Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Penolakan Nafkah
Matahari sore baru saja merayap turun di balik gedung-gedung pencakar langit ibu kota, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang menyusup melalui jendela kaca besar ruang kerja pribadi Arka di lantai atas rumah besar keluarga Pratama. Ruangan itu tampak rapi, didominasi oleh rak buku besar berukir kayu mahoni dan meja kerja mewah dari kulit sintetis hitam yang dipenuhi oleh berkas-berkas penting perusahaan.
Namun, di balik kerapian ruangan tersebut, udara terasa begitu berat dan menyesakkan.
Arka duduk terpaku di kursi kerjanya. Lengan kemejanya digulung hingga siku, dan sebatang pena bermerek mahal dibiarkan tergeletak begitu saja di atas dokumen kontrak yang terbuka. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada angka-angka atau laporan keuangan perusahaan yang terbentang di hadapannya. Sejak kejadian di meja makan pagi tadi, bayangan wajah dingin Kirana, tatapan kosong tanpa emosi, serta sapaan formal bersyarat "Tuan" terus berputar-putar di kepalanya, menciptakan dengung konstan yang menyiksa kewarasannya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerjanya.
Dahi Arka mengernyit. Bi Inah biasanya tidak pernah berani mengganggu jika Arka sedang berada di ruang kerja pada jam-jam sore seperti ini, kecuali ada hal yang sangat penting.
"Masuk," ucap Arka dengan suara berat, mencoba menegakkan postur tubuhnya.
Pintu kayu berukuran besar itu terdorong pelan dari luar. Namun, sosok yang melangkah masuk bukanlah Bi Inah dengan nampan teh hangatnya.
Itu adalah Kirana.
Wanita itu melangkah masuk dengan mengenakan blus hitam berkerah tinggi dan celana panjang senada—pakaian kasual bernuansa gelap yang kini telah menjadi seragam harian wajibnya sejak ia pindah ke kamar pojok lantai bawah. Wajahnya pucat, tenang, dan tertutup oleh tembok es yang tidak dapat ditembus oleh cahaya apa pun.
Arka spontan berdiri dari kursi kerjanya. Jantungnya berdegup lebih kencang, dan secercah harapan palsu sempat melintas di benaknya—berharap bahwa kedatangan Kirana ke ruang kerjanya adalah sebuah tanda bahwa istrinya mulai luluh, bahwa kebekuan di antara mereka akhirnya mencair.
"Kirana..." panggil Arka pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati, takut salah langkah sedikit saja akan menghancurkan momen langka ini. "Ada apa? Apakah ada yang kamu butuhkan? Kamar di bawah... apakah ada yang kurang nyaman? Katakan padaku, aku bisa menyuruh Bi Inah atau orang lain untuk membereskannya."
Kirana sama sekali tidak merespons tawaran atau kekhawatiran suaminya. Ia berjalan mendekati meja kerja besar itu dengan langkah pelan namun pasti. Matanya lurus menatap ke depan, tidak membiarkan seberkas pun kehangatan terpancar dari sepasang bola matanya yang kelam.
Begitu tiba di depan meja kerja Arka, Kirana tidak duduk. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah benda tipis berwarna hitam pekat dengan cip emas berkilau di sudutnya—sebuah kartu kredit *black card* eksklusif berlimit tanpa batas yang selama ini selalu ada di dalam dompetnya, fasilitas finansial utama yang diberikan Arka sebagai simbol status dan jaminan hidupnya sebagai istri seorang CEO kaya raya.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan tanpa keraguan sedikit pun, Kirana meletakkan kartu hitam itu tepat di tengah-tengah meja kerja Arka, di atas tumpukan dokumen penting yang sedang dibaca suaminya tadi.
*Takt.*
Suara kecil saat kartu itu berbenturan dengan permukaan kayu mahoni terdengar begitu nyaring di dalam keheningan ruang kerja yang luas itu.
Arka menunduk, menatap kartu kredit hitam tersebut, lalu mendongak menatap wajah Kirana dengan kening berkerut dalam. Napasnya tertahan. Ia merasakan firasat buruk yang teramat tajam mencengkeram dadanya.
"Kirana... apa maksudnya ini?" suara Arka bergetar, menunjuk kartu hitam di atas meja dengan sebelah jarinya yang gemetar. "Kenapa kartu ini kamu kembalikan padaku? Apakah... apakah ada kebutuhanmu yang tidak tercukupi? Apakah saldo di kartu itu bermasalah? Katakan padaku, aku bisa langsung—"
"Tidak ada yang bermasalah dengan kartunya, Arka," potong Kirana dengan suara datar, dingin, dan begitu tegas. Nada bicaranya tidak menyisakan ruang untuk perdebatan atau kesalahpahaman. "Kartu itu berfungsi dengan sempurna. Hanya saja... saya tidak membutuhkannya lagi."
Arka merasa sekujur tubuhnya disambar petir di siang bolong. Ia membelalakkan matanya tidak percaya. "Tidak butuh? Kirana, itu kartu kredit utamamu! Itu adalah fasilitas finansialmu sebagai istriku! Bagaimana bisa kamu bilang tidak butuh? Kalau kamu ingin berbelanja, atau kalau kamu butuh sesuatu untuk kebutuhan pribadimu—"
"Keperluan pribadi apa, Arka?" potong Kirana lagi, kali ini sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miris yang terasa sangat menyayat hati. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arah meja kerja, menatap lurus ke dalam mata suaminya tanpa berkedip. "Apakah Anda pikir setelah semua yang terjadi—setelah kehilangan segalanya, setelah saya memilih mengasingkan diri di kamar sempit paling pojok di lantai bawah—saya masih punya waktu atau selera untuk menikmati kemewahan yang dibeli dengan uang Anda?"
