Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Bara di Pulau Tengkorak Hitam dan Pembantaian di Dermaga Rahasia
Tiga hari berlalu sejak runtuhnya kekuasaan Adipati Bhre Wirabhumi di Dataran Tinggi Watu Tulis.
Ibu kota Kadipaten Blambangan, yang semula mencekam di bawah bayang-bayang kabut darah ritual terlarang, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kestabilan yang dipaksakan.
Di bawah pengawasan dingin Dyah Sekar Ayu dan jaringan mata-mata elite Kadiri, para pejabat kadipaten yang tersisa berlutut tanpa syarat, menandatangani pakta penyerahan seluruh jalur upeti dan lumbung pangan timur.
Namun, fokus Satria Pamungkas telah bergeser jauh dari kemegahan duniawi istana dalam. Baginya, Blambangan hanyalah wilayah taklukan yang sudah diperas habis poin sistemnya. Target aslinya kini berada di bentangan Samudra Selatan yang ganas—sebuah titik merah pada peta perkamen kuno yang bernama Pulau Tengkorak Hitam.
Sebuah kapal perang bertiang tiga milik mendiang Adipati Blambangan membelah ombak malam yang bergulung tinggi. Di ujung anjungan kapal, Satria berdiri menentang angin laut yang membawa hawa mistis nan pekat. Di bawah lindungan caping bambunya, sepasang mata emas tipisnya menatap lurus ke arah gugusan pulau karang yang mulai muncul di balik kabut laut tebal.
[Bip! Mendekati wilayah kekuasaan Faksi Bajak Laut Laut Selatan: 'Pulau Tengkorak Hitam'.]
Zona Deteksi: Medan Energi Ghaib Pengikis Jiwa Skala Menengah.
Analisis Target: Terdeteksi 300 Kultivator Rendahan (Ranah Wira), 5 Kapten Armada (Ranah Satria), dan 1 Tetua Barisan Depan (Ranah Senopati Tahap 4).
Misi Tersembunyi: Hancurkan pangkalan aju Faksi Laut Selatan.
Hadiah Eksklusif: 80.000 Poin Sistem dan Formula Penempaan Ulang Senjata Ghaib Puncak.
Melihat kalkulasi hadiah dari sistem yang begitu menggiurkan, sudut bibir Satria tersenyum dingin. Ranah kekuatannya yang baru saja stabil di Ranah Senopati Tahap 2, dipadukan dengan Tubuh Fisik Sisik Naga, membuatnya merindukan sebuah pertempuran berdarah untuk menguji batas kekuatannya yang baru.
Di sampingnya, Dyah Sekar Ayu melangkah dengan anggun. Rambut hitam panjangnya berkibar ditiup angin laut, sementara tangan kanannya menggenggam erat selendang sutra hijau yang telah dialiri energi Mantra Cundamani. Di jari manisnya, Cincin Intan Segoro Muncar memancarkan kilau putih pelindung yang menghalau kabut beracun samudra di sekitar kapal mereka.
"Satria, kabut di depan kita bukan kabut fana," ucap Sekar Ayu dengan suara merdu namun penuh kewaspadaan. "Ini adalah Mantra Tirai Air Raksa. Siapa pun yang bernapas tanpa perlindungan Prana tingkat tinggi akan mendapati paru-parunya mencair dalam waktu sepuluh hitungan."
"Tirai lapuk seperti ini tidak layak menghentikan langkahku, Sekar Ayu," jawab Satria datar.
Sreeeng!
Pedang Bintang Tujuh Kedewaan ditarik keluar dari sarungnya. Bilah hitam legamnya kini tampak memiliki guratan perak yang jauh lebih padat setelah menyerap sebagian kecil esensi logam meteorit purba selama pelayaran. Tujuh permata rasi bintang menyala serentak, memancarkan hawa dingin yang luar biasa hingga membekukan percikan air laut yang menghantam lambung kapal.
"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Pertama: Belahan Arus Samudra!"
Satria mengayunkan pedangnya secara vertikal ke arah depan dengan satu gerakan menebas yang santai. Namun, dampak yang dihasilkan sungguh mengerikan. Seberkas cahaya perak vertikal setinggi dua puluh meter melesat membelah kabut tebal, menciptakan jalur kosong yang bersih sejauh satu kilometer. Kabut air raksa itu terbelah menjadi dua bagian, memperlihatkan sebuah dermaga batu hitam rahasia yang tersembunyi di balik dinding pulau karang.
Di atas dermaga tersebut, puluhan kapal perompak berbendera hitam bergambar tulang ikan raksasa sedang bersandar. Ratusan kultivator berjubah abu-abu koyak—serupa dengan mendiang Surokolo—tampak sedang sibuk memindahkan peti-peti jarahan. Mereka terbelalak melihat kabut pelindung pulau mereka terbelah secara paksa dari luar.
"Penyusup! Ada kapal asing menyerang!" teriakan panik bergaung di sepanjang dermaga, disusul oleh suara tabuhan gong perang yang bertalu-talu.
