Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti di Rumah Shofia
Suasana panik telah menyelimuti dinding rumah tersembunyi di kawasan Cikini, sebuah tempat tinggal Shofia dan Bianca yang sedang menumpang.
Peringatan keras dari Eshar di pasar Tanah Abang pagi tadi telah sampai ke telinganya, sehingga seolah menjadi sebuah bom waktu yang terus berdetik di kepala Bianca Megantara.
Dengan napas memburu dan tangan gemetar, wanita itu sibuk memindahkan berkas-berkas gelap, sertifikat tanah, dan catatan keuangan ilegal dari dalam brankas ke dalam sebuah tas kulit besar.
Sementara itu di sudut ruangan, Shofia terus menangis histeris. Suara isakan dan ratapannya yang tak kunjung berhenti membuat rasa tegang di dalam rumah yang cukup tua itu semakin mencekam.
"Diam, Shofia! Tutup mulutmu yang tidak berguna itu!" bentak Bianca, wajah sosialitanya kini benar-benar rusak oleh amarah yang meluap.
"Kekacauan di perusahaan milik Erica hari ini gagal total karena utusan bodohmu ditangkap! Jika kau terus menangis seperti anak kecil, Polisi Militer akan menemukan tempat ini lebih cepat!" tuduh Shofia dengan wajah murka.
"Aku takut, Ma!" jerit Shofia, air matanya meleleh membasahi pipinya yang pucat.
"Mas Daniel sudah dipenjara! Sekarang polisi Militer juga akan mencari kita! Aku tidak mau masuk penjara, Ma! Aku mau mengaku saja pada Paman Eshar dan Erica kalau semua ini ide Mama Bianca! Aku cuma ikut-ikutan!"
Mendengar kata 'mengaku', langkah Bianca seketika terhenti.
Matanya berkilat seperti sebuah racun pembunuh yang teramat dingin.
Dalam benak Bianca yang terdesak, Shofia kini bukan lagi sekadar seorang menantu siri atau komplotannya, melainkan saksi kunci yang bisa meruntuhkan seluruh sisa hidupnya.
"Kau mau mengkhianatiku, Shofia?" bisik Bianca dengan suara rendah yang mengerikan.
Secara impulsif, Bianca menyambar sebuah gunting kain berujung lancip dan tajam dari atas meja potong konveksi di dekatnya.
Dengan mata membelalak layaknya seorang pembunuh gila, Bianca menerjang Shofia, menyergap tubuh wanita muda itu hingga keduanya bergulingan di atas lantai kayu.
"Ma! Mama mau apa?! Lepaskan aku! Tolong!" teriak Shofia histeris saat menyadari niat keji Bianca.
Perkelahian kecil terjadi di antara mereka.
Shofia memberontak hebat, memukul dan menendang lengan Bianca untuk menyelamatkan nyawanya.
Namun, Bianca yang sudah kalap oleh rasa takut bertindak sangat beringas. Ia berhasil mengunci kedua tangan Shofia di lantai, menduduki perutnya, dan mengarahkan bilah gunting yang tajam itu tepat ke arah leher Shofia yang terbuka.
"Kau harus diam selamanya, Shofia!" raung Bianca, mengayunkan gunting itu turun dengan sekuat tenaga.
BRAK!
Pintu depan seketika dihantam hingga hancur berkeping-keping.
"Hentikan!"
Sebuah tembakan peringatan menggema keras di udara.
Dor!
Sebelum bilah gunting itu sempat merobek kulit leher Shofia, dua prajurit Polisi Militer berseragam tebal melompat masuk, menyergap Bianca dengan gerakan yang sangat cepat.
Gunting tajam itu terlempar ke sudut ruangan saat tubuh Bianca dihantam ke lantai dan kedua tangannya dipiting ke belakang dalam sekejap.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" jerit Bianca histeris, berontak bagai hewan buas yang tertangkap jerat.
Shofia merangkak mundur dengan tubuh gemetar hebat, memegangi lehernya yang hampir terpenggal sambil menangis terisak-isak di dekat sudut sofa.
Di tengah kepulan debu pintu yang hancur, Jenderal Eshar Megantara melangkah masuk dengan pembawaan yang dingin, seorang pemimpin tangguh, kokoh, dan mengintimidasi.
