NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : Hanya Pelampiasan?

​Pesta makan malam privat itu diadakan di ruang makan utama yang megah. Di tengah suasana formal yang dihadiri oleh para kolega elite, Amara berdiri di sudut ruangan dengan jantung yang berdegup kencang. Ia mengenakan seragam pengasuhnya, namun di balik kain itu, ia merasa sangat rapuh dan tertekan oleh perintah absolut dan tidak biasa dari Arlan.

Arlan telah melarangnya mengenakan pakaian dalam malam ini—sebuah taktik psikologis yang sengaja dirancang untuk menguji kepatuhan dan menghancurkan rasa percaya dirinya di paruh waktu formal tersebut. Setiap kali ia bergerak, gesekan kain seragamnya seolah menjadi pengingat konstan akan posisinya yang rawan.

​"Amara, tuangkan anggur untuk Tuan Wijaya," perintah Arlan datar. Suaranya tenang, namun matanya yang tajam menatap Amara dengan kilat penuh rahasia yang mengintimidasi.

​Amara melangkah mendekat dengan perlahan. Ia merasa seolah seluruh pasang mata di ruangan itu sedang menghakiminya, meskipun kenyataannya mereka semua sibuk bertukar tawa.

Saat ia membungkuk sedikit untuk menuangkan minuman, hawa dingin ruangan terasa menusuk kulitnya yang tanpa perlindungan. Selesai melaksanakan tugasnya, Arlan memberi isyarat tak terbantahkan agar Amara tetap berdiri tepat di samping kursinya.

​Ketika percakapan bisnis di antara para taipan itu semakin memanas, Arlan mulai melancarkan aksi rahasianya di bawah meja.

​Tangan besar Arlan bergerak dengan sengaja, merayap ke arah paha Amara. Jari-jarinya menyelinap masuk ke balik seragamnya, langsung menyentuh kulit paha bagian dalam yang terasa hangat dan gemetar. Amara seketika memejamkan mata, napasnya mulai tersengal-sengal menahan keterkejutan.

Sentuhan Arlan bergerak semakin naik, menuntut kepatuhan mutlak dan memicu gelombang sensasi yang campur aduk antara rasa takut dan debaran yang tak tertahankan di area paling sensitifnya.

​Arlan terus mengusik ketenangan Amara dengan permainan jemarinya yang berani di bawah meja, memanfaatkan situasi formal tersebut sebagai senjata untuk menguasai emosi sang pengasuh.

​"Nngghhh..." Amara melenguh sangat lirih. Ia harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun di depan para tamu kehormatan.

​Sementara Arlan dengan tenang mendiskusikan investasi bernilai miliaran rupiah dengan para koleganya, tangannya di bawah sana terus mempermainkan sensitivitas tubuh Amara, menuntut seluruh fokus gadis itu hingga ia merasa berada di ambang batas pertahanannya.

​"Amara, kau nampak pucat. Apa kau sakit?" tanya salah satu tamu yang menyadari perubahan ekspresi di wajahnya.

​Arlan melirik ke arah Amara dengan seringai tipis yang penuh kemenangan. "Dia mungkin hanya kelelahan karena tugas-tugasnya yang menumpuk. Benar begitu, Amara?"

​"I-iya... Tuan... benar," jawab Amara terbata-bata. Suaranya bergetar hebat saat ia berusaha keras mempertahankan kesadarannya, sementara seluruh tubuhnya dilanda ketegangan luar biasa akibat stimulasi rahasia yang dilakukan di bawah meja mewah itu.

***

​Suara deru mobil tamu terakhir akhirnya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam mansion. Amara masih berdiri mematung di tempatnya.

Tubuhnya gemetar hebat, dan seluruh energinya seolah telah terkuras habis oleh permainan psikologis dan fisik tadi. Arlan berdiri perlahan dari kursinya, merapikan setelannya, lalu mengunci tatapan Amara dengan matanya yang gelap dan penuh dengan hasrat yang tak lagi ditahan.

​"Kemari," perintahnya dengan suara berat yang menggema di ruang makan yang kosong.

