"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32 - Ayah yang Sakit
Saat Nisa buru-buru pergi, ia menerima telepon. Suaranya bergetar: "Iya Bu... uang obat Bapak... Nisa usahakan..."
Kalimat itu tertinggal di telinga Raka lebih lama daripada suara hujan.
Ia berdiri di bawah kanopi villa, memegang kantong makanan yang masih hangat. Di ujung jalan, motor tua Nisa bergerak pelan menembus tirai air. Lampu belakangnya berkedip sebentar, lalu menghilang di tikungan.
Raka menatap kartu Garuda Shield yang tadi ia berikan, lalu menghela napas.
Ia tidak suka mencampuri hidup orang hanya karena merasa mampu. Uang bisa menolong, tetapi uang yang dilempar tanpa menghormati harga diri bisa berubah menjadi rantai baru. Ia sudah melihat keluarga Hartono menggunakan kata bantuan sebagai pintu untuk mengisap. Ia tidak ingin menjadi versi lain dari orang yang sama, hanya dengan rekening lebih besar.
Tetapi ada perbedaan antara membeli ketaatan dan membuka jalan.
Sore itu, Raka meminta Yuli melakukan pengecekan ringan. Bukan membongkar privasi berlebihan, bukan mencari aib. Hanya memastikan apakah Nisa benar-benar punya keadaan darurat dan apakah bantuan bisa disalurkan tanpa membuatnya tersudut.
Yuli menghubungi beberapa sumber lapangan, lalu mengirim laporan malamnya.
Nisa tinggal di kampung padat di pinggir Surabaya bersama ibu dan ayahnya. Ayahnya, Pak Hasan, mantan sopir angkutan barang yang sudah lama sakit komplikasi diabetes dan ginjal. BPJS ada, tetapi beberapa obat, transportasi, pemeriksaan tambahan, dan antrean membuat keluarga itu tetap tenggelam. Nisa sempat kuliah semester awal, berhenti karena biaya. Ia mengambil shift GoFood, membersihkan toko pagi hari, dan kadang membantu katering tetangga.
Tidak ada catatan judi. Tidak ada pinjaman konsumtif besar. Tidak ada gaya hidup palsu.
Hanya keluarga miskin yang mencoba tidak jatuh lebih dalam.
Keesokan paginya, Raka datang ke kampung itu tanpa mobil mencolok. Ia memakai kendaraan operasional biasa, ditemani Agus di depan dan Yuli sebagai penunjuk jalan. Gangnya sempit, rumah-rumah berdempetan, kabel menggantung seperti akar hitam di udara. Bau gorengan, air hujan lama, dan obat gosok bercampur di bawah matahari lembap.
Nisa terkejut saat melihat Raka di depan rumahnya.
"Pak Raka?" Ia baru pulang dari shift pagi, masih membawa tas GoFood di pundak. "Ada apa, Pak? Saya belum sempat menghubungi kantor. Maaf."
"Tidak perlu minta maaf," kata Raka. "Aku dengar soal ayahmu. Aku datang bukan untuk menagih jawaban kerja."
Wajah Nisa langsung pucat. "Pak, saya..."
"Kalau kamu tidak nyaman, kami pergi."
Kalimat itu membuat Nisa berhenti. Orang kaya biasanya datang dengan keputusan. Raka datang dengan pilihan.
Dari dalam rumah, suara batuk berat terdengar.
Seorang wanita paruh baya membuka tirai pintu. "Nisa, siapa?"
"Ini Pak Raka, Bu. Yang kemarin pesan makanan."
Ibu Nisa terlihat bingung dan gugup. Raka menunduk sopan. "Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam," jawab wanita itu cepat.
Di dalam rumah, Pak Hasan berbaring di kasur tipis. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan napasnya pendek. Di samping kasur ada beberapa bungkus obat, botol air mineral, dan map BPJS yang ujungnya sudah lecek.
Raka tidak duduk terlalu dekat. Ia menjaga jarak agar tidak membuat keluarga itu merasa diserbu.
"Pak Hasan," katanya, "saya Raka. Saya kenal Nisa dari pekerjaan pengantaran."
Pak Hasan membuka mata. "Maaf rumah kami begini, Pak."
"Tidak perlu minta maaf untuk rumah sendiri."
Nisa menggenggam tali tasnya erat. "Pak, kalau soal uang obat, saya akan cari. Saya tidak mau merepotkan."
