Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam semakin larut.
Hujan yang sejak tadi mengguyur Mansion Laurent masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Suara rintiknya memantul di jendela-jendela besar, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan.
Namun bagi Alyssa...
Malam itu justru terasa begitu gelisah.
Setelah percakapannya dengan Lucas di perpustakaan, ia kembali ke kamar dengan hati yang masih berdebar.
Ucapan pria itu terus terngiang di kepalanya.
"Kau tidak perlu kuat setiap saat ketika berada di sini."
Kalimat sederhana.
Namun mampu menyentuh bagian hatinya yang selama ini selalu ia sembunyikan.
Alyssa menghela napas pelan.
Ia mengambil ponselnya yang sejak sore dibiarkan di atas meja.
Layar menyala.
Beberapa pesan dari pelayan.
Notifikasi cuaca.
Tidak ada yang aneh.
Namun tepat saat ia hendak meletakkannya kembali...
Sebuah pesan baru masuk.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada nama.
Tidak ada foto profil.
Hanya sederet angka.
Alyssa mengernyit.
Perlahan ia membuka pesan itu.
Tidak ada tulisan.
Hanya sebuah foto.
Saat gambar itu terbuka...
Tubuh Alyssa langsung membeku.
"N... tidak..."
Tangannya mulai gemetar.
Di dalam foto itu...
Seorang wanita berambut pirang terikat di sebuah kursi besi.
Mulutnya disumpal kain.
Wajahnya dipenuhi lebam.
Sudut bibirnya berdarah.
Pakaiannya robek di beberapa bagian akibat siksaan.
Namun Alyssa langsung mengenalinya.
"Isabel..."
Air matanya langsung jatuh.
Isabel.
Satu-satunya orang yang selama ini selalu membantunya diam-diam.
Perawat yang pernah melindunginya ketika Elena meninggal.
Orang yang beberapa bulan lalu menghilang tanpa kabar.
Jari Alyssa semakin dingin.
Belum sempat ia mengatur napas...
Pesan kedua masuk.
Foto lain.
Kali ini memperlihatkan Isabel dengan tangan yang penuh luka sayatan.
Di belakang wanita itu berdiri beberapa pria berpakaian hitam.
Wajah mereka tidak terlihat.
Namun salah satu memegang tongkat besi yang berlumuran darah.
Alyssa menutup mulutnya.
"Ya Tuhan..."
Air matanya semakin deras.
Belum selesai.
Pesan ketiga kembali masuk.
Kali ini berupa tulisan.
Masih ingin bersembunyi di Mansion Laurent?
Alyssa menatap layar tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian...
Pesan berikutnya muncul.
Kalau kau tetap di sana... dia akan mati sedikit demi sedikit.
Napas Alyssa memburu.
Ia buru-buru mengetik balasan.
"Siapa kalian?"
Tidak sampai lima detik.
Balasan datang.
Patrick mengirim salam.
Detak jantung Alyssa berhenti sesaat.
Patrick.
Lagi.
Tangannya semakin gemetar.
Ia kembali mengetik.
"Lepaskan Isabel!"
Balasan datang jauh lebih cepat.
Datang sendirian.
Atau setiap satu jam kau akan menerima foto baru.
Lalu...
Sebuah foto terakhir dikirim.
Isabel kali ini tampak tak sadarkan diri.
Darah menetes dari pelipisnya.
Di bawah foto terdapat satu kalimat.
Kau punya waktu dua puluh empat jam.
Nomor itu langsung tidak bisa dihubungi.
Alyssa menekan tombol panggil berkali-kali.
Tidak tersambung.
Ia mencoba lagi.
Tetap gagal.
Tubuhnya mulai gemetar hebat.
Pikirannya kacau.
"Ini semua... gara-gara aku..."
Ia terduduk di lantai.
Tangisnya pecah.
Di ruang kerja.
Lucas masih membaca laporan ketika ponselnya berdering.
"Itu Adrian."
Lucas mengangkat panggilan.
"Ada apa?"
Suara Adrian terdengar tergesa.
"Tuan."
"Sistem keamanan mendeteksi aktivitas tidak biasa di jaringan komunikasi mansion."
Lucas langsung berdiri.
"Maksudmu?"
"Seseorang berhasil menghubungi ponsel Nona Alyssa menggunakan jalur yang sulit dilacak."
Tatapan Lucas berubah tajam.
"Apa isi pesannya?"
"Kami belum tahu."
Lucas tidak menunggu lebih lama.