​Tanpa memberikan kesempatan untuk protes, Arlan mencengkeram pinggang Amara dengan dominan dan mengangkat tubuhnya ke atas meja makan yang panjang. Tubuh Amara mendarat di atas taplak meja sutra, di antara sisa-sisa hidangan mewah yang masih tertata.

​"Persetan dengan mejanya," geram Arlan rendah. Dengan satu sentakan kuat, ia merobek bagian depan seragam Amara, mengekspos lekuk tubuh bagian atasnya yang kini berkilat oleh keringat dingin.

​Arlan kemudian meraih sebotol anggur merah yang tersisa. Ia menuangkan cairan merah pekat itu mulai dari leher Amara, membiarkannya mengalir perlahan melewati dadanya hingga membasahi seluruh bagian bawah tubuhnya yang polos.

​"AAAKHH! Dingin, Tuan!" Amara menggeliat, mengepalkan jemarinya pada kain sutra saat cairan dingin itu mengejutkan saraf-sarafnya.

​"Dingin ini akan segera berubah menjadi api," bisik Arlan tepat di telinganya.

​Arlan merunduk, mengecap tetesan anggur dari kulit Amara dengan intensitas yang tinggi. Kecupan-kecupannya yang penuh tuntutan berpindah ke area dadanya, mengklaim setiap jengkal tubuh Amara sebagai miliknya malam itu.

​Arlan tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Keinginan untuk menguasai gadis itu sepenuhnya telah mencapai puncaknya. Ia segera menyingkirkan penghalang pakaiannya sendiri, lalu dengan satu gerakan yang penuh determinasi, ia menyatukan tubuh mereka secara intim, menghujamkan keperkasaannya ke dalam diri Amara yang telah sepenuhnya pasrah dan terangsang oleh permainan sebelumnya.

​"Nngghhh! TUAAANN!" Amara mendongak ke langit-langit ruangan, punggungnya melengkung hebat menyambut penyatuan yang begitu dalam dan intens tersebut.

​Arlan memacu ritmenya dengan liar dan penuh gairah. Suara geseran tubuh mereka berpadu dengan dentingan piring-piring porselen di atas meja jati yang sesekali berderit akibat dorongan yang kuat.

​"Kau... selalu luar biasa... Amara!" geram Arlan di tengah napasnya yang memburu.

​Amara tidak lagi mampu berpikir jernih. Ia hanya bisa mendesah pasrah, tenggelam dalam sensasi panas yang membakar yang dihantarkan oleh setiap pergerakan Arlan di dalam dirinya. Kepuasan dan dominasi itu datang bertubi-tubi, menghapus sisa-sisa rasa malunya dan menggantikannya dengan gairah yang membuncah.

Di bawah pendar cahaya lampu gantung kristal yang megah, Amara kembali menyerahkan dirinya, menjadi pelampiasan hasrat terdalam bagi sang tuan, Arlan Aditama.

***

Suasana panas semalam di atas meja makan berubah drastis menjadi dingin mencekam saat fajar menyingsing. Amara terbangun bukan karena sentuhan Arlan, melainkan karena suara tangisan bayi yang terdengar sangat lemah dan serak dari kamar sebelah.

Dengan tubuh yang masih pegal dan lébám-lébám ćíñťá yang bertebaran, Amara berlari kencang menuju kamar Kenzo. Saat ia mengangkat tubuh mungil itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kulit Kenzo terasa sangat panas.

"Ya Tuhan... Kenzo! Sayang, ada apa?" tangis Amara pecah saat melihat wajah Kenzo yang memerah padam dan napasnya yang pendek-pendek.

Tak lama kemudian, Arlan muncul di ambang pintu. Namun, begitu melihat kepanikan Amara dan mendengar suara napas Kenzo yang tidak wajar, raut wajahnya berubah menjadi sangat keras dan mengerikan.

"Ada apa dengan Kenzo?!" Arlan menyambar bayi itu dari pelukan Amara. Begitu merasakan suhu tubuh anaknya, matanya langsung berkilat penuh kemarahan. "Kenapa dia bisa sepanas ini?! Apa yang kau lakukan semalam sampai tidak tahu anakku sakit, Amara?!"

"S-saya... saya tidak tahu, Tuan. Semalam saat saya letakkan di boks, dia baik-baik saja..." Amara terbata-bata, air matanya mengalir deras.

