Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kelompok Ghoul
"Ramai sekali. Sedang apa mereka?" gumam Elara penasaran.
Didorong oleh rasa lapar yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi, ia melangkah keluar dari kegelapan hutan dan berjalan menghampiri kerumunan orang tersebut tanpa rasa takut.
Sementara itu, Edgard yang masih berada di atas dahan pohon bersiap untuk melompat turun guna menyusul Elara. Namun, niatnya seketika terhenti saat rombongan serigala penjaga perbatasan Pack Blue Light tiba-tiba muncul dan menghampirinya.
Syuuutt!
Salah satu pemimpin Beta bernama Bastian melompat dengan lincah, menapakkan kakinya di dahan pohon yang sama, tepat di sebelah Edgard.
"Sedang apa kau di sini larut malam begini, Edgard?" tanya Bastian penuh selidik.
"Aku hanya baru pulang dari Kastil Salvatore," jawab Edgard dengan nada suara sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan kegugupannya agar sang Beta tidak mengendus aroma Elara yang melekat padanya.
"Kukira dia sedang berkencan atau sengaja mencari seorang gadis di tengah hutan ini, Bas," sahut Lyall, salah satu prajurit serigala lainnya yang berdiri di bawah pohon sembari menyeringai jenaka.
"Jangan mengatakan hal itu, Lyall. Dia masih patah hati," sahut Aris menimpali dari bawah sambil terkekeh jahil, ikut memanaskan suasana.
"Tapi, kalau dia memang patah hati karena gadis bernama Elisa itu, kenapa dia malah mengunjungi Kastil Salvatore yang justru menjadi tempat tinggal Elisa sekarang? Jangan-jangan kau belum bisa move on dan berniat merebut istri dari sepupumu sendiri, ya?" celetuk Max dengan seringai menggoda yang kian lebar.
Edgard mendengus kasar. Kehadiran para serigala penjaga ini benar-benar merusak fokusnya. Bayangan tentang Elara yang berjalan sendirian ke arah kerumunan asing di tepi sungai membuat dadanya bergemuruh cemas.
"Berhenti mengataiku. Bualan kalian sama sekali tidak lucu," potong Edgard ketus, menatap tajam ke arah Max dan Lyall bergantian untuk membungkam mulut mereka.
BRUKK!
Edgard melompat turun dari atas dahan pohon, mendarat mulus di atas tanah basah dan langsung disusul oleh Bastian. Tanpa memedulikan tatapan rekan-rekannya, Edgard melengos pergi begitu saja. Namun, suara bariton Bastian berhasil menghentikan langkah kakinya.
"Hei, kawan. Maafkanlah kedua teman jahilmu itu," ujar Bastian, mencoba mencairkan suasana.
"Aku ke mari memang berniat untuk menjemputmu pulang. Kau tahu sendiri bagaimana tabiat Alpha Ethan. Pamanmu itu sangat cerewet dan mendesak kami untuk segera membawamu pergi dari wilayah Kastil Salvatore. Pamanmu bahkan mengamuk pada kami hanya karena kau akhir-akhir ini sering kelayapan keluar pack tanpa izin darinya ataupun orang tuamu."
"Bilang padanya, aku masih ada urusan," jawab Edgard ketus tanpa berbalik, lalu kembali mengayunkan langkahnya.
"Hei, hei, hei! Jangan begitu, sobat," cegah Max, menahan lengan Edgard. "Jika kau tidak pulang sekarang, bisa dipastikan perabotan di mansion megah milik pamanmu itu akan melayang lagi ke arah kami. Sudahlah, Edgard. Untuk apa kau bersedih hati terlalu lama? Relakan saja wanita itu. Semakin sering kau berkunjung ke sana, kau akan semakin susah untuk move on. Aku tahu kau—"
LEP!
Sebelum Max sempat menyelesaikan kalimatnya, Edgard yang sudah kepalang kesal langsung meraup segenggam dedaunan liar di sekitarnya dan menjejalkannya ke dalam mulut pemuda itu.
"Huwekk! Sialan kau, Edgard! Memangnya aku seekor kambing?!" umpat Max kesal setelah berhasil memuntahkan dedaunan tersebut. Tangannya sibuk membersihkan sisa-sisa tanaman yang masih menempel di bibirnya.
"Seenaknya saja kau menyumpal mulutku dengan rumput liar!"
"Siapa suruh mulutmu itu tidak ada remnya? Kau berisik sekali," desis Edgard tajam. "Sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur tentang masalah pribadiku!"
Sontak, Aris dan Lyall tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan konyol itu. Namun, sebagai pemimpin pasukan Beta, Bastian hanya bisa menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pemuda di depannya.
"Jangan keras kepala, Edgard. Pulanglah," ucap Bastian dengan nada yang lebih serius. "Kami tidak mau mendapat masalah lagi jika kau terus berkeliaran di luar teritori ras kita malam-malam begini. Kau tahu sendiri bagaimana ketatnya Alpha Oliver. Kakekmu itu mengancam akan memberikan hukuman berat jika kau melanggar lagi. Dia bilang, dia tidak akan segan-segan menggantungmu terbalik di tiang gerbang pack."
