NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1: Siapa?

System Glitch

Waktu: 07:15 AM

Kepalanya terasa seperti baru saja dihantam palu godam. Bukan sekadar pusing biasa, melainkan denyutan brutal yang seolah ingin membelah tengkoraknya menjadi dua.

Stella menarik napas dengan kasar, langsung tersedak oleh udara yang dipenuhi aroma menyengat. Bau alkohol murahan yang menguap bercampur dengan parfum bernuansa musk sintetik dan floral yang saking tajamnya, membuat isi perutnya bergejolak mual.

Ia membuka mata perlahan. Pandangannya kabur selama beberapa detik, dihiasi bintik-bintik hitam, sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar berpola ukiran emas yang luar biasa mewah. Sayup-sayup terdengar ritme konstan rintik hujan yang membentur kaca jendela besar di sisi ruangan.

Ini bukan kamarnya. Dan yang lebih penting... ini bukan hidupnya.

Ingatan terakhirnya sebelum kegelapan menelan kesadarannya adalah rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Sebuah kecelakaan? Penyakit? Semuanya masih terasa buram. Ia hanya ingat rasa dingin yang merayapi ujung-ujung jarinya, napas yang terputus, dan kemudian... tidak ada apa-apa. Kehampaan total.

"Ugh..." Stella mengerang, memaksakan diri untuk bertumpu pada sikunya dan duduk.

Tubuhnya terasa sangat aneh. Ada sensasi ringan yang tidak familier, tapi di saat yang sama otot-ototnya terasa lemas tak bertenaga, seolah ia baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer.

Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Ia berada di sebuah Presidential Suite bergaya klasik khas Eropa. Dari celah gorden tebal berwarna burgundy yang sedikit terbuka, ia bisa melihat siluet gedung-gedung tua kota London yang diselimuti kabut pagi yang basah.

Namun, pesona kota London sama sekali tidak tercermin di dalam kamar ini. Kondisinya lebih mirip kapal pecah setelah diterjang badai.

Pecahan gelas kaca berserakan di atas karpet beludru merah, bantal-bantal sofa terlempar sembarangan ke segala arah, dan di ujung kasur king-size yang berantakan, teronggok sebuah gaun malam berwarna merah menyala yang robek parah di bagian kerahnya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Stella menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

Napasnya tercekat seketika.

Matanya membelalak horor menatap tubuhnya sendiri. Ia hanya mengenakan pakaian dalam sutra hitam yang sangat, sangat minim.

Terlalu terbuka sampai-sampai ia merasa seperti sedang tidak memakai apa-apa. Kepanikan mulai merambat naik dari perut ke tenggorokannya, mencekik pita suaranya.

Tanpa membuang waktu, ia segera menyambar jubah mandi putih tebal berlogo The Grand Savoy London yang tersampir sembarangan di kursi terdekat.

Ia membungkus tubuhnya rapat-rapat, mengikat sabuknya kuat-kuat seolah itu adalah baju zirah pelindungnya, lalu terhuyung-huyung melangkah menuju kamar mandi bermarmer hitam di sudut ruangan.

Saat ia menyalakan lampu dan menatap bayangannya di cermin wastafel, Stella menahan napas. Tangannya mencengkeram tepi wastafel kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Orang asing menatap balik ke arahnya.

Wajah di cermin itu bukanlah wajahnya yang dulu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa struktur wajah ini memiliki pesona yang sangat kuat.

Garis keturunan campuran Asia-Amerika terlihat sangat kental dan tegas tulang pipi yang tinggi dan elegan, mata monolid yang tajam namun memikat, serta hidung bangir yang proporsional.

Tidak ada rambut merah menyala yang norak, melainkan gelombang rambut gelap kecokelatan yang sebenarnya terlihat sangat mahal. Seharusnya, itu adalah wajah yang bisa membuat siapa saja menoleh dua kali di jalan.

Sayangnya, kecantikan alami itu terkubur di bawah riasan yang mengerikan dan berlebihan. Eyeliner hitam tebal telah meluber ke bawah matanya akibat air mata atau keringat, membuatnya terlihat seperti rakun yang kurang tidur.

Lipstik merah terang menodai gigi, dagu, bahkan sudut bibirnya. Rambut bergelombangnya kusut masai seperti sarang burung yang baru saja diterjang angin topan.

Belum lagi aroma parfum menyengat yang sedari tadi menguar dari pori-pori kulitnya sendiri.

