NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Guru yang Malas

Fajar perlahan menyingsing.

Kabut tipis masih menyelimuti Pegunungan Tianyun.

Embusan angin pagi membawa aroma dedaunan dan tanah yang masih basah.

Di halaman Kuil Qingfeng...

Luo Ning telah berdiri tegak sejak sebelum matahari terbit.

Pedang kayu berada di tangannya.

Satu ayunan.

Dua ayunan.

Tiga ayunan.

Setiap gerakannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.

Ia terus mengingat setiap kata yang diajarkan Gurunya.

"Pedang adalah cerminan hati."

Karena itu...

Ia tidak lagi mengejar kecepatan.

Tidak pula mengejar kekuatan.

Ia hanya berusaha mengayunkan pedangnya dengan hati yang tenang.

Tak jauh darinya...

Qin Xueyao sedang menyapu halaman kuil.

Sesekali ia melirik Luo Ning.

"Kakak Luo."

"Kau sudah mulai berlatih sejak kapan?"

Luo Ning tersenyum.

"Sejak langit masih gelap."

Qin Xueyao terkejut.

"Sepagi itu?"

Luo Ning mengangguk.

"Aku tidak ingin mengecewakan Guru."

Mendengar itu...

Qin Xueyao menggenggam sapunya sedikit lebih erat.

"Aku juga."

Keduanya saling tersenyum.

Kemudian...

Mereka berjalan bersama menuju belakang Aula Utama.

Di sana...

Berdiri sebuah makam sederhana.

Makam Pertapa Qingfeng.

Tanpa perlu diingatkan...

Keduanya membungkukkan badan dengan hormat.

"Salam kepada Pendiri Kuil Qingfeng."

Suara mereka terdengar bersamaan.

Angin gunung berembus lembut.

Daun-daun pohon tua berguguran perlahan.

Suasana terasa damai.

Setelah memberi hormat...

Mereka saling berpandangan.

"Guru pasti sudah menunggu."

"Jangan sampai terlambat."

Keduanya segera berjalan menuju Aula Utama.

Namun...

Begitu pintu aula dibuka...

Mereka membeku.

"..."

"..."

Di atas kursi bambu...

Chu Xuan sedang tidur pulas.

Selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya.

Di sampingnya terdapat secangkir teh.

Asapnya...

Sudah tidak keluar lagi.

Jelas teh itu telah lama menjadi dingin.

Qin Xueyao berkedip beberapa kali.

"Lagi tidur..."

Luo Ning berdeham pelan.

"Guru mungkin..."

"...sedang merenungkan Dao."

Qin Xueyao menatap Gurunya.

Beberapa detik kemudian...

Terdengar suara pelan.

"Zzz..."

"Zzz..."

Qin Xueyao menoleh perlahan ke arah Luo Ning.

"Itu..."

"Dengkuran, kan?"

Luo Ning terdiam cukup lama.

"..."

"Mungkin..."

"...Dao juga bisa mendengkur."

Qin Xueyao hampir tertawa.

Namun ia segera menutup mulutnya.

"Tidak boleh..."

"Nanti Guru bangun."

Pada saat itu...

Tulisan hitam muncul di hadapan Chu Xuan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Tuan Rumah telah tidur selama 8 jam 43 menit.】

【Misi Guru masih berlangsung.】

【Apakah Tuan Rumah berniat bangun?】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan bahkan tidak membuka mata.

Di dalam benaknya ia menjawab singkat.

"Tidak."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【...】

【Sistem tidak memahami keputusan Tuan Rumah.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

"Lima menit lagi."

"Aku bermimpi sedang makan ayam panggang."

【Mimpi tersebut tidak memiliki manfaat terhadap kultivasi.】

"Hatiku bahagia."

"Itu sudah cukup."

Sistem terdiam.

Beberapa saat kemudian...

Tulisan hitam kembali muncul.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Penilaian Sistem】

Tuan Rumah sangat malas.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan tersenyum tipis dalam tidurnya.

"Itu pujian."

Di luar...

Luo Ning menghela napas pelan.

"Guru mungkin sangat lelah."

Qin Xueyao mengangguk.

"Iya."

"Kita jangan mengganggunya."

Keduanya memilih duduk bersila di depan aula.

Mereka menunggu dengan sabar.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Chu Xuan...

Masih tidur.

Qin Xueyao mulai gelisah.

"Kakak Luo..."

"Guru benar-benar belum bangun."

Luo Ning tersenyum kecut.

"Mungkin..."

"...Guru memang sedang menikmati waktu istirahat."