"Aku tahu," kata Raka. "Karena itu aku datang untuk menawarkan cara yang tidak membuat kamu berutang pribadi kepadaku."
Nisa menatapnya, bingung.
Raka menjelaskan pelan. Ia punya program dukungan kesehatan untuk calon pekerja dan keluarga inti dalam proses rekrutmen sosial Garuda Shield. Program itu belum besar, tetapi bisa dibuat resmi: biaya pemeriksaan Pak Hasan, transportasi ke rumah sakit, kamar perawatan sesuai kebutuhan medis, dan administrasi legal. Semua dicatat sebagai dana bantuan perusahaan, bukan utang Nisa kepada Raka secara pribadi.
Yuli yang sudah menyiapkan formulir sederhana menyerahkannya kepada Nisa.
"Kamu baca dulu," kata Yuli. "Kalau tidak paham, tanya. Tidak ada tanda tangan sekarang juga kalau kamu belum yakin."
Nisa membaca, tetapi matanya cepat basah. "Pak, ini terlalu besar."
"Ayahmu perlu dokter," kata Raka. "Kalau kamu ingin membalas, balas dengan hidup lebih baik. Kalau nanti kamu masuk kerja dan cocok, bekerja sungguh-sungguh. Kalau tidak cocok, bantuan medis ini tidak berubah jadi jebakan."
Nisa menutup mulutnya dengan tangan.
Ibu Nisa menangis pelan.
Pak Hasan mencoba bangun, tetapi Raka segera menahan dengan gerakan sopan. "Tidak usah, Pak."
"Nak..." suara Pak Hasan serak. "Kenapa kamu mau menolong kami?"
Raka diam sebentar.
Jawaban mudahnya: karena sistem akan memberi cashback jika ia membayar biaya legal pihak ketiga. Tetapi itu bukan seluruh kebenaran. Ia bisa menghabiskan uang untuk jam, mobil, rumah, dan tetap makin kaya. Namun jika semua uang itu hanya membuatnya tinggi seorang diri, maka ia tidak jauh berbeda dari Kevin yang menganggap orang kecil sebagai pijakan.
"Karena Nisa kemarin mengembalikan uang yang bisa saja dia ambil," kata Raka. "Orang seperti itu pantas diberi kesempatan."
Nisa menangis tanpa suara.
Siang itu, Pak Hasan dibawa ke rumah sakit swasta yang bekerja sama dengan dokter spesialis penyakit dalam dan ginjal. Raka membayar deposit perawatan, ambulans non-darurat, pemeriksaan awal, dan kebutuhan obat yang tidak langsung tertutup skema biasa. Semua melalui kasir resmi, kuitansi resmi, nama pasien jelas.
Ia juga meminta staf administrasi menjelaskan ulang hak BPJS keluarga Nisa, agar biaya yang memang bisa ditanggung negara tetap diproses melalui jalur semestinya. Bantuan Raka menutup celah yang tidak tertutup, bukan mengganti semua prosedur dengan uang pribadi. Nisa mendengarkan penjelasan itu sambil mencatat di ponsel retak. Setiap angka ia tanya dua kali. Ia takut suatu hari ada kewajiban tersembunyi yang tidak mampu ia bayar.
Panel biru muncul sebentar.
[Pengeluaran legal terdeteksi: Rp 180.000.000.]
[Cashback 10x diproses.]
[Rp 1.800.000.000 telah masuk ke rekening host.]
[Saldo saat ini: Rp 493.974.633.900.]
Raka tidak melihat angka itu lama. Di ruang tunggu, Nisa duduk dengan kedua tangan menggenggam gelas plastik. Ia tampak lega, takut, malu, dan berharap sekaligus.
"Pak," katanya pelan, "saya tidak mau cuma menerima. Saya mau kerja. Apa pun yang halal. Saya bisa belajar."
"Datang ke kantor setelah kondisi ayahmu stabil," kata Raka. "Mulai dari administrasi. Tidak ada jalan pintas."
"Saya tidak minta jalan pintas."
"Bagus. Karena aku tidak memberi itu."
Di dalam ruang perawatan, Pak Hasan memanggil Raka dengan tangan gemetar. Raka mendekat. Pria tua itu menggenggam tangannya, air mata mengalir ke pelipis.
"Nak, kamu orang baik. Tolong jaga Nisa saya."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....