa aneh.

Di Shadow, anak-anak juga sering berkata sudah biasa. Sudah biasa disuntik. Sudah biasa dikurung. Sudah biasa berdarah. Kalimat itu bukan tanda kuat. Itu tanda tidak ada yang datang menolong.

"Besok aku lihat lagi," kata Keira.

Bayu panik. "Jangan bilang Mama. Nanti ribut."

"Aku tidak minta izin dia."

Bayu menatapnya seolah Keira baru mengatakan sesuatu yang mustahil.

Di depan, Bu Sri mulai membagi tugas rumah dengan suara sengaja dikeraskan. Laras diminta istirahat karena besok ada les. Pak Prasetyo diminta mencuci motor. Keira, yang baru pulang dari rumah sakit, disebut harus mencuci piring karena "di rumah jangan cuma jadi tamu".

Bayu otomatis berdiri. "Biar aku saja, Bu."

"Kamu duduk. Kaki begitu nanti tambah drama," jawab Bu Sri.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi bahu Bayu turun pelan. Keira melihatnya dan menyimpan satu lagi daftar kecil di kepala. Di Shadow, ia belajar menghafal kelemahan musuh. Di rumah ini, ia mulai menghafal luka orang yang harus ia lindungi.

Untuk mengalihkan rasa canggung, ia meraih buku tulis di meja kecil. "Mbak, kalau mau istirahat, aku pindah belajar di depan."

Keira melihat halaman yang terbuka. Soal matematika. Bukan soal SMA biasa. Ada catatan integral, barisan, dan satu soal dari forum daring yang tampaknya disalin Bayu diam-diam.

"Itu punyamu?"

"Iya. Cuma iseng." Bayu buru-buru menutup buku. "Aku tahu aku nggak mungkin ikut bimbel seperti Laras. Tapi kalau belajar sendiri, mungkin masih bisa."

Keira menarik buku itu dari tangannya.

Bayu kaget. "Mbak, itu susah. Jawabannya saja di internet panjang banget."

Keira mengambil pulpen.

Tangannya memang belum terbiasa dengan tubuh ini. Jari-jarinya lebih kaku, genggamannya tidak presisi. Namun angka tetap angka. Struktur tetap struktur. Persamaan tidak peduli tubuh siapa yang menuliskannya.

Dalam kurang dari satu menit, ia menulis tiga baris.

Bayu menunggu.

Lalu menunggu lagi.

"Selesai," kata Keira.

Bayu menatap halaman itu. Dahinya berkerut. Ia membandingkan dengan foto jawaban di ponselnya, lalu kembali ke tulisan Keira.

"Ini... kok bisa jadi pendek begini?"

"Karena jawaban di internet memutar."

"Tapi ini soal mahasiswa."

"Soalnya tetap punya pola."

Bayu duduk lebih tegak. Matanya yang tadi redup mendadak menyala. Ia membalik beberapa halaman, mencari soal lain dengan terburu-buru.

"Kalau yang ini?"

Keira membaca soal itu sekilas.

"Dua puluh tujuh."

Bayu membeku. "Mbak belum nulis."

"Tidak perlu."

"Tunggu." Ia membuka kalkulator di ponsel tua, mengetik panjang, lalu berhenti ketika hasilnya muncul. Wajahnya berubah. "Benar."

Di depan rumah, suara video Laras masih terdengar. Bu Sri masih mengomel soal piring yang belum dicuci. Dunia kecil keluarga Prasetyo tetap sempit dan berisik.

Namun di ruang belakang itu, Bayu menatap Keira seperti baru melihat pintu rahasia terbuka di dinding yang selama ini ia kira buntu.

"Mbak..."

Keira menutup pulpen.

"Jangan bilang siapa-siapa."

Bayu mengangguk cepat, tetapi matanya tidak lepas dari halaman buku. "Selama ini... nilai Mbak jelek karena sengaja?"

Keira tidak menjawab.

Ia mengambil buku itu lagi dan menambahkan satu baris kecil di bawah jawaban. Bukan rumus panjang, hanya cara memotong soal menjadi dua bagian.

"Kalau ketemu bentuk seperti ini, jangan dikerjakan dari depan. Cari pola akhirnya dulu."

Bayu menatap catatan itu seperti benda berharga. "Mbak ngajarin aku?"

"Kalau kamu mau."

Kali ini Bayu mengangguk terlalu cepat. Matanya basah, tetapi ia menunduk sebelum airnya jatuh. Mungkin selama ini tidak ada orang di rumah yang benar-benar duduk di sampingnya dan berkata bahwa ia bisa belajar, bukan cuma bertahan.

Ia berbaring miring, membelakangi lampu redup, seolah semua itu bukan hal penting.

Bayu masih duduk dengan buku di pangkuan. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut kali ini, melainkan karena sesuatu yang lebih dekat dengan harapan.

Akhirnya ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.

"Mbak... semuanya akting?"

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!