NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##17

Pendar lampu kamar utama yang meredup hangat menjadi saksi bisu dari penyatuan dua jiwa yang telah menanggalkan seluruh prasangka dan benteng pertahanan mereka.

Di atas peraduan empuk berlapis sprei sutra abu-abu gelap, keheningan malam Los Angeles terisi oleh hembusan napas yang terengah memburu, bisikan mesra yang sarat akan artikulasi rasa, serta ketegangan asmara yang kian memuncak.

Braxton menumpu tubuh kekarnya di atas tubuh Lux. Setiap pergerakannya terukur dengan kelembutan yang begitu protektif, memastikan bahwa setiap jengkal sentuhannya tidak menyakiti wanita yang kini resmi menjadi belahan jiwanya.

Sepasang mata cokelat Braxton berkilat penuh intensitas asmara, mengunci tatapan mata abu-abu Lux yang tampak berkaca-kaca oleh kepasrahan dan rasa haru yang meluap.

Di balik rasa malu yang sempat membakar dadanya, Lux memberanikan diri. Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku gelap merambat naik, melingkar erat di leher kokoh Braxton. Ia menarik kepala suaminya agar semakin mendekat, mengikis sekat udara hingga dahi dan ujung hidung mereka saling bersentuhan hangat.

"Braxton..." bisik Lux, suaranya terdengar parau, lembut, dan sarat akan kejujuran murni yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia ini.

"Ya, Sayang? Aku di sini," balas Braxton, menyapukan kecupan-kecupan halus di sudut bibir, pipi, hingga rahang mulus Lux yang merona merah.

Lux menghembuskan napasnya yang hangat di leher Braxton, merasakan denyut nadi suaminya yang berdegup sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

"Berjanjilah padaku malam ini..." gumam Lux, menyatukan jemarinya di belakang tengkuk Braxton. "Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun mengambil tempat di sisimu. Berjanjilah bahwa kau akan menjadi milikku secara utuh, sebagaimana aku menyerahkan diriku sepenuhnya padamu malam ini."

Braxton tertegun sejenak. Hatinya berdesir hebat mendengar untaian janji dan kata cinta yang meluncur polos dari bibir istrinya.

Rasa protektif di dadanya membumbung tinggi, mengikis habis sisa-sisa ingatan tentang teror dan ancaman gila Amelia Giger di rumah sakit tadi sore. Di dalam benak Braxton, hanya ada Lux Victoria—istrinya, mahakaryanya, dan satu-satunya wanita yang berhak atas hidup dan cintanya.

"Aku berjanji, Lux," ujar Braxton penuh penekanan, menyuarakan kalimat itu dengan nada sakral seraya menatap lurus ke dalam mata istrinya. "Jiwa, tubuh, dan seluruh hidupku adalah milikmu. Tidak ada wanita lain, tidak ada masa lalu, dan tidak ada hal apa pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi milikmu di sisiku."

Air mata haru menetes perlahan dari sudut mata Lux, mengalir melewati pipinya yang hangat. Braxton dengan sigap mengecup air mata itu hingga kering, lalu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang begitu dalam, hangat, dan sarat akan gairah penyatuan yang sesungguhnya.

Malam pertama yang dramatis dan penuh cinta itu berlangsung dalam ritme yang kian intens. Penyatuan fisik yang terjadi bukan lagi sekadar pelampiasan gairah, melainkan perpaduan emosi yang begitu pekat.

Braxton memandu istrinya dengan kesabaran luar biasa, memperlakukan Lux bagaikan benda porselen paling berharga di dunia, sementara Lux membalas setiap pacuan dan dekapan suaminya dengan keliaran manis yang membuat Braxton makin tenggelam dalam pesona istrinya.

Di tengah penyatuan yang kian memanas, saat Braxton memacu tubuhnya dengan ritme yang semakin dalam dan konstan, Lux mendongakkan kepalanya. Dadanya naik-turun memburu napas, dan di tengah kepasrahan gairah yang melingkupinya, sebuah kalimat dengan nada kepolosannya yang unik meluncur mulus dari bibir Lux.

"Braxton... pelan-pelan sedikit! Kau... kau sedang tidak memacu saham bursa efek di Wall Street!"

Deg!

Pergerakan Braxton mendadak terhenti seketika.

Pria narsis yang tengah tenggelam dalam puncak gairah itu membelalakkan matanya selama satu detik, sebelum akhirnya sebuah tawa renyah dan keras meledak bebas dari tenggorokannya. Tawa bahagia yang amat tampan itu bergema di seluruh sudut kamar utama.

"Apa kau bilang?" tanya Braxton tertawa geli, menatap wajah galak istrinya yang kini tampak sangat menggemaskan di bawah pendar lampu remang. "Memacu saham bursa efek?"

"Iya!" sembur Lux, menepuk bahu kekar Braxton dengan wajahnya yang terbakar merah padam akibat malu dan kesal. "Pergerakanmu terlalu cepat dan dominan! Ini kamar tidur, Tuan Analis Bisnis, bukan lantai perdagangan saham yang berpacu dengan grafik eksponensial!"

Tawa Braxton semakin menjadi-jadi. Ia menggelengkan kepalanya seraya mengecup hidung bangir Lux yang merona.

