Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Gaun Merah di Hari Pernikahan
Undangan itu datang lewat kurir ke Golden Crown pada pagi yang mendung.
Di sampulnya tertulis nama Albert Phua dan Yuni Yap dengan tinta emas. Kalimat di dalamnya dibuat indah, seolah dunia tidak tahu bahwa putusan cerai Albert dan Liana belum sepenuhnya selesai. Secara hukum, pemberkatan dan pencatatan baru bisa dilakukan setelah semua proses resmi beres. Namun Yuni tetap memaksa mengadakan perayaan keluarga di hotel, menyebutnya hari pernikahan, seolah kata-kata di undangan bisa mendahului hukum.
Yang membuat Liana terdiam bukan nama Yuni.
Melainkan catatan kecil di bagian bawah.
Liana, kalau kamu berkenan datang, aku ingin menutup masa lalu dengan baik. Albert.
Tiara membaca catatan itu, lalu langsung menutup undangan.
"Ci, jangan datang."
Liana memandang amplop emas itu. "Kalau aku tidak datang, mereka akan bilang aku masih sakit hati."
"Memang kenapa kalau sakit hati? Orang waras mana yang tidak sakit hati setelah tiga puluh tahun diperlakukan begitu?"
Liana tersenyum tipis. "Aku tidak mau hidupku diatur oleh ketakutan mereka atau omongan mereka."
Sore itu, Edwin mendengar kabar tersebut dari Arman lebih dulu. Ia tidak bertanya banyak. Ketika bertemu Liana di kantor, ia hanya berkata, "Kalau kamu tetap datang, saya antar."
"Tidak perlu merepotkan Pak Edwin."
"Ini bukan repot."
Liana mengangkat wajah.
Edwin menatapnya dengan tenang. "Saya tidak akan menghalangi pilihanmu. Tapi kalau tempat itu penuh orang yang pernah menyakitimu, kamu tidak perlu masuk sendirian."
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Liana bergerak pelan.
Malam perayaan itu, ballroom hotel bintang lima di Jakarta Selatan penuh bunga putih dan lampu kristal. Yuni memilih dekorasi yang terlalu megah, seolah kemewahan bisa menutup bau skandal. Di layar besar, foto Albert, Yuni, dan Jayden diputar bergantian. Jayden tampak canggung memakai jas kecil, sesekali mencari ibunya.
Ketika Liana masuk, suara percakapan menurun.
Ia memakai gaun merah tua yang pernah ia kenakan saat gala, rambut disanggul sederhana, tanpa perhiasan mencolok. Justru karena itu, ia terlihat tenang. Bukan mantan istri yang datang untuk membuat keributan. Bukan perempuan tua yang datang memohon kembali.
Ia datang seperti seseorang yang sudah selesai berduka.
Edwin berjalan di sampingnya dengan setelan hitam. Tidak menggandeng, tidak memamerkan, tetapi keberadaannya cukup membuat semua kepala menoleh dua kali.
"Itu Liana?"
"Yang di sebelahnya Edwin Loh?"
"Berani sekali datang."
Liana mendengar semuanya. Ia tetap berjalan.
Di atas panggung kecil, Albert melihatnya.
Untuk sesaat, wajahnya kosong. Yuni yang berdiri di sampingnya dengan gaun putih gading langsung merasakan perubahan itu. Senyumnya membeku. Ia mengikuti arah pandang Albert, lalu melihat Liana dan Edwin berdiri berdampingan di pintu ballroom.
Yuni hampir meremas buket di tangannya.
Cantik.
Kata itu muncul di kepala Yuni sebelum ia sempat menolaknya. Liana tidak terlihat kalah. Tidak terlihat hancur. Ia justru terlihat seperti perempuan yang akhirnya mengembalikan dirinya kepada dirinya sendiri.
Dan Albert melihatnya.
Itu yang paling menyakitkan.
Di sudut belakang ballroom, Boonwen Phang menunduk di balik seragam staf tambahan. Ia bukan karyawan hotel. Lencana di dadanya palsu, tetapi cukup rapi untuk lolos saat pergantian shift katering. Di sakunya ada botol kecil berisi cairan bening yang dibeli dari kenalan lama. Bukan racun, hanya obat yang bisa membuat orang pusing, mual, dan kehilangan kendali selama beberapa jam.
Yuni sudah memberi instruksi jelas.
Gelas Liana.
Bukan Edwin.
Bukan tamu lain.
Di dekat pilar, Made berdiri dengan setelan gelap seperti tamu biasa. Matanya tidak pernah lama menatap satu titik, tetapi semua gerak di sekitar Liana masuk ke perhitungannya. Setelah insiden villa, Arman tidak lagi menyebut pengamanan ini sebagai formalitas.
Acara dimulai dengan doa singkat dan ucapan keluarga. Karena status hukum Albert belum bersih, tidak ada pemberkatan gereja malam itu. Pembawa acara menyebutnya perayaan keluarga, tetapi Yuni berkali-kali tersenyum seolah ini sudah cukup untuk menjadikan dirinya nyonya rumah baru.
Albert berpidato dengan suara datar.
"Terima kasih untuk keluarga dan teman yang hadir. Semoga langkah baru ini..."
Ia berhenti sepersekian detik saat pandangannya lagi-lagi menemukan Liana di meja tamu.
Yuni melihatnya.
Sesudah pidato, sesi toast dimulai. Pelayan membawa nampan berisi gelas-gelas sparkling juice dan wine. Liana memilih sparkling juice. Ia tidak ingin minum alkohol malam itu. Edwin berdiri di sampingnya, berbicara singkat dengan seorang kolega lama.
Boonwen bergerak.
Ia mengambil satu gelas dari nampan cadangan di balik tirai, menuangkan cairan bening dengan gerakan cepat, lalu menukar posisi gelas itu ke barisan depan. Jika semua berjalan sesuai rencana, gelas itu akan sampai ke tangan Liana saat Yuni mengangkat toast untuk semua tamu.
Namun Made melihatnya.
Bukan botolnya.
Gerak matanya.
Orang yang benar-benar bekerja sebagai staf hotel tidak akan terlalu sering melihat satu tamu tertentu sebelum membagikan minuman.
Made bergerak mendekat ke Arman yang baru masuk dari pintu samping.
"Asisten Arman," bisiknya. "Staf katering dekat tirai. Gelas baris depan. Ada yang tidak beres."
Arman tidak menoleh langsung. Ia cukup mengirim pesan singkat ke Edwin.
Jangan biarkan Bu Liana minum. Gelas diduga ditukar.
Ponsel Edwin bergetar di saku. Ia membaca dalam satu detik.
Ketika pelayan membawa nampan ke meja mereka, Liana baru saja mengulurkan tangan.
Edwin lebih cepat.
Ia mengambil gelas dari depan Liana, menaruhnya kembali ke nampan, lalu berkata pada pelayan, "Tukar dengan botol baru. Buka di sini."
Pelayan itu gugup. "Maaf, Pak?"
"Botol baru. Sekarang."
Beberapa tamu menoleh. Yuni yang sedang bersiap mengangkat gelas di depan panggung langsung menegang.
Boonwen mencoba mundur.
Made sudah berdiri di belakangnya.
"Ikut saya sebentar," kata Made rendah.
Boonwen menoleh, wajahnya berubah. Ia hampir menjatuhkan nampan kosong yang ia pegang. "Saya kerja di sini."
"Bagus. Kita tanya supervisor."
Kegaduhan kecil itu membesar seperti api menyentuh kain kering. Arman meminta manajer hotel menghentikan distribusi minuman. Edwin menatap manajer dengan suara dingin.
"Saya minta rekaman CCTV area tirai, bar, dan meja ini. Sekarang."
Yuni turun dari panggung, wajahnya pucat tetapi masih berusaha tersenyum. "Ada apa? Ini acara keluarga, jangan dibuat..."
"Kalau tidak ada apa-apa, rekaman akan membuktikan," kata Edwin.
Albert ikut mendekat. "Yuni, kamu tahu sesuatu?"
"Kenapa kamu tanya aku?" Yuni langsung meninggi. "Aku pengantinnya, Ko Albert. Masa aku harus tahu semua urusan gelas?"
Kata pengantin terdengar terlalu keras di ruangan yang mulai penuh bisik-bisik.
Liana berdiri diam. Ia belum menyentuh minuman apa pun. Tangannya dingin, tetapi wajahnya tenang. Dalam beberapa minggu terakhir, hidupnya seperti terus diuji dengan tuduhan, perangkap, dan tatapan orang. Dulu ia mungkin akan bertanya kenapa dirinya. Malam ini, ia hanya menunggu kebenaran bekerja.
Layar kecil milik bagian keamanan dibawa ke ruang samping ballroom, tetapi Edwin meminta rekaman ditampilkan di layar besar.
"Kalau tuduhan dan jebakan berani dilakukan di ruang terbuka," katanya, "kebenaran juga boleh dilihat semua orang."
Tidak ada yang berani menolak.
Rekaman diputar.
Di layar besar, Boonwen terlihat masuk dari pintu servis dengan lencana staf. Ia berdiri di balik tirai, membuka botol kecil, menuangkan isi ke salah satu gelas, lalu mengatur gelas itu di nampan depan.
Ruangan langsung riuh.
"Itu siapa?"
"Dia bukan staf hotel kami!" kata manajer hotel dengan wajah merah.
Made mencengkeram lengan Boonwen sebelum pria itu sempat kabur. Boonwen meronta. "Saya tidak tahu! Saya cuma disuruh!"
Albert menatap layar, lalu menatap Yuni.
"Yuni."
"Bukan aku." Suara Yuni pecah sedikit. "Aku tidak kenal dia."
Boonwen menoleh cepat ke arah Yuni. Dalam satu detik itu, semua orang yang jeli melihat hubungan yang terlalu jelas.
Albert seperti ditampar.
"Kamu kenal dia," katanya pelan.
"Ko Albert, jangan percaya mereka. Ini pasti jebakan untuk mempermalukan aku."
Liana akhirnya membuka suara. "Aku bahkan belum bicara."
Empat kata itu membuat Yuni terdiam.
Di pintu ballroom, suara tawa kasar tiba-tiba terdengar.
"Wah, ramai juga pesta istri profesor."
Semua kepala menoleh.
Rudi Yu berdiri di ambang pintu dengan kemeja kusut dan senyum miring. Dua petugas keamanan hotel mencoba menahannya, tetapi ia sudah cukup jauh masuk untuk dilihat semua orang.
Wajah Yuni kehilangan warna.
Albert mengerutkan dahi. "Siapa dia?"
Rudi menunjuk dirinya sendiri dengan santai. "Teman lama pengantin perempuan. Sangat lama. Lebih lama dari yang mungkin dia cerita ke kamu."
Bisik-bisik berubah menjadi dengung.
Yuni hampir berlari ke arahnya. "Usir dia!"
Rudi tertawa. "Kenapa takut? Aku belum bilang apa-apa soal anak kecil yang pakai jas itu."
Jayden yang berdiri dekat meja keluarga menoleh bingung. Yuni langsung membeku.
Albert melihat Jayden, lalu Yuni, lalu Rudi.
Untuk pertama kalinya malam itu, keraguan yang benar-benar gelap masuk ke wajahnya.
Edwin menunduk pada Liana. "Kita pergi."
Liana memandang panggung, bunga putih, layar besar, Yuni yang hampir runtuh, Albert yang akhirnya merasakan pecahan hidupnya sendiri. Tidak ada rasa puas yang besar. Hanya lelah yang panjang, dan satu pintu lama yang tertutup tanpa bunyi.
"Ya," katanya.
Edwin berjalan di sampingnya keluar dari ballroom. Di belakang mereka, suara Albert memanggil Yuni pecah di antara teriakan manajer hotel dan tamu yang sibuk merekam dengan ponsel.
Di dalam mobil, Liana duduk diam. Tangan Edwin mengambil sabuk pengaman, menariknya perlahan melewati bahu Liana, lalu menguncinya tanpa membuat gerakan tergesa.
Jarak mereka dekat.
Terlalu dekat untuk jantung Liana yang belum tenang.
Edwin menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu di matanya yang belum pernah ia biarkan keluar.
"Liana," katanya pelan. "Dari awal aku..."
Ponsel Edwin berdering.
Nama Arman menyala di layar.
Kalimat itu berhenti di udara, belum sempat menjadi apa pun.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/