Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi di Penthouse mewah itu mendadak berubah menjadi panggung drama pengujian gengsi tingkat tinggi.
Rania berdiri di balik kitchen island dengan piring berisi roti panggang susu yang masih mengepulkan uap hangat di hadapannya. Aroma mentega anchor yang berpadu dengan manisnya susu murni dan karamel tipis melayang di udara, menciptakan daya tarik magnetis yang sangat sulit diabaikan oleh siapa pun yang indra penciumannya masih berfungsi dengan baik terutama seseorang yang perutnya sedang kosong melompong.
Rangga Pratama masih berdiri tegak dengan jubah mandinya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dan dagunya terangkat tinggi mempertahankan ekspresi paling dingin dan sinis yang ia miliki. Namun, ada satu hal kecil yang gagal disembunyikan oleh sang CEO muda. MATANYA.
Sejak ancaman telak dilontarkan oleh Rania tadi, bola mata Rangga sama sekali tidak bergeser dari piring keramik putih tersebut. Pandangannya terpaku pada potongan roti panggang berwarna keemasan itu. Tenggorokannya bergerak naik-turun setiap kali embusan angin dapur membawa aroma manis susu hangat langsung ke indra penciumannya.
Di dalam tubuh Rangga, sebuah alarm biologis yang sangat berbahaya sedang berbunyi kencang. Penyakit maag kronis yang kerap kambuh akibat jadwal kerja yang tidak teratur mulai mengirimkan sinyal perih di dinding lambungnya. Asam lambungnya meronta-ronta, menuntut segera diisi oleh makanan apa pun yang bisa meredakan rasa perih tersebut.
Rania, yang sangat berpengalaman membaca ekspresi manusia pelit dan gengsian lewat kebiasaannya menghadapi pelanggan rewel di toko roti, langsung menangkap gelagat tersebut. Sudut bibir Rania terangkat membentuk senyum penuh kemenangan dan seringai jail yang amat menyebalkan.
"Hmm, ya sudah kalau Tuan Muda yang terhormat ini tidak mau makan," ucap Rania dengan nada suara dibuat-buat kecewa, sengaja mengeraskan volume suaranya. "Sayang sekali padahal. Roti panggang susu spesial ini kubuat dengan cinta dan perhitungan biaya modal yang efisien. Kalau tidak mau, ya terpaksa aku bungkus untuk kuberikan pada satpam lobi bawah saja. Pasti mereka senang."
Setelah mengucapkan kalimat pancingan itu, Rania berbalik memunggungi Rangga. Ia sengaja melangkah pelan menuju sudut dapur bagian belakang, pura-pura hendak mengambil wadah penyimpanan makanan, padahal ia sedang mengintip situasi lewat pantulan permukaan kaca microwave besar di depannya.
•
•
Begitu punggung Rania berbalik dan ia menjauh dari kitchen island, pertahanan diri Rangga langsung runtuh seketika.
Rasa sakit di lambungnya kian mendera, berpadu dengan siksaan aroma roti panggang susu yang semakin menusuk hidung. Rangga menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang lain di area lantai atas tersebut—hanya ada dirinya dan sang istri jadi-jadian yang sedang membelakangi posisinya.
'Sial... Perutku benar benar perih, harga diriku bisa hancur kalau aku minta, tapi kalau tidak makan aku bisa mati muda.' Batin Rangga merutuk dalam hati
Dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi layaknya seorang pencuri tertangkap basah, Rangga melangkah mendekati meja makan. Ia menyambar garpu perak yang ada di sebelah piring, lalu tanpa buang-buang waktu langsung memotong sepotong besar roti panggang susu itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Sensasi kelembutan roti yang meleleh di lidah, berpadu dengan gurihnya mentega dan manisnya susu hangat yang meresap sempurna hingga ke serat bagian dalam, langsung meledak di indra pengecapnya. Teksturnya sangat pas—tidak terlalu keras, tidak pula lembek. Itu adalah mahakarya kuliner rumahan terbaik yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup di tengah fasilitas katering bintang lima yang hambar.
Tanpa sadar, mata Rangga membelalak lebar karena kenikmatan rasa yang luar biasa. Karena terlalu lapar dan tidak sabar, ia kembali menyuap potongan kedua, ketiga, hingga keempat dengan kecepatan kilat. Dalam waktu kurang dari dua menit, seluruh isi piring besar yang penuh itu tandas tak bersisa—bahkan remah-remah gula halusnya pun ia bersihkan dengan garpu.
