"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
"Yeti? Di siang bolong begini?" Yisla melipat kedua tangan di dada, menatap Julian sangat skeptis. "Cerita fabel tentang Yeti itu cuma ada di pegunungan utara yang jaraknya ribuan mil dari desa kita, Julian."
Aduh, mampus... Mana aku nggak tau pula peta geografi dunia fiksi buatanku sendiri! batin Astra menjerit, merutuki mulutnya yang asal ceplos tanpa memikirkan lore.
"Ah... maksudku, Yeti lokal, Yisla! Jenis yeti kurus yang suka kelayapan di halaman orang!" Julian buru-buru berdiri, menepuk-nepuk salju di pantat dan mantel wolnya demi menutupi rasa malunya.
Wush...
"Yeti kurus katanya," Animus mendengus geli dari atas pagar. "Alasan yang sangat menyedihkan untuk seorang pencipta narasi."
"Tapi kreativitasnya patut diacungi jempol, kan?" Anima tertawa genit, ia turun dan berjalan mendekati telinga Julian. "Ayo, Sayangku, waktu kita tidak banyak. Telinga Bibi Petrisa bisa mendengar suara langkah semut kalau menyangkut soal harta benda lho."
Julian menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir entitas Anima, lalu kembali fokus pada jendela di depannya yang masih terbuka sedikit.
"Oke, lupakan soal Yeti kurus itu," bisik Julian, kembali memasang wajah seserius mungkin.
"Karena jendela ini posisinya terlalu tinggi dari lantai dalam, maka kita akan pakai rencana B."
Yisla mengernyit. "Rencana B? Apa itu?"
Julian tersenyum penuh misteri, lalu berjalan mendekati pintu samping gudang wol yang terbuat dari kayu. Ia meraba pinggangnya, menarik pisau berburu milik Vito.
"Jul, jangan bilang kamu mau..."
KRIEEKK... CKLAK!
Dengan satu sentakan ahli dengan memanfaatkan celah pintu yang renggang, bilah pisau Vito berhasil menggeser selot kayu dari luar. Pintu gudang wol itu perlahan terbuka.
Julian menoleh ke arah Yisla, menaik-turunkan alisnya bangga. "Nah, apa kubilang? Aku ini laki-laki sejati!"
Yisla melongo. "Kamu... sejak kapan pintar membobol pintu rumah orang dengan cara seperti ini, Julian? Jangan-jangan dulu sebelum hilang ingatan, pekerjaanmu itu..."
"Pekerjaanku? Oh, aku ini seorang perajin takdir, Yisla," sahut Julian asal ceplos, ia langsung melangkah masuk ke dalam kegelapan gudang wol yang berbau apek.
Yisla menggelengkan kepalanya dengan pasrah, lalu dengan cepat menyelinap masuk mengekor di belakang Julian.
Begitu berada di dalam, Julian perlahan merapatkan kembali pintu kayu gudang itu, membiarkan seberkas cahaya temaram dari celah dinding menyinari ruang pencarian mereka.
Aroma petualangan nekat bercampur ketegangan kini mulai menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua.
...***...
Di dalam gudang yang minim pencahayaan itu, Julian mulai bergerak dengan lincah. Tangannya meraba-raba tumpukan karung, mencoba mencari di mana rajutan wol dan mangkuk kayu milik Yisla disembunyikan.
Gubrak! Prang!
Sial, karena terlalu terburu-buru dan lantai gudang yang licin, kaki Julian tidak sengaja menyenggol tumpukan kaleng kosong di sudut ruangan. Suara gaduh itu bergema luar biasa keras di dalam keheningan rumah.
"Siapa di sana, hah?! Siapa ya?!"
Suara melengking Bibi Petrisa langsung menggelegar dari balik pintu penghubung rumah utama. Langkah kakinya yang berat terdengar bergegas menghampiri gudang wol.
Jantung Julian serasa mau melompat keluar. Tanpa babibu, ia langsung menarik lengan Yisla dengan kencang, membawa gadis itu merapat ke balik daun pintu masuk yang terbuka ke dalam. Napas mereka tertahan, saling berdempetan di ruang sempit yang gelap gulita.
Dalam kepanikan yang memuncak itu, otak Astra mendadak berputar ke memori dunia asalnya. Ia teringat salah satu video gameplay di kanal YouTube MiawAug yang dulu sering ia tonton sebelum terdampar ke sini yaitu game The Last of Us, di mana Ellie menyelinap di kegelapan dan melumpuhkan musuh dari belakang menggunakan belati secara efisien.
Aku harus pakai taktik Ellie! Tapi versi non-lethal alias ramah lingkungan! Hihi! batin Astra memantapkan tekad. Ia memindahkan pisau berburu Vito ke dalam sarung belati di pinggangnya.
Klek!
Lampu minyak di langit-langit gudang dinyalakan dari luar, menyemburkan cahaya kuning temaram yang seketika mengusir sebagian kegelapan. Pintu penghubung terbuka lebar, dan sosok Bibi Petrisa melangkah masuk dengan wajah super galak sambil memegang sapu ijuk.
Begitu tubuh tambun si bibi melewati posisi pintu tempat mereka bersembunyi tiba-tiba...
Set!
Julian langsung melesat keluar bagai kilat. Dengan satu gerakan cepat yang presisi, tangan kanannya maju membekap mulut Bibi Petrisa dengan sangat erat, meredam jeritan yang baru mau keluar dari tenggorokan wanita tua itu.
Di saat yang sama, lengan kiri Julian mengunci leher si bibi dari belakang, menarik tubuhnya mundur dengan memanfaatkan berat badannya sendiri.
"Mmphhh?! Mmmph?!" Bibi Petrisa memberontak brutal, tangannya menggapai-gapai udara dan sapu ijuknya jatuh tercela ke lantai.
"Maaf ya, Bi! Ini demi kedamaian alur cerita!" desis Julian di dekat telinga si bibi, sambil terus mempererat pitingan rear-naked choke daruratnya.
Astra sengaja tidak menggunakan bilah pisau di tangannya. Gila saja, meskipun dia kesal setengah mati, dia masih punya moralitas manusia modern yang takut dosa kalau harus