Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Reruntuhan Kota Kuno
Fajar pertama perlahan menyingsing di ufuk timur. Cahaya keemasan menembus celah-celah jendela Penginapan Kayu Mawar, mengusir gelap yang sejak semalam menyelimuti ibu kota.
Di salah satu kamar, Mata Sha Nuo perlahan terbuka.
"..."
Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat tanpa bergerak.
Keheningan pagi membuat pikirannya kembali mengingat pertemuan semalam. Pembahasan panjang mengenai penculikan Permaisuri Kekaisaran Zhou, delapan titik misterius, hingga keputusan bahwa dirinya akan memimpin salah satu tim pencarian.
"Hah..."
Sha Nuo mengembuskan napas pelan.
Awalnya, iaa datang ke Kekaisaran Zhou hanya untuk satu tujuan sederhana. Mengunjungi makam kedua orang tuanya.
Sudah lama sekali ia tidak pernah kembali ke tempat itu. Dalam benaknya, perjalanan kali ini seharusnya hanya berlangsung beberapa hari sebelum kembali menemui orang yang paling dihormatinya, Boqin Changing.
Tatapannya masih tertuju ke langit-langit kamar.
"Tuan Muda..." gumamnya lirih. "Sepertinya... aku harus tinggal lebih lama di sini."
Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang meminta maaf.
"Maafkan aku. Aku belum bisa kembali secepat yang sudah kurencanakan."
Beberapa saat kemudian, bayangan lain muncul di benaknya. Seorang remaja berambut hitam dengan senyum cerah, Gao Rui.
Sha Nuo tersenyum tipis.
"Bocah itu..."
Entah sejak kapan, bocah itu berhasil menarik perhatiannya. Padahal, mereka baru saling mengenal beberapa hari.
Namun sifat Gao Rui yang sopan, rendah hati, dan mudah dipercaya membuatnya merasa nyaman berada di dekat bocah itu. Kemudian ia kembali teringat sesuatu.
"Empat belas tahun..."
Sha Nuo bergumam pelan.
"Saat pertama kali mengetahui usianya, aku benar-benar terkejut."
Remaja berusia empat belas tahun, namun telah mencapai ranah pendekar raja tahap menengah. Bahkan sekarang pun, semakin dipikirkannya, semakin terasa luar biasa.
Sha Nuo mencoba mengingat masa mudanya sendiri.
"..."
Ia mengernyit.
"Saat seusia itu dulu... apakah aku sudah mencapai pendekar raja?"
Ia benar-benar tidak dapat mengingatnya dengan pasti.
Namun satu hal yang ia yakini. Seorang remaja berusia empat belas tahun mampu mencapai tingkatan seperti Gao Rui adalah sesuatu yang sangat langka.
"Mungkin..."
Sha Nuo perlahan menyimpulkan.
"Harta Langit benar-benar menggelontorkan sumber daya dalam jumlah luar biasa kepadanya."
Entah itu berupa pil, ramuan langka, ataupun sumber daya kultivasi lainnya. Dengan kekayaan Kelompok Harta Langit, semua itu memang bukan sesuatu yang mustahil.
Namun, sesaat kemudian, senyum di wajah Sha Nuo perlahan memudar.
"Tetapi..."
Ia menggeleng pelan.
"Seorang pendekar tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya."
"Jika sepanjang hidupnya hanya berkultivasi di tempat yang aman... tanpa pernah menghadapi pertarungan hidup dan mati..."
"...tanpa pernah menyaksikan seperti apa dunia yang sesungguhnya..."
"Maka pengalamannya akan sangat sedikit.”
Sha Nuo perlahan bangkit hingga duduk di tepi ranjang.
Tatapannya mengarah ke jendela yang mulai diterangi cahaya matahari.
"Dunia persilatan... tidak seindah yang ia lihat sekarang."
"Dunia di luar sana jauh lebih kejam."
Banyak pendekar muda berbakat yang akhirnya gugur bukan karena bakat mereka kurang. Melainkan karena mereka terlalu lama hidup dalam perlindungan.
Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diburu. Tidak pernah bertarung ketika tenaga dalam hampir habis. Tidak pernah dipaksa mengambil keputusan dalam situasi hidup dan mati.
Sha Nuo mengembuskan napas pelan.
"Mungkin... perjalanan ini akan menjadi pengalaman yang baik untuk Rui'er."
"Setidaknya... ia harus melihat seperti apa dunia liar yang sebenarnya."
Tanpa disadarinya, kesimpulan itu lahir dari pemahamannya sendiri.
Ia sama sekali belum mengetahui bahwa Gao Rui adalah murid Boqin Changing. Ia juga tidak tahu bahwa bocah itu telah berkali-kali ditempa oleh gurunya dengan latihan yang begitu keras hingga nyaris menyerupai neraka.
Di mata Sha Nuo saat ini, Gao Rui hanyalah seorang jenius muda yang tumbuh di bawah perlindungan Kelompok Harta Langit dan memiliki bakat luar biasa, tetapi masih membutuhkan pengalaman untuk benar-benar menjadi seorang pendekar sejati.
Ia kemudian membersihkan diri di pagi hari sebelum akhirnya pergi dari kamarnya. Pagi ini ia akan menjalankan misi mencari keberadaan permaisuri Kekaisaran Zhou bersama Gao Rui.
...******...
Ruang makan Penginapan Kayu Mawar kembali dipenuhi aroma masakan hangat. Di salah satu meja dekat jendela, Gao Rui telah duduk sejak beberapa saat yang lalu. Sarapan paginya sudah selesai. Mangkuk nasi dan piring-piring di hadapannya hampir seluruhnya kosong.
Di meja yang sama, Lan Suya, Yuang Dao, Bai Kai, dan Rou Xi juga telah menyelesaikan makan mereka. Tidak banyak percakapan yang terdengar. Semua orang mengetahui, hari ini mereka akan berpisah.
"..."
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Sha Nuo berjalan santai memasuki ruang makan. Setelah menyapa semua orang dengan anggukan ringan, ia langsung menarik sebuah kursi dan duduk di meja yang sama.
"Masih ada makanan?"
Rou Xi tersenyum tipis.
"Tentu, Senior."
Tak lama kemudian, beberapa pelayan segera menghidangkan sarapan hangat. Sha Nuo tidak banyak berbicara. Ia mulai makan dengan lahap seperti biasanya.
"Hmm... Enak."
Sesekali ia memuji masakan Penginapan Kayu Mawar, tetapi suasana pagi itu tetap jauh lebih tenang dibandingkan biasanya.
Gao Rui juga hanya sesekali menjawab ketika Sha Nuo bertanya apakah dirinya sudah siap berangkat.
"Aku sudah siap, Paman."
"Itu bagus."
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan berarti.
Semua orang seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi perjalanan yang akan segera dimulai. Tak lama kemudian, Sha Nuo meletakkan mangkuknya.
"Aku selesai."
Ia berdiri perlahan. Melihat itu, Yuang Dao, Lan Suya, Bai Kai, dan Rou Xi juga ikut bangkit dari tempat duduk mereka.
Sudah saatnya berangkat. Menurut pembagian yang telah disepakati semalam, Sha Nuo dan Gao Rui akan menuju salah satu dari delapan titik yang ditandai di peta. Tujuan mereka adalah reruntuhan sebuah kota kuno yang telah lama ditinggalkan, jauh di wilayah barat Kekaisaran Zhou.
Konon, kota itu pernah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai ratusan tahun silam sebelum akhirnya musnah akibat peperangan besar. Kini, yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan batu yang telah runtuh dan diselimuti ilalang.
"..."
Di depan pintu penginapan, Lan Suya berdiri tepat di hadapan Gao Rui. Wanita itu berusaha tersenyum. Namun, kedua matanya perlahan mulai berkaca-kaca.
Sejujurnya apabila diberi pilihan, ia ingin Gao Rui tetap tinggal di ibu kota. Tempat ini jauh lebih aman. Ia dapat mengawasi remaja itu setiap hari.
