NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Matahari siang terasa sangat terik membakar aspal jalanan kota.

​Motor matic yang dikendarai Deni melaju kencang menyalip deretan mobil yang terjebak macet.

​Brumm.

​Deni menekan klakson motornya beberapa kali untuk meminta jalan kepada pengendara lain.

​Tin tin.

​"Awas minggir paman paman sekalian, kurir super sedang buru-buru mengantar barang darurat."

​Teriak Deni sambil meliuk-liukkan motornya di antara celah sempit dua truk barang.

​Setelah dua puluh menit berkendara, Deni akhirnya berbelok masuk ke sebuah jalan kecil bernama Jalan Mawar.

​Jalanan ini terlihat sangat sepi dan bangunan di sekitarnya tampak tua serta tidak terawat.

​Deni menghentikan motornya tepat di depan sebuah ruko kayu yang catnya sudah banyak terkelupas.

​Ckiit.

​Sebuah papan nama kayu usang tergantung di atas pintu bertuliskan Toko Antik Kakek Tua.

​"Sepertinya ini tempatnya, bangunannya sangat jelek mirip gubuk reyot di desa."

​Gumam Deni sambil memarkirkan motornya dan melepas helm.

​Deni berjalan mendekati pintu kayu itu lalu mendorongnya perlahan.

​Kriet.

​Suara engsel pintu yang berkarat terdengar sangat nyaring memecah keheningan di dalam toko.

​Aroma debu dan kayu lapuk langsung menyambut penciuman Deni begitu dia melangkah masuk.

​Di dalam ruangan yang remang-remang itu, banyak sekali tumpukan barang rongsokan seperti vas bunga, patung kayu, dan keris karatan.

​Tap tap tap.

​Deni melangkah lebih jauh ke dalam dan melihat seorang pria tua renta sedang duduk di atas kursi goyang.

​Pria tua itu memakai kacamata hitam bulat dan memegang sebuah tongkat bambu di tangan kanannya.

​"Permisi kakek tua, aku ini kurir yang ditugaskan sistem untuk mengambil paket pesanan di sini."

​Sapa Deni dengan suara lantang tanpa basa-basi sedikit pun.

​Kakek tua itu menghentikan ayunan kursi goyangnya dan mengangkat wajahnya menghadap ke arah Deni.

​"Suaramu sangat nyaring anak muda, tapi auramu jauh lebih mengerikan dari suaramu."

​Ucap kakek itu dengan nada suara yang bergetar pelan.

​Tiba-tiba saja kakek tua itu mengayunkan tongkat bambunya ke arah kaki Deni dengan kecepatan luar biasa.

​Wush.

​Serangan itu datang tanpa peringatan sama sekali dan membawa hembusan angin tenaga dalam yang sangat kuat.

​Tapi Deni hanya mengangkat ujung kaki kanannya sedikit untuk menginjak ujung tongkat bambu tersebut.

​Tap.

​Tongkat bambu itu langsung berhenti bergerak dan tertahan kuat di bawah telapak sepatu butut milik Deni.

​Kakek tua itu mencoba menarik tongkatnya kembali sekuat tenaga tapi tongkat itu sama sekali tidak bisa bergeser.

​"Kakek ini aneh sekali, ditanya paket kok malah ngajak main pukul-pukulan begini."

​Keluh Deni sambil melepaskan injakannya dari tongkat tersebut.

​"Kalau kakek kesepian dan mau cari teman main, kakek bisa daftar ke panti jompo saja sana."

​Kakek tua itu langsung tertawa terkekeh-kekeh mendengar omelan santai dari Deni.

​Hahaha.

​"Maafkan aku anak muda, aku hanya ingin mengetes apakah kau memang pantas membawa barang berharga ini."

​Jelas kakek tua itu sambil merogoh saku baju batiknya yang sudah lusuh.

​Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam legam dan menyodorkannya kepada Deni.

​"Di dalam kotak ini ada pil penawar racun seratus bisa yang sangat langka di dunia bawah tanah."

​Deni mengambil kotak kayu itu dan menimbangnya dengan telapak tangannya.

