NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 26

Dharmaseta beserta istri dan dua anak gadisnya menghaturkan hormatnya ketika penguasa kerajaan Kanjuruhan itu memasuki aula. Senyum mereka berempat mengembang, menandakan kebahagiaan setelah lama tak berjumpa.

"Saudaraku, Dharmaseta. Kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahu dulu kalau kau mau berkunjung ke istana ini dengan anak dan istrimu?" Raja Gajayana menatap Dharmaseta heran. Sepertinya ada yang berbeda dengan sepupu jauhnya itu.

"Di mana seragam kebesaranmu sebagai Senopati Agung kerajaan Gandara? Kenapa kau tidak memakainya?" lanjut Raja Gajayana bertanya.

Dharmaseta tersenyum kecut mendapat pertanyaan tentang masa lalunya itu. Tapi tidak menjawab pertanyaan seorang raja adalah sebuah penghinaan buat sang raja itu sendiri, apalagi Raja Gajayana masih terhitung saudara dengannya.

"Mohon maaf, Paduka ... Kalau boleh jujur, hamba tidak lagi menjadi Senopati Agung. Tenaga dan pikiran hamba sudah tidak dipakai lagi di sana. Raja Barawijaya ..." Dharmaseta menghentikan ucapannya. Dia sulit berbicara tentang situasi yang akan segera terjadi.

"Ada apa dengan Raja Barawijaya? Apakah dia sudah memecatmu?" Dahi Raja Gajayana yang dipenuhi keriput, semakin terlihat tebal. Raja yang sudah memasuki usia senja itu keheranan dengan jawaban dari Dharmaseta.

Secara umur, sepupunya itu kurang lebih 10 tahun di bawahnya, dan masih layak menjadi seorang Senopati Agung. Tentunya mengherankan baginya yang mengetahui betul bagaimana proses kaderisasi di sebuah kerajaan.

"Hamba tidak dipecat, Paduka, tapi hamba mengundurkan diri dari jabatan Senopati Agung," jawab Dharmaseta lirih. Wajahnya yang teduh tertunduk menatap ke lantai.

Raja Gajayana menaikkan kedua alisnya. Dia masih belum paham dengan duduk situasi yang sedang terjadi. Jawaban Dharmaseta masih ambigu menurutnya.

"Sebentar, Dharmaseta ... Kau bilang tadi jika tenaga dan pikiranmu sudah tidak dipakai di sana, tapi baru saja kau bilang jika mengundurkan diri dari jabatanmu. Yang benar mana?"

Dharmaseta sulit untuk beralibi lagi. Meski kerajaan Gandara adalah tanah kelahirannya, tapi jika dipimpin oleh seorang raja yang tidak memiliki sifat manusiawi, maka dia tidak peduli jika harus melawan tanah airnya sendiri. Tujuannya melawan tentu karena ingin yang terbaik bagi kerajaan Gandara beserta rakyat untuk ke depannya.

"Keduanya benar, Paduka. Raja Barawijaya punya rencana untuk memperluas wilayah kerajaannya, dan kerajaan pertama yang berusaha ditaklukkannya adalah kerajaan Kanjuruhan."

"Apa!?" Raja Gajayana tersentak kaget. "Apa yang kau ucapkan itu tidak bohong, Dharmaseta?"

Dharmaseta menggelengkan kepalanya. "Buat apa hamba berbohong kepada Paduka? Hamba sudah berusaha untuk mencegah agar Raja Barawijaya mengurungkan niatnya, tapi ambisinya sangat besar.  Akhirnya hamba membuat keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatan Senopati Agung."

"Bangsat Barawijaya! Padahal acara penobatannya dulu sebagai raja juga aku hadiri. Tidak taunya dia ingin menguasai kerajaanku!" Kedua tangan Raja Gajayana terkepal kuat dan rahangnya mengeras menahan geram, sekaligus marah.

"Lalu kenapa kau bisa datang ke sini? Apa tujuanmu ke sini untuk memberitahu tentang rencana Barawijaya?"

"Sebenarnya hamba tidak punya rencana seperti itu, Paduka. Kerajaan Gandara adalah tanah kelahiran, dan tempat hamba mengabdi puluhan tahun, tidak mungkin hamba sampai menjadi penghianat. Tapi semuanya kesetiaan hamba berubah setelah Raja Barawijaya mengutus teliksandi untuk memata-matai hamba," jawab Dharmaseta. Lelaki tua itu mengambil nafas panjang sambil mengingat ketika dia dan keluarganya dikepung di kaki sebuah bukit.

"Bahkan pada akhirnya Raja Barawijaya memberi perintah kepada puluhan prajurit untuk membunuh hamba. Beruntung ada seseorang yang sudah menyelamatkan kami berempat," tambahnya.

"Seseorang telah menyelamatkan kalian?" Raja Gajayana mengernyitkan dahinya.

"Benar, Paduka. Tapi orang yang telah menyelamatkan kami pergi begitu saja setelah berhasil membunuh semua prajurit itu."Dharmaseta sengaja tidak menyebutkan secara jelas tentang Arya, karena dia terikat janji dengan pemuda itu.

"Kalau begitu, sebaiknya kalian tinggal di sini! Mengabdilah pada kerajaan ini, dan aku akan memberimu jabatan tinggi."

"Mohon maaf hamba tidak bisa menerimanya, Paduka. Hamba sudah berniat untuk menjauhi kehidupan yang penuh dengan intrik dan politik."

Raja Gajayana terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan Dharmaseta. Sesungguhnya dia sangat menginginkan agar sepupu jauhnya itu mau mengabdi di kerajaannya. Pengalaman Dharmaseta selama 20 tahun lebih menjadi Senopati Agung, tentunya akan berguna untuk kebaikan kerajaan Kanjuruhan.