Tepat pada suapan terakhir, langkah kaki ringan terdengar mendekat.
Rania membalikkan tubuhnya sambil membawa wadah plastik kosong. Matanya langsung membelalak geli mendapati piring keramik putih yang tadinya penuh tumpukan roti, kini sudah bersih mengkilap tanpa sisa, seolah-olah baru saja dicuci bersih.
Rangga yang menyadari dirinya tertangkap basah langsung tersedak kecil. Pria itu buru-buru meletakkan garpu perak dengan bunyi dentingan nyaring, menegakkan postur tubuhnya, lalu dengan jurus seribu bayangan memasang kembali wajah sedingin es dan gestur angkuh setinggi langit. Ia berdeham keras untuk menjernihkan tenggorokannya.
"Ehm!" Rangga mendengus, mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil melipat tangan di dada. Ia menatap Rania dengan tatapan meremehkan yang dibuat-buat. "Asal kau tahu ya... roti buatanmu ini rasanya biasa saja. Terlalu keras di pinggirannya, dan kemanisannya pas-pasan! Pokoknya tidak sesuai dengan standar lidahku. Besok, jangan pernah buat makanan murahan seperti ini lagi di rumahku!"
Rania berdiri terpaku sejenak. Ia menatap piring yang bersih mengkilap itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah wajah Rangga yang masih menyisakan sedikit remah halus di sudut bibirnya.
Rania menyipitkan matanya, menatap sang suami dengan tatapan paling julid dan. Alis kirinya terangkat tinggi, menyiratkan ejekan mutlak tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.
Merasa dirinya sedang dihakimi lewat tatapan mata yang begitu intens dari sang istri, Rangga merasa risih sekaligus gengsinya tersengat. Pria itu mendengus sinis, lalu menatap Rania balik dengan penuh rasa percaya diri yang kelewat batas.
"Apa lihat-lihat?!" sembur Rangga dengan nada arogan, membuang muka sejenak sebelum kembali menatap Rania tajam. "Aku tahu betul aku ini sangat tampan, karismatik, dan mempesona. Tapi jangan menatapku dengan tatapan seintens itu, Rania! Nanti aku malah salah paham dan mengira kau diam-diam sudah jatuh cinta padaku!"
Mendengar klaim narsis tingkat dewa yang keluar dari mulut pria di hadapannya itu, lambung Rania bukan lagi merasa perih karena lapar, melainkan mual seketika.
Huek!
Rania spontan memalingkan wajahnya ke samping, menutup mulutnya sebelah dengan gestur pura-pura hendak muntah sambil melirik tajam penuh kejijikan.
Rangga langsung mengernyitkan dahinya dalam-dalam, tersinggung berat melihat reaksi vulgar tersebut. "Hei! Reaksi macam apa itu tadi?! Kau jijik padaku, hah?!"
Rania kembali menghadap ke arah Rangga, merapikan apronnya dengan gerakan lambat yang sangat anggun namun mematikan. Ia menatap Rangga dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan senyum miring penuh racun.
"Jatuh cinta padamu?" Rania mendengus sinis, suaranya meluncur tajam penuh nada meremehkan. "Tuan Rangga Pratama yang terhormat, dengar baik-baik ya... kalau di dunia ini hanya tersisa dua makhluk hidup yaitu kau dan seekor kecoa jantan albino di dalam got, aku bersumpah lebih baik aku menikah dengan kecoa itu daripada menaruh perasaan cinta pada pria narsis, pelit, dan bermuka dua yang makannya dihabiskan sampai bersih tapi mulutnya masih sempat sok jual mahal bilang makanannya keras!"
Rangga terperangah, matanya membelalak tak percaya mendengar rentetan kalimat pedas yang meluncur mulus tanpa jeda dari bibir istrinya. Sebelum pria itu sempat membuka mulut untuk membalas serangan verbal tersebut, Rania sudah berbalik memunggunginya sambil membawa piring kosong menuju tempat cuci piring.
"Oh ya, Tuan CEO," seru Rania tanpa menoleh, sengaja mempermanis suaranya dengan nada sarkasme tingkat tinggi. "Jangan lupa transfer uang pengganti bahan makanan organik kualitas impor tadi pagi ke rekening tokomu—eh, rekening pribadiku ya. Jangan jadi suami matre yang pelit bayar utang sarapan!"
•
•
•
•