Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Fajar menyingsing di atas langit Yunzhou, membawa atmosfer yang jauh lebih panas dan menegangkan ke dalam Koloseum Raksasa Klan Wu. Ribuan penonton telah memadati tribun sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Panggung utama di tengah arena kini telah diubah menjadi sebuah lantai batu obsidian tunggal yang sangat kokoh, dipagari oleh formasi pelindung spiritual transparan yang berkilauan untuk menahan dampak pertarungan agar tidak merusak area penonton.
Di atas panggung, sesosok pria bertubuh tegap dengan jubah dalam klan melangkah maju dengan angkuh. Dia adalah Wu Shan. Di sepanjang lengannya, aliran energi spiritual berwarna cokelat pekat mengalir deras, mengaktifkan Teknik Perisai Batu Bumi tingkat tinggi miliknya.
Kulit di sekujur tubuh Wu Shan perlahan berubah warna menjadi abu-abu gelap layaknya batu granit spiritual yang tidak bisa ditembus oleh besi biasa. Ia menatap Wu Tian dengan tatapan merendahkan, penuh keyakinan bahwa perintah para tetua untuk mematahkan kaki pemuda di depannya akan selesai dalam hitungan detik.
"Murid luar bodoh," geram Wu Shan, suaranya terdengar berat seperti batu yang saling bergesekan. "Kemarin kamu bisa bertindak gila karena lawanmu hanya sekumpulan sampah. Di hadapan pertahanan bumiku, tinju kosongmu itu tidak ada bedanya dengan gigitan nyamuk! Aku akan memastikan setelah hari ini, kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupmu!"
Di tribun penonton, Wu Lin meremas saputangannya hingga robek. Meskipun beberapa bulan lalu di pulau terlarang ia telah menyaksikan sendiri bagaimana Wu Tian membantai monster laut dengan mengerikan, rasa khawatir di dalam dada seorang wanita tidak pernah bisa dikontrol oleh logika.
Wu Lin tahu Wu Tian sangat kuat, bahkan mungkin terlalu kuat untuk ukuran klan ini, tetapi melihat Wu Shan yang dilapisi zirah batu mistis dan didukung oleh instruksi busuk para tetua, jantungnya tetap saja berdegup menggila karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada pemuda itu.
GONG...!!!
Gong pertempuran dipukul dengan keras. Sebelum gaung suaranya habis di udara, aura di sekitar tubuh Wu Tian mendadak retak dan meledak ekstrem.
Ketenangan datarnya menguap, digantikan oleh kegilaan murni dari altar Shenzhou yang haus darah. Sepasang mata hitamnya melebar sempurna dengan kilatan liar yang mengerikan. Sudut bibirnya tertarik tinggi hingga ke pipi, membentuk sebuah seringai iblis yang sangat lebar dan menakutkan.
"Hahaha... Batu?" Wu Tian terkekeh lirih, sebuah suara serak yang membuat bulu kuduk seisi arena merinding.
WUUUSH!
Wu Tian menerjang maju dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata manusia biasa. Gerakannya begitu liar, tidak ortodoks, dan membabi buta seperti binatang buas yang kelaparan. Ia langsung melompat ke arah Wu Shan tanpa menggunakan senjata atau perisai apa pun.
Wu Shan mengepalkan tinju batunya, menghantamkan pukulan berat ke arah dada Wu Tian. "Mati kau!"
Namun, alih-alih menghindar dengan anggun seperti kultivator normal, Wu Tian justru sengaja menabrakkan dirinya ke arah pukulan itu sembari menyeringai gila.
BUM!
Tinju batu Wu Shan menghantam bahu Wu Tian, tetapi tubuh Wu Tian bahkan tidak bergeser satu senti pun. Di tengah keterkejutan Wu Shan, tangan kosong Wu Tian bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan batu Wu Shan dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
KREEEEK!
"AAAGHH?!" Wu Shan menjerit histeris saat merasakan cengkeraman tangan kosong Wu Tian perlahan mulai meremukkan zirah batu bumi yang selama ini ia banggakan.
