NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rahasia di balik pintu kerja

Sinar matahari hari Sabtu pagi masuk menembus celah-celah gorden vertikal di ruang tengah, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu yang bersih. Hari ini tidak ada jadwal kuliah maupun bimbingan resmi di kampus, membuat suasana di dalam apartemen unit 1507 terasa jauh lebih santai dan tenang dibandingkan hari-hari biasa.

Aku baru saja selesai menyeduh segelas teh melati hangat kesukaanku ketika pandanganku tidak sengaja tertuju pada pintu ruangan kerja Mas Arkan yang terletak di sudut ruang tengah, tepat di sebelah kamar tidurnya.

Pintu kayu jati tebal itu tampak sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter yang memperlihatkan bagian dalam ruangan yang biasanya selalu tertutup rapat dan terkunci dari luar. Selama hampir dua minggu tinggal bersama di sini, aku belum pernah sekalipun menjejakkan kakiku masuk ke dalam ruangan pribadi yang sangat dijaga kerahasiaannya oleh Mas Arkan itu.

Rasa penasaran yang sangat besar seketika membuncah di dalam dadaku.

Sembari membawa gelas teh hangatku dengan sangat hati-hati, aku melangkah mendekati celah pintu tersebut dengan gerakan kaki yang sangat lambat dan tanpa suara. Aku mengintip perlahan ke dalam.

Di balik meja kerja jatinya yang besar, Mas Arkan tampak sedang duduk tegak menghadap ke arah layar monitor ganda komputernya yang menyala terang menampilkan baris-baris kode pemrograman rumit berwarna hijau dan putih.

Namun, yang membuatku terkejut adalah penampilannya saat ini. Pria itu tidak mengenakan kemeja formal atau kaos polo rapi seperti biasanya ia hanya mengenakan kaos oblong abu-abu pudar yang terlihat sedikit longgar di tubuhnya dan sebuah kacamata baca berbingkai hitam tebal yang bertengger manis di hidung kokohnya. Rambut hitamnya tampak sedikit berantakan dan mencuat ke berbagai arah menunjukkan bahwa ia sudah menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer sejak subuh tadi tanpa sempat merapikan diri.

Ternyata Mas Arkan kalau lagi pusing ngerjain riset bisa kelihatan berantakan juga ya, batinku tersenyum geli melihat sisi manusiawi suamiku yang sangat langka ini.

Tok... Tok...

Aku mengetuk daun pintu yang terbuka itu dengan sangat pelan menggunakan ujung jariku. "Mas Arkan? Boleh Karin masuk?"

Mas Arkan sedikit tersentak kaget mendengar suaraku. Ia menoleh cepat ke arah pintu, lalu dengan gerakan refleks yang sangat terburu-buru, ia menekan beberapa tombol di keyboard komputernya hingga layar monitor gandanya seketika berubah menjadi gelap gulita.

Sikap defensifnya yang sangat mendadak itu membuatku sedikit tertegun di ambang pintu.

"Karin? Ada apa?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar sedikit gugup, sebuah reaksi yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang pria yang selalu tampil penuh kendali diri seperti dirinya.

"Ini... Karin cuma mau mengantarkan teh melati hangat buat Mas Arkan. Tadi pas lewat, Karin lihat pintu ruangannya agak terbuka," ujarku ragu-ragu sembari melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan gerakan yang sangat sopan.

Tata letak di dalam ruang kerja Mas Arkan benar-benar sangat mencerminkan kepribadiannya yang perfeksionis dan teratur. Di sepanjang dinding sebelah kanan, berdiri sebuah rak buku raksasa yang dipenuhi oleh ratusan buku tebal berbahasa asing tentang jaringan komputer, kriptografi, keamanan siber, dan jurnal-jurnal ilmiah internasional. Di sudut ruangan, ada sebuah papan tulis kaca berukuran sedang yang dipenuhi oleh coretan rumus matematika rumit dan diagram alir sistem yang ditulis menggunakan spidol hitam.

Aku meletakkan gelas teh hangat di atas meja jatinya, tepat di sebelah tumpukan kertas dokumen risetnya yang tebal. "Silakan diminum, Mas. Mumpung masih hangat."

