Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
Jam di layar ponsel Nadira menunjukkan pukul **07.12**.
Tiga menit lebih lambat dari jadwal yang ia buat sendiri.
Bagi sebagian orang, tiga menit bukan masalah. Namun bagi Nadira Prameswari, tiga menit cukup untuk membuat suasana hatinya berantakan.
Ia menarik napas panjang sambil mematikan mesin motornya di pelataran gedung Orion Creative, perusahaan agensi tempatnya bekerja selama hampir tiga tahun.
"Hari ini jangan sampai ada yang bikin kacau."
Kalimat itu sudah menjadi mantra setiap Senin pagi.
Nadira merapikan blazer krem yang dikenakannya, memastikan name tag terpasang lurus, lalu melangkah cepat menuju lobi.
Lift hampir tertutup.
"Tunggu!"
Seorang satpam buru-buru menekan tombol buka.
"Silakan, Mbak Nadira."
"Terima kasih, Pak."
Begitu pintu lift kembali terbuka, Nadira masuk sambil mengembuskan napas lega.
Namun rasa lega itu hanya bertahan dua detik.
Seseorang menyelinap masuk tepat sebelum pintu menutup.
Pria tinggi dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan seolah baru bangun tidur. Di satu tangan ada gelas kopi, sementara tangan satunya sibuk memainkan ponsel.
"Untung keburu," gumamnya santai.
Nadira melirik sekilas.
Lalu kembali menatap angka lantai.
Pria itu menyeruput kopinya.
"Senin ya... musuh semua orang."
Tak ada jawaban.
"Kalau wajahnya ditekuk terus begitu, nanti cepat keriput."
Nadira menghela napas pelan.
Ia tidak mengenal pria itu.
Dan tidak berniat mengenalnya.
Lift berhenti di lantai tujuh.
Saat pintu terbuka, pria itu melangkah keluar lebih dulu.
Tanpa sengaja bahunya menyenggol lengan Nadira.
Sedikit.
Namun cukup membuat tutup gelas kopi terbuka.
"Ck!"
Setetes.
Dua tetes.
Lalu...
Bruk.
Kopi tumpah membasahi map berisi dokumen presentasi yang sejak semalam ia siapkan.
Nadira membeku.
Matanya perlahan turun melihat bercak cokelat yang menyebar di atas kertas.
Pria itu ikut membeku.
"Eh..."
Sunyi.
Beberapa orang di depan lift menoleh.
"Maaf."
Hanya satu kata.
Pendek.
Ringan.
Seolah persoalan selesai begitu saja.
"Maaf?" ulang Nadira pelan.
"Iya... maaf."
"Itu saja?"
Pria itu menggaruk tengkuk.
"Saya ganti biaya print-nya."
Nadira menatapnya tidak percaya.
"Masalahnya bukan biaya print."
"Lalu?"
"Presentasi saya mulai dua puluh menit lagi."
"Oh..."
"Oh?"
Pria itu tampak benar-benar baru menyadari kesalahannya.
"Oke... salah saya."
"Tentu saja salah Anda."
Pria itu buru-buru mengambil tisu dari tasnya.
"Boleh saya bantu bersihkan?"
"Jangan."
Tangannya langsung ditahan.
"Saya bisa sendiri."
Nada suara Nadira terdengar dingin.
Pria itu mengangguk pelan.
"Oke."
Bukannya menjelaskan lebih jauh atau meminta maaf lagi, ia justru mundur satu langkah.
"Semoga presentasinya tetap lancar."
Lalu...
Pergi.
Begitu saja.
Nadira memejamkan mata.
Kalau saja ini bukan kantor...
Kalau saja mereka tidak sedang berada di depan banyak orang...
Ia mungkin sudah memarahi pria itu habis-habisan.
---
Ruang rapat dipenuhi suasana tegang.
Laptop sudah tersambung ke proyektor.
Klien duduk berjajar di sisi kanan meja.
Bos Nadira, Pak Dimas, memberi isyarat agar ia segera memulai.
Nadira berdiri.
Tangan kirinya menggenggam remote presentasi.