"Tentu saja kau tidak tahu! Kau terlalu sibuk méñdéśáh di bawah tubuhku sampai kau lupa tugas utamamu!" bentak Arlan dengan suara menggelegar. Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Amara. Rasa bersalah menghujam jantungnya—ia merasa menjadi wanita paling hina karena lalai menjaga bayi demi ķéñíķmáťáñ sesaat.

"Maafkan saya, Tuan... saya..."

"Diam! Cepat ambil tas bayi! Kita ke rumah sakit sekarang!" Arlan tidak memberi kesempatan Amara untuk membela diri.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil mewah itu terasa sangat mencekik. Arlan mengemudi dengan kecepatan tinggi, sementara matanya sesekali melirik ke sebelah, menatap Amara dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan.

"Jika terjadi sesuatu pada Kenzo, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Amara. Aku membayarmu bukan hanya untuk menjadi pémúáś di ranjangku, tapi juga untuk menjaga putraku!"

Amara hanya bisa menunduk, memeluk Kenzo erat-erat sambil membisikkan doa. Hatinya hancur berkeping-keping. Perhiasan mahal di lehernya kini terasa seperti duri yang menusuk kulitnya.

***

Di Rumah Sakit...

Dokter segera membawa Kenzo ke ruang observasi. Amara berdiri gemetar di lorong rumah sakit, pakaiannya yang berantakan dan rambutnya yang tidak tersisir membuatnya nampak sangat mengenaskan. Arlan berdiri beberapa meter darinya, membelakangi Amara sambil meninju dinding rumah sakit karena frustrasi.

"Tuan... Tuan Kenzo pasti akan baik-baik saja," bisik Amara mencoba mendekat.

Arlan berbalik, wajahnya nampak sangat dingin dan asing. "Jangan mendekat padaku. Mulai detik ini, jangan berani-berani kau menyentuh anakku atau muncul di depanku sebelum dokter mengatakan dia aman. Kau hanyalah pengingat akan kelalaianku sendiri, Amara."

Amara terisak di pojok lorong, menyadari bahwa di mata Arlan, ia tetaplah hanyalah seorang pelayan yang bisa disalahkan kapan saja, meski malam sebelumnya pria itu mémújáñýá seolah ia adalah segalanya.

1
Visitor6374
Cerita yang menarik 👍
Nur Aulia
dinikahin dong tuan,,jgn di jadiin pemuas nafsu saha,, kasian Amara yg msh polos
Mala Sari
yeeyy selesaii, congrot ya gaes, happy ever after. suka banget ceritanya, next time i'll visiting ur incredible another story again yaa, see ya thor, gudluc as always
Mala Sari
bagus, dah itu aja
mulia modeong
👍👍
Yayan Maryana
bagus kenz
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁
Erni Susanti
padahal gampang, tinggal cek asinya, setiap asi itu kan bagus, kalopun menurutnya gak bagus, ya di treat yg bener dong org yg menyusui anakny, dikasih makanan bergizi dll. gimana sih Arlan, kamu pimpinan perusahaan, hal sepele gitu aja gak bisa mikir. kasian loh Amara, udah syukur anak mu susuin. kalau aku jadi Amara, aku tinggal aja. ngeselin si Arlan ihhhh
Esterina Djawa
Ceritanya sungguh menarik....💖
Mala Sari
wow... adorable eps
Siti Sopiah
dr prolog yg ku baca takda typo nya semoga lancar sampai tamat.
Mala Sari
merinding baca bagian eps ini, eh ikut nyumbang tetes air mata ni aku😄,seneng bacanya
Mala Sari
wowww..., amazing arlan, go go arlan💪
Mala Sari
well done arlan.., at last
Mala Sari
cerita dewasa yg amat "dewasa", menurutku bagus. teruslah berkarya thor, gudjob
Maharani Rani
😭😭lanjuttt
Mala Sari
menikmati aja ceritanya😌,thnkz author for the story, moga makin sukses..
Mala Sari
authornya hebat, gudjob thor, its just a fiksi, nikmati aja alurnya.., healing after hard work ya gaes.., mangatt thorr💪😄
BLINK
woahhh
BLINK
😍😍
Pastri W-nie
mau dong di susuin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!