Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Takdir Mulai Bergeser
Vira mengenali wajah itu.
Arvin. Pemuda yang selalu bekerja serabutan di desanya.
Di kehidupan pertama, mereka nyaris tidak pernah berbicara lebih dari seperlunya.
Bahkan, hari ini mereka seharusnya tidak bertemu.
Dulu, Yanti yang menjaga toko, sedangkan Vira sibuk mengurus rumah. Keputusan kecil yang ia ubah hari ini ternyata membuat takdir mulai bergeser.
Arvin menunduk sambil menyerahkan uang receh yang sudah dilipat rapi.
"Aku mau beras yang paling murah aja."
Vira tanpa sengaja melihat tangannya yang penuh luka dan kapalan. Bukan karena berkelahi. Melainkan karena bekerja serabutan setiap hari.
Lalu Vira teringat Daril yang selalu mengeluh sulit mencari pekerjaan.
Sementara Arvin...
Pemuda itu tidak pernah memilih pekerjaan. Apa pun dikerjakan demi menghidupi ibunya.
Vira menerima uang yang disodorkan Arvin, lalu menghitungnya.
"Cukup, 'kan, buat beras setengah liter?" tanya Arvin dengan nada khawatir.
Vira mengangguk pelan. "Cukup."
Padahal ia tahu uang itu masih kurang sekitar dua ribu rupiah.
Tanpa mengatakan apa pun, Vira mengambil beras kualitas bagus yang harganya sedikit lebih mahal. Setelah itu, ia meraih beberapa bungkus mi instan yang masa kedaluwarsanya tinggal seminggu lagi.
"Ini, Vin." Vira menyerahkan sebungkus beras, lalu tampak ragu sebelum kembali membuka suara.
"Aku punya mi instan yang masa kedaluwarsanya sudah dekat." Ia buru-buru menambahkan, "Masih aman dimakan, kok. Aku cuma khawatir keburu lewat tanggalnya sebelum laku."
Vira menggigit bibirnya sesaat. "Kalau... kamu mau..."
Arvin tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Aku mau."
Vira mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, ini buat kamu. Jangan lupa dimakan sebelum lewat tanggal kedaluwarsanya, ya."
"Terima kasih." Sorot mata Arvin berbinar menerima pemberian itu.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dada Vira terasa sesak.
Setelah Arvin berbalik pergi, Vira memandang punggung pemuda yang berjalan dengan sedikit pincang.
"Selama ini... kau hidup seberat itu," gumam Vira lirih.
Tak lama kemudian, dua orang ibu datang menghampiri toko.
"Arvin kelihatan senang, ya, Ra," ujar salah satunya yang berambut cepol.
"Dia beli apa?" tanya ibu yang mengenakan daster.
"Beras setengah liter sama mi instan, Bu," jawab Vira.
"Oh... berarti hari ini dia dapat upah lumayan," sahut ibu berambut cepol. "Biasanya buat beli beras aja susah."
Ia kemudian menyerahkan secarik kertas. "Ibu mau belanja yang ini, ya, Ra."
"Kalau ini punya Ibu," timpal ibu berdaster sambil memberikan daftar belanjaannya.
"Baik, Bu. Ditunggu sebentar, ya."
Vira menerima kedua daftar itu, lalu mulai mengambil barang-barang yang tertulis.
Sementara menunggu, kedua ibu itu duduk di bangku panjang yang tersedia di depan toko sambil mengambil makanan ringan dari rak.
"Kasihan Arvin itu," kata ibu berambut cepol pelan. "Kakinya pincang gara-gara dipukul ayahnya sendiri waktu masih kecil."
"Iya," sahut temannya. "Ayahnya pemabuk. Setelah itu malah menikah lagi. Rumah dijual, lalu pergi begitu saja sama istri mudanya tanpa peduli anak dan istrinya."
"Ibunya juga kasihan. Sejak kehilangan rumah, pikirannya terganggu."
"Untung ada tetangga yang iba. Mereka dikasih tinggal di bekas kandang kambing. Ya... walaupun bekas kandang, setidaknya masih ada tempat berteduh."
"Iya. Arvin juga hebat. Kerja serabutan buat menghidupi diri sendiri sekaligus merawat ibunya."
