Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
002
Aroma debu dan udara pengap menyambut Michaela begitu dia melangkah masuk ke dalam kamar apartemennya yang sempit.
Satu bulan ditinggalkan di bawah pengawasan tahanan rumah—di mana dia hanya bisa menatap dinding yang sama—membuat tempat ini terasa lebih seperti sel penjara ketimbang rumah.
Michaela melempar tasnya ke atas sofa kain yang sudah robek di beberapa sudut, lalu mulai menyingsingkan lengan kemejanya.
Dia sibuk.
Dia harus membersihkan tempat ini, mengemas barang-barangnya.
Baru saja dia memungut beberapa helai pakaian kotor yang terbengkalai di sudut kasur, sebuah ketukan keras menghantam pintu kamarnya dari luar.
Gedor! Gedor! Gedor!
Ketukan itu tidak sabaran, kasar, dan sangat familier.
Ketukan yang selalu sukses membuat bulu kuduknya berdiri sejak dia masih kecil.
Michaela menghela napas berat, melangkah menuju pintu, lalu membukanya dengan sentakan kasar.
Seketika itu juga, bau alkohol murahan yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya.
Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian kusut, janggut yang tidak bercukur selama berhari-hari, dan mata merah yang kuyu.
Ayah kandung yang menjadi kutukannya sejak lahir.
"Berikan aku uang, sialan!" bentak sang ayah tanpa basa-basi, melangkah maju seolah hendak menerobos masuk.
"Kau sudah satu bulan tidak memberikan aku uang! Kau tahu bagaimana susahnya aku bertahan hidup?!"
Michaela menahan dada pria itu dengan telapak tangannya, menatapnya dengan tatapan kosong yang teramat dingin.
"Tidak ada uang. Aku bahkan sudah dipecat dari pekerjaanku, brengsek!"
BRAK!!!
Michaela membanting pintu tepat di depan wajah ayahnya, menguncinya dengan tiga slot sekaligus.
Dari luar, terdengar suara makian kasar dan tendangan pada pintu kayu tersebut sebelum akhirnya suara langkah kaki yang sempoyongan menjauh dan menghilang di lorong flat.
Tubuh Michaela luruh.
Dia bersandar pada balik pintu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai yang berdebu.
Tidak ada air mata yang jatuh.
Air mata itu telah kering bertahun-tahun yang lalu.
Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Michaela sudah terbiasa diperlakukan seperti sampah.
Memiliki ayah seorang tukang judi dan hobi mabuk adalah takdir hitam yang harus dia telan setiap hari.
Ting!
Bunyi notifikasi memecah keheningan.
Michaela merogoh saku celananya, menyalakan layar ponsel.
Itu adalah notifikasi dari aplikasi sosial media miliknya.
Sebuah akun bernama @Gabriella_Margareth baru saja mengunggah sebuah foto baru.
Michaela langsung membuka unggahan itu. Matanya menatap tajam pada layar.
Di sana, sang pemilik akun memamerkan foto dirinya sedang memeluk buket bunga mawar merah yang sangat besar—yang Michaela tebak harganya pasti mencapai ratusan dolar—dengan latar belakang meja makan malam yang mewah di sebuah restoran berbintang.
Sebuah takarir singkat tertulis di bawahnya: “Thanks baby.”
Gabriella adalah saudaranya. Kakak kandungnya sendiri. Dan Nama Margareth adalah nama ibu kandung mereka.
Orang tua mereka telah bercerai sejak Michaela masih sangat kecil.
Saat perpisahan itu terjadi, ibunya memilih membawa sang kakak untuk hidup bersamanya, sementara Michaela ditinggalkan begitu saja, luntang-lantung di jalanan yang keras bersama ayahnya yang tidak berguna.
Perbedaan asuhan itulah yang menempa Michaela menjadi gadis yang luar biasa kuat.
Dia tidak peduli pekerjaan kasar apa yang harus dia lakukan—menjadi kuli panggul, montir bengkel, atau pekerjaan khusus pria lainnya—dia lakukan semua demi menyambung hidup, asal tidak menjual diri.
Sementara itu, kakaknya dan sang ibu hidup bergelimang kemewahan di belahan kota yang lain.
