NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Robot AI / Spiritual / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:

Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain

Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertama Rey part 4

Dia begitu sibuk mengamuk, sehingga tanpa sadar memberi jeda. Dan jeda itulah yang ditunggu Lucy.

"Sekarang, REY!" teriaknya melalui radio.

Rey sudah siap. Dia mengalihkan kemudi meriam, menargetkan bagian yang paling vital dari kapal selam itu, panel persenjataan yang masih terbuka. Lalu, dia menarik pelatuk.

Semburan plasma biru-putih yang memekakkan telinga melesat keluar dari meriam. Ledakan berturut-turut mengguncang lambung kapal selam, melubangi baja tebalnya, dan menghancurkan laras-laras senjata yang belum sempat ditarik masuk. Asap hitam mulai mengepul dari tubuh kapal selam yang terluka.

Walaupun kapal selam musuh rusak parah, Lucy tidak serta-merta mengendurkan kewaspadaannya. Matanya tetap mengawasi radar dan pemindai energi, siap menghadapi serangan lanjutan.

Benar saja, sesuai antisipasinya. Berbagai lambang sihir muncul berkilatan di langit tepat di atas kapalnya, mengisi udara dengan energi magis yang menderu. Dari masing-masing lambang itu, meluncur serangan elemental yang mematikan: bola api menyala, pilar es tajam, kilat petir yang menyambar, dan hujan batu besar.

Lucy dengan cekatan menggerakkan kemudi, mengarahkan kapalnya bermanuver menghindari serangan-serangan tersebut. Tiba-tiba, dari celah awan, sebuah serangan cahaya murni padat dan menyilaukan, menyembur tajam ke arah buritan kapalnya.

Lambang-lambang sihir di langit tiba-tiba bergetar hebat sebelum pecah berkeping-keping, dihancurkan oleh semburan energi yang tak terlihat.

"Serangan dari mana itu?!" teriak Rey melalui radio, suaranya tercampur antara terkejut dan lega.

"Lihat ke atas, Rey!" balas Lucy dengan suara yang terdengar senang melalui saluran yang sama.

Rey segera mengarahkan kamera pengintainya ke langit. Matanya membesar. Di sana, melayang beberapa pesawat tempur dengan lambang yang dikenalnya, pasukan bantuan dari **Batalion** telah tiba, persis seperti skuadron yang dia lihat di bandara beberapa jam sebelumnya.

Kemudian...

Di bandara, semua tim yang telah menyelesaikan misi diharuskan menghadap Komandan Bianca untuk melaporkan situasi terakhir.

Lucy, Lica, dan Rey tiba di landasan, diantar oleh pilot yang sama yang telah menyelamatkan mereka di udara.

Mereka turun dari pesawat, diikuti oleh sang pilot. Rey terkejut, ternyata pilot yang membawa mereka adalah orang yang sama yang berhasil menghindari rudal musuh dengan manuver menakjubkan tadi.

"Sudah kuduga, rudal itu bukan masalah besar bagimu," ucap Lucy dengan senyum tipis, sepertinya sudah mengenal kemampuan pilot ini.

Sang pilot melepas helmnya dengan gerakan halus. Wajah yang terungkap adalah sosok elf dengan rambut pirang terurai dan mata hijau yang tajam namun tenang.

"Tentu saja. Omong-omong, anggota baru kita yang rambut pirang itu jago menembak, ya," ucap sang pilot sambil menunjuk ke arah Rey.

"Tunggu... Bukannya rambut Rey biru?" tanya Lica, menyipitkan matanya.

"Biru? Aku melihatnya merah," bantah Lucy, ikut memandang Rey dengan heran.

Mereka berdua pun mulai berdebat tentang warna rambut Rey, biru laut atau merah marun. Sementara Rey sendiri hanya bisa terdiam, agak bingung dengan persepsi yang berbeda tentang dirinya.

Sang pilot menghela napas, lalu mengangkat tangan.

"Sudahlah, kita bahas lain kali saja. Sekarang, kita harus segera menemui komandan untuk melapor,"

Lucy dan Lica akhirnya mengangguk setuju. Mereka berempat pun berjalan bersama menuju kantor komandan Bianca, meninggalkan perdebatan warna rambut yang belum terselesaikan di landasan bandara.

Ternyata, komandan sedang berada di ruang radar. Mereka mengetahui hal ini setelah berpapasan dengan seorang pelayan yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.

Mereka pun langsung menuju ke sana. Di dalam ruang radar yang dipenuhi layar dan peta holografik, mereka melihat Komandan Bianca sedang berbicara dengan seorang perempuan berkacamata yang dari seragam labnya jelas seorang ilmuwan.