Tiba-tiba...

Chu Xuan membuka sebelah matanya.

Melihat kedua muridnya masih duduk menunggu.

Ia menguap panjang.

"Lho..."

"Kalian sudah datang?"

Luo Ning dan Qin Xueyao segera berdiri.

"Salam, Guru."

Chu Xuan menggaruk kepalanya.

"Kalian menunggu sejak kapan?"

"Kira-kira..."

"Dua jam yang lalu, Guru."

"..."

Chu Xuan terdiam.

Kemudian batuk pelan.

"Ahem."

"Itu..."

"Guru sedang menguji kesabaran kalian."

Di hadapannya...

Tulisan hitam kembali muncul.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Peringatan.】

【Sistem mendeteksi Tuan Rumah sedang mencari alasan.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan pura-pura tidak melihatnya.

"Bagus."

"Kalian lulus."

Qin Xueyao dan Luo Ning saling berpandangan.

Mereka tidak tahu...

Apakah Guru benar-benar sedang menguji mereka...

Atau...

Memang baru bangun tidur.

Namun...

Tak seorang pun berani bertanya.

Karena bagi mereka...

Apa pun yang dilakukan Guru...

Pasti memiliki alasan.

Chu Xuan meregangkan tubuhnya.

"Baiklah."

"Karena kalian sudah menunggu cukup lama..."

"...hari ini Guru akan mengajari kalian."

Mata Qin Xueyao langsung berbinar.

"Benarkah, Guru?"

Chu Xuan mengangguk santai.

"Tentu."

"Lagipula..."

"Kalau terlalu lama tidur, pinggangku juga pegal."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Sistem mengonfirmasi.】

【Kalimat tersebut benar.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

"..."

Chu Xuan pura-pura tidak melihat tulisan itu.

Ia berjalan santai menuju halaman belakang kuil.

Di sana...

Terdapat tanah lapang yang masih kosong.

Di sisi lain berdiri pohon tua yang menaungi makam Pertapa Qingfeng.

Chu Xuan berhenti.

Tatapannya sempat mengarah ke makam itu.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kakek."

"Lihatlah."

"Kuil Qingfeng sudah memiliki murid."

"Aku tidak akan membiarkan warisan yang Kakek tinggalkan menghilang."

Sesaat kemudian...

Ia menjentikkan jarinya.

Jep.

Dalam sekejap...

Tanah bergetar pelan.

Batu-batu besar tersusun rapi.

Boneka-boneka kayu muncul berjajar.

Rak senjata sederhana berdiri di sisi lapangan.

Beberapa tiang latihan tumbuh dari dalam tanah.

Dalam hitungan napas...

Halaman kosong telah berubah menjadi arena latihan yang rapi.

Qin Xueyao membelalakkan mata.

"Guru..."

"Ini..."

"Bagaimana Guru melakukannya?"

Luo Ning juga tidak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Walaupun sudah beberapa kali menyaksikan keajaiban Gurunya...

Pemandangan itu tetap terasa mustahil.

Chu Xuan hanya tersenyum santai.

"Hanya sedikit merapikan halaman kuil."

"Tidak perlu terlalu terkejut."

Qin Xueyao mengangguk cepat.

"Guru memang luar biasa."

Di dalam hatinya...

Sosok Guru menjadi semakin tinggi.

Chu Xuan kemudian menoleh kepada Luo Ning.

"Luo Ning."

"Perlihatkan kembali 《Seni Pedang Angin Qingfeng》."

"Murid menurut."

Luo Ning menarik pedangnya.

Ia memejamkan mata sejenak.

Mengingat setiap petunjuk yang telah diberikan Gurunya.

Kemudian...

Swish!

Pedang bergerak.

Tidak secepat sebelumnya.

Namun...

Jauh lebih tenang.

Setiap ayunan seolah mengikuti irama embusan angin.

Daun-daun yang berguguran ikut menari di sekelilingnya.

Qin Xueyao sampai lupa berkedip.

"Indah..."

"Itulah..."

"Pedang Kakak Luo."

Beberapa saat kemudian...

Luo Ning mengakhiri jurusnya.

Ia segera membungkuk.

"Mohon petunjuk Guru."

Chu Xuan memungut sehelai daun yang jatuh di dekat kakinya.

Ia mengangkat daun itu.

"Lihat baik-baik."

Dengan gerakan yang sangat pelan...

Ia melepaskan daun tersebut.

Daun itu melayang perlahan mengikuti angin.

"Tebas."