"Dengar, Nyonya Seniman," balas Braxton dengan nada tengil dan penuh percaya diri, menyandarkan berat tubuhnya di atas siku seraya menatap Lux dengan binar kejahilan yang amat seksi. "Ini namanya efisiensi daya dan momentum. Sebagai calon sarjana bisnis, aku menghitung setiap ritme dan sudut tekanan agar memberikan hasil kepuasan yang maksimal secara terukur!"

Lux membelalakkan mata abu-abunya, tak habis pikir dengan analogi bisnis konyol yang terlontar dari mulut suaminya di tengah momen intim seperti ini.

"Efisiensi daya kepala mu!" bentak Lux melengking pelan, mencoba menutupi desah napasnya yang masih terengah. "Dalam seni dan estetika, keindahan itu tercipta dari kelembutan bertahap! Dari arsiran halus, bukan dari tembakan warna yang agresif seperti cat minyak yang ditumpahkan begitu saja!"

"Oh, begitu?" goda Braxton, menyunggingkan senyum miringnya yang membuat ketampanannya meningkat sepuluh kali lipat. "Tapi bukankah dalam seni modern, tumpahan warna yang agresif dan penuh tenaga justru menghasilkan mahakarya yang paling mahal dan tak terlupakan?"

"Kau... kata-katamu benar-benar tidak masuk akal!" gerutu Lux, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak sanggup lagi menahan rasa malu atas perdebatan konyol soal seni dan bisnis di tengah peraduan mereka.

Braxton terkekeh halus. Ia menarik perlahan kedua tangan Lux dari wajahnya, mengunci jemari lentik istrinya di atas kasur, lalu kembali menunduk untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam dan menuntut. Perdebatan jenaka itu seketika melumer, berganti kembali menjadi gelombang gairah yang kian memuncak dan membakar.

Waktu seolah-olah berhenti berputar. Penyatuan riil yang dramatis itu berlanjut hingga beberapa putaran, meninggalkan jejak-jejak ketegangan asmara di antara sprei yang kini sudah berantakan. Lux terkulai lemas di atas dada bidang Braxton, membiarkan tubuhnya diusap dan didekap hangat oleh lengan kekar suaminya.

...oOo ...

Pukul menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan malam semakin pekat menyelimuti Penthouse.

Lux menghembuskan napas panjang, mencoba memejamkan matanya yang terasa amat berat karena kelelahan fisik yang luar biasa. Namun, di saat ia baru saja hendak terlelap, ia merasakan jemari hangat Braxton kembali merayap nakal di sepanjang pinggang hingga pahanya yang mulus.

Lux mendelik pelan, membuka mata abu-abunya yang sayu. "Braxton... cukup. Aku benar-benar lelah..."

Braxton merapatkan tubuhnya, mengecup bahu mulus Lux yang dihiasi tato, lalu berbisik dengan nada suara rendah yang sarat akan godaan tanpa henti.

"Sekali lagi, Sayang..." bisik Braxton merayu, menyapukan bibirnya di ceruk leher Lux yang hangat.

"Tidak mau!" tolak Lux tegas, mencoba mendorong dada Braxton walau tenaganya sudah terkuras habis. "Ini sudah ronde ketiga, Braxton! Kau mau membuatku tidak bisa berjalan esok hari?!"

"Tenang saja, aku bisa menggendongmu ke mana pun kau mau," sahut Braxton santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Braxton Desmon, astaga! Kita harus tidur!" bentak Lux gemas.

Braxton menyunggingkan senyum mewahnya, menatap istrinya dengan pandangan memikat yang sangat sulit ditolak oleh wanita mana pun.

"Kita masih punya banyak waktu, Lux," rayu Braxton seraya mengelus lembut pipi istrinya yang hangat. "Aku ingin menikmati malam ini sampai pagi tiba."

"Besok kita harus kuliah dan ada jadwal studio seni, Pria Mesum!" pungkasi Lux, mencoba mencari alasan logis agar suaminya menyetop keagresifannya.

Braxton tertawa kecil di ceruk leher Lux, memberikan kecupan hangat yang membuat tubuh Lux kembali bergetar halus.

"Kau lupa, Sayang?" bisik Braxton penuh nada kemenangan seraya mengecup bibir merona Lux sekali lagi. "Besok itu hari Minggu."

Lux membelalakkan matanya sejenak, otaknya yang lelah baru saja menyadari bahwa esok memang hari libur nasional.

"Besok hari Minggu, Sayang..." ulang Braxton dengan bisikan seksi yang amat dekat di telinga Lux. "Tidak ada kuliah, tidak ada jadwal studio seni, dan tidak ada gangguan dari siapa pun. Kita memiliki seluruh hari esok untuk beristirahat. Jadi malam ini... pasrah saja pada suamimu, ya?"

Sebelum Lux sempat menyusun kalimat penolakan berikutnya, Braxton sudah kembali mengambil alih kendali.

Ciuman hangat dan mendominasi dari suaminya seketika membungkam seluruh protes Lux, menarik wanita itu kembali masuk ke dalam pusaran cinta dan gairah malam pertama mereka yang tak terlupakan hingga fajar menyingsing di ufuk timur Los Angeles.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!