Ia segera keluar dari ruang kerja.
Langkahnya cepat menyusuri koridor.
Entah mengapa...
Perasaan buruk memenuhi dadanya.
Sementara itu...
Di kamar.
Alyssa masih memeluk lututnya.
Ponselnya terus berada di tangannya.
Matanya tak lepas dari foto-foto Isabel.
Ia merasa sesak.
Bersalah.
Takut.
Semua bercampur menjadi satu.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan keras terdengar di pintu.
"Alyssa."
Suara Lucas.
Alyssa buru-buru menghapus air mata.
"I-iya..."
Lucas membuka pintu setelah mendapat izin.
Begitu melihat wajah Alyssa...
Ia langsung tahu ada yang tidak beres.
Mata gadis itu merah.
Wajahnya pucat.
Tangannya masih gemetar.
Lucas mendekat.
"Apa yang terjadi?"
Alyssa menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Lucas menatapnya beberapa saat.
"Kau menangis."
"Aku bilang tidak apa-apa."
Nada suara Alyssa terdengar lebih tinggi dari biasanya.
Lucas mengernyit.
"Perlihatkan ponselmu."
Refleks...
Alyssa langsung menggenggam ponselnya lebih erat.
"Tidak."
Lucas semakin curiga.
"Alyssa."
"Aku bilang tidak!"
Suasana mendadak hening.
Lucas belum pernah mendengar Alyssa membentaknya.
Pria itu menatapnya lekat.
"Lihat aku."
Alyssa memalingkan wajah.
Lucas menghela napas.
"Apa Patrick menghubungimu?"
Tidak ada jawaban.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Lucas mengulurkan tangan.
"Ponselnya."
Alyssa mundur selangkah.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena ini urusanku."
Kalimat itu membuat ekspresi Lucas berubah.
"Sejak awal aku sudah bilang."
"Keselamatanmu adalah tanggung jawabku."
"Aku tidak meminta perlindunganmu!"
Lucas membeku.
Alyssa sendiri terkejut dengan ucapannya.
Namun emosinya sudah terlalu kacau.
"Kalau bukan karena aku..."
"Orang lain tidak akan terluka."
Lucas berbicara pelan.
"Siapa?"
Air mata Alyssa kembali jatuh.
"Isabel..."
Suara itu nyaris seperti bisikan.
Lucas langsung memahami.
"Apa yang mereka lakukan?"
Alyssa perlahan menyerahkan ponselnya.
Lucas membuka pesan itu.
Semakin lama ia melihat foto-foto tersebut...
Rahangnya semakin mengeras.
Tatapannya berubah sedingin es.
Ruangan terasa dipenuhi tekanan yang menyesakkan.
Adrian yang baru tiba ikut melihat layar.
Wajahnya langsung berubah.
"Mereka..."
Lucas memotong.
"Lacak nomor ini."
"Sekarang."
Adrian segera pergi.
Namun Alyssa buru-buru berkata,
"Jangan."
Lucas menoleh.
"Mereka bilang..."
"Kalau aku melibatkan siapa pun..."
"Mereka akan membunuh Isabel."
Lucas memandangnya tajam.
"Dan kau percaya begitu saja?"
"Aku tidak punya pilihan!"
"Ada."
Lucas menjawab tegas.
"Percaya padaku."
Alyssa menggeleng kuat.
"Bagaimana kalau kau terlambat?"
"Bagaimana kalau saat kalian menyelidiki..."
"Mereka benar-benar membunuhnya?"
Lucas mendekat.
"Alyssa."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Tapi kau tidak tahu mereka!"
Alyssa menangis semakin keras.
"Mereka kejam!"
"Mereka tidak akan berhenti!"
"Mereka bisa menyiksa siapa saja!"
Lucas menggenggam kedua bahunya.
"Dengarkan aku."
"Tenang."
"Aku tidak bisa tenang!"
Alyssa melepaskan pegangan Lucas.
"Isabel menderita karena aku!"
"Kalau aku menyerahkan diri..."
"Mungkin mereka akan melepaskannya."
Mata Lucas langsung berubah tajam.
"Tidak."
"Itu satu-satunya cara."
"Tidak."
"Aku akan pergi."
"Tidak akan."
"Aku harus pergi!"
Lucas akhirnya meninggikan suara untuk pertama kalinya malam itu.
"Cukup!"
Ruangan langsung sunyi.
Alyssa membeku.
Lucas menatapnya dengan sorot mata penuh amarah sekaligus kecemasan.
