seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lamaran dan duka
Bab 46: Lamaran Kaisar dan Kematian Tiara*
Pagi di kediaman Hana terasa tenang. Matahari musim gugur menyinari halaman melalui sela-sela dedaunan mapel. Aroma teh melati baru diseduh memenuhi ruang tamu.
Hana duduk di beranda belakang, membaca laporan dagang dari gudang miliknya. Gaun panjang berwarna biru pucat membalut tubuhnya dengan anggun. Rambutnya terurai sebagian, hanya disemat jepit perak sederhana. Ia tampak seperti seorang bangsawan muda yang tidak peduli pada hiruk pikuk dunia luar.
Tiba-tiba, suara lonceng gerbang berbunyi tiga kali berturut-turut. Itu adalah kode kedatangan tamu dengan kedudukan tertinggi.
Leon berlari tergesa-gesa dari halaman depan. Napasnya tersengal.
“Nona Hana! Maaf mengganggu. Kaisar... Kaisar Sanata Ardian beserta rombongan datang! Beliau meminta bertemu dengan Nona sekarang juga!”
Hana mengangkat kepalanya perlahan. Alisnya tidak terkejut. Hanya sedikit mengerut.
“Kaisar?” gumamnya. “Untuk apa?”
“Tidak dijelaskan, Nona. Tapi para pengawal istana sudah memenuhi halaman depan. Katanya... beliau ingin berterima kasih secara pribadi.”
Hana menutup bukunya dengan tenang. “Siapkan ruang tamu utama. Dan bawakan teh terbaik.”
Ia berdiri. Wajahnya kembali datar. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa bangga. Hanya ketenangan seseorang yang sudah menduga hal ini akan terjadi.
**_
Ruang tamu utama dipenuhi cahaya. Karpet merah terbentang. Vas porselen mahal diletakkan di setiap sudut.
Kaisar Sanata Ardian masuk bersama dua orang menteri dan sepuluh pengawal istana. Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajahnya berwibawa, dengan janggut tipis yang terawat. Matanya tajam, tapi hari itu memancarkan kelelahan sekaligus rasa lega.
Hana maju tiga langkah dan membungkuk hormat. Tidak berlutut. Hanya membungkuk, sebagaimana bangsawan setara.
“Selamat datang, Yang Mulia Kaisar,” ucap Hana dengan suara tenang.
Kaisar menatap Hana lama. Ia mengangguk. “Berdirilah, Nona Hana. Tidak perlu formalitas berlebihan di rumahmu sendiri.”
Hana menegakkan badan.
“Saya datang ke sini tanpa upacara,” lanjut Kaisar. “Karena saya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi.”
Ia melambaikan tangan. Menteri di belakangnya maju dan menyerahkan gulungan sutra bersegel emas.
“Berkat bantuanmu, lima puluh ribu keping emas dalam bentuk gandum dan obat telah sampai di perbatasan. Ayahmu, Tuan Bima, telah diterima dengan baik oleh Jenderal Dominic. Markas kami tidak akan kelaparan musim dingin ini.”
Hana menerima gulungan itu dengan kedua tangan. “Itu adalah kewajiban saya sebagai warga Sanata, Yang Mulia.”
Kaisar tersenyum. Senyum itu tulus. “Kewajiban? Tidak semua warga negara mau mengorbankan hartanya untuk tentara di perbatasan. Apalagi seorang wanita muda.”
Ia berjalan mendekati jendela. “Sanata sedang sulit, Hana. Kas negara kosong karena perang di timur. Para bangsawan hanya memikirkan diri sendiri. Tapi kamu... kamu muncul dan menyelamatkan prajurit kami tanpa meminta imbalan apa pun.”
Hana tidak menjawab. Ia hanya menunggu.
Kaisar berbalik. Sorot matanya berubah. Menjadi lebih dalam, lebih menyelidik.
“Hana,” katanya pelan. “Izinkan saya bertanya sesuatu yang mungkin mengejutkanmu.”
Hana menatap Kaisar. “Silakan, Yang Mulia.”
Kaisar menarik napas. “Putraku, Pangeran Mahkota Alexander, akan berusia dua puluh tiga tahun musim dingin ini. Ia cerdas, berani, dan akan menjadi Kaisar setelahku. Ia belum bertunangan.”
Jantung Hana berdetak sedikit lebih cepat. Tapi wajahnya tetap tenang.
