NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa

Hari-hari berikutnya di Grand Line berjalan dengan dinamika yang aneh di atas kapal Tartarus. Badai anomali, pusaran air mendadak, dan monster laut berukuran pulau seolah menghindari jalur pelayaran kapal hitam legam tersebut—sebuah bukti dari sistem navigasi otomatis yang dikombinasikan dengan sisa-sisa aura Haoshoku Haki yang secara pasif masih menguar dari diri Muzan Kibutsi.

​Bagi Putri Vivi, pelayaran ini terasa seperti berada di dalam sangkar emas yang dikelilingi oleh para malaikat maut. Gadis berambut biru itu sering kali mendapati dirinya duduk terpaku di sudut geladak, mengamati Roy Mustang yang sedang menyesap teh hitam dengan tenang di dekat kemudi, sementara remaja misterius berjubah hitam—Muzan—tampak tenggelam dalam keheningan total di ruang kapten. Tidak ada awak kapal manusia, tidak ada teriakan perintah, namun kapal ini melaju dengan presisi mekanis yang mustahil dicapai oleh teknologi manapun di dunia ini.

​"Kau tidak perlu terus mengawasi mereka seperti itu, Tuan Putri," suara Mr. 9 memecah lamunan Vivi. Pria bermahkotakan kecil itu duduk bersila di sampingnya, wajahnya masih menyisakan memar dari insiden di Whiskey Peak. "Mereka bukan bajak laut biasa. Mereka adalah bencana alam yang berjalan dengan kaki."

​"Aku tahu, Mr. 9," bisik Vivi lirih, matanya menatap siluet awan di kejauhan. "Tapi aku tidak bisa mengerti... Apa sebenarnya tujuan mereka? Mereka tahu tentang Crocodile, mereka tahu tentang rencana Baroque Works, namun mereka tidak meminta tebusan, tidak juga meminta wilayah. Mereka bergerak layaknya bayangan yang menelan setiap musuh di jalur mereka."

​"Karena dunia ini dijalankan oleh kepentingan, dan mereka berada di puncak rantai makanan untuk melayani kepentingan itu," suara berat Roy Mustang tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Kolonel itu melangkah mendekat, mantel hitamnya berkibar pelan tertiup angin laut. Ia menatap ke arah garis horison di mana sebuah pulau raksasa mulai menampakkan wujudnya. "Simpan rasa penasaranmu, Vivi. Di Grand Line, mengetahui terlalu banyak hal tentang orang-orang yang lebih kuat darimu adalah cara tercepat untuk menemui ajal."

​Mustang menunjuk ke depan dengan ujung jari bersarung tangan putihnya.

​"Kita telah tiba."

​Vivi dan Mr. 9 bangkit berdiri, berlari kecil ke arah pagar pembatas haluan kapal. Di hadapan mereka, tersaji sebuah pemandangan yang meruntuhkan nalar.

​Sebuah pulau raksasa dengan hutan lebat yang dipenuhi oleh pohon-pohon purba setinggi ratusan meter. Daun-daunnya begitu besar hingga menutupi separuh langit, dan dari dalam hutan lebat itu, terdengar suara raungan makhluk raksasa yang menggetarkan lambung kapal—dinosaurus.

​Little Garden. Pulau tempat waktu berhenti di era prasejarah.

​Tartarus meluncur perlahan memasuki teluk kecil di pesisir pulau tersebut, membuang sauh secara otomatis di dekat pantai berpasir putih.

​Di ruang kapten, Muzan Kibutsi membuka matanya. Ia tidak keluar ke dek utama, melainkan memanggil panel sistemnya dalam kesunyian ruangan. Sentuhan dingin dari udara Little Garden seolah meresap melalui dinding kayu kapal, namun ekspresi Muzan tetap sedingin es.

​"Sistem," panggil Muzan dalam pikirannya. "Keluarkan Enel."

​Pilar cahaya keemasan bermanifestasi di dalam ruang kapten yang luas. Cahaya itu menyebar lembut, menampakkan sosok pria tinggi besar dengan hiasan kepala cincin emas dan gendang petir di punggungnya.

​Enel berdiri dengan dagu terangkat, matanya yang menyipit menatap sekeliling ruangan dengan seringai arogan yang khas. Sebagai "Dewa" dari Skypiea, ego Enel tergolong masif; ia menganggap dirinya sebagai entitas tertinggi yang tidak tertandingi. Namun, begitu sistem menyelesaikan proses transfer kepatuhan mutlak, Enel menoleh ke arah Muzan yang duduk di kursi kapten.

​Meskipun ekspresi sombong itu tidak sepenuhnya hilang, tubuh Enel membungkuk secara otomatis, memberikan gestur tunduk kepada sang Pencipta.

