NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kabut Berdarah dan Aliansi dalam Bayangan

​Bagi para kultivator di Sekte Daun Angin, melakukan perjalanan jauh adalah hal yang elegan. Mereka menggunakan Perahu Spiritual, menunggangi Bangau Giok, atau melesat di atas pedang terbang yang membelah awan.

​Awan tidak memiliki kemewahan itu. Ia menempuh jarak tiga ratus mil menuju Desa Tambang Besi Hitam murni menggunakan kedua kakinya.

​Namun, kecepatan perjalanan sang manusia fana sama sekali tidak bisa diremehkan.

​Dengan pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram terikat kokoh di punggungnya, Awan berlari menembus hutan dan membelah pegunungan layaknya badak cula besi yang mengamuk. Ia tidak membuang tenaga untuk melompat tinggi, melainkan menggunakan modifikasi dari Seni Langkah Besi Jatuh.

​Setiap pijakan kakinya sangat presisi. Ia menyerap gaya gravitasi dan menolaknya ke depan dalam sudut yang datar. Angin gunung berdesir keras saat tubuhnya melesat meninggalkan bayangan hitam panjang. Seekor kuda perang fana terbaik akan mati kelelahan dalam dua jam jika dipaksa berlari dengan kecepatan ini, tetapi bagi paru-paru dan jantung Awan yang telah ditempa oleh Esensi Darah Fana Purba, berlari sejauh tiga ratus mil hanyalah pemanasan ringan untuk meregangkan ototnya.

​Menjelang senja di hari kedua, Awan akhirnya menghentikan langkahnya di atas sebuah bukit berbatu.

​Di bawah bukit tersebut, terhampar Desa Tambang Besi Hitam.

​Alis Awan sedikit berkerut. Tempat yang dulunya merupakan pemukiman sibuk dengan cerobong asap pandai besi yang selalu mengepul, kini tertutup oleh kabut berwarna merah kehitaman yang sangat pekat. Suasana di sana sangat sunyi, memancarkan hawa kematian yang membuat burung liar pun enggan terbang melintasinya.

​"Kabut Qi Iblis," gumam Awan, mengamati kabut tersebut.

​Dalam catatan sekte, kultivator beraliran iblis (Demonic Cultivator) sering menggunakan formasi kabut beracun ini untuk mengisolasi sebuah wilayah. Bagi kultivator ortodoks, kabut ini sangat mematikan. Kabut ini dirancang khusus untuk menggerogoti perisai Qi dan menyerap energi spiritual. Memasuki desa itu sama saja dengan berjalan di dalam rawa lintah yang akan menguras habis Dantian mereka.

​Itulah alasan mengapa Murid Luar yang dikirim sebelumnya mati tanpa jejak. Qi mereka disedot habis sebelum mereka bisa bertarung.

​"Sayangnya bagi kalian," senyum dingin terukir di wajah Awan, "kalian tidak bisa menyedot apa yang tidak ada."

​Tanpa ragu, Awan berjalan menuruni bukit dan melangkah masuk ke dalam selimut kabut berdarah tersebut.

​Begitu ia masuk, hawa dingin yang busuk langsung menerpa kulitnya. Kabut itu bereaksi, mencoba mencari fluktuasi Qi untuk dihisap. Namun, karena tubuh Awan murni tubuh biologis fana tanpa Dantian, kabut itu hanya melewatinya seolah ia adalah sebatang pohon mati atau sebongkah batu. Racun ringan di dalam kabut yang mencoba masuk melalui pori-porinya seketika dihancurkan oleh metabolisme super dan panas dari darah fana purbanya.

​Awan berjalan menyusuri jalanan desa. Rumah-rumah kayu dan batu tampak hancur. Bercak darah yang sudah mengering menghiasi dinding dan tanah. Tidak ada mayat, hanya kesunyian yang mencekam.

​Telinga Awan yang sangat tajam bergerak. Di bawah kesunyian itu, ia mendengar suara isak tangis yang tertahan, gemerincing rantai besi, dan suara rapalan mantra yang mengerikan dari arah alun-alun utama desa.

​Awan menggunakan Seni Penyamaran Bayangan, melambatkan detak jantungnya dan mendinginkan suhu tubuhnya. Ia menyelinap di balik reruntuhan bangunan, mendekati sumber suara tanpa menimbulkan riak sedikit pun di udara.

​Dari balik tembok hancur, Awan mengintip ke arah alun-alun.

