NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Otoritas Di Balik Pintu Yang Tertutup

Malam itu berakhir dengan tawa. Bersama Dinda, Yuna sejenak bisa melupakan beban status barunya sebagai seorang istri rahasia. Mereka menonton film komedi, menghabiskan seblak pedas, dan tertidur larut malam tanpa beban. Lagipula, hari Selasa adalah hari yang santai untuk semester mereka—tidak ada jadwal kuliah pagi, dan kelas baru dimulai pukul satu siang.

​Yuna baru terbangun saat matahari sudah mulai tinggi. Setelah membersihkan diri, ia pamit pada Dinda tepat pukul sembilan pagi untuk pulang ke rumah Labib dengan alasan ingin mengganti baju dan mengambil beberapa buku yang tertinggal untuk kelas siang nanti.

​Ponselnya masih sengaja ia biarkan mati di dalam tas. Di kepalanya, ia sudah menyusun alibi matang untuk menghadapi suaminya. Ia akan beralasan ponselnya mati total, lalu ketiduran di kos teman karena terlalu lelah dan kemalaman setelah mengerjakan tugas kelompok.

​Dengan langkah santai dan sisa keceriaan semalam, Yuna memarkirkan mobil City Car putihnya di garasi. Ia melangkah ke pintu depan, memutar kunci cadangan yang dipegangnya, lalu mendorong pintu kayu besar itu terbuka.

​Cklek.

​Langkah kaki Yuna seketika membeku tepat di ambang pintu. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah lenyap dalam sekejap. Sisa keceriaan dari kos Dinda menguap tanpa bekas.

​Di atas sofa panjang ruang tamu rumah mereka, duduk seorang pria dengan postur tegap. Labib.

​Pria berumur 31 tahun itu sudah tampil sangat rapi, seolah bersiap untuk pergi mengajar. Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru navy yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain hitam berpotongan presisi. Kacamata bacanya bertengger di hidung mancungnya, namun ia tidak sedang memeriksa cetak biru atau draf mahasiswa. Jam tangan di pergelangan kirinya menunjukkan pukul 09.15 pagi. Pria itu tampak sengaja menunggunya.

​Mendengar suara pintu terbuka, Labib menurunkan pandangannya dari berkas di meja. Pria itu melepas kacamatanya dengan gerakan perlahan yang penuh intimidasi, lalu melayangkan tatapan mata elangnya lurus-rus ke arah Yuna.

​Wajah hangat "bak malaikat" yang memasak nasi goreng dan cumi saus telur asin kemarin malam kini benar-benar sirna. Yang ada di depan Yuna saat ini adalah Pak Labib dalam mode paling menakutkan—dingin, tegas, mutlak, dan tak tersentuh. Aura "Macan Kampus" yang ditakuti ribuan mahasiswa menguar hebat, membuat atmosfer ruang tamu yang luas itu mendadak sedingin es kutub.

​"Sudah puas pelariannya, Yuna Anindya?" suara berat Labib memecah keheningan, nadanya begitu datar namun sarat akan penekanan yang membuat bulu kuduk Yuna meremang.

​Yuna mematung di dekat pintu yang masih terbuka setengah, tangannya yang memegang tali tas ransel mendadak gemetar. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan. Alibi matang yang sudah ia susun rapi di sepanjang jalan tadi seketika hancur lebur di bawah tatapan tajam suaminya sendiri.

​Langkah kaki Labib yang teratur di atas lantai granit terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur nasib Yuna. Pria berumur 31 tahun itu berjalan mendekat tanpa mengalihkan pandangan elangnya sedikit pun. Setiap langkahnya membawa aura intimidasi yang membuat Yuna refleks mundur satu langkah, hingga punggungnya membentur daun pintu yang kokoh.

​Brak.

​Labib mengulurkan tangan kirinya, menutup pintu depan dengan hentakan pelan namun tegas, mengunci dunia luar dari apa yang terjadi di dalam rumah mereka.

​Kini, jarak di antara mereka terkikis habis. Aroma parfum mint maskulin milik Labib menguar kuat, mengepung indra penciuman Yuna. Sebelum Yuna sempat membuka mulut untuk mengeluarkan alibi yang sudah ia siapkan, tangan kanan Labib bergerak cepat. Pria itu mencengkeram lengan atas Yuna dengan kuat.

​"Ma-Mas... sakit," cicit Yuna spontan, matanya mulai berkaca-kaca bukan hanya karena rasa perih di lengannya, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat melihat kemarahan yang tertahan di balik wajah datar suaminya.

​Labib tidak melepaskan cengkeramannya, namun ia tidak juga menambah kekuatannya. Ia hanya mengunci pergerakan istrinya yang baru berusia 21 tahun itu agar tidak bisa mengelak lagi. Tatapannya menghunjam lurus ke dalam manik mata Yuna yang bergetar.

​"Sakit?" suara berat Labib terdengar begitu rendah, hampir menyerupai bisikan gila yang berbahaya. "Lalu bagaimana dengan saya, Yuna? Semalaman saya menunggu di rumah ini, menatap makanan yang mendingin di meja, mencoba menghubungi nomor teleponmu puluhan kali hanya untuk mendengar suara operator."

​Rahang Labib mengeras, ada urat halus yang menegang di pelipisnya. "Kamu mematikan ponselmu. Kamu menghilang tanpa kabar setelah melihat saya berjalan dengan Bu Citra di kampus. Kamu pikir dengan status pernikahan rahasia yang kamu minta, kamu bisa bertingkah seenak jidatmu dan mengabaikan saya sebagai suamimu?"

​Yuna menelan ludah dengan susah payah. Semua keberanian yang ia miliki saat tertawa bersama Dinda semalam seketika runtuh. Sisi manja dan kekanak-kanakannya kini berhadapan langsung dengan kedewasaan dan ketegasan mutlak seorang pria matang yang tidak bisa dipermainkan.

​"Aku... aku cuma nginep di kosan Dinda, Mas," jawab Yuna terbata-bata, mencoba membela diri dengan suara yang bergetar. "Ponselku mati karena lowbat..."

​"Jangan berbohong di depan saya, Yuna Anindya!" potong Labib dengan nada yang meninggi, membuat Yuna refleks memejamkan mata karena terkejut. "Saya ini dosenmu, saya tahu persis kapan mahasiswaku sedang menyusun skenario palsu. Kamu sengaja mematikan ponselmu karena kamu sedang merajuk, kan?"

​Labib memajukan wajahnya, menyisakan jarak hanya beberapa senti dari wajah Yuna yang sudah pucat pasi. Cengkeramannya di lengan Yuna terasa hangat namun begitu mengikat, menegaskan posisinya yang dominan di rumah ini.

​"Saya sudah memperingatkanmu sejak awal. Di kampus, kita menjaga jarak demi kenyamananmu. Tapi di rumah ini, saya adalah suamimu. Dan saya tidak akan pernah mentoleransi seorang istri yang kabur dari rumah tanpa izin, mematikan komunikasi, dan membuat suaminya seperti orang bodoh karena mencemaskannya semalaman."

​Labib menghela napas berat, mencoba meredam gejolak amarahnya yang hampir lepas kendali sebelum ia benar-benar menyakiti gadis di depannya. "Sekarang, naik ke kamar, ganti bajumu, dan nyalakan ponselmu. Kita belum selesai bicara."

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!