“Saya ingin tahu,” lanjut Kaisar. “Apakah kamu bersedia mempertimbangkan pernikahan dengan putraku? Menjadi Putri Mahkota Sanata?”
Keheningan turun di ruangan itu. Para menteri menahan napas. Jay yang berdiri di pintu hampir menjatuhkan nampan teh.
Ini adalah lamaran langsung dari Kaisar. Sebuah kehormatan yang tidak akan pernah ditolak oleh wanita mana pun di seluruh kerajaan.
Hana menatap Kaisar. Matanya tidak menghindar. Tidak berkaca. Tidak bergetar.
“Yang Mulia,” jawab Hana dengan suara yang jernih dan tegas. “Saya berterima kasih atas kepercayaan dan kehormatan yang Yang Mulia berikan. Saya juga berterima kasih atas bantuan Yang Mulia kepada ayah saya di perbatasan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi... saya menolak.”
`Deg!`
Salah satu menteri hampir terjatuh. Jay menutup mulutnya dengan tangan.
Kaisar menyipitkan matanya. “Menolak?”
Hana mengangguk. “Benar, Yang Mulia. Saya menolak dengan hormat.”
“Mengapa?” suara Kaisar kini lebih berat. “Menjadi Putri Mahkota berarti kekuasaan, kehormatan, dan perlindungan seumur hidup. Tidak ada wanita yang akan menolak itu.”
Hana melangkah maju satu langkah. “Karena saya tidak memikirkan tentang pernikahan, Yang Mulia. Saat ini, pikiran saya hanya tertuju pada satu hal: membangun kembali Sanata dari dalam. Menyelamatkan rakyat yang kelaparan. Memastikan ayah saya pulang dengan selamat. Dan memastikan orang-orang yang pernah menyakiti saya tidak akan pernah mengangkat kepala lagi.”
Ia menatap Kaisar lurus. “Pernikahan adalah belenggu. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun membelenggu saya. Bahkan jika itu adalah Pangeran Mahkota.”
Kata-kata itu seperti petir di siang hari.
Kaisar terdiam lama. Ia menatap Hana seolah baru pertama kali melihatnya. Lalu, perlahan, ia tertawa. Tawa yang kecil, tapi penuh makna.
“Kamu benar-benar berbeda,” katanya. “Semua wanita di istana akan berlutut dan menangis bahagia jika mendengar tawaranku. Tapi kamu... kamu menolaknya seperti menolak secangkir teh yang terlalu panas.”
Hana membungkuk lagi. “Saya minta maaf jika telah mengecewakan Yang Mulia.”
Kaisar mengangkat tangannya. “Tidak. Kamu tidak mengecewakanku. Kamu membuatku menghormatimu lebih dalam.”
Ia berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
“Jika suatu hari kamu berubah pikiran, pintu istana selalu terbuka untukmu, Hana. Dan ingat, aku berutang budi padamu.”
Setelah itu, rombongan Kaisar pergi.
Hana berdiri di tengah ruang tamu yang kosong. Ia memejamkan mata sejenak, lalu berbisik, “Pernikahan... bukan untukku. Belum.”
_*_
Sore hari di Kediaman Bupati Sanata.
Langit mendung. Angin bertiup kencang, membuat dedaunan berguguran.
Suasana kediaman itu mencekam. Sejak pagi, tidak ada suara pelayan. Tidak ada tawa. Hanya isakan tertahan dari sayap timur.
Di dalam kamar Tiara, lilin telah padam sejak pagi. Gorden masih tertutup rapat. Bau amis darah bercampur dengan bau obat memenuhi ruangan.
Tiara terbaring di atas ranjang. Tubuhnya dingin. Perawakannya kurus. Di pergelangan tangannya, ada luka sayatan dalam. Di samping ranjang, ada pecahan beling dan surat yang robek.
Ia sudah tidak bernapas.
Ajeng yang pertama kali mendobrak pintu setelah tidak mendapat jawaban selama dua jam. Saat melihat putrinya, ia berteriak.
“TIARA!”
Jeritan itu menggema ke seluruh kediaman.
Ajeng merangkak ke sisi ranjang. Ia memeluk tubuh Tiara yang sudah kaku. Air matanya jatuh tanpa henti.
“Nak... bangunlah... Ibu mohon... Ini salah Ibu... Ibu yang membuatmu seperti ini...”
Ia mengguncang tubuh Tiara, berharap putrinya akan membuka mata. Tapi yang ia dapat hanya keheningan.