Namun orang yang mengajak Gao Rui kali ini adalah Sha Nuo. Seorang pendekar kuat kepercayaan Boqin Changing.
Di dalam benaknya, ia juga beranggapan bahwa keputusan itu kemungkinan merupakan bagian dari didikan Boqin Changing. Mungkin Dewa Kematian memang meminta tangan kanannya untuk mulai membimbing Gao Rui agar mengenal dunia persilatan yang sesungguhnya. Karena itulah, ia tidak memiliki alasan untuk menolak.
Lan Suya menarik napas pelan sebelum mengusap kepala Gao Rui dengan lembut.
"Rui'er."
"Iya, Bibi."
"Nanti selama perjalanan... kau harus patuh kepada Senior Sha Nuo."
"Jangan membantah perkataannya."
Gao Rui langsung mengangguk.
"Baik."
Lan Suya masih belum selesai.
"Jangan lupa makan tepat waktu."
"Kalau sudah lelah, beristirahatlah."
"Jangan memaksakan diri."
"Kalau terluka, segera obati lukamu."
"Dan..."
Ia kembali merapikan kerah pakaian Gao Rui.
"...jangan ceroboh."
Nada suaranya begitu lembut. Sekilas pemandangan itu benar-benar menyerupai seorang ibu yang sedang melepas anaknya pergi merantau untuk pertama kali.
Gao Rui hanya tersenyum hangat.
"Tenang saja, Bibi. Aku akan baik-baik saja."
Ia kemudian melirik Sha Nuo yang berdiri di sampingnya.
"Lagipula... Paman Nuo akan menjagaku."
Mendengar itu, Lan Suya perlahan mengalihkan pandangannya kepada Sha Nuo.
"..."
Tatapan wanita itu membuat Sha Nuo langsung menegakkan punggungnya tanpa sadar. Entah mengapa melihat kedua mata Lan Suya yang tampak hampir menangis membuatnya mendadak gugup.
"Senior Sha Nuo."
"Iya?"
Lan Suya membungkukkan badan dengan hormat.
"Rui'er... aku titipkan kepada Senior."
Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum tipis.
"Kalau bocah ini nakal... Senior boleh memukulnya."
Sha Nuo langsung tertawa kecil dengan wajah yang sedikit canggung.
"Hahaha... Itu sepertinya tidak akan sampai terjadi."
Ia memandang Gao Rui beberapa saat, lalu kembali menatap Lan Suya dengan lebih serius.
"Tenang saja. Aku sudah berjanji."
"Aku akan menjaga Rui'er sebaik mungkin."
Mendengar jawaban itu, Lan Suya akhirnya menganggukkan kepala dengan lega.
"Terima kasih, Senior."
Tak lama kemudian, Gao Rui menangkupkan kedua tangannya kepada semua orang.
"Bibi Ya."
"Senior Yuang Dao."
"Senior Bai Kai."
"Senior Rou Xi."
"Aku pergi."
Yuang Dao menganggukkan kepala pelan.
"Berhati-hatilah."
Bai Kai tersenyum.
"Semoga perjalanan kalian lancar."
Rou Xi juga ikut membungkukkan badan.
"Semoga berhasil menemukan Permaisuri."
Sha Nuo ikut menangkupkan kedua tangannya sebagai salam perpisahan.
"Kalau begitu... kami berangkat."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mulai melangkah meninggalkan Penginapan Kayu Mawar. Di sampingnya, Gao Rui segera menyusul. Keduanya berjalan berdampingan menyusuri jalanan ibu kota yang mulai ramai oleh aktivitas penduduk.
Di belakang mereka, Lan Suya masih berdiri memandangi punggung kedua orang itu hingga perlahan menghilang di balik keramaian.
Sementara itu perjalanan menuju wilayah barat Kekaisaran Zhou akhirnya benar-benar dimulai. Tujuan mereka hanya satu. Reruntuhan kota kuno yang menjadi salah satu dari delapan titik misterius dalam peta peninggalan sang penculik.