​Pemandangan di sana cukup untuk membuat darah manusia normal mendidih. Puluhan penduduk desa—pria, wanita, dan anak-anak—diikat menggunakan rantai besi yang dipenuhi ukiran rune berdarah. Mereka dikumpulkan di tengah sebuah formasi melingkar yang digambar menggunakan darah segar di atas tanah.

​Di sekeliling formasi itu, berdiri lima orang kultivator berjubah merah tua. Mereka berasal dari Sekte Darah Hitam, sebuah faksi kultivator iblis kecil yang terkenal sering menculik manusia fana untuk dijadikan bahan dasar Pil Penempa Darah.

​Pemimpin mereka, seorang pria kurus pucat dengan aura menjijikkan di Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan, sedang memegang sebuah mangkuk perak.

​"Tarik terus jiwa mereka," perintah pria pucat itu sambil tertawa serak. "Penderitaan dan keputusasaan adalah bumbu terbaik. Jangan bunuh mereka terlalu cepat, biarkan darah mereka meresap pelan-pelan ke dalam formasi."

​Dua kultivator iblis lainnya mengangguk dan mengalirkan Qi hitam ke dalam rantai. Penduduk desa menjerit tertahan, tubuh mereka kejang-kejang saat esensi kehidupan mereka ditarik keluar tetes demi tetes.

​Melihat pemandangan itu, Awan tidak langsung marah. Matanya sedingin bongkahan es. Marah hanya akan membuat pukulannya tidak akurat.

​Ia perlahan menarik Bumi Pijar dari punggungnya. Meski beratnya tiga ratus kilogram, gesekan pedang itu dengan sarung kulitnya nyaris tanpa suara.

​Awan melangkah keluar dari balik tembok.

​Ia sengaja melepaskan penyamaran detak jantungnya, membiarkan langkah kakinya berbunyi menghantam tanah.

​Tap. Tap.

​Kelima kultivator iblis itu seketika menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat seorang pemuda bertelanjang dada, memegang pedang berkarat yang sangat besar, berjalan dengan santai membelah kabut merah darah.

​"Siapa di sana?!" bentak salah satu kultivator iblis, mengarahkan tombaknya. Ia mencoba memindai fluktuasi Qi Awan, namun tidak menemukan apa-apa. "Manusia fana? Bagaimana seekor semut bisa menembus Kabut Penghisap Jiwa tanpa membusuk?"

​Pemimpin pucat itu menyipitkan matanya. "Manusia fana dengan pedang raksasa. Jangan-jangan dia adalah kuli tambang yang kabur? Bagus. Tarik dia ke dalam formasi. Daging yang penuh otot akan membuat Pil Darah kita semakin berkualitas."

​Dua kultivator iblis berpangkat rendah segera melesat maju. Keduanya berada di Pengumpul Qi Tingkat Lima. Mereka merapal segel dengan satu tangan.

​"Cambuk Darah Pengoyak!"

​Dua helai Qi berwujud cambuk merah tajam yang terbuat dari darah kotor melesat menyilang, mengincar leher dan kaki Awan. Cambuk ini sangat beracun; satu sentuhan saja bisa melelehkan kulit manusia hingga ke tulang.

​Awan tidak repot-repot menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat pedangnya.

​Ia hanya terus berjalan.

​Di dalam pikirannya, ia memusatkan niat membunuhnya, membentuk lapisan hampa setipis helai rambut yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Zirah Niat.

​TRANG! TRANG!

​Dua cambuk darah yang mematikan itu menghantam leher dan kaki Awan, namun menghasilkan suara seperti cambuk kulit yang dipukulkan ke atas lonceng baja. Cambuk itu terbelah dan hancur menjadi genangan darah kotor bahkan sebelum berhasil menyentuh kulit Awan, ditolak mentah-mentah oleh tameng Niat absolut yang melindunginya.

​"A-Apa?!" Kedua kultivator iblis itu terbelalak tak percaya.

​Itu adalah momen terakhir mereka berpikir di dunia ini.

​Awan menghentakkan kakinya. Langkah Besi Jatuh!

​Sosoknya lenyap. Dalam seperseratus detik, ia telah berada di hadapan kedua kultivator iblis itu. Pedang Bumi Pijar tidak diayunkan, melainkan didorong lurus ke depan dengan gagangnya, memanfaatkan massa pedang layaknya palu pendobrak.

​DUAAGH!

​Gagang pedang tiga ratus kilogram yang dilesatkan dengan kecepatan kilat itu menghantam dada kedua kultivator yang berdiri bersebelahan. Tulang dada mereka melesak seketika, jantung dan paru-paru mereka meledak di dalam akibat rambatan gelombang kejut kinetik. Keduanya terlempar sejauh belasan meter, menabrak tembok batu hingga hancur, mati sebelum tubuh mereka merosot ke tanah.