Skakmat. Kalimat itu meluncur bagaikan bilah belati tajam yang menghujam tepat di ulu hati Arka, merobek-robek sisa kewibawaan pria itu tanpa ampun.
"Kirana... kumohon, jangan bicara seperti itu," rintih Arka, suaranya parau nyaris tak terdengar. Ia melangkah keluar dari balik meja kerjanya, hendak mendekati sang istri dan merengkuh bahu wanita itu. "Uang itu adalah hakmu! Rumah ini, fasilitas ini, semuanya adalah milikmu juga! Kita terikat pernikahan yang sah! Kamu berhak atas seluruh nafkah yang aku berikan..."
*Satu langkah mundur.*
Sebelum tangan Arka sempat menyentuh ujung lengan blusnya, Kirana dengan sigap melangkah mundur, menciptakan jarak aman yang mutlak di antara mereka. Gerakan itu begitu refleks, menunjukkan betapa ia merasa jijik dan terganggu jika disentuh oleh suaminya sendiri.
Arka tertegun di tempatnya. Tangannya yang terentang di udara perlahan-lahan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Rasa perih yang luar biasa menjalar dari dadanya hingga ke tenggorokan, membuat matanya terasa panas dan basah.
"Nafkah?" ulang Kirana, suaranya terdengar begitu dingin, mengulangi kata tersebut seolah itu adalah sebuah lelucon paling buruk di dunia. "Nafkah yang Anda berikan selama ini tidak pernah mampu membeli ketenangan jiwa saya, Arka. Anda memberikan kartu hitam berlimit tak terbatas, tapi Anda membiarkan saya mati kelaparan secara emosional. Anda memberikan kemewahan materi, tapi Anda merampas hak saya untuk didengar, dihargai, dan dicintai sebagai manusia."
Kirana menundukkan kepalanya sejenak, menatap kartu kredit hitam yang tergeletak bisu di atas meja kerja suaminya, sebelum kembali mendongak menatap Arka dengan sorot mata yang sepenuhnya telah mati rasa.
"Mulai hari ini," lanjut Kirana dengan nada suara yang tenang namun mutlak bagaikan vonis pengadilan, "saya tidak ingin lagi menggunakan sepeser pun uang dari Anda. Selama saya tinggal di rumah ini untuk menghabiskan masa-masa pemulihan saya—atau sampai waktu di mana kita menyelesaikan seluruh urusan kita di luar sana—saya akan mencukupi kebutuhan saya sendiri dengan tabungan pribadi yang saya miliki dari hasil kerja saya sebelum menikah dulu. Meskipun tidak banyak, itu jauh lebih bersih dan tidak meninggalkan rasa jijik di tangan saya."
Deg!
Pernyataan itu bagaikan hantaman palu godam raksasa yang meremukkan seluruh pertahanan terakhir Arka. Pria itu terhuyung ke belakang, punggungnya menabrak tepi meja kerja mahoni hingga dokumen-dokumen di atasnya bergeser berantakan.
Menolak kartu kredit adalah satu hal, tetapi menolak seluruh nafkah dan menegaskan bahwa uang dari suaminya meninggalkan "rasa jijik" adalah sebuah tamparan moral paling telak yang tidak pernah terbayangkan oleh Arka dalam hidupnya. Bagi seorang pria yang selama ini sangat membanggakan kesuksesan finansial dan kekayaannya sebagai alat pengukur harga diri, kalimat itu menghancurkan esensi keberadaannya sebagai seorang suami.
"Kirana... jangan lakukan ini..." air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipi Arka. Pria itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan gestur yang begitu putus asa. "Kalau kamu menolak uangku... kalau kamu menolak fasilitas dariku... lalu bagaimana cara aku menunjukkan rasa penyesalanku? Bagaimana cara aku menebus semua dosaku padamu, Kirana? Tolong... beri aku petunjuk. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini..."
Kirana menatap Arka yang sedang menangis di hadapannya. Tidak ada setetes pun air mata di matanya, tidak ada rasa iba, dan tidak ada kelembutan yang tersisa. Hati wanita itu telah membeku menjadi karang yang paling keras di dasar samudra.
"Penbusan dosa?" ucap Kirana pelan dengan nada datar yang menusuk. "Anda tidak akan pernah bisa menebusnya, Arka. Karena apa yang sudah hancur berkeping-keping tidak akan pernah bisa disatukan kembali hanya dengan air mata penyesalan yang terlambat."
Setelah mengucapkan kalimat penutup yang mutlak itu, Kirana membalikkan badannya dengan anggun.
Ia tidak menunggu jawaban apa pun dari suaminya. Langkah kakinya terdengar tenang dan teratur di atas lantai marmer ruang kerja, meninggalkan Arka seorang diri di tengah ruangan yang megah namun terasa bagaikan sel isolasi yang paling gelap.
*Kriek...*
Pintu ruang kerja tertutup rapat kembali.
Arka jatuh bersimpuh di lantai, kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri sementara isak tangisnya pecah memenuhi ruangan kosong tersebut. Di atas meja kerja di hadapannya, kartu kredit hitam itu tergeletak bisu—menjadi monumen bisu atas keruntuhan total sebuah rumah tangga yang dulunya berdiri di atas fondasi kemewahan, namun kini runtuh dan berserakan menjadi debu di atas ketidakpedulian masa lalu.