NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:423.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

“Nyonya, bukankah Tuan Hendra sudah keterlaluan kali ini? Mengabaikan Nona Muda Luna hanya demi merayakan kemenangan tendernya?” tanya Pak Roni sembari melirik Ningsih dari kaca spion tengah mobil. “Apakah itu tidak sangat berlebihan, Nyonya? Sementara tender itu sebenarnya anda yang sudah—”

“Tidak apa-apa, Pak Roni,” potong Ningsih cepat. Ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil, tangannya tak sedetik pun lepas dari mendekap Luna yang mulai tertidur pulas karena kelelahan menangis.

“Kali ini aku ingin fokus dulu pada Luna. Biarkan saja mas Hendra bersenang-senang dulu malam ini. Toh, aku masih penasaran dengan wanita bernama Arumi itu.”

Pak Roni mengangguk patuh, meski rahangnya masih mengeras menahan geram pada kelakuan suami bosnya.

“Baiklah, Nyonya. Saya paham maksud anda.”

Mobil hitam itu melaju membelah keheningan malam kota Jakarta dan segera menuju ke rumah mewah mereka.

Sesampainya di rumah, Ningsih langsung menggendong Luna yang terkulai lemas menuju kamar tidur sang anak di lantai dua.

Dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang, Ningsih membersihkan wajah kotor putrinya. Ia mengambil sebaskom air hangat, lalu mulai mengompres kening dan melulur tubuh putri kecilnya yang sempat gemetar kedinginan di lorong sepi tadi.

Setelah memastikan Luna tertidur dengan tenang, Ningsih melangkah turun ke dapur bawah untuk membuatkan sup hangat, berjaga-jaga jika Luna terbangun karena lapar tengah malam nanti.

Tepat saat jam dinding besar di ruang tengah menunjukkan pukul satu malam, pintu utama rumah terbuka.

Hendra melangkah masuk. Penampilannya tampak sangat lelah dan berantakan. Jasnya sudah tidak terkancing, dasinya melonggar miring, dan aroma alkohol jenis wine menguar tajam dari sekujur tubuhnya. Jalannya bahkan agak sempoyongan saat melihat Ningsih sedang berdiri di dekat meja makan.

Ningsih menatap suaminya dengan nada dan pandangan mata yang teramat dingin.

“Baru pulang, Mas?”

Hendra mendengus, lalu melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan asal. “Acara tadi itu melelahkan, Ningsih! Jangan mulai menginterogasiku dengan wajah menyebalkan begitu!” ketusnya, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun tentang janjinya pada Luna.

Pria itu berjalan ke meja makan, lalu memijat pangkal hidungnya.

“Kepalaku pusing sekali, rasanya mau pecah karena terlalu banyak minum wine saat menjamu investor tadi. Itu di dalam panci ada sup, kan? Ambilkan aku semangkuk, cepat!”

Ningsih menatap suaminya datar. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia berbalik, menyendok sup ayam hangat ke dalam mangkuk, lalu meletakkannya di depan Hendra.

Hendra yang setengah mabuk tidak menyadari perubahan drastis pada istrinya. Ia langsung menyantap sup itu dengan lahap.

“Aku ke kamar dulu,” ucap Hendra.

Seusai membersihkan sisa mangkuk, Ningsih memilih naik ke atas menuju kamar utama.

Saat ia membuka pintu kamar, ia mendapati Hendra sudah telentang di atas ranjang king size mereka. Pria itu tertidur pulas tanpa mengganti pakaiannya, masih lengkap dengan setelan kerja yang kusut dan bau alkohol.

Biasanya, jika dalam situasi normal, Ningsih akan menjadi istri yang paling berbakti. Ia akan buru-buru mendekat, berlutut di tepi ranjang dengan sabar untuk melepaskan sepatu pantofel Hendra, membuka kaus kakinya, memijat kakinya yang lelah, dan menggantikan pakaian suaminya dengan baju tidur yang nyaman.