​Pemimpin pucat dan dua anak buahnya yang tersisa mematung. Senyum meremehkan di wajah mereka telah digantikan oleh teror murni.

​"M-Mustahil... Tanpa Qi..." Pemimpin pucat itu tergagap, mundur selangkah.

​Awan memutar pedang Bumi Pijar di tangannya, membuang sisa darah dari gagangnya. Ia menatap tiga kultivator iblis yang tersisa dengan pandangan hampa.

​"Lepaskan rantai itu," ucap Awan pelan, ujung pedangnya menunjuk ke arah formasi darah. "Dan aku akan membunuh kalian dengan cepat."

​"Sombong! Kepung dia! Gunakan sihir jarak jauh!" raung si pemimpin, menyembunyikan ketakutannya dengan amarah.

​Namun, belum sempat mereka mengangkat tangan untuk merapal mantra, Awan sudah memutar pinggulnya. Ia tidak melesat maju, melainkan memusatkan Cikal Bakal Niat Pedang-nya ke dalam bilah besi berkarat, lalu mengayunkannya ke udara kosong di depannya.

​Jurus Dasar: Menebas!

​ZRAAAAAASH!

​Sebuah bilah udara fana hasil kompresi atmosfer yang sangat brutal melesat keluar. Bentuknya melengkung layaknya sabit malaikat maut.

​Dua anak buah kultivator iblis itu tidak sempat bereaksi. Bilah udara fana itu menyapu mereka berdua di bagian pinggang. Perisai Qi tipis mereka robek seketika. Tubuh bagian atas mereka terpisah dari tubuh bagian bawah, jatuh ke tanah dalam hujan darah yang mengerikan.

​Hanya tersisa si pemimpin pucat, yang berdiri gemetar karena kebetulan ia berdiri sedikit lebih jauh di belakang.

​Melihat seluruh anak buahnya dibantai hanya dalam dua tarikan napas oleh manusia tanpa sihir, kewarasan si pemimpin pucat nyaris putus. Ia membalikkan badan, berniat melarikan diri ke dalam kabut.

​DHUM!

​Batu di bawah kaki Awan retak, dan dalam sekejap mata, Awan sudah berdiri memblokir jalan keluarnya. Tangan kiri Awan menjulur, mencengkeram leher pemimpin iblis itu dengan cengkeraman tang besi, mengangkat tubuh pria kurus itu dari tanah.

​"L-Lepaskan..." pria pucat itu meronta, memukulkan tinju berlapis Qi hitam ke dada Awan. Namun pukulannya tertahan oleh Zirah Niat, bahkan tidak mampu meninggalkan bekas. "K-Kau tidak tahu berurusan dengan siapa! Jika kau membunuhku, Formasi Kunci Darah di alun-alun ini akan meledak dan membunuh semua sandera itu!"

​Mata Awan sedikit menyipit, melirik ke arah formasi di belakangnya. Memang benar, tanpa kendali si pemimpin, formasi rantai itu mulai berdenyut liar dan mengeluarkan panas yang membuat penduduk desa menjerit kepanasan.

​Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah atap bangunan hancur di seberang alun-alun.

​Prok... Prok... Prok...

​Awan tidak menoleh. Ia sudah menyadari keberadaan hawa pembunuh lain sejak ia membunuh dua penjaga pertama.

​"Luar biasa," sebuah suara yang familier dan penuh arogansi menggema dari atas atap. "Seekor anjing fana ternyata benar-benar bisa menggigit iblis. Kuang Tua pasti sangat bangga melihat pertunjukan sirkusmu ini."

​Kabut berdarah di atas atap tersapu oleh hembusan angin spiritual yang kuat. Tiga belas sosok berpakaian hitam muncul, melayang turun dengan perlahan ke ujung alun-alun. Berbeda dengan kultivator iblis yang beraura menjijikkan, ketigabelas orang ini memancarkan aura angin dan logam yang sangat murni. Semuanya berada di Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan.

​Mereka adalah pembunuh bayaran elit dari faksi Tetua Wu dan Tetua Zhao di Sekte Dalam.

​"Orang-orang dari Sekte Daun Angin," ucap Awan datar, masih mencekik si pemimpin iblis.

​Pemimpin iblis yang tercekik itu tiba-tiba tertawa sumbang di sela-sela napasnya yang putus-putus. "Hahaha... Kau pikir ini kebetulan? Tuan-tuan pembunuh ini yang membayar kami dengan Batu Roh untuk menculik penduduk desa! Mereka tahu kau pasti akan dikirim kemari jika ada misi terkait Desa Tambang Besi Hitam! Kau masuk ke dalam jebakan, Fana!"