Wu Tian tidak memberikan jeda sedikit pun. Dengan kegilaan yang semakin menjadi-jadi, ia mulai menghujani tubuh Wu Shan dengan kombinasi pukulan tangan kosong yang membabi buta dan teramat brutal.
BUM! BUM! BUM! BUM!
Setiap hantaman tinju mentah Wu Tian menghasilkan suara dentuman keras layaknya palu godam raksasa yang sedang menghantam tebing gunung.
Wu Shan dibuat kerepotan setengah mati. Pertahanan batinnya runtuh seketika. Ia mencoba mundur, mencoba melepaskan mantra elemen bumi lain untuk menciptakan jarak, namun Wu Tian terus menempel padanya seperti bayangan iblis yang kelaparan.
Setiap kali Wu Shan mencoba memanggil pilar batu untuk melindunginya, Wu Tian akan langsung menghancurkan pilar tersebut menjadi debu dengan sekali sikuan atau sundulan kepalanya yang gila, sembari terus tertawa tanpa suara dengan seringai yang semakin melebar.
"Monster... Kamu bukan manusia! Kamu monster!" teriak Wu Shan panik, wajahnya yang semula tertutup zirah batu kini dipenuhi tetesan keringat dingin dan darah yang mulai merembes dari sudut bibirnya akibat guncangan organ dalam.
"Selesai," bisik Wu Tian dengan nada suara yang mendadak sedingin es abadi tepat di telinga Wu Shan.
Wu Tian menarik tangan kanannya ke belakang, memusatkan seluruh daya hancur fisik murninya pada satu titik di ujung kepalan tangannya. Sesaat sebelum tinju itu dilepaskan, ruang di sekeliling tangannya seolah terdistorsi oleh tekanan udara yang masif.
PRAAAAANG!!!
Sebuah hantaman tunggal yang teramat telak bersarang tepat di tengah dada Wu Shan. Zirah Perisai Batu Bumi yang diklaim tidak bisa ditembus oleh para tetua klan, seketika pecah berantakan menjadi jutaan serpihan batu kecil seperti keramik murah yang diinjak.
Dampak gelombang kejut murni dari pukulan gila itu menembus tubuh Wu Shan, membuatnya terpelanting terbang puluhan meter melintasi panggung udara, sebelum akhirnya tubuhnya menghantam dinding formasi pelindung koloseum hingga memercikkan cahaya retakan, lalu jatuh berdebam ke lantai dengan kondisi pingsan seketika dan dada yang melesat ke dalam.
Keheningan total yang teramat mencekam langsung menyelimuti seluruh sudut Koloseum Raksasa Klan Wu. Ribuan penonton di tribun penonton melotot sempurna dengan mulut teranga, tidak mampu memproses apa yang baru saja mereka saksikan dengan logika kultivasi mereka.
Di panggung kehormatan tertinggi, beberapa tetua tinggi yang tadi malam merencanakan penghancuran Wu Tian, kini refleks berdiri dari singgasananya dengan wajah pucat pasi dan mata yang hampir melompat keluar.
Teknik bumi tingkat tinggi milik murid dalam mereka, dihancurkan berkeping-keping hanya dengan kombinasi pukulan membabi buta dari seorang murid luar berbakat sampah? Itu adalah tamparan keras yang langsung meruntuhkan seluruh harga diri faksi murid dalam.
Di tengah keheningan massal itu, Wu Tian berdiri tegak di tengah panggung batu yang kini telah hancur dan berlubang. Seringai gila di wajahnya perlahan memudar, kembali digantikan oleh ekspresi wajahnya yang semula—dingin, misterius, dan teramat sangat datar seolah-olah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan memotong kayu bakar yang membosankan.
Wu Tian mengibaskan debu batu yang menempel di pundak jubah biru tuanya dengan gerakan santai. Ia mengalihkan sepasang mata hitam legamnya yang tajam, menatap lurus ke arah tribun tempat Wu Yan berdiri dengan wajah memerah menahan murka.
"Selanjutnya siapa lagi?" ucap Wu Tian, suaranya yang datar namun sarat akan intimidasi mutlak menggema jelas di tengah keheningan arena. "Kalian semua... terlalu banyak bicara dan terlalu berisik."