"Sekar Ayu, hancurkan kapal-kapal mereka. Jangan biarkan satu pun dari tikus laut ini melarikan diri menggunakan jalur air," perintah Satria sembari melompat dari anjungan kapal, melesat menembus udara seperti burung elang hitam yang mengincar mangsanya.
"Hamba laksanakan, Satria!"
Sekar Ayu melompat ke atas tiang layar utama, tubuhnya melayang dengan anggun di bawah sinar bulan. Ia mengayunkan kedua tangannya ke arah dermaga, memicu resonansi spiritual terbesar dari Darah Suci Dewi Sri.
Mantra Cundamani: Hujan Jarum Penghancur Sukma!
Wush! Wush! Wush! Wush!
Langit malam di atas Pulau Tengkorak Hitam mendadak dipenuhi oleh ribuan, bahkan belasan ribu jarum cahaya putih keemasan yang berkilauan bagai badai meteor fajar. Jarum-jarum ghaib tersebut menukik tajam dengan kecepatan suara, menghujani kapal-kapal perang bajak laut dan barisan kultivator di dermaga.
BOOM! BOOM! CRASH!
Ledakan demi ledakan spiritual pecah seketika. Kapal-kapal kayu jati bersertifikat sihir milik Faksi Laut Selatan hancur berkeping-keping menjadi puing-puing yang terbakar. Jarum-jarum cahaya Sekar Ayu menembus zirah-zirah kulit pelindung para kultivator rendahan dengan sangat mudah, memicu pembakaran internal yang membuat tubuh mereka meledak menjadi kabut darah sebelum sempat menarik senjata mereka.
[Bip! Heroine Dyah Sekar Ayu memusnahkan unit garis depan bajak laut (85 Kultivator Ranah Wira).]
[Memicu akumulasi Harem Feedback Loop!]
[Mendapatkan: 8.500 Poin Sistem.]
Sementara Sekar Ayu membersihkan langit dan jalur pelarian, Satria mendarat dengan dentuman keras tepat di tengah-tengah kerumunan pertahanan dermaga. Lantai batu hitam dermaga hancur membentuk kawah sedalam setengah meter akibat momentum pendaratannya.
Tiga orang Kapten Armada berambut gimbal yang berada di Ranah Satria Tahap 7 langsung mengepung Satria dari tiga arah berbeda. Di tangan mereka, gada berduri dan parang raksasa telah dilapisi oleh Prana Hitam Pengikis Tulang yang mendesis ghaib.
"Bocah keparat! Beraninya kau mengacau di wilayah Faksi Laut Selatan!" raung salah satu kapten sembari mengayunkan parang raksasanya lurus ke arah leher Satria.
Satria berdiri diam tanpa niat untuk menghindar. Sifat anti-hero-nya yang arogan namun penuh perhitungan sengaja ingin menguji Tubuh Fisik Sisik Naga-nya yang baru dievolusikan.
TANGGGG!
Parang raksasa berenergi korosif itu menghantam leher Satria dengan telak. Namun, bukannya memotong daging atau melelehkan kulit, senjata tersebut justru terpental kembali dengan suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Di bawah jubah hitam Satria, kilauan sisik naga transparan samar-samar meredam seluruh energi pengikis tulang tersebut, mengubahnya menjadi percikan api spiritual yang tidak berbahaya.
"Apa?! Leher macam apa itu?!" kapten perompak itu terbelalak, tangannya gemetar hebat menahan serangan balik dari senjatanya sendiri.
"Hanya sebegini kekuatan kapten armada kalian? Sungguh mengecewakan," bisik Satria dingin.
Sret!
Dengan kecepatan yang tidak dapat ditangkap oleh indra Ranah Satria, Satria mengayunkan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan dalam lintasan melingkar yang sempurna.
CRASH! CRASH! CRASH!
Tiga kepala kapten armada melayang ke udara bersamaan, disusul oleh tubuh tanpa kepala mereka yang tumbang bersimbah darah hitam ke atas lantai dermaga yang hancur.
[Bip! Anda telah membantai 3 Kapten Armada (Ranah Satria Tahap 7).]
[Mendapatkan: 30.000 Poin Sistem.]
Melihat tiga pemimpin mereka tewas dalam satu gerakan santai, sisa-sisa kultivator rendahan di dermaga langsung kehilangan seluruh nyali bertarung mereka. Mereka melemparkan senjata mereka dan mencoba berlari menuju gua karang di dalam pulau, berteriak meminta pertolongan tertinggi.
"Tetua Surogati! Tolong kami! Monster... monster dari daratan utama datang membantai kita!" Jerit keputusasaan mereka menggema, memecah malam yang kian pekat di Pulau Tengkorak Hitam.
Satria tidak mengejar tikus-tikus kecil yang melarikan diri itu. Ia mengibaskan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan untuk membersihkan noda darah hitam di bilahnya, lalu menatap tajam ke arah mulut gua karang raksasa di depannya. Dari dalam kegelapan gua tersebut, sebuah tekanan aura ghaib yang jauh lebih masif—Ranah Senopati Tahap 4—mulai merambat keluar, membawa serta aroma kematian yang sangat pekat dari dasar laut dalam.