Edgard mengepalkan tinjunya erat-erat. Di satu sisi, insting serigalanya terus berteriak untuk mengejar aroma manis bunga sedap malam milik Elara di tepi sungai. Namun di sisi lain, kepungan para Beta dan ancaman dari kakeknya membuat ia tidak memiliki pilihan selain mundur untuk sementara waktu.
"Ck, sialan!" rutuk Edgard kesal. Dengan langkah berat dan entakan kaki yang penuh amarah, ia akhirnya berbalik arah, berjalan memimpin rombongan menuju ke wilayah pack mereka.
****
"Permisi, Nyonya, Tuan-Tuan sekalian. Bolehkah aku meminta sedikit makanan?" ucap Elara begitu ia berhasil mencapai tepi sungai dan berdiri di dekat kerumunan tersebut.
Seketika itu juga, obrolan hangat di sekitar api unggun terputus. Atensi mereka sepenuhnya teralih pada Elara. Delapan orang yang terdiri dari tiga wanita dan lima pria itu serempak menoleh.
Tatapan mereka tampak ganjil, dengan senyuman yang terulas terlalu lebar dan kaku di wajah masing-masing—seolah-olah mereka baru saja melihat sesuatu yang sangat menarik.
"Kemarilah, Nona. Kebetulan daging panggangnya masih tersisa sedikit. Mungkin cukup untuk sekadar mengganjal perutmu yang lapar," ucap seorang pria kurus sembari melambaikan tangan, memberi isyarat agar Elara mendekat.
Didorong oleh rasa lapar yang tak tertahankan, Elara melangkah maju dan duduk di samping pria kurus tersebut.
"Makanlah. Habiskan semuanya," timpal salah satu wanita bertubuh tinggi berisi, menatap Elara dengan binar mata yang aneh.
"Terima kasih banyak, Nyonya," sahut Elara.
Tanpa memedulikan rasa canggung atau tatapan janggal dari orang-orang di sekelilingnya, Elara langsung melahap dua potong daging seukuran kepalan tangan itu. Ia makan dengan lahap hingga makanan tersebut habis tak tersisa.
Erkkk!
Elara refleks bersendawa saking kenyangnya. "Maaf," gumamnya, mendadak merasa tidak enak karena telah bertindak kurang sopan di depan orang asing.
"Kau ini datang dari mana, Nona? Kenapa penampilanmu sangat berantakan seperti ini? Dan... kenapa kau sama sekali tidak mengenakan alas kaki?" tanya pria kurus tadi, matanya melirik ke arah kaki Elara yang penuh luka lecet.
"Aku dari Kota Blue Waves. Aku memang tidak punya pakaian yang layak, apalagi alas kaki. Aku... belum sempat membelinya," jawab Elara berbohong, mencoba menyembunyikan identitas aslinya.
"Wah, ternyata perjalananmu jauh sekali. Tapi melihat ketahanan tubuhmu, tampaknya kau bukan seorang manusia fana," ucap pria itu lagi sembari menyipitkan mata.
Elara sedikit menegang. "Dari mana Anda tahu jika aku bukan manusia?"
"Tentu saja karena kami semua di sini juga bukan manusia," jawab pria itu, lalu terkekeh pelan dengan suara yang terdengar parau dan dingin.
"Apa?!" Elara tersentak, insting predatornya seketika waspada.
"Jangan membuatnya terkejut seperti itu. Kau bisa menakutinya," timpal seorang wanita lain yang mengenakan jaket wol tebal.
Wanita itu melepas jaketnya lalu menyodorkannya kepada Elara. "Pakailah ini, Nona. Angin malam di Hutan Luminara bisa sangat menusuk tulang."
"Terima kasih, Nyonya," ucap Elara sembari menerima dan langsung mengenakan jaket tersebut untuk menutupi kemeja longgar milik Edgard.
"Sebenarnya... kalian ini berasal dari ras mana? Apakah kalian bangsa Werewolf atau sekelompok Rogue yang sedang mengembara?" tanya Elara penasaran.
"Bukan keduanya," sahut salah seorang pria bertubuh kekar dari seberang api unggun. Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat kelam dan lapar. "Kami adalah Ghoul."
Elara terdiam seketika. Sebagai seorang Siren yang seumur hidupnya hanya tinggal di kedalaman laut dan baru pertama kali menginjakkan kaki di daratan, nama ras itu terasa sangat asing di telinganya. Ia sama sekali tidak tahu bahaya mengerikan apa yang sedang mengintainya saat ini.
"Ghoul? Aku baru pertama kali mendengarnya," ucap Elara, berusaha menyembunyikan kecurigaannya. "Apa kalian ras baru, atau ras pindahan dari benua seberang?"
"Hahaha!"
Gelak tawa serempak bergema dari delapan orang di sekeliling api unggun tersebut. Suara tawa mereka terdengar parau, kering, dan mengerikan—seperti gesekan tulang belulang yang retak.
"Tampaknya kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kami, Nona. Eksistensi kami bahkan jauh lebih kuno daripada manusia fana. Tapi baguslah jika kau buta tentang ras kami. Itu akan membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah bagi kami,"