“Tidak... tidak... ya dewa, kenapa? Kenapa kau ambil anakku?” ratap Ajeng. Suaranya pecah. Ia memukuli dadanya sendiri. “Ini semua karena Hana! Hana yang merusak hidup kita! Hana yang membuat Tiara bunuh diri!”
Para pelayan yang mendengar teriakan itu berlari ke kamar. Saat melihat pemandangan itu, beberapa dari mereka menutup mulut. Yang lain hanya berdiri diam.
Tidak ada yang menangis untuk Tiara.
“Tuan Bupati! Tuan Bupati datang!” seru seorang pelayan.
Bupati masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat. Ia baru saja kembali dari kantor.
Saat melihat tubuh Tiara, lututnya lemas. Ia jatuh terduduk di samping ranjang.
“Tiara... anakku...” suaranya bergetar.
Ini adalah putri satu-satunya. Anak yang dulu ia banggakan. Anak yang dulu selalu berlomba memamerkan gaun di setiap pesta. Kini terbaring kaku, wajahnya pucat, dengan senyum getir yang terakhir.
Bupati menggenggam tangan Tiara. Tangan itu dingin.
“Maafkan Ayah, Nak... Ayah terlalu sibuk menyelamatkan nama keluarga... sampai lupa menyelamatkanmu...”
Ajeng menoleh ke suaminya dengan mata merah. “Ini salahmu! Kamu yang mengusirku! Kamu yang bilang Tiara tidak berguna! Sekarang lihat! Kamu puas? Kamu puas melihat anakmu mati?!”
Bupati tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Air matanya jatuh ke tangan Tiara.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bupati Sanata itu menangis seperti anak kecil.
_*_
Berita kematian Tiara menyebar cepat seperti api di musim kemarau.
Di pasar, para pedagang berbisik.
“Dengar? Putri Bupati bunuh diri.”
“Benar. Katanya depresi sejak dihina di restoran itu.”
“Yang menghina siapa? Oh... Nona Hana itu ya?”
Di kedai teh, para bangsawan muda berkumpul.
“Dia yang dulu paling angkuh. Selalu menertawakan orang miskin.”
“Sekarang dia mati sendiri. Itu karma.”
“Tapi kasihan juga. Umurnya masih muda.”
“Kasihan? Untuk apa? Dulu dia tidak pernah kasihan pada siapa pun.”
Tidak ada satu pun orang yang datang melayat dengan tulus. Hanya beberapa keluarga bangsawan tua yang datang karena kewajiban.
Malamnya, jenazah Tiara dimakamkan di pemakaman keluarga Bupati. Tidak ada musik. Tidak ada pesta. Hanya hujan gerimis yang turun pelan.
Ajeng pingsan tiga kali selama pemakaman. Bupati berdiri seperti patung, tidak mengucapkan sepatah kata pun.
_**
Di kediamannya, Hana mendengar kabar itu dari Leon.
“Nona, Nona Tiara... meninggal sore tadi. Katanya bunuh diri.”
Hana meletakkan kuasnya. Ia sedang melukis pemandangan pegunungan.
Ia diam beberapa saat.
“Dimakamkan di mana?” tanyanya pelan.
“Di pemakaman keluarga Bupati, Nona.”
Hana mengangguk. “Baiklah.”
Ia tidak tersenyum. Ia juga tidak bersedih. Wajahnya tetap datar.
Leon menatapnya ragu. “Nona... Anda tidak...”
Hana menoleh. “Aku tidak apa-apa, Logan. Tiara memilih jalannya sendiri. Aku tidak membunuhnya. Aku hanya menunjukkan cermin padanya. Dan dia tidak sanggup melihat dirinya sendiri.”
Leon menunduk. “Saya mengerti, Nona.”
Hana kembali melukis. Tangan yang memegang kuas itu stabil. Tidak gemetar.
“Beritahu pengawal bayangan ku,” katanya tanpa menoleh. “Perkuat penjagaan di perbatasan utara. Dan kirim surat untuk Ayah. Katakan padanya, musim dingin akan datang lebih cepat tahun ini.”
“Baik, Nona.”
Saat Leon keluar, Hana berhenti melukis. Ia menatap kanvas kosong di sampingnya.
Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Satu sudah jatuh. Masih ada yang lain.”
Di luar, angin malam bertiup lebih dingin. Musim gugur di Sanata tahun ini terasa lebih panjang.
---