NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.

Sejak hari itu, Alesha mulai semakin nyaman dengan kehidupan sekolah barunya.

Tidak ada lagi rasa canggung seperti saat pertama kali datang. Ia sudah hafal letak kelas, kantin favorit, taman belakang yang dulu menjadi tempat ia dihukum, bahkan jalur tercepat menuju gerbang sekolah.

Meski begitu, satu hal yang tidak berubah.

Kebiasaannya membuat orang di sekitarnya geleng-geleng kepala.

"Alesha."

Suara Dinda terdengar saat mereka berjalan menuju kelas.

"Hm?"

"Kamu bawa apa di dalam tas?"

Alesha menatap tasnya.

"Buku."

Dinda menyipitkan mata.

"Yakin?"

Alesha terlihat berpikir sebentar.

"Sebagian."

"Sebagian?"

Dinda langsung membuka sedikit tas Alesha.

Dan benar saja.

Selain buku pelajaran, ada beberapa makanan ringan, botol minum, dan sebuah kotak kecil.

Dinda mengangkat alis.

"Ini apa?"

Alesha langsung mengambilnya.

"Bekal Pingky."

Dinda hanya terdiam.

"Kamu serius?"

"Iya."

"Les, Pingky kan bukan ikut sekolah."

Alesha memasang wajah serius.

"Tapi dia tetap harus makan."

Dinda tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Kadang aku lupa kamu itu manusia atau bukan."

Alesha hanya tertawa kecil.

Saat mereka masuk kelas, suasana sudah ramai. Beberapa teman langsung menyapa Alesha.

"Les, nanti ikut latihan lagi?"

"Iya."

"Jangan lupa datang tepat waktu."

Alesha mengangguk.

Dinda tersenyum melihatnya.

"Lo sekarang sudah seperti anggota tetap sekolah."

Alesha duduk sambil membuka buku.

"Padahal baru beberapa minggu."

"Iya, tapi kamu cepat masuk ke lingkungan sini."

Alesha tersenyum kecil, Ia juga merasa begitu.

Sementara itu, di kelas Kevin, suasana berbeda.

Kevin sedang membaca buku ketika Reza tiba-tiba duduk di sampingnya.

"Vin."

"Apa?"

"Lo sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Adik lo sekarang sudah jarang bikin masalah."

Kevin berhenti membaca.

"Jarang?"

"Iya."

Alvian ikut bicara.

"Dulu tiap hari ada saja cerita. Sekarang malah sering dengar dia membantu."

Kevin tersenyum kecil.

"Bagus kalau begitu."

Arka yang sedang duduk di dekat jendela hanya mendengar.

"Dia memang mulai berubah."

Kevin melirik Arka.

"Lo memperhatikan juga?"

Arka langsung kembali melihat bukunya.

"Hanya terlihat."

Reza tersenyum jahil.

"Tentu saja terlihat."

Arka menatapnya.

"Diam."

Mereka pun tertawa kecil.

Saat jam makan siang, Alesha kembali bertemu dengan mereka di kantin. Namun kali ini ia datang membawa wajah serius.

Kevin langsung curiga.

"Ada apa?"

Alesha duduk.

"Gue mau bertanya."

"Pertanyaan apa?"

Alesha melihat mereka satu per satu.

"Menurut kalian, gue sekarang sudah berubah belum?"

Mereka semua terdiam.

Reza langsung menjawab.

"Sedikit."

Alesha menatapnya.

"Sedikit?"

"Iya. Dulu lo tidur di kelas, sekarang lo hampir tidur."

Alesha langsung memelototinya.

"Reza."

Reza tertawa.

Alvian lalu menjawab lebih serius.

"Menurut gue, iya. Kamu lebih bertanggung jawab."

Alesha tersenyum.

Lalu ia melihat Kevin.

"Kak?"

Kevin diam sebentar.

"Kamu masih ceroboh."

Alesha langsung cemberut.

"Tapi..."

Kevin melanjutkan.

"Kamu juga mulai belajar memperbaiki kesalahan."

Senyum Alesha kembali muncul.

"Berarti aku lumayan."

"Iya."

Arka yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

"Kamu tidak harus berubah menjadi orang lain."

Alesha menoleh.

"Maksudnya?"

"Jangan hilangkan sifat kamu yang membuat kamu jadi diri sendiri."

Kalimat itu membuat Alesha sedikit terdiam.

Jarang sekali Arka berkata panjang.

Dinda yang baru datang membawa minuman langsung melihat mereka.

"Aku ketinggalan sesuatu?"

Reza langsung tertawa.

"Nggak. Arka baru saja mengatakan sesuatu yang dalam."

Arka langsung menatapnya.

"Berlebihan."

Alesha hanya tersenyum kecil.

Hari itu terasa berbeda.

Bukan karena ada kegiatan besar.

Bukan karena ada kejadian lucu.

Tapi karena Alesha mulai sadar bahwa ia benar-benar diterima.

Sore hari setelah pulang sekolah, Alesha berjalan bersama Kevin menuju motor.

"Kak."

"Hm?"

"Makasih."

Kevin menoleh.

"Untuk apa?"

"Karena waktu aku pindah ke sini, Kakak selalu bantu aku."

Kevin terdiam sebentar.

Lalu mengacak rambut adiknya.

"Sudah tugas gue."

Alesha tersenyum.

