Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
# Bab 30: Livia Kegirangan Terlalu Cepat
Kalau saja Hendra punya sedikit kasih sayang kepada Sari. Namun sikapnya jelas hanya berisi keuntungan.
Kalau tidak, dalam situasi tadi ia pasti mengatakan beberapa kalimat yang berarti.
Begitu melihat keluarga Pratama bersikap keras, ia langsung menarik diri, takut kalau memperbesar masalah dan membuat keluarga Pratama marah, ia tidak akan mendapat apa-apa!
Lintah pengisap darah seperti ini harus diputus sejak awal. Dibiarkan hanya akan merugikan diri sendiri.
"Jadi sekarang kau berencana bagaimana?"
Untuk urusan rumah, Pak Pratama sejak dulu selalu menyerahkan sepenuhnya kepada Bu Pratama. Lagi pula Hendra bukan tokoh besar. Apa pun cara Bu Pratama ingin menanganinya, ia tidak akan keberatan.
Melihat Bu Pratama termenung, ia tahu istrinya masih punya sesuatu yang dikhawatirkan. Ia memberi saran, "Bagaimana kalau kau bicara terus terang dengan menantu kita?"
"Menurutku dia bukan orang yang hidup tanpa arah."
Bu Pratama diam dan memikirkannya sejenak, lalu memutuskan mendengarkan pendapat suaminya.
"Kau sudah pulang."
Bu Wijaya yang duduk di ruang tamu melihat Hendra masuk dan berdiri menyambutnya. Awalnya ia mengira Sari akan ikut pulang, sejak tadi bahkan sudah menyiapkan ekspresi wajah yang baik. Namun ternyata hanya Hendra sendirian yang terlihat. Wajahnya sedikit kaku. "Kenapa hanya kamu?"
"Keluarga Pratama bilang mereka ingin dia tetap di sana untuk merawat Arga. Lagi pula tinggal satu hari. Tidak perlu repot menjemput lalu mengantar lagi."
Hendra mengatakannya dengan sangat ringan.
Sebenarnya awalnya tidak begitu. Namun dalam perjalanan dari rumah Pratama ke rumahnya, Hendra sudah memikirkannya sampai jelas.
Pada dasarnya ia juga tidak punya perasaan terhadap Sari. Ia ingin menjemput Sari pulang dan membiarkannya berangkat dari rumah ini hanya untuk diperlihatkan kepada orang luar, demi muka keluarga. Itu juga keputusan mendadak setelah Livia mengingatkannya. Awalnya ia sama sekali tidak memikirkannya. Pada dasarnya ia juga tidak ingin dekat dengan Sari.
Awalnya ia berpikir kalau bisa menjemputnya pulang, ya sudah. Memberinya sedikit wajah baik juga tidak rugi apa pun. Tidak disangka keluarga Pratama tidak mau.
Yang terpenting, mereka juga memikirkan cara yang menguntungkan kedua pihak untuknya.
Mereka benar. Selama tidak ada yang mengatakannya, siapa yang tahu Sari berangkat dari mana?
Siapa yang akan mengira Sari sebenarnya terus berada di keluarga Pratama?
Ia tinggal mengaku begitu. Siapa yang akan curiga itu bukan kebenaran?
Sekarang ia tidak perlu berpura-pura dekat dengan putri yang tidak ia sayangi, tetapi tetap bisa mendapat muka. Bukankah ini sempurna?
Dengan begitu, Hendra tidak lagi merasa terganggu.
Istrinya mendengar Sari tidak akan pulang dan juga senang.
Dari generasi ke generasi, ibu tiri mana yang suka anak dari istri sebelumnya? Apalagi masih harus merendahkan diri untuk menyenangkan anak itu. Kalau bukan karena keluarga asalnya sekarang jatuh dan harus bergantung pada Hendra, ia tidak akan sudi bersikap lunak.
Dibanding Hendra, pikirannya lebih sederhana. Ia tidak memikirkan terlalu jauh. Asal tidak melihat Sari, ia sudah senang.
Namun ada orang yang tidak senang.
Livia sejak tadi menunggu Hendra membawa Sari pulang agar ia bisa melakukan langkah berikutnya. Begitu mendengar suara di bawah, ia langsung turun.
Melihat hanya Hendra di sana, ia tidak terlalu banyak berpikir. Ia hanya mengira Sari sudah dibawa ke kamar.
"Ayah, Kakak sudah masuk kamar?"
Selesai bicara, Livia bahkan tidak menunggu jawaban Hendra dan langsung berbalik. "Aku mau menemui Kakak dan meminta maaf atas kejadian kemarin."
Jarang-jarang Livia begitu pengertian. Hendra tentu puas, tetapi hal yang perlu dikatakan tetap harus dikatakan. "Dia tidak ikut pulang."
Langkah Livia yang baru terangkat langsung membeku. Ia tersendat lalu berbalik menatap ayahnya. "Maksud Ayah apa?"
"Dia tidak mau ikut Ayah pulang?"
Hendra tidak menyadari nada Livia agak aneh, bahkan sedikit menusuk. Ia hanya berkata sederhana, "Dia pergi ke keluarga Pratama untuk merawat Arga, bukan menjadi menantu biasa."
"Jadi keluarga Pratama tidak ingin membiarkannya pergi."
Ia melambaikan tangan. "Sudahlah, kalau tidak pulang ya tidak..."
Namun sebelum kalimatnya selesai, Livia sudah memotong, "Bagaimana bisa sudahlah!"
"Bagaimana keluarga Pratama bisa tidak masuk akal seperti itu! Dia tetap putri keluarga Wijaya! Ayah, kalau begini orang akan meremehkan keluarga kita! Ayah juga tidak mau disebut menjual anak demi kehormatan, kan!"
Rahasia hitam di hatinya dibongkar, wajah Hendra kaku. Ia membentak Livia, "Apa yang kau tahu!"
"Mereka bilang besok akan berpura-pura menjemputnya pulang. Siapa yang berani bicara!"
"Tidak perlu membicarakan hal ini lagi!"
Hendra juga tidak memberi Livia kesempatan bicara lagi. Ia berdiri dan pergi. Sebelum pergi, ia tidak lupa memperingatkan dingin, "Besok kalian berdua, ibu dan anak, harus tampil baik. Jangan sampai orang bergunjing macam-macam."
Livia berdiri kaku di tempat seperti disambar petir. Wajahnya berubah-ubah tanpa henti seperti lampu tujuh warna.
"Livia! Kau mau ke mana?"
Beberapa saat kemudian, ia mengabaikan panggilan ibunya dan berlari pergi.
"Anak itu kenapa lagi?"
Melihat bayangan Livia menghilang, Bu Wijaya kesal menghentakkan kaki.