NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Tiga tabel ditampilkan di ruang rapat.

Tabel pertama milik Bima: pertumbuhan. Saga membuka lini bisnis kedua, menciptakan komunitas baru, menarik toko mitra, dan membuktikan AKN tidak hanya bisa menjual makanan kemasan.

Tabel kedua milik Yusuf: kerugian. Refund, biaya basic set pengganti, penurunan penjualan setelah random pack dihentikan, biaya QR, biaya hukum, dan jam lembur yang tidak muncul di headline media.

Tabel ketiga milik Nadia: risiko. Anak di bawah umur, iklan yang memicu panic buying, peluang gugatan dari tuduhan palsu, dan beban pemeriksaan regulator.

Reza duduk di seberang Raka. Tidak ada jas mewah hari itu. Hanya kemeja hitam, lengan digulung, mata kurang tidur.

Bima membuka rapat tanpa basa-basi.

"Dalam tiga puluh hari, Reza membuat produk kedua AKN lahir. Itu fakta. Dalam tiga puluh hari yang sama, ia juga membawa perusahaan ke meja Disperindag, refund massal, dan krisis barang palsu. Itu juga fakta."

Reza menatap tabel tanpa menyela.

Dimas duduk di sisi kiri. Ia jelas ingin membela Reza, tetapi beberapa hari terakhir membuatnya tidak bisa membela tanpa syarat. Naya memegang catatan komentar orang tua. Yusuf sudah menyiapkan angka. Farhan duduk di baris belakang, awalnya hanya diminta hadir sebagai pengamat lapangan.

Raka membiarkan Bima selesai.

"Kesimpulan operasional saya," lanjut Bima, "kalau Reza diberi ruang tanpa rem, Saga bisa tumbuh cepat dan meledak sendiri. Kalau Reza dipotong total, kita kehilangan mesin strategi yang belum kita punya penggantinya."

"Jadi?" tanya Raka.

"Kalau lanjut, harus dengan rem yang bisa menggigit."

Semua mata beralih ke Reza.

Biasanya, ia akan tersenyum sinis dan berkata orang lambat selalu takut pada orang cepat. Hari itu ia tidak melakukannya.

"Saya salah membaca sinyal," kata Reza.

Kalimat itu pendek, tetapi cukup membuat Dimas mengangkat kepala.

Reza membuka dokumennya sendiri. "Saya melihat antrean, harga pasar, dan video komunitas sebagai bukti kekuatan brand. Saya tidak cukup memisahkan pemain yang senang dari pembeli yang tertekan. Saya juga terlambat membuat pintu masuk non-random."

Yusuf bertanya, "Apa jaminannya kamu tidak mengulangi pola yang sama di proyek berikut?"

"Tidak ada jaminan dari janji."

Ruangan diam.

Reza melanjutkan, "Karena itu saya bawa KPI baru. Pertumbuhan tetap dihitung, tetapi bukan satu-satunya angka. Refund rate, komplain terverifikasi, jumlah pembeli basic set, retensi pemain setelah tujuh hari, dan pelanggaran toko mitra masuk dashboard utama. Kalau salah satu melewati batas, promosi otomatis berhenti dan butuh persetujuan Bima, Yusuf, dan Nadia untuk lanjut."

Nadia menatap daftar itu. "Kamu memasukkan saya sebagai rem hukum?"

"Ya."

"Kamu yakin?"

"Saya tidak suka, tapi saya yakin."

Bima hampir tersenyum.

Raka belum bicara. Ia membuka lembar evaluasi anonim dari tim. Beberapa orang memuji Reza sebagai jenius. Beberapa menyebutnya arogan. Satu kalimat paling keras tetap tertulis di layar kecilnya.

Reza pintar, tapi terlalu berbahaya.

Raka meletakkan ponsel.

"Dimas."

Dimas terkejut. "Saya?"

"Pendapatmu."

Dimas menggaruk leher. "Kalau tidak ada Reza, Saga tidak lahir seperti sekarang. Kalau Reza dibiarkan, mungkin saya juga ikut kebawa gaya pamer rare. Jadi... saya mau dia lanjut, tapi semua materi publik harus lewat review."

"Yusuf."

"Saya butuh hak veto biaya dan promosi yang tidak punya dasar dokumen. Kalau tidak, saya menolak tanda tangan anggaran."

"Naya."

"Saya mau pedoman visual punya kekuatan. Bukan cuma saran setelah krisis."

"Farhan."

Farhan tersentak. "Saya, Pak?"

"Kamu melihat toko dan pemain asli. Bicara."

Anak itu menunduk sebentar, lalu berkata, "Kalau kartu terlalu sering diubah karena angka kantor, pemain bingung. Kalau toko tidak didengar, aturan di kertas tidak jalan. Saya pikir feedback toko dan pemain murah harus masuk sebelum kartu baru dicetak."

Reza menoleh ke Farhan.

Dulu ia mungkin akan mengabaikan suara dari baris belakang. Sekarang, setelah Farhan menyelamatkan live QR dan menemukan pola palsu, suara itu punya berat.

"Masuk akal," kata Reza.

Farhan terlihat kaget seperti baru diberi hadiah.

Raka mengetuk meja sekali.

"Keputusan saya: Reza Mahendra tetap memimpin Saga Nusantara."

Tidak ada tepuk tangan. Keputusan itu terlalu berat untuk dirayakan cepat.