Di belakang mereka, Arka dan teman-temannya baru keluar dari sekolah.

Reza memperhatikan keduanya.

"Hubungan kakak adik mereka bagus juga."

Alvian mengangguk.

"Iya."

Arka hanya diam melihat Alesha yang tertawa bersama Kevin.

Entah kenapa, melihat gadis itu bahagia membuat suasana hatinya ikut terasa lebih ringan.

Namun, ia segera mengalihkan pandangan.

"Besok masih sekolah."

Reza menatapnya sambil tersenyum.

"Iya, ketua."

Arka tidak menjawab.

Sementara itu, Alesha sudah naik ke motor bersama Kevin.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Tapi satu hal yang pasti.

Sekolah barunya yang awalnya ia takutkan, kini menjadi tempat yang penuh cerita.

Dan mungkin...

Masih banyak kejadian yang menunggunya.

Hari-hari di sekolah terus berjalan.

Tanpa terasa, Alesha sudah mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Bangun pagi, berangkat bersama Kevin, belajar, mengikuti kegiatan sekolah, lalu pulang dengan membawa cerita baru.

Meski begitu, ada satu hal yang masih sering membuat Kevin menghela napas.

"Alesha."

"Iya, Kak?"

"Kamu bawa apa lagi?"

Alesha yang baru saja turun dari motor langsung melihat tasnya.

"Buku."

Kevin menatapnya curiga.

"Jangan bohong."

Alesha tersenyum kecil.

"Sedikit makanan."

"Sedikit?"

Kevin membuka tasnya dan menemukan beberapa camilan.

"Alesha."

"Untuk jaga-jaga."

"Jaga-jaga apa?"

"Kalau lapar."

Kevin hanya bisa menggeleng.

"Kadang gue bingung bagaimana pikiran kamu bekerja."

Alesha tersenyum santai.

"Yang penting bekerja."

Dari belakang, suara tawa terdengar.

Reza dan Alvian baru saja datang bersama Arka.

"Sepertinya pagi-pagi sudah ada drama."

Alesha langsung menoleh.

"Reza, jangan ikut campur."

Reza tertawa.

Sementara Arka hanya melihat tas Alesha.

"Kamu membawa banyak barang."

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Untuk apa?"

Alesha mulai menghitung dengan jarinya.

"Bekal, minum, buku, alat tulis, dan..."

Ia berhenti.

"Dan?"

"Cadangan."

Arka terdiam.

"Cadangan apa?"

Alesha tersenyum.

"Cadangan kalau butuh sesuatu."

Reza langsung tertawa.

"Dia memang tidak berubah."

Kevin menghela napas.

"Tapi setidaknya sekarang dia tidak tidur di kelas."

Mendengar itu, Alesha langsung mengangkat kepala.

"Itu masa lalu."

Arka menatapnya.

"Belum lama."

Alesha langsung diam.

Semua tertawa kecil.

Sesampainya di kelas, Alesha mulai mengikuti pelajaran seperti biasa.

Namun hari itu ada sesuatu yang berbeda.

Guru memberikan tugas kelompok.

"Silakan buat kelompok berisi empat orang."

Kelas langsung ramai. Para siswa mulai mencari teman masing-masing.

Dinda langsung menarik tangan Alesha.

"Kita satu kelompok."

Alesha mengangguk.

Tidak lama kemudian, dua siswa lain bergabung.

Mereka mulai berdiskusi tentang tugas tersebut.

Alesha yang biasanya terlihat santai ternyata cukup aktif memberikan ide.

Dinda sampai terkejut.

"Lo ternyata bisa serius juga."

Alesha menatapnya.

"Aku selalu serius."

Dinda langsung tertawa.

"Serius dalam hal tidur mungkin."

Alesha langsung protes.

"Jangan bahas itu lagi."

Namun, tanpa mereka sadari, dari luar kelas seseorang memperhatikan.

Arka yang sedang melewati koridor sempat melihat Alesha yang sedang berdiskusi dengan teman-temannya.

Berbeda dari biasanya yang hanya terlihat ceroboh, kali ini ia terlihat benar-benar fokus.

Arka berhenti sebentar.

"Dia memang berubah."

Namun, ia segera melanjutkan langkahnya.

Sementara itu, Alesha tidak menyadari bahwa banyak orang mulai melihat sisi lain dari dirinya.

Bukan hanya gadis yang suka membuat kejadian lucu.

Tapi juga seseorang yang bisa diandalkan.

Saat jam pulang, Alesha keluar kelas sambil membawa beberapa buku.

Dinda berjalan di sampingnya.

"Tugas kelompok nanti jangan lupa."

Alesha mengangguk.

"Ingat."

Dinda tersenyum.

"Aku mulai percaya kalau kamu bisa bertanggung jawab."

Alesha langsung tersenyum bangga.

"Lihat? Aku memang bisa."

Namun, tiba-tiba suara Kevin terdengar dari belakang.

"Apa yang bisa?"

Alesha langsung menoleh.

"Kak."

Kevin melihat buku di tangannya.

"Tugas?"

"Iya."

Kevin mengangguk.

"Bagus."

Alesha langsung tersenyum.

Hari ini ia kembali mendapatkan kata yang mulai sering ia dengar.

Bagus.

Dan entah kenapa, kata sederhana itu membuatnya semakin ingin membuktikan bahwa dirinya memang bisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!