"Kau benar-benar berpikir Patrick akan menepati janjinya?"
"Tapi..."
"Kalau dia ingin Isabel hidup..."
"Dia tidak akan menyiksanya sejak awal."
Kalimat itu membuat Alyssa terdiam.
Lucas menarik napas panjang.
Nada suaranya kembali lebih tenang.
"Ini jebakan."
"Begitu kau keluar dari mansion..."
"Mereka akan menangkapmu."
"Lalu Isabel?"
Lucas menatap foto di layar sekali lagi.
"Aku akan menyelamatkannya."
"Bagaimana kalau gagal?"
Lucas tidak menjawab selama beberapa detik.
Kemudian ia berkata pelan,
"Aku tidak akan gagal."
Namun Alyssa masih menggeleng.
"Kalau sesuatu terjadi pada Isabel..."
"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
Lucas menatap gadis itu lama.
Ia bisa melihat rasa bersalah yang begitu besar.
Perasaan yang perlahan menghancurkan Alyssa dari dalam.
Akhirnya...
Lucas melangkah lebih dekat.
Dengan hati-hati...
Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Alyssa menggunakan ibu jarinya.
Gerakannya begitu pelan.
Begitu hati-hati.
"Alyssa."
Suara Lucas jauh lebih lembut.
"Lihat aku."
Perlahan...
Alyssa mengangkat wajahnya.
Mata mereka bertemu.
"Aku berjanji."
"Aku akan membawa Isabel kembali."
"Hidup."
Air mata Alyssa kembali jatuh.
"Kau tidak mungkin menjanjikan itu..."
"Aku bisa."
Lucas menjawab tanpa ragu.
"Karena mulai malam ini..."
"Patrick tidak lagi hanya mengincarmu."
Tatapannya berubah dingin.
"Dia sudah menyentuh orang-orang yang berada di bawah perlindunganku."
"Itu kesalahan terbesar yang pernah dia buat."
Pada saat yang sama...
Di sebuah gudang tua yang remang-remang.
Seorang pria bertubuh besar menyerahkan ponsel kepada sosok yang duduk membelakangi ruangan.
Pria itu tersenyum tipis setelah melihat laporan bahwa pesan telah terkirim.
"Umpannya sudah dilempar."
Suara berat itu bergema di ruangan.
Di sudut gudang...
Isabel masih terikat lemah.
Meski wajahnya penuh luka...
Matanya tetap terbuka.
Ia mendengar setiap kata.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Isabel berbisik lirih,
"Jangan datang... Alyssa..."
Namun bisikan itu tenggelam oleh suara tawa pelan dari orang-orang yang menjaganya.
Di Mansion Laurent...
Lucas segera mengumpulkan seluruh kepala pengawal.
Ruang rapat berubah tegang.
Peta kota dipasang di layar besar.
Adrian mulai memaparkan hasil pelacakan awal.
"Nomor yang menghubungi Nona Alyssa menggunakan jaringan sekali pakai."
"Lokasinya terus berpindah."
Lucas tidak tampak terkejut.
"Itu hanya pengalih."
Adrian mengangguk.
"Saya juga berpikir begitu."
Lucas menatap seluruh anggota tim.
"Patrick ingin kita membuang waktu mengejar nomor."
"Lalu?"
Lucas menunjuk foto terakhir Isabel.
"Perbesar."
Layar menampilkan gambar dengan resolusi tinggi.
Lucas memperhatikan setiap detail.
Dinding.
Lantai.
Lampu.
Bayangan.
Sebuah stiker usang di tong besi.
Sebuah nomor kecil di peti kayu.
Dan suara samar yang terekam dalam metadata video singkat yang menyertai foto.
Lucas menyipitkan mata.
"Adrian."
"Ya, Tuan?"
"Cari semua gudang milik Patrick yang memiliki lantai beton lama, tong industri berwarna biru, dan jalur kereta barang aktif dalam radius lima kilometer."
Adrian mengangguk cepat.
"Segera."
Lucas mengepalkan tangan.
Di dalam hatinya hanya ada satu keputusan.
Apa pun yang harus dikorbankan...
Ia tidak akan membiarkan Alyssa pergi menghadapi Patrick sendirian.
Dan untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai...
Pertarungan antara keluarga Laurent dan Patrick bukan lagi sekadar perang memperebutkan rahasia masa lalu.
Melainkan perlombaan melawan waktu.
Karena di suatu tempat yang masih belum diketahui...
Nyawa Isabel terus berada di ujung tanduk.