Luo Ning segera bergerak.

Swish!

Daun itu terbelah dua.

Namun...

Belahannya tidak seimbang.

Chu Xuan menggeleng pelan.

"Masih kurang."

Luo Ning menundukkan kepala.

"Mohon Guru menjelaskan."

Chu Xuan mengambil dua potong daun itu.

"Pedangmu sudah cukup cepat."

"Tetapi..."

"Kau masih ingin menang."

Luo Ning sedikit terkejut.

Chu Xuan melanjutkan.

"Ketika kau ingin menang..."

"Hatimu akan mendahului pedangmu."

"Akibatnya..."

"Pedangmu kehilangan ketenangannya."

Luo Ning perlahan memejamkan mata.

Setelah beberapa napas...

Ia membungkuk lebih dalam.

"Murid mengerti."

Chu Xuan mengangguk puas.

"Bagus."

"Latihlah seribu kali."

"Jangan mengejar kecepatan."

"Biarkan angin yang membimbing pedangmu."

"Murid akan mengingat ajaran Guru."

Di samping mereka...

Qin Xueyao mendengarkan setiap kalimat dengan penuh perhatian.

Ia tidak memahami ilmu pedang.

Namun...

Setiap ucapan Gurunya terasa mengandung makna yang sangat dalam.

Tiba-tiba...

Chu Xuan menoleh kepadanya.

"Qin Xueyao."

"Ya, Guru!"

"Kau ingin segera berkultivasi?"

Qin Xueyao mengangguk tanpa ragu.

"Aku ingin menjadi kuat."

"Bukan demi diriku sendiri."

"Tetapi..."

"Agar suatu hari nanti bisa membantu Guru dan Kakak Luo."

Chu Xuan tersenyum tipis.

"Itu jawaban yang bagus."

"Namun..."

"Kultivasi tidak boleh terburu-buru."

"Setiap murid memiliki jalannya sendiri."

"Kau juga akan memiliki teknik yang paling cocok untukmu."

Mata Qin Xueyao berbinar.

"Benarkah, Guru?"

"Tentu."

"Guru tidak akan membiarkan murid-murid Kuil Qingfeng berjalan di jalan yang salah."

Mendengar kalimat itu...

Qin Xueyao membungkuk hormat.

"Terima kasih, Guru."

Pada saat yang sama...

Tulisan hitam muncul di hadapan Chu Xuan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Guru I】

Kemajuan:

2/3

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Misi Guru II】

Target:

• Membimbing Qin Xueyao memasuki jalan kultivasi.

• Memberikan teknik yang paling sesuai dengannya.

Hadiah akan diberikan setelah seluruh target selesai.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan membaca panel itu sambil mengusap dagunya.

"Hmm..."

"Sepertinya..."

"Guru memang tidak bisa bermalas-malasan setiap hari."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【Sistem menyetujui pernyataan tersebut.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Chu Xuan menghela napas.

"Lupakan."

"Setelah pelajaran selesai..."

"...aku lanjut tidur."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

【......】

【Sistem menyerah membujuk Tuan Rumah.】

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Luo Ning dan Qin Xueyao saling berpandangan.

Guru mereka...

Selalu mengucapkan hal-hal yang sulit dipahami.

Namun...

Di mata keduanya...

Guru tetaplah sosok yang paling dapat diandalkan.

Di bawah naungan pohon tua...

Makam Pertapa Qingfeng berdiri dengan tenang.

Seakan menyaksikan Kuil Qingfeng yang dahulu sunyi...

Kini perlahan dipenuhi suara latihan, tawa para murid, dan harapan akan masa depan yang lebih gemilang.

Bersambung...

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mantap Thor lanjut
Nur_aisyah Rahman
lanjut terus Thor..
Rinaldi Sigar
lanjut
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...buat mereka putus asa😄😄👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 👍👍
Arinto Ario Triharyanto
semangat Thor 💪
Arinto Ario Triharyanto
akhirnyaaaa, update lagi Thor 😎... mantap lanjut terus Thor 👍💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh ada tamu tak di undang lagi🤣🤣👍 bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
terimakasih Thor Atas keterangan nya👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
musnahkan keluarga Han😀👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 👍😀
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
dalang dr semua ini berarti keluarga Han🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
owhhh bisa menjadi alkemis juga ya🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣 keluarga Han mencari apa yang tidak ada🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
terimakasih Thor sudah memberikan bacaan yang menarik dan bagus 👍👍🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh niat di rampok🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat terus
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣sistem nya lebih batu daripada Chu Xuan🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!