Di sampingnya, Erica Fiorenza berdiri tegap dengan pandangan mata yang dingin dan penuh siasat. Axelo dan tim Polisi Militer segera mengepung seluruh penjuru ruangan.
"Ini bisa masuk dalam pasal Percobaan pembunuhan berencana secara terang-terangan, Bianca." ujar Erica tenang.
"Kamu tidak lagi perlu alibi apa pun lagi di depan hukum. Karena bukti itu sudah ada d mata kami semua."
Mata coklat Eshar yang sedingin es perbatasan menatap Bianca yang kini meronta dalam cengkeraman prajurit Polisi Militer dengan borgol besi yang melilit kedua pergelangan tangannya.
Tidak ada lagi jalan keluar bagi sang Ratu Menteng, karena kejahatannya telah tertangkap tangan langsung di depan mata sang Jenderal.
"Bawa dia ke mobil tahanan," perintah Eshar datar pada anak buahnya.
"Siap, Jenderal!"
Saat prajurit Polisi Militer menyeret Bianca yang terus mengumpat secara histeris melewati Eshar, sang Jenderal mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar langkah mereka terhenti sejenak.
Eshar melangkah mendekati Bianca, menundukkan kepalanya hingga pandangan mata mereka berada di garis yang sama.
Aura dendam dan rasa sakit masa lalu terpancar begitu pekat dari ekspresi wajah Eshar.
"Satu pertanyaan terakhir sebelum kau membusuk di sel tahanan, Bianca," bisik Eshar, suaranya berat, rendah, dan bergaung bagai guruh di tengah kesunyian ruangan.
"Siapa sebenarnya yang menaruh racun arsenik di dalam minuman kakakkku, Viona, puluhan tahun lalu? Apakah kau yang melakukannya sendirian, atau atas perintah Benny?"
Bianca mendongak, menatap Eshar dengan tawa sumbang yang getir dan penuh dengan rasa benci yang mendalam.
Wajah cantiknya yang kini hancur menyunggingkan senyuman sinis yang mengerikan.
Dia tahu karier dan kehidupannya telah hancur total hari ini, dan dia tidak memiliki alasan lagi untuk melindungi rahasia busuk kediaman mewah di Menteng.
"Kau ingin tahu tentang racun itu, Eshar?" desis Bianca, napasnya memburu kencang.
"Carilah buku harian Viona di kediaman utama Megantara... Buku harian itu ada di dalam kamar pribadi Viona yang selama ini dikunci rapat. Aku menyembunyikannya di dalam sebuah peti kayu kecil di bawah rangka kasurnya... Carilah di sana, Eshar! Semoga belum ada yang melenyapkan bukti itu sebelum kau menyentuhnya. Itu pun jika kau beruntung! "
Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Bianca tertawa keras bagai orang gila saat prajurit Polisi Militer menyeret tubuhnya keluar dari rumah Cikini menuju jip tahanan yang sudah bersiaga.
Erica melangkah mendekati Eshar, mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jemari tegap suaminya yang terkepal keras.
Dia bisa merasakan getaran amarah dan rasa sakit yang mendalam di tubuh tegap Eshar saat ingatan tentang mendiang Viona kembali terpanggil.
"Kita akan bersiap untuk pergi ke Menteng sekarang, Eshar," bisik Erica lembut, menyalurkan dukungan dan kehangatan yang tulus pada pria di sampingnya.
"Kita akan menemukan buku harian itu dan menyelesaikan semua dendam di masa kecilmu."
Eshar menoleh, menatap wajah cantik istrinya dengan wajah sedih. Tapi rasa percaya dan cinta yang tak terukur itu membuatnya kembali tegar.
Eshar mengangguk pelan. Keadilan untuk Viona kini hanya berjarak beberapa langkah lagi di dalam istana tua klan Megantara.
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂
tp dtggu pake banget kelanjutan ny yx kak ,,
niat hati mau menjatuhkan ,,
eeeh malah jatuh sendri sejatuh2nya ,,
emnk anda berdua cocok menjadi mertua Dan menantu ,,
😒😒😒😒