Namun untuk kali ini? Ningsih mendengus jijik. Rasa malas yang amat sangat seketika bergolak di dalam dadanya. Baginya, menyentuh seujung kuku Hendra malam ini rasanya sama dengan menyentuh tumpukan sampah yang kotor.

Ningsih melangkah mendekati lemari pakaian dengan gerakan seringan mungkin. Bukannya mendekati Hendra, ia justru menyambar sebuah selimut tebal dan satu bantal empuk dari dalam lemari.

Sebelum keluar dari kamar, Ningsih berdiri di samping ranjang sejenak, menatap wajah Hendra yang mendengkur halus. Tatapan mata Ningsih kini dipenuhi oleh kebencian yang mendalam dan dingin.

“Tidurlah yang nyenyak dengan kesombonganmu, Mas. Nikmati ranjang empuk ini. Karena nanti, aku sendiri yang akan memastikan hidupmu tidak akan pernah bisa tenang lagi.”

Dengan langkah tegap dan tanpa penyesalan, Ningsih membalikkan badan. Ia melangkah keluar dari kamar utama, menutup pintunya rapat-rapat, lalu berjalan menuju kamar Luna.

Malam ini, ia memilih tidur memeluk putrinya yang jauh lebih berharga daripada bersama suaminya.

*

*

Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar utama yang terasa lengang. Hendra melenguh panjang, memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyeri akibat sisa wine semalam.

“Ningsih! Ningsih!” teriak Hendra dengan suara parau khas orang bangun tidur.

Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong.

Tidak ada tanda-tanda istrinya tidur di sana semalam.

Hendra perlahan duduk di tepi ranjang, lalu menunduk melihat dirinya sendiri. Ia mendecak kesal saat menyadari tubuhnya masih berbalut kemeja kerja dan celana kain yang sudah kusut masai. Sepatu pantofelnya pun masih melekat erat di kedua kakinya.

“Kemana sih dia pergi? Biasanya jam sepatuku sudah dilepas dan baju ganti sudah siap,” gumam Hendra dengan dahi berkerut dalam. Rasa kesal mulai menyelimuti hatinya.

“Benar-benar tidak becus jadi istri!”

Ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower air dingin untuk meredakan rasa pusing di kepalanya, lalu segera membersihkan diri.

Setelah berpakaian rapi dengan setelan jas baru, Hendra melangkah turun ke lantai bawah. Perutnya sudah keroncongan, meminta untuk segera diisi.

Namun, begitu langkah kakinya menapak di ruang makan, matanya melotot sempurna.

Di atas meja makan yang panjang dan mewah itu, tidak ada apa-apa. Kosong melompong. Tidak ada nasi goreng, tidak ada kopi hangat, bahkan segelas air putih pun tidak tersedia.

“Ningsih! Kamu di mana?!” teriak Hendra lagi, suaranya bergema di rumah yang mendadak terasa sepi seperti kuburan.

Hendra menghentakkan kakinya kesal, lalu melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar anaknya. Ia membuka pintu kamar itu dengan kasar. Kosong. Kamar tidur Luna sudah rapi, dan putrinya juga tidak ada di sana.

“Kurang ajar! Mereka kemana sih pagi-pagi begini?!” umpat Hendra, emosinya mulai tersulut. Sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel, Hendra melirik jam tangan emas yang melingkar di pergelangan tangannya.

Mata Hendra seketika membelalak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat.

“Sial!” pikirnya panik.

Hari ini ada rapat lanjutan dengan investor asing pasca kemenangan tendernya kemarin, dan ia sudah terlambat ke kantor. Ditambah perut lapar dan rumah yang berantakan tanpa istri, hari Hendra dimulai dengan kekacauan yang membuatnya naik pitam.

“Aku akan buat perhitungan nanti setelah pulang kerja!” gumam Hendra.

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!