Melihat kedatangan mereka, sang ilmuwan mengangguk singkat pada Bianca lalu berbalik pergi dengan langkah cepat, sepertinya tak ingin mengganggu pembicaraan yang akan datang.

"Lapor, Komandan," ucap Lucy mewakili tim.

"Kerja bagus, semua. Tim investigasi akan menangani sisanya. Kalian boleh istirahat," perintah Bianca dengan nada tegas namun adil.

"Tunggu, Komandan," Lucy menghentikan langkahnya sebelum pergi.

"Ada apa lagi?" tanya Bianca, sedikit mengerutkan kening.

"Menurutmu, apakah ini ada hubungannya dengan kapten bajak laut yang jadi buronan itu?" tanya Lucy penuh rasa ingin tahu.

Mendengar itu, Bianca tampak memahami sesuatu. Ia mengambil sebuah dokumen dari mejanya, membukanya sejenak, lalu memandang kembali ke Lucy.

"Menurut kesaksian nelayan yang berhasil kabur, ciri-ciri kapal dan serangan bajak laut ini berbeda dengan modus operasinya sang buronan. Jika memang itu dia," jelas Bianca dengan suara tenang.

"Para nelayan takkan punya kesempatan untuk melarikan diri,"

Mendengar penjelasan itu, Lucy mengangguk pelan.

"Ada pertanyaan lagi?" tanya Bianca, menunggu.

Keempatnya terdiam sejenak, saling berpandangan seolah-olah memastikan tak ada lagi yang perlu ditanyakan.

"Kalau begitu, kalian boleh beristirahat," tegas Bianca, menutup pembicaraan.

Sebelum bubar, mereka berempat serentak memberi hormat militer yang rapi. Bianca membalas dengan anggukan hormat yang tegas.

Barulah mereka berbalik arah meninggalkan komandan.

Alih-alih beristirahat, mereka justru pergi menemui tabib istana. Menurut peraturan, hal itu diperbolehkan, mengingat para prajurit kerap mengalami efek samping aneh usai misi, mulai dari keracunan sihir hingga luka yang tak terlihat mata telanjang.

Tapi harus menemui tabib istana dulu, baru bertemu Komandan.

Mereka memasuki ruang medis yang harum aroma ramuan. Di dalamnya, sang tabib sedang duduk tenang, tangannya dengan lembut mengelus monster peliharaannya yang berbaring di lantai.

Makhluk itu menyerupai singa betina, bertubuh besar dengan bulu putih keperakan yang tampak lebat dan lembut.

Tabib itu sendiri adalah seorang ras Demi. Rambut birunya yang panjang sebahu, mata biru jernih yang tajam namun tenang, dan sepasang telinga kucing di atas kepalanya yang sedikit bergerak menangkap suara langkah mereka.

Ia mengenakan jas laboratorium putih yang rapi, kontras dengan wujud peliharaannya yang liar.

Melihat kedatangan mereka, tabib itu berdiri dengan anggun dan melangkah mendekat. Sedangkan singa betina itu hanya mengangkat kepalanya sebentar, lalu merebahkannya kembali, tertidur lelap di lantai.

"Ada apa?" tanya sang tabib dengan suara tenang, mendekati mereka.

"Kami ingin memeriksa mata," ucap Lucy mewakili yang lain.

"Baiklah, silakan duduk. Nanti aku periksa satu per satu," balas sang tabib sambil menunjuk deretan kursi pemeriksaan.

Mereka berempat segera duduk. Tabib itu mengambil alat pemeriksa mata yang terbuat dari logam dan kristal, lalu mulai memeriksa Lucy yang duduk paling ujung.

Rey, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ruang medis ini, hanya bisa diam dan mengikuti alur pemeriksaan tanpa banyak bertanya.

Sang tabib bergerak dengan cekatan dari satu kursi ke kursi lainnya, memeriksa mata mereka satu per satu dengan alat kristal yang berpendar lembut. Setelah selesai, ia menurunkan alat itu dan menghela napas ringan.

"Bagaimana, Dok?" tanya Lucy cepat yang tidak sabar.

"Mata kalian baik-baik saja. Tidak ada kelainan, tidak ada kerusakan, tidak ada efek sihir yang tertinggal," jawab sang tabib datar.

"Ha! Kau serius, Dok?" Lucy hampir melompat dari kursinya.

"Sang tabib menatapnya dengan sedikit senyum di sudut bibir.

"Ada masalah apa, sampai kalian tidak percaya pada hasil pemeriksaanku?"

Bersambung....​

1
T28J
baiklah saya baca novel pertamanya dulu kak 👍
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!