Semua unggahan di akun Gabriella selalu dipenuhi oleh kemilau harta dan pujian yang luar biasa dari para pengikutnya.
Pikiran Michaela mendadak melesat kembali ke masa lalu.
Ingatannya berputar pada hari di mana dia mendatangi mansion mewah milik ibunya tepat setelah dia lulus SMA di usia 18 tahun.
Hari itu, dengan pakaian paling rapi yang dia miliki, Michaela memohon dengan suara bergetar.
"Apakah aku boleh ikut Ibu?! Aku bisa bekerja, aku bisa cari uang sendiri untuk makan, tapi bolehkah aku tinggal bersama Ibu di sini? Ayah... Ayah selalu memperlakukanku dengan buruk."
Respons ibunya begitu singkat dan menghancurkan.
"Pergi. Pergi dari sini!"
Namun, yang paling membekas di ingatan Michaela adalah sang kakak, Gabriella.
Dengan nada suara yang begitu halus, lembut, dan pandangan mata yang menyiratkan kelelahan yang luar biasa, Gabriella berbisik padanya, "Pergilah dari sini, Michaela. Hidupmu jauh lebih baik daripada hidupku."
Saat itu, Michaela menganggap ucapan kakaknya adalah sebuah lelucon yang kejam.
Lelucon macam apa yang mengatakan hidupku yang sengsara, harus bekerja dari pagi buta hingga tengah malam demi membayar sewa kamar sempit ini, lebih baik daripada dia yang selalu berpakaian mewah dan tinggal di istana? lirihnya dalam hati waktu itu.
Kembali ke masa sekarang, Michaela menatap layar ponselnya sekali lagi, memandangi senyum Gabriella di foto tersebut.
"Enak sekali hidupmu, Kak," bisik Michaela lirih, ada nada getir yang tak bisa dia sembunyikan.
Belum sempat dia mematikan layar untuk mengistirahatkan matanya yang lelah, ponselnya kembali bergetar kuat.
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak asing. Michaela mendengus kesal, menekan tombol hijau dengan kasar. "Ada apa?!"
"Kau bebas, huh?" Suara seorang pria terdengar di seberang sana, terkekeh pelan.
Itu pria bernama Lloris, salah satu kenalannya, tempatnya kadang mencari informasi atau pekerjaan sampingan.
"Apa kau mau bekerja untukku lagi? Aku punya proyek bagus."
"Tidak," jawab Michaela tegas. "Aku akan pindah dari tempat sialan ini dan mencari pekerjaan yang lebih baik."
Di seberang telepon, Lloris melepaskan tawa bernada mengejek. "Ha-ha-ha, kau akan kemana memangnya? Aku pasti akan merindukanmu, jalang kecil."
Michaela tidak tersinggung dengan panggilan itu; dia sudah terlalu kebal. "Uang tabunganku sudah cukup. Aku akan berkuliah dan tinggal di asrama beasiswa."
Keheningan sempat merayap sesaat sebelum suara Yang berubah sedikit lebih serius, meski tetap santai.
"Aku senang mendengarnya. Jadi, kau akan berkuliah di kampus mana, Michaela?"
Michaela menegakkan punggungnya, menatap ke luar jendela apartemennya yang kotor, menembus langit San Francisco.
"Aku diterima di kampus UCLA."
...* * *...
Malam semakin larut di San Francisco. Detik jam dinding seolah berpacu dengan debar jantung Michaela Hokked yang kian memburu.
Di atas kasur tipisnya, layar ponsel yang retak memancarkan cahaya redup, menampilkan sebuah resi digital.
Dia baru saja memesan tiket bus antar-kota.
Dia benar-benar akan pergi.
Michaela menatap sekeliling kamar sempit yang telah dia tempati selama empat tahun terakhir.
Kamar penuh kenangan pengap yang sialnya bersebelahan persis dengan kamar Julian, mantan kekasih brengsek yang telah menyeretnya ke dalam neraka.
Namun sekarang, dinding pembatas itu tidak akan berarti apa-apa lagi.
Sidang hari ini telah mengembalikan kedaulatannya. Dia akhirnya benar-benar bebas.