​"Penawar racun ya kakek, pantesan pesanan ini masuk kategori jalur bawah tanah yang rahasia."

​Komentar Deni sambil memasukkan kotak itu ke dalam saku dalam jaket oranyenya dengan aman.

​"Cepat antar obat itu ke rumah sakit pusat kota kamar empat ratus empat anak muda."

​Pesan kakek tua itu kembali duduk bersandar di kursi goyangnya.

​"Nyawa pasien itu sekarang hanya bergantung pada kecepatan roda motormu saja."

​Deni mengangguk mengerti dan langsung membalikkan badannya berjalan menuju pintu keluar.

​"Kakek tenang saja, kalau soal kecepatan mengantar barang, aku ini jagonya."

​Jawab Deni penuh percaya diri sambil mendorong pintu toko itu.

​Brak.

​Deni segera melompat naik ke atas motor maticnya dan menyalakan mesinnya kembali.

​Brumm brumm.

​Motor bebek itu langsung melesat kencang meninggalkan Jalan Mawar menuju ke arah rumah sakit pusat.

​Waktu batas pengantaran yang diberikan sistem sangat mepet jadi Deni tidak mau membuang-buang waktu lagi.

​Tiga puluh menit kemudian, Deni sudah memarkirkan motornya sembarangan di halaman rumah sakit pusat kota yang sangat luas.

​Deni berlari kecil memasuki lobi rumah sakit yang dipenuhi oleh perawat dan pasien yang lalu lalang.

​Tap tap tap.

​Deni tidak mempedulikan satpam yang melihatnya curiga dan langsung menuju ke arah tangga darurat.

​"Kamar empat ratus empat itu pasti ada di lantai empat gedung ini."

​Batin Deni sambil menaiki anak tangga dua langkah sekaligus agar lebih cepat sampai.

​Sesampainya di lorong lantai empat, suasana terasa jauh lebih sepi dan lengang dibandingkan lantai bawah.

​Deni menyusuri lorong yang berbau obat itu sambil melihat nomor ruangan satu per satu di setiap pintu.

​"Empat ratus dua, empat ratus tiga, ah ini dia kamar empat ratus empat."

​Gumam Deni lalu memutar gagang pintu ruangan itu perlahan.

​Ceklek.

​Deni melangkah masuk ke dalam kamar inap VIP yang tirai jendelanya tertutup rapat sehingga ruangan terasa sangat gelap.

​Di atas ranjang pasien, terbaring seorang pria paruh baya yang tubuhnya terpasang banyak selang infus.

​Uhuk uhuk.

​Pria itu terbatuk sangat keras sampai memuntahkan gumpalan darah berwarna kehitaman ke atas selimut putihnya.

​Deni segera mendekati ranjang itu dan menyalakan lampu kecil di atas nakas sebelah ranjang.

​Klik.

​Cahaya lampu itu memperlihatkan wajah pasien yang sangat pucat pasi dengan bibir yang sudah membiru.

​"Wah paman ini kelihatannya sudah setengah mati ya, racunnya pasti sangat kuat."

​Ucap Deni santai tanpa merasa ngeri melihat darah hitam di mana-mana.

​Pria paruh baya itu membuka matanya dengan susah payah dan menatap Deni dengan pandangan waspada.

​"S-siapa kau, apakah kau pembunuh bayaran yang dikirim ketua besar untuk menghabisiku."

​Tanya pria itu dengan nafas yang terputus-putus dan sangat berat.

​Deni merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kayu hitam pemberian kakek tua tadi.

​"Aku cuma kurir makanan paman, hari ini aku kebetulan merangkap jadi kurir obat darurat."

​Jawab Deni sambil membuka kotak kayu itu dan mengambil sebutir pil berwarna merah gelap dari dalamnya.

​Deni langsung menyodorkan pil itu ke depan mulut pria yang sedang sekarat tersebut.

​"Ayo paman buka mulutnya dan cepat telan pil ini sebelum kau benar-benar pergi ke alam baka."

​Pria itu menatap pil merah itu sejenak lalu menelannya tanpa ragu karena dia memang sudah tidak punya pilihan lain.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!