Tangan kanannya masih memegang map yang sudutnya kusut akibat kopi tadi.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Terima kasih atas waktunya..."
Ia mulai berbicara.
Lima menit pertama berjalan lancar.
Sepuluh menit berikutnya juga.
Namun ketika klien meminta melihat rincian anggaran yang ada di dokumen cetak...
Masalah muncul.
Beberapa angka tidak terbaca karena tintanya luntur.
Pak Dimas langsung mengambil alih penjelasan.
Presentasi tetap selesai.
Tetapi Nadira tahu hasilnya tidak semaksimal yang ia harapkan.
Keluar dari ruang rapat, ia hanya ingin satu hal.
Minum air.
Dan melupakan kejadian pagi tadi.
Sayangnya...
Takdir rupanya sedang senang mengerjainya.
Begitu memasuki pantry, orang pertama yang ia lihat adalah pria penyebab kekacauan itu.
Pria itu sedang membuka bungkus roti.
Melihat Nadira masuk, ia tersenyum canggung.
"Wah... ketemu lagi."
Nadira memilih mengambil air minum tanpa menoleh.
"Presentasinya gimana?"
Tidak dijawab.
"Hancur ya?"
Nadira akhirnya menatapnya.
"Menurut Anda lucu?"
"Nggak."
"Tadi saya minta maaf."
"Minta maaf bukan berarti semuanya selesai."
Pria itu mengangguk.
"Iya."
Sunyi lagi.
Ia tampak berpikir beberapa detik.
"Lunch saya hari ini buat Anda."
Nadira mengernyit.
"Apa?"
"Sebagai ganti rugi."
"Saya tidak butuh makan siang gratis."
"Coffee?"
"Saya baru trauma sama kopi."
Pria itu refleks menepuk dahinya sendiri.
"Iya juga."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, Nadira melihat ekspresi pria itu benar-benar merasa bersalah.
Bukan dibuat-buat.
Bukan sekadar basa-basi.
Namun rasa kesalnya masih terlalu besar untuk luluh.
"Nggak usah repot."
Nadira berbalik pergi.
Baru dua langkah.
"Nama saya Arga."
Ia berhenti.
"Biar kalau nanti mau ngomelin saya lagi, nggak usah manggil 'Mas'."
Nadira menoleh sekilas.
Tatapan mereka bertemu.
Pria itu tersenyum tipis.
Bukan senyum mengejek.
Lebih seperti senyum seseorang yang tahu dirinya memang bersalah.
Tetapi entah kenapa...
Senyum itu justru semakin membuat Nadira kesal.
"Semoga kita tidak bertemu lagi."
Arga terkekeh pelan.
"Dunia kadang suka iseng."
---
Sore harinya.
Nadira akhirnya pulang dengan tubuh yang terasa lebih lelah dari biasanya.
Ia hanya ingin mandi, makan, lalu tidur.
Motor berhenti di depan rumah kontrakan barunya.
Kompleks itu masih sepi.
Ia baru pindah dua hari yang lalu.
Belum mengenal satu pun tetangga.
Saat sedang mengeluarkan kardus kecil dari bagasi motor, terdengar suara mobil berhenti tepat di samping rumah.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun sambil membawa beberapa kantong belanja.
Nadira tak terlalu memperhatikan sampai suara itu terdengar begitu familiar.
"Loh..."
Ia mengangkat kepala.
Pria itu juga menatapnya.
Keduanya sama-sama terdiam.
Arga.
Pria itu menunjuk rumah di sebelah kontrakan Nadira.
"Jangan bilang..."
Nadira mengikuti arah telunjuknya.
Rumah sebelah.
Arga tersenyum kikuk.
"Kayaknya..."
Ia mengusap tengkuknya.
"Kita tetangga."
Nadira memejamkan mata beberapa detik.
Di dalam hati, ia hanya memiliki satu pertanyaan.
**Apa sebenarnya dosa yang kulakukan sampai harus bertemu pria ini dua kali dalam sehari... dan sekarang menjadi tetangganya?**
**Bersambung...**