"Terima kasih, Karin," jawab Mas Arkan sembari melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja kerja. Ia memijat pangkal hidungnya perlahan dengan ekspresi wajah yang tampak sangat lelah.

"Mas Arkan lagi ngerjain proyek apa sih sampai kelihatan pusing banget gitu?" tanyaku penasaran, melirik sekilas ke arah layar komputer gandanya yang kini sudah mati sepenuhnya. "Proyek rahasia ya, Mas?"

Mas Arkan terdiam sejenak mendengar pertanyaannya. Ia menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kerja kulitnya.

"Bukan proyek rahasia, Karin. Ini adalah draf proposal penelitian gabungan antara fakultas teknik kita dengan salah satu universitas teknologi di Jepang untuk pengembangan sistem keamanan enkripsi data medis pasien rumah sakit," jelasnya dengan nada suara yang sangat tenang dan profesional. "Deadline pengumpulannya tinggal tiga hari lagi, tapi saya masih belum menemukan algoritma enkripsi yang paling efisien untuk diterapkan pada sistem tersebut."

Mendengar penjelasannya yang sangat rumit, aku hanya bisa mengangguk-angguk paham meskipun tidak sepenuhnya mengerti detail teknisnya. Namun, ada satu hal yang bisa kupahami dengan sangat jelas saat ini: suamiku sedang berada di bawah tekanan kerja yang sangat luar biasa besar demi mempertahankan reputasi akademisnya yang cemerlang.

Aku melangkah sedikit lebih dekat ke arah meja kerjanya, menopang kedua tanganku di atas pinggiran kayu meja sembari menatap wajah lelahnya dengan seulas senyuman tulus yang sangat hangat.

"Mas Arkan pasti bisa menyelesaikannya tepat waktu kok. Kan Mas Arkan dosen pembimbing Karin yang paling pinter dan paling hebat satu fakultas teknik," ujarku tulus, mencoba memberikan semangat kecil untuk menghibur hatinya yang sedang penat.

Mas Arkan tertegun mendengar ucapan polosku yang mengalir begitu saja tanpa paksaan. Tatapan matanya yang tadinya tampak lelah dan dingin perlahan-lahan mulai melembut dengan binar kehangatan yang sangat manis. Seulas senyuman tipis yang sangat tulus akhirnya perlahan terukir di kedua sudut bibirnya yang tegas.

Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, meraih pergelangan tangan kananku yang bertumpu di atas meja jatinya dengan genggaman tangannya yang sangat hangat, kokoh, namun terasa sangat lembut di kulitku.

Sentuhan jemarinya yang tiba-tiba membuat jantungku refleks berdegup kencang tak karuan. Aku memandangi jemari tangannya yang besar dan kokoh sedang melingkari pergelangan tanganku dengan sangat protektif, merasakan getaran debaran yang luar biasa hebat menjalar dari ujung jari tangannya langsung menuju ke dalam lubuk hatiku yang terdalam.

"Terima kasih atas dukungannya, Karin," bisiknya dengan suara berat yang sangat rendah dan serak dari jarak dekat, menatapku lurus-lurus dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang memancarkan ketulusan yang sangat murni. "Dukungan sederhana dari kamu... ternyata jauh lebih menenangkan daripada ratusan cangkir kopi yang saya minum sejak subuh tadi."

Mendengar penuturannya yang begitu hangat dan penuh perasaan, pipiku seketika mendadak kembali memanas luar biasa hebat. Aku menundukkan kepalaku sedikit untuk menyembunyikan wajah merah padamku, merasakan seluruh fokus duniaku saat ini seolah-olah menyusut drastis hanya menyisakan kehangatan genggaman tangannya dan debaran jantung kami berdua yang saling bersahutan dengan sangat kencang di dalam kesunyian ruang kerja sore itu.

Hubungan pernikahan kontrak kami yang awalnya dimulai karena sebuah keterpaksaan situasi darurat, kini rasanya telah sepenuhnya berubah menjadi jalinan emosi baru yang sangat nyata, mendalam, dan sangat mendebarkan setiap harinya bagi kami berdua di dalam apartemen unit 1507 ini.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!