Tapi penguasa kerajaan Kanjuruhan itu tidak mau memaksa sepupu jauhnya tersebut untuk menuruti keinginannya. Baginya, seseorang yang bekerja tidak dengan hatinya akan percuma saja hasilnya. Tapi dia masih memiliki rencana lain yang akan diberlakukannya kepada Dharmaseta setelah perang melawan kerajaan Gandara berakhir.

"Oh, iya, apa kau tahu kapan pasukan kerajaan Gandara akan berangkat menuju ke sini?"

"Seingat hamba, mereka sudah berangkat kurang lebih tiga minggu yang lalu, Paduka," jawab Dharmaseta.

"Apa...?! Raja Gajayana berseru sedikit keras. Rasa terkejutnya benar-benar tak tertahankan. Dalam hitungannya, pasukan kerajaan Gandara akan tiba di Kotaraja dalam waktu sebulan lebih satu minggu lagi. Dia bisa sedikit bernafas lega karena masih ada persiapan untuk menyambut kedatangan pasukan lawan.

"Aku minta bantuanmu untuk memetakan kekuatan mereka, Dharmaseta. Kau pasti paham berapa jumlah pasukan kerajaan Gandara dan apa kekuatan mereka yang lainnya," pinta Raja Gajayana.

Dharmaseta tidak langsung menjawab, melainkan menoleh kepada anak dan istrinya meminta persetujuan.

"Paduka adalah saudara sepupu Kakang, sedangkan Raja Barawijaya nyatanya sudah menyia-nyiakannya semua jasa yang sudah Kakang berikan kepada kerajaan Gandara. Jadi sudah sepantasnya Kakang mendukung Paduka melawan Raja Barawijaya. Ada sebuah pepatah mengatakan, kerajaan yang besar adalah kerajaan yang menghargai jasa para pahlawannya. Buang nasionalisme Kakang pada kerajaan Gandara, sebab terbukti pemimpin kerajaan Gandara sudah tidak menghargai Kakang," jawab istri Dharmaseta.

"Baik, Widuri ... Aku ikuti cara berfikirmu. Aku akan membantu paduka melawan Raja Barawijaya," balas Dharmaseta.

Raja Gajayana tersenyum sebelum kemudian berseru memanggil seorang prajurit. Dia memberi perintah agar menyiapkan kamar untuk anak dan istri Dharmaseta, serta memanggil semua pejabat istana.

Beberapa saat kemudian, semua pejabat istana sudah berkumpul di aula. Raja Gajayana berdiri dan menyampaikan maksudnya mengumpulkan mereka semua.

Tak pelak semua pejabat yang ada di aula itu merasa geram dengan perlakuan Raja Barawijaya kepada Dharmaseta, serta rencana penguasa kerajaan Gandara itu  untuk menyerang kerajaan Kanjuruhan.

Dalam pertemuan penting kali itu, Dharmaseta berperan penting untuk memetakan jumlah kekuatan kerajaan Gandara, strategi, serta bagaimana kelemahannya. Sebagai mantan Senopati Agung serta panglima perang tertinggi kerajaan Gandara, tentu dia sangat paham tentang semua yang terkait dengan kerajaan yang pernah diabdinya.

"Jumlah total pasukan kerajaan Gandara sebanyak 30 ribu orang prajurit, terbagi atas beberapa resimen. 5 ribu prajurit resimen pemanah, 10 ribu prajurit resimen sayap dan 10 ribu prajurit pemukul. Tapi formasi mereka bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi di arena pertempuran." Dharmaseta menjelaskan panjang lebar tentang strategi yang biasanya dipakai kerajaan Gandara ketika dia sebagai panglima perang.

"Saat ini jumlah total pasukan kita ada 40 ribu prajurit. Tapi masalahnya, prajurit di kadipaten terluar tidak akan bisa datang tepat waktu. Sedangkan yang berada di Kotaraja sekitar 20 ribu prajurit. Kalaupun dari kadipaten yang terdekat sampai di Kotaraja, totalnya hanya 25 ribu prajurit." ujar Mandala menerangkan.

Sementara itu, Arya terus berusaha untuk menguasai jurus ketiga yang ternyata jauh lebih rumit dari pada dua jurus lainnya. Namun pemuda itu tidak patah arang, dia masih terus mencari cara untuk bisa menguasai jurus ketiga yang sebenarnya hanya tinggal bagian akhir.

4 hari berlalu, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari tempat Arya berlatih. Kobaran api membumbung tinggi hingga menimbulkan asap yang mengepul tebal.

Di tengah kepulan asap tebal, Arya berdiri dengan pedang energi di tangannya. Pedang yang terbuat dari energi api tersebut memancarkan hawa yang begitu panas menyengat. Selain itu, rambutnya memanjang dan sepenuhnya berubah menjadi kobaran api yang menyala hebat.

Andai di tempat tersebut ada pohon maupun bangunan yang berdiri, bisa dipastikan seketika menjadi abu dalam hitungan detik saja.

Pada hari itu, Arya berhasil menguasai sepenuhnya jurus semua jurus yang ada di dalam kitab Cambuk Api. Senyum lebar kepuasan terpancar kuat dari bibirnya.

Satu hari beristirahat, akhirnya Arya memutuskan untuk kembali ke istana Kanjuruhan. 5 hari perjalanan tampaknya tidak menjadi  masalah berarti baginya. Rasa gembiranya setelah berhasil menguasai 3 jurus Cambuk Api, nyatanya bisa menghilangkan rasa letih yang mendera tubuhnya.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!