​"Pencipta..." suara Enel terdengar santai, diselingi nada tinggi yang angkuh. "Tempat apa ini? Udara di sini terasa begitu padat, tidak seperti lautan awan di negeri yang kusesali."

​Muzan menatap Enel dengan dingin. Ia menyukai kekuatan Enel, namun ia tahu menangani karakter yang dipenuhi kompleks ke-dewa-an membutuhkan kendali psikologis yang tegas.

​"Kau berada di permukaan bumi, Enel. Di sinilah dunia yang sesungguhnya berjalan," jawab Muzan tenang, berdiri dari kursinya. "Dan saat ini, kau adalah bagian dari pasukan Erebus. Aku tidak peduli apakah kau menganggap dirimu dewa di tempat asalmu. Di sini, kau adalah pedang di tanganku."

​Enel tertawa kecil, suara tawanya melengking tinggi. “Zehahaha! Menarik! Manusia di daratan ini berani berbicara tentang pedang di hadapan petir? Kalau begitu, biarkan aku meregangkan otot-ototku dan melihat seberapa berharganya dunia ini di mataku.”

​Tanpa menunggu izin lebih lanjut, tubuh Enel berubah menjadi kilatan petir putih kebiruan.

​ZAP!

​Dalam sekejap mata, Enel melesat menembus atap kayu ruang kapten—tanpa merusaknya secara fisik karena ia memanipulasi wujud energinya—dan meluncur membubung tinggi ke langit di atas pulau Little Garden.

​Di atas sana, di ketinggian ribuan meter di atas kanopi hutan purba, Enel melayang bebas. Ia menutup matanya, melepaskan kemampuan Mantra (Kenbunshoku Haki tingkat lanjut) yang dikombinasikan dengan gelombang elektromagnetik dari Goro Goro no Mi.

​Dunia di bawahnya terbuka secara instan di dalam kesadaran Enel.

​Dalam radius puluhan kilometer mencakup seluruh pulau Little Garden, Enel bisa mendengar setiap bisikan, merasakan setiap detak jantung, dan melihat setiap pergerakan sekecil apapun.

​“Hmm... Menarik sekali,” bensin pikiran Enel bergema di benak Muzan melalui tautan sistem. “Ada dua raksasa bodoh yang sedang saling bertarung dengan pedang dan kapak sebesar gunung di sisi timur pulau. Dan di sisi barat... ada sekelompok manusia kecil yang sedang merencanakan sesuatu yang kotor.”

​Di ruang kapten, Muzan tersenyum tipis mendengar laporan mental tersebut. Mantra Enel adalah sistem radar intelijen mutlak. Tidak ada satu pun penyusup atau jebakan yang bisa disembunyikan darinya.

​"Fokuskan pengamatanmu pada kelompok manusia di sisi barat pulau," perintah Muzan secara telepati kepada Enel di langit. "Mereka adalah agen dari organisasi Baroque Works. Cari tahu apa yang sedang mereka lakukan."

​Di udara, Enel mendengus meremehkan. “Ah, segerombolan semut yang membawa racun dan lilin. Mereka sedang meracuni minuman salah satu raksasa itu, dan bersiap menyergap sekelompok bajak laut lain yang baru saja mendarat di pulau ini.”

​Mata Muzan menyipit tajam. Bajak laut lain?

​Berdasarkan garis waktu canon, kelompok Topi Jerami (Luffy, Zoro, Nami, dan yang lainnya) seharusnya baru akan tiba di Little Garden menyusul rute Log Pose. Kedatangan mereka di pulau ini berarti pertempuran antara Baroque Works (Mr. 3, Mr. 5, Miss Goldenweek, Miss Valentine) melawan bajak laut dan dua raksasa (Dorry dan Brogy) akan segera meletus.

​"Enel, awasi pergerakan mereka. Jangan bertindak gegabah kecuali kuperintahkan. Biarkan agen-agen Baroque Works itu memasang perangkapnya terlebih dahulu," instruksi Muzan dingin. "Kita akan datang sebagai pemangsa yang memanen hasil kerja keras mereka."

​“Sesuai keinginanmu, Pencipta... Aku akan menikmati pertunjukan sirkus kecil ini dari atas langit.”

​Kembali di dek utama kapal Tartarus, Roy Mustang yang berdiri di dekat pagar pembatas menatap ke arah langit mendung di mana sambaran petir kecil terus berkelebat tanpa suara guntur. Kolonel itu melirik ke arah ruang kapten, lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara.

​"Sepertinya kau baru saja melepaskan monster lain ke udara, Tuan," gumam Mustang pada dirinya sendiri.

​Vivi, yang mendengar gumaman itu, menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak tahu siapa lagi yang telah dipanggil oleh pria misterius di dalam kapal ini, namun ia tahu satu hal: pulau prasejarah di depan mereka tidak lama lagi akan berubah menjadi neraka.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!