Dengan gerakan cepat dan efisien, Michaela memasukkan beberapa helai pakaian, ponsel, kabel pengisi daya, dan sisa uang tabungannya ke dalam sebuah ransel kecil.
Hanya itu yang dia miliki. Hanya itu yang dia butuhkan untuk memulai hidup baru.
Setelah ritsleting ranselnya tertutup rapat, Michaela menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
"Huh... aku benar-benar bebas," bisiknya pada kegelapan kamar.
Rasa lega itu bercampur dengan kepuasan yang dingin.
Dia sudah sangat muak. Muak dengan Julian, muak dengan tuduhan palsu polisi, dan yang paling utama, dia muak dengan sang ayah yang selalu berbuat semena-mena, datang hanya untuk memeras darah dan keringatnya demi botol alkohol.
Michaela menyampirkan ranselnya di bahu, melangkah mantap ke arah pintu, dan memutar knopnya.
Ketika pintu terbuka, dia sempat bersiap jika harus berhadapan lagi dengan sosok teler ayahnya di lorong.
Namun, lorong flat itu sepi.
Ayahnya sudah tidak ada di sana—mungkin sudah tumbang di bar murah entah di mana.
Baguslah, setidaknya dia tidak perlu melakukan adu mulut yang tidak penting di detik-detik terakhirnya.
Dia akan pergi jauh. Meninggalkan San Francisco, kota yang hanya memberinya luka, hantaman kemiskinan, dan pengkhianatan.
Tujuannya adalah Los Angeles, menuju kampus impiannya, UCLA. Walaupun dirinya kini berumur 24 tahun—bukan lagi remaja belasan tahun seperti mahasiswa baru pada umumnya—bagi Michaela, tidak ada kata terlambat untuk memulai berkuliah.
Pendidikan adalah satu-satunya tiket emas yang tersisa untuk mengangkat dirinya dari lumpur kehidupan ini.
Mengingat jarak antara San Francisco dan Los Angeles, Michaela bergumam kecil sambil melangkah menuruni tangga darurat, "Perjalanan delapan sampai sembilan jam... Huh, pasti akan sangat melelahkan."
...ΩΩΩ...
Mesin bus antar-kota menderu rendah, membelah kegelapan jalan tol yang sunyi menuju arah selatan.
Di dalam kabin bus yang remang-remang, Michaela baru saja mendudukkan dirinya di dekat jendela.
Dia menyandarkan kepalanya pada kaca yang dingin, memandangi lampu-lampu jalanan yang melesat mundur. Tubuhnya luar biasa lelah, tetapi otaknya menolak untuk memejamkan mata.
Baru beberapa menit bus itu bergerak meninggalkan terminal, ponsel di dalam saku jaket Michaela tiba-tiba bergetar tanpa henti.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Suara getaran itu begitu berisik, menandakan rentetan notifikasi yang masuk secara bertubi-tubi.
Michaela mengernyitkan dahi.
Siapa yang mencarinya malam-malam begini? Lloris? Atau berita tentang kebebasannya siang tadi yang masih digoreng oleh media?
Dengan rasa penasaran yang bercampur firasat buruk, Michaela merogoh ponselnya dan menyalakan layar.
Alangkah terkejutnya dia saat melihat puluhan pesan, tag, dan tautan berita dari situs kriminal lokal San Francisco memenuhi beranda sosial medianya.
Matanya langsung tertuju pada satu tajuk berita utama yang baru saja diunggah lima menit lalu:
BREAKING NEWS: SEORANG PRIA BERINISIAL J (25 TAHUN) DITEMUKAN TEWAS MENGENASKAN DI PINGGIR JALAN DAERAH FLAT SAN FRANCISCO. DIDUGA KORBAN PEMBUNUHAN BERENCANA.
Duar!
Jantung Michaela seolah berhenti berdetak seketika. Kepalanya mendadak pening, seolah seluruh pasokan oksigen di dalam bus itu menguap begitu saja.
Pria, 25 tahun, inisial J, ditemukan tewas mengenaskan di dekat flat tempat tinggalnya.
Itu Julian. Tidak salah lagi. Itu pasti Julian.
"Tidak... tidak, tidak... bukan aku pelakunya," bisik Michaela dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
Seketika itu juga, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat, membuat ponsel di genggamannya hampir merosot jatuh.
Napasnya memburu, menjadi pendek-pendek dan tidak beraturan. Ketakutan yang amat sangat mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.
Dia baru saja bebas siang tadi!
Baru beberapa jam yang lalu hakim mengetukkan palu untuk menyatakan dirinya bersih dari segala tuduhan!
Dan sekarang, pria yang menjebaknya justru mati terbunuh.
Isi kepalanya langsung berputar liar, melemparkannya kembali pada memori percakapan teleponnya beberapa jam lalu di pelataran pengadilan.
Suara teriakannya sendiri menggema berulang-ulang di dalam kepalanya, membentur dinding kesadarannya dengan sangat keras: "AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU, BRENGSEK!!!!!"
Dia mengucapkan kalimat itu dengan lantang. Di tempat umum.
Di depan beberapa pejalan kaki yang sempat menatapnya dengan ngeri. Bahkan, catatan panggilan di ponselnya akan menunjukkan bahwa dialah orang terakhir yang menghubungi Julian dan memaki pria itu sebelum kematiannya.
Oh, Tuhan... Aku bukan pelakunya! rintih Michaela dalam hati, meremas rambutnya dengan frustrasi.
Dia tahu bagaimana cara kerja polisi-polisi sialan itu.
Mereka tidak akan mau repot-repot mencari petunjuk rumit jika ada seorang mantan narapidana rumah yang baru saja bebas, memiliki motif balas dendam yang sangat kuat, dan baru saja mengancam akan membunuh korban di hari yang sama.
Dia akan kembali menjadi tersangka utama.
Pelarian fajar ini ke Los Angeles justru akan terlihat seperti tindakan melarikan diri dari pembunuhan di mata hukum.
Di dalam bus yang terus melaju menembus malam, Michaela mendekap ranselnya erat-erat ke dada, berusaha menyembunyikan tubuhnya yang gemetar di balik bayangan kursi.
Kebebasan yang baru saja dia hirup dalam hitungan jam, kini kembali terancam hancur oleh bayang-bayang jeruji besi yang jauh lebih mengerikan.
Keputusan impulsif harus diambil saat itu juga.
Sebelum bus antar-kota yang ditumpanginya melewati batas wilayah San Francisco, Michaela melangkah dengan tubuh gemetar menuju toilet sempit di bagian belakang kabin.
Di dalam ruangan kecil yang bergoyang-goyang itu, dia menatap pantulan dirinya di cermin yang buram.
Aku tidak boleh kembali ke neraka itu, batinnya berteriak histeris.
Tanpa ragu, Michaela mengeluarkan ponselnya.
Dia melepas kartu SIM, mematahkannya menjadi dua, lalu membuangnya ke dalam lubang kloset beserta mesin ponselnya setelah dihantam berkali-kali ke lantai hingga hancur total.
Tidak berhenti di situ, dia merobek dompetnya.
Kartu identitas, surat izin mengemudi, hingga kartu debit atas nama Michaela Hokked dia gunting menjadi serpihan kecil, lalu dia hanyutkan bersama air.
Dia hanya menyisakan tumpukan uang tunai hasil tabungannya yang dia selipkan di dalam kaus kaki.
Malam ini, Michaela Hokked resmi mati.
Begitu kembali ke kursinya, sepanjang sisa perjalanan menembus kegelapan fajar, dia bersumpah akan membuang nama sialan itu. Nama yang hanya membawanya pada takdir penuh kemiskinan dan fitnah.
Dia memeras otaknya, memikirkan sebuah nama baru yang bagus sepanjang sisa delapan jam perjalanan menuju Los Angeles.
Matahari baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit kota metropolitan Los Angeles yang sibuk saat bus akhirnya berhenti di terminal tujuan.
Begitu kaki telanjangnya menginjak aspal terminal, Michaela segera melangkah cepat menuju pintu keluar. Kepalanya terasa sangat pening dan berat akibat kurang tidur dan tekanan mental yang luar biasa.
Dia langsung mencari deretan taksi. Namun, pagi itu terminal sangat ramai, dan antrean taksi tampak mengular. Michaela menghela napas frustrasi.
Di saat dia hampir putus asa, sebuah taksi kuning yang baru saja menaikkan penumpang berhenti tepat di hadapannya karena lampu merah.
Pintu belakang taksi itu tiba-tiba terbuka sedikit. Di dalamnya, duduk seorang wanita cantik yang tampak sangat lembut dengan sepasang mata teduh yang menenangkan.
Wanita itu menatap Michaela yang terlihat pucat dan kelelahan membawa ranselnya.
Dengan senyum ramah yang tulus, wanita itu bergeser dan berkata, "Masuklah, Nona. Kita bisa berbagi taksi jika arah kita searah."
Michaela tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak," ujarnya seraya masuk dan menutup pintu. Dia tidak akan menghamburkan uang untuk penginapan mahal malam ini, jadi bisa menghemat ongkos taksi adalah sebuah keberuntungan besar.
Taksi mulai membelah jalanan Los Angeles yang padat.
Untuk mencairkan kecanggungan, wanita bermata teduh itu menoleh.
"Kau akan kemana?"
"Aku akan ke kampus UCLA. Aku akan berkuliah di sana," jawab Michaela, mencoba tersenyum tipis. "Bagaimana denganmu? Apakah kau warga asli di sini?"
"Tidak," jawab perempuan itu sambil terkekeh pelan. "Aku juga dari San Francisco." Dia merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kartu identitas dan lembaran tiket bus yang tadi digunakannya.
"Sebenarnya, tadi kita berada di bus yang sama. Aku melihatmu duduk di bagian depan tadi."
"Oh ya?" Michaela bersikap basa-basi, meski dalam hati dia sempat tegang. "Lalu kau akan kemana? Kau datang ke Los Angeles untuk bekerja?"
"Tidak. Aku datang untuk bertemu kekasihku," jawab wanita itu dengan rona bahagia yang terpancar jelas di wajahnya yang lembut.
Wanita itu menunjukkan kartu pengenalnya kepada Michaela. Michaela menerima kartu itu dan memperhatikannya dengan saksama.
Di sana tertulis nama Cecilia Lynch, berumur 25 tahun.
"Wah, ternyata aku lebih muda darimu," gumam Michaela begitu melihat tahun kelahiran di kartu itu.
Dia mengagumi betapa anggunnya nama itu—Cecilia Lynch. Nama yang terdengar sangat kontras dengan hidupnya yang berantakan.
Michaela masih memegang kartu identitas milik Cecilia di tangannya, berniat mengembalikannya, ketika taksi mereka mulai menaiki jalan layang dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Namun, momen tenang itu hancur dalam sekejap mata.
Tinnnnnnnnnn!!!
Suara klakson panjang bernada melengking memecah keheningan pagi.
Supir taksi berteriak histeris.
Michaela tersentak dan melemparkan pandangannya ke depan.
Melalui kaca mobil, sebuah truk kontainer besar kehilangan kendali dari arah berlawanan, melompati pembatas beton, dan meluncur deras menghantam moncong taksi mereka.
"Oh, Tuhan—"
BRAKKKKKKKK!!!!
Benturan logam yang maha dahsyat menghancurkan kabin mobil seketika.
Tubuh Michaela dan Cecilia terlempar hebat ke depan.
Pecahan kaca depan dan besi tajam berterbangan bagai badai, merobek apa saja yang menghalanginya.
Dunia seolah runtuh, berputar terbalik menjadi kegelapan yang pekat.
Di detik-detik sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Michaela merasakan rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya, terutama di bagian wajahnya yang dihantam dasbor dan pecahan kaca.
Cairan hangat yang kental mengalir deras membanjiri matanya.
Dia tahu, dia bisa memastikan, wajahnya telah hancur total akibat kecelakaan mengerikan itu.
Dan di dalam genggaman tangannya yang bersimbah darah, jemari Michaela masih mencengkeram erat satu-satunya benda yang tersisa: kartu identitas atas nama Cecilia Lynch.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