Raka melanjutkan, "Tetapi perjanjian proyek diubah. Profit share Saga hanya dihitung dari laba proyek yang sudah dikurangi refund, biaya komplain, biaya compliance, biaya anti-palsu, pajak, dan biaya langsung yang bisa diverifikasi. Kalau indikator risiko melewati batas dan tidak diperbaiki, profit share periode itu bisa nol. Tidak ada saham perusahaan. Tidak ada hak suara RUPS. Tidak ada pemotongan gaji pokok kalau proyek rugi."

Reza membaca dokumen yang didorong Nadia kepadanya.

"Jadi kalau saya mengejar angka kotor dan meninggalkan kebakaran, saya tidak dapat apa-apa."

"Benar."

"Kalau saya tumbuh pelan tapi sehat?"

"Kamu dibayar dari hasil sehat."

Reza tertawa pendek. Bukan tawa menghina. Lebih seperti orang menemukan lawan main yang akhirnya membuat aturan cukup sulit.

"Anda tidak memecat saya, tapi memasang kandang."

"Kandang untuk harimau yang masih dibutuhkan."

"Harimau?"

"Jangan terlalu senang. Harimau juga bisa dipindah ke kebun binatang."

Dimas gagal menahan tawa. Bahkan Yusuf menunduk menyembunyikan senyum.

Reza mengambil pena, tetapi belum menandatangani.

"Saya punya syarat."

Bima langsung tegang.

"Sebutkan," kata Raka.

"Kalau profit share bisa nol karena risiko, saya ingin tim juga melihat ketika risiko turun. Jangan cuma hukuman. Saya butuh hak membangun turnamen strategi, komunitas resmi, dan basic set nasional. Dengan rem, tapi bukan dengan tangan diikat."

Raka menatap Nadia. Nadia melihat Bima dan Yusuf. Tidak ada yang langsung menolak.

"Ajukan roadmap," kata Raka. "Disetujui per tahap."

Reza menandatangani.

Pada saat ujung pena menyentuh kertas, panel biru tipis muncul di depan mata Raka.

SAT tidak bersuara. Hanya teks.

Modul Hak Laba Proyek terbuka.

Syarat: pilihan tertulis karyawan, risiko dipahami, kontrak sosial tidak digantikan sistem.

Raka menahan napas setengah detik.

Sistem itu seperti biasa menggoda dengan efisiensi. Tetapi kalimat terakhirnya justru mengunci batas. SAT bisa menghitung. SAT bisa memberi peringatan. Namun pilihan manusia harus tetap ditulis, dibaca, dan ditandatangani tanpa paksaan.

Raka menutup panel dengan tatapan.

"Ada satu tambahan," katanya.

Semua menoleh.

"Setiap orang yang mendapat profit share proyek harus menerima penjelasan risiko tertulis. Boleh menolak tanpa kehilangan gaji atau posisi dasar. Boleh keluar dari skema pada periode berikutnya sesuai aturan."

Nadia langsung menulis. "Itu saya suka."

Reza menatap Raka. "Anda bahkan tidak memakai profit share sebagai borgol?"

"Kalau orang hanya bertahan karena borgol, dia bukan talent. Dia tahanan."

Kali ini ruangan benar-benar diam.

Bima melihat Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia mungkin mengingat hari pertama, saat ia menerima tawaran kerja dari perusahaan yang belum berdiri. Ia pernah memilih karena tidak punya jalan lain. Raka tampaknya bertekad agar orang-orang setelahnya punya pilihan lebih jelas daripada dirinya dan Bima saat itu.

Rapat ditutup dengan daftar tindakan.

Yusuf memperbarui dashboard. Nadia menyiapkan addendum kontrak. Naya memegang pedoman visual. Dimas memimpin konten edukasi. Farhan diminta membuat format laporan toko mingguan. Reza mendapat kembali ruang bergerak, tetapi dengan pagar yang semua orang bisa lihat.

Di pintu, Reza berhenti di sebelah Raka.

"Saya tidak akan bilang terima kasih dramatis."

"Saya tidak menunggu."

"Bagus. Saya benci adegan seperti itu."

"Saya tahu."

Reza memasukkan dokumen ke map. "Lain kali, saya akan membuktikan dengan profit."

"Dengan profit yang tidak meninggalkan refund sebagai bangkai."

"Anda suka merusak kalimat keren."

"Itu tugas saya."

Setelah Reza pergi, Bima meletakkan map baru di depan Raka.

"Kalau kita terus bergantung pada Bapak menemukan orang di jalan, perusahaan ini akan lelah."

Raka membuka map itu. Ada proposal kerja sama dengan beberapa SMK di Bekasi, Bogor, dan Jakarta Timur. Program magang berbayar, kelas operasional, beasiswa terbatas, dan jalur rekrutmen yang tidak menjanjikan mimpi palsu.

Nama Farhan ada sebagai contoh pertama.

"Kita mau membangun pabrik talent?" tanya Raka.

"Bukan pabrik," kata Bima. "Jalur. Orang seperti Farhan tidak selalu terlihat di CV. Kita butuh cara melihat mereka sebelum perusahaan lain mengambil."

Di sudut pandang Raka, panel SAT yang sudah redup memunculkan satu baris kecil.

Potensi sistemik terdeteksi.

Raka menutup map perlahan.

Dulu, ia memburu satu orang berbakat untuk bertahan hidup.

Sekarang, Bima meminta dia membangun tempat agar bakat datang, diuji, dan tumbuh tanpa harus lebih dulu dihina dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!