Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: DEBAT KECIL SOAL NILAI
Selasa pagi, papan pengumuman digital di lobi fakultas menampilkan hasil ujian tengah semester mata kuliah Manajemen Strategis. Kirana berdiri di antara kerumunan mahasiswa yang berdesakan mencari nama masing masing, jantungnya berdebar cemas.
"Kir, udah nemu nilai kamu belum?" tanya Tesa, ikut mendorong badan mendekat ke layar.
"Bentar, masih nyari," jawab Kirana, matanya menyusuri deretan nama dan angka yang tertera.
Akhirnya dia menemukan namanya. Nilai delapan puluh dua. Cukup bagus, tapi entah kenapa ada rasa mengganjal ketika dia melihat detail nilai di sebelahnya, breakdown per soal yang menunjukkan dia kehilangan poin cukup banyak di bagian esai analisis kasus.
"Wih, delapan dua, lumayan banget, Kir," Tesa menepuk bahunya, senang.
"Iya sih, tapi..." Kirana mengernyit, memperhatikan lebih detail. "Kok di bagian esai analisisnya aku cuma dapet setengah dari poin maksimal ya. Padahal aku yakin jawabanku udah bener."
"Coba tanya langsung ke Pak Alden," usul Tesa. "Siapa tau ada kesalahan penilaian."
Kirana mengangguk, meski dalam hati sedikit ragu. Sejak percakapan terakhir mereka minggu lalu, dia merasa hubungan mereka jadi lebih canggung dari sebelumnya.
Bertemu Alden lagi untuk urusan formal seperti ini terasa lebih rumit dari yang seharusnya.
Kelas siang itu, sebelum masuk materi baru, Alden membuka sesi untuk membahas hasil ujian tengah semester. Dia meletakkan setumpuk kertas jawaban di meja, siap mengembalikan satu per satu ke mahasiswa yang bersangkutan.
"Kalau ada yang merasa nilainya kurang sesuai, silakan datang ke ruang dosen setelah kelas untuk diskusi lebih lanjut," katanya, mulai membagikan kertas jawaban.
Ketika giliran Kirana, Alden menyerahkan kertas jawabannya dengan ekspresi datar seperti biasa, tidak ada kontak mata berlebihan seperti minggu sebelumnya. "Nilai kamu ada di halaman terakhir."
"Terima kasih, Pak," jawab Kirana, menerima kertas itu dengan perasaan campur aduk.
Begitu kelas selesai, Kirana memantapkan hati untuk mendatangi ruang dosen. Dia sudah menyiapkan argumen di kepalanya, berharap bisa menjelaskan dengan baik kenapa dia merasa nilainya kurang sesuai.
Dia mengetuk pintu ruang dosen yang setengah terbuka. "Permisi, Pak."
"Masuk," jawab Alden dari dalam, sedang merapikan tumpukan kertas jawaban ujian lainnya.
"Pak, saya mau tanya soal nilai esai analisis kasus saya," Kirana memulai, duduk di kursi yang ditunjuk Alden. "Kenapa saya cuma dapet setengah poin, padahal saya rasa jawaban saya udah lengkap."
Alden mengambil kertas jawaban Kirana yang sudah dia siapkan sebelumnya, membacanya kembali dengan seksama. "Coba lihat di sini," katanya, menunjuk salah satu paragraf jawaban Kirana. "Kamu jelasin analisis SWOT-nya, tapi nggak ngasih rekomendasi strategi konkret di akhir. Soal ini minta analisis sekaligus rekomendasi."
"Tapi kan saya udah sebutin beberapa opsi strategi di paragraf sebelumnya, Pak," Kirana mencoba membela diri, menunjuk bagian lain di kertas jawabannya.
"Itu bukan rekomendasi, itu cuma daftar opsi tanpa kesimpulan mana yang paling tepat," Alden menjelaskan, nadanya tetap tegas meski tidak terdengar menyerang. "Soal ini butuh keputusan akhir, bukan sekadar daftar kemungkinan."
Kirana terdiam sejenak, mencerna penjelasan itu. "Tapi kan itu masalah interpretasi, Pak. Menurut saya, ngasih beberapa opsi juga termasuk bentuk rekomendasi."
"Kirana," Alden menatapnya, nadanya sedikit lebih tegas, "dalam dunia kerja nanti, atasan kamu nggak akan puas kalau kamu cuma kasih daftar opsi tanpa keputusan jelas. Itu sebabnya poin ini penting."
"Tapi soal ujiannya nggak spesifik minta satu rekomendasi tunggal, Pak," Kirana masih mencoba mempertahankan pendapatnya, meski suaranya mulai terdengar sedikit frustrasi. "Kalau emang harus spesifik kayak gitu, harusnya instruksi soalnya lebih jelas."
Alden terdiam sejenak, mempertimbangkan argumen itu. "Saya paham maksud kamu. Tapi standar penilaian ini saya terapkan sama ke semua mahasiswa, bukan cuma ke kamu."
"Saya nggak minta perlakuan khusus, Pak," Kirana buru buru meluruskan, khawatir kesannya seperti itu. "Saya cuma pengen ngerti alasan penilaiannya biar bisa lebih baik ke depannya."
Alden menatap Kirana lama, ada sesuatu di ekspresinya yang menunjukkan dia menghargai cara Kirana mempertahankan argumennya tanpa terkesan meminta belas kasihan. "Oke," katanya akhirnya, "saya akan pertimbangkan lagi bagian ini. Tapi saya nggak janji nilainya berubah."
"Nggak apa apa, Pak. Yang penting saya ngerti kenapa poinnya segitu," jawab Kirana, sedikit lega meski hasil akhirnya belum pasti.
Alden membuka kembali kertas jawaban Kirana, membaca ulang paragraf yang dipermasalahkan dengan lebih teliti. Setelah beberapa saat, dia mengambil pena merahnya, menambahkan beberapa poin di margin kertas.
"Saya tambahin dua poin," katanya, menunjukkan hasil revisinya ke Kirana.
"Karena kamu memang menyebutkan beberapa opsi yang relevan, meski nggak eksplisit milih satu."
"Terima kasih, Pak," Kirana tersenyum lega, meski tidak berlebihan.
"Tapi lain kali," lanjut Alden, "kalau kamu punya beberapa opsi, coba tentuin satu yang paling kuat argumennya. Itu bakal nunjukin kemampuan analisis kamu lebih baik lagi."
"Siap, Pak, saya bakal inget itu," Kirana mengangguk, mencatat masukan itu di kepalanya.
Alden menyerahkan kembali kertas jawaban yang sudah direvisi, dan untuk sesaat, jari mereka hampir bersentuhan ketika kertas itu berpindah tangan. Keduanya sama sama menyadari momen kecil itu, tapi tidak ada yang mengomentarinya secara langsung.
"Pak," Kirana memberanikan diri bicara lagi setelah suasana canggung itu mereda, "boleh saya tanya sesuatu di luar soal nilai?"
"Silakan," jawab Alden, meski sedikit waspada dengan apa yang akan ditanyakan.
"Soal minggu lalu, yang kita omongin di kelas setelah semua orang keluar," Kirana memulai hati hati, "apa itu masih... berlaku sampai sekarang?"
Alden terdiam, menatap Kirana dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kenapa kamu tanya itu?"
"Soalnya dari minggu lalu, Bapak jadi kayak... jaga jarak banget sama saya. Nggak natap saya lagi kayak biasanya, nggak nunjuk saya buat jawab pertanyaan," jelas Kirana, suaranya sedikit bergetar mengakui hal itu.
"Saya cuma pengen tau, apa itu karena Bapak nyesel udah ngomong kayak gitu ke saya."
Alden menghela napas panjang, meletakkan pena yang tadi dia pegang. "Saya nggak nyesel ngomong jujur ke kamu, Kirana. Tapi saya juga sadar, kalau saya terus terusan nunjukin perhatian berlebih ke kamu di depan orang lain, itu bisa bikin masalah buat kita berdua."
"Jadi Bapak sengaja jaga jarak?" tanya Kirana, suaranya terdengar sedikit kecewa meski dia berusaha menyembunyikannya.
"Iya," jawab Alden jujur, "karena itu cara paling aman yang saya tau sekarang, buat kita berdua."
Kirana mengangguk pelan, mencoba memahami logika di balik keputusan itu meski hatinya terasa sedikit berat. "Saya ngerti, Pak. Meski jujur aja, agak sedih juga sih."
Alden menatapnya lama, ada penyesalan kecil yang tersirat di matanya. "Saya juga nggak sepenuhnya nyaman dengan situasi ini, Kirana. Tapi untuk sekarang, ini yang terbaik yang bisa saya lakukan."
"Oke, Pak. Saya bakal coba ngerti," Kirana tersenyum kecil, meski senyum itu tidak sepenuhnya mencapai matanya.
Dia berdiri, bersiap keluar ruangan dengan kertas jawaban yang sudah direvisi di tangannya. "Makasih buat waktunya, Pak. Dan makasih juga udah jujur soal alasannya."
"Kirana," panggil Alden sekali lagi sebelum dia benar benar keluar, "terima kasih juga sudah berani mempertahankan pendapat kamu tadi. Itu kualitas yang bagus."
Kirana tersenyum, kali ini lebih tulus. "Belajar dari yang terbaik, Pak."
Alden tidak membalas kalimat itu, hanya menatap Kirana yang berjalan keluar ruangan dengan langkah yang meski terlihat tegar, tetap menyisakan sedikit kekecewaan yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan.
Begitu pintu tertutup, Alden bersandar ke kursinya, menatap langit langit ruangan sambil menghela napas panjang. Keputusan untuk menjaga jarak terasa benar secara logika, tapi entah kenapa hatinya terus menolak kebenaran itu setiap kali dia melihat Kirana berjalan menjauh dengan raut kecewa yang coba dia sembunyikan.
"Ini bakal lebih sulit dari yang saya kira," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sambil kembali fokus pada tumpukan kertas jawaban yang masih menunggu untuk diperiksa.