Itu sama sekali bukan wanginya. Ia benci wangi semacam ini. Ia selalu lebih suka sesuatu yang tenang, menenangkan, seperti aroma White Tea & Peony.

"Apa-apaan ini? Tubuh siapa ini?" Stella bergumam, suaranya terdengar serak, parau, dan sangat asing di telinganya sendiri.

Ia dengan panik menyalakan keran berlapis emas. Air es yang dingin mengalir deras.

Stella menangkupkan air ke wajahnya, mencucinya secara brutal, menggosok sisa-sisa makeup tebal itu hingga kulitnya memerah, berharap semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk akibat demam tinggi.

Tiba-tiba, sebuah suara elektronik yang dingin, datar, dan tanpa emosi menggema tepat di dalam tengkoraknya. Bukan melalui telinga, melainkan beresonansi langsung di dalam otaknya.

[ Ding! ]

[ Mendeteksi anomali pada detak jantung Host. ]

[ Proses netralisasi racun tingkat menengah di dalam aliran darah sedang berlangsung... 90%... 100%. Selesai. ]

[ Sinkronisasi jiwa 100% berhasil. Selamat datang di London, Host. ]

Gerakan tangan Stella membeku di udara. Air menetes perlahan dari dagunya, jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi tik... tik... tik... yang mendadak terdengar sangat keras.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Kamar mandi marmer itu kosong melompong. Hanya ada dirinya dan pantulannya di cermin.

"Siapa itu?! Siapa yang bicara?!" teriaknya, suaranya melengking menembus kesunyian kamar hotel mewah tersebut.

Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris melompat keluar dari rusuknya.

"Keluar! Jangan macam-macam denganku, aku bisa lapor kepolisian London sekarang juga! Di mana kau menyembunyikan speaker-nya?!"

[ Peringatan: Host terdeteksi mengalami tingkat kepanikan yang berisiko merusak pemulihan sel. Menyarankan Host untuk mengatur napas dan bersikap lebih rasional. ]

"Rasional?! Kau menyuruhku rasional setelah aku bangun di tubuh orang lain dan ada suara robot di kepalaku?!"

Stella menyambar sebuah botol kaca berisi bath salt dari rak, memegangnya tinggi-tinggi layaknya senjata mematikan.

Matanya menyalang liar ke setiap sudut ruangan, bersiap melempar botol itu ke siapa pun yang berani melangkah masuk.

Bukannya ketakutan atau memberikan ancaman balik, suara itu malah menghela napas.

Ya, suara elektronik tak berwujud itu terdengar menghela napas panjang dengan sangat manusiawi, seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan.

Tiba-tiba, udara di depan wajah Stella beriak. Setitik cahaya kebiruan muncul, berputar seperti pusaran air kecil, lalu membesar seukuran bola bisbol.

Cahaya itu meledak kecil dengan bunyi poof! yang pelan. Asap tipis mengepul di udara.

Dari balik asap itu, perlahan muncul sebuah siluet.

Itu adalah seekor rubah. Tapi bukan rubah biasa. Ukurannya tak lebih besar dari seekor anak kucing berusia dua bulan.

Bulunya seputih salju, terlihat luar biasa lembut dan bersih. Ia melayang begitu saja di udara, sekitar tiga puluh sentimeter dari wajah Stella, mengibaskan kesembilan ekor kecilnya dengan gerakan yang sangat elegan dan penuh kebanggaan.

Namun, yang membuat Stella kehilangan kata-kata hingga rahangnya nyaris jatuh ke lantai adalah ekspresi wajah hewan itu.

Rubah itu menyilangkan kedua kaki depannya di depan dada, menatap Stella dengan pandangan meremehkan yang luar biasa sombong.

Matanya yang berwarna biru es memancarkan kecerdasan dan keangkuhan yang tak wajar untuk seekor hewan peliharaan.

"Turunkan botol kaca itu, Bodoh. Kau pikir bisa melukaiku dengan benda murahan begitu? Atau kau mau memecahkannya lalu menangis karena kakimu tertusuk beling?"

Mulut kecil rubah itu bergerak, dan suara sarkas yang jernih keluar darinya, tak lagi terdengar seperti robot penerjemah.

Stella membelalak. Cengkeramannya mengendur. Botol bath salt di tangannya terlepas, jatuh berdebum ke atas keset handuk di lantai. "K-kucing mutan... bisa bicara?"

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!