​Awan terdiam. Matanya beralih menatap para pembunuh sekte, lalu menatap penduduk desa yang sedang disiksa oleh formasi.

​"Jadi," suara Awan terdengar sangat dalam, menyimpan kemarahan yang membekukan darah. "Tetua sekte... yang seharusnya menjunjung tinggi jalan Dao ortodoks... bekerja sama dengan kultivator iblis, mengorbankan nyawa manusia fana yang tidak bersalah... hanya untuk membunuh satu orang pelayan tanpa Qi?"

​Pemimpin pembunuh bayaran sekte itu mendengus meremehkan. "Nyawa beberapa kuli fana adalah harga yang sangat murah untuk menyingkirkan aib sekte sepertimu. Tetua Wu menitipkan salam untukmu."

​Pemimpin pembunuh itu mengangkat tangannya. Tiga belas elit Sekte Dalam segera merapal formasi gabungan.

​Bukan untuk menyerang Awan, melainkan mereka mengaktifkan Formasi Pengunci Langit dan Bumi menggunakan pilar-pilar batu yang ternyata telah mereka tanam sebelumnya di empat sudut desa. Sebuah kubah energi berwarna emas gelap turun menyelimuti seluruh desa, mengunci ruang spasial.

​"Formasi ini akan memastikan tidak ada jimat teleportasi darurat yang bisa kau gunakan untuk melarikan diri," ucap si pembunuh elit dengan seringai licik. Ia lalu melirik ke arah pemimpin iblis di tangan Awan. "Dan untuk memastikan formasi darah itu meledak agar penduduk desa mati, kami akan membantumu membunuhnya."

​Sring!

​Salah satu pembunuh melepaskan bilah angin transparan dari jarinya. Bilah itu melesat melewati Awan, dengan sengaja mengincar kepala pemimpin kultivator iblis yang sedang dipegang Awan!

​Jika pemimpin iblis itu mati, formasi rantai akan meledak, membunuh semua penduduk desa yang ditawan. Dan dengan formasi pengunci desa yang aktif, Awan tidak punya tempat untuk lari. Ini adalah skenario sempurna untuk memfitnah Awan: dia akan mati di dalam desa, dan catatan sekte akan mengatakan Awan gagal dalam misi, menyebabkan penduduk desa tewas, lalu mati terbunuh oleh iblis.

​Namun, mereka meremehkan betapa mengerikannya refleks seorang petarung fisik yang memiliki Zirah Niat.

​Dalam waktu seperseribu detik sebelum bilah angin itu mengenai dahi si pemimpin iblis, Awan menarik tangannya yang mencekik iblis itu ke bawah, sambil memiringkan kepalanya sendiri.

​TRANG!

​Bilah angin mematikan itu menghantam leher Awan, dan langsung hancur menjadi serpihan udara akibat bertabrakan dengan Zirah Niat fana-nya.

​Ketiga belas pembunuh sekte itu tertegun. Sihir Puncak Tingkat Sembilan tidak bisa melukai kulitnya?!

​Awan menatap pemimpin kultivator iblis yang masih hidup dan meronta ketakutan di tangannya.

​"Kau bilang, jika kau mati, formasi itu meledak?" tanya Awan dingin.

​"Y-Ya! Karena itu biarkan aku hidup! Biarkan aku membatalkan—"

​"Aku tidak suka kerumitan sihir," potong Awan. Tangan kirinya bergerak bagai kilat, bukan mencekik, melainkan menekan titik akupuntur di tulang belakang kultivator iblis itu dengan tenaga yang menghancurkan syaraf motoriknya.

​Pemimpin iblis itu melolong, tubuhnya seketika lumpuh total, tetapi ia tetap hidup dan sadar. Awan kemudian melempar tubuh lumpuh iblis itu ke arah sudut alun-alun yang aman layaknya membuang karung beras. Karena iblis itu masih hidup, formasi rantai tidak meledak.

​Kini, Awan berbalik. Menghadap ketiga belas elit pembunuh bayaran sekte.

​Ia menurunkan pedang Bumi Pijar hingga ujungnya menggores tanah batu. Matanya yang hitam legam memancarkan kekosongan yang membuat hawa di dalam kubah formasi itu mendadak turun hingga ke titik beku.

​"Kalian mengunci pintunya," bisik Awan, mengayunkan lehernya hingga berbunyi gemeretak. "Tindakan yang sangat bodoh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!