"Mengurus orang dengan gangguan jiwa sambil mencari nafkah itu bukan perkara mudah."
Vira tetap sibuk mengambil barang-barang pesanan, tetapi setiap kata yang mereka ucapkan masuk ke dalam benaknya.
Ia masih mengingatnya.
sebelum ia reinkarnasi, Arvin meninggal karena kecelakaan dua hari sebelum dirinya dibunuh Daril.
Sehari setelah kecelakaan itu, ibunya ditemukan meninggal tenggelam di sungai. Karena tak ada lagi yang menjaga wanita itu.
Beberapa menit kemudian, seluruh barang pesanan sudah tersusun rapi dalam kantong plastik di atas etalase.
"Bu, ini belanjaannya. Totalnya segini."
Kedua ibu itu bangkit, membayar belanjaan mereka, lalu tersenyum.
"Makasih, ya, Ra."
"Sama-sama, Bu."
Setelah keduanya pergi, suasana toko kembali lengang.
Vira memandang ke arah jalan yang tadi dilalui Arvin.
"Dulu..." gumamnya pelan. "Aku menghabiskan begitu banyak uang untuk orang yang akhirnya membunuhku."
Ia mengembuskan napas panjang. "Bukankah jauh lebih berarti jika kesempatan kedua ini kupakai untuk membantu orang yang benar-benar pantas dibantu?"
Bayangan Arvin yang bekerja tanpa pernah mengeluh, sambil merawat ibunya seorang diri, kembali terlintas di benaknya.
Berbeda dengan Daril. Sedikit-sedikit mengeluh. Sedikit-sedikit meminta bantuan.
Namun tak pernah benar-benar berusaha bertahan dengan kemampuannya sendiri.
Vira kembali menimbang gula, tetapi pikirannya terus memutar satu pertanyaan.
Bagaimana caranya membantu Arvin tanpa membuatnya merasa dikasihani?
Ia terdiam beberapa saat, lalu matanya berbinar.
"Ah... bagaimana kalau aku mengajaknya ikut belanja stok ke toko grosir? "
Meski hanya seminggu sekali, setidaknya pekerjaan itu bisa menambah penghasilannya.
Selain itu, Arvin tidak akan merasa sedang menerima belas kasihan karena ia dibayar atas pekerjaannya.
"Aku juga bisa sekalian mencari toko grosir yang harganya lebih murah," gumam Vira pelan. "Kalau modal belanjaku berkurang, aku bisa menjual barang sedikit lebih murah. Barang jadi lebih cepat habis, pelanggan bertambah, dan keuntungannya juga ikut naik."
Semakin dipikirkan, semakin yakin ia dengan idenya.
"Ya... ini jauh lebih baik."
Vira mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
"Daripada aku harus menyewa kuli di toko grosir untuk mengangkat belanjaan ke mobil, lalu mencari orang lagi buat menurunkannya ke toko, lebih baik sekalian minta bantuan Arvin."
Ia tersenyum tipis.
"Dia juga memang sudah terbiasa mengangkat barang-barang berat."
Namun, senyum itu perlahan memudar.
Tatapannya kembali teringat pada langkah Arvin yang sedikit pincang.
"Padahal kakinya seperti itu..."
Dadanya terasa sesak.
"Tapi dia tetap memilih bekerja kasar demi menghidupi ibunya."
Sementara itu, Yanti mengusap peluh yang membasahi dahinya. Ia memijat pinggangnya yang mulai pegal setelah dari pagi membersihkan rumah.
"Huft... Kalau pulang ke kampung, Ayah dan Ibu pasti menyuruhku kerja di sawah lagi."
Yanti langsung menggeleng.
"Ogah."
Tatapannya beralih ke arah toko tempat Vira sedang melayani pembeli.
"Daripada jadi babu begini..."
Sorot matanya berubah licik.
"Gimana caranya, ya, supaya aku yang jaga toko, sedangkan Vira yang mengerjakan semua pekerjaan rumah?"
...✨...
..."Takdir berubah bukan karena keajaiban, tetapi karena satu keputusan yang berbeda."...
..."Orang yang paling keras mengeluh belum tentu paling menderita. Kadang, yang paling terluka justru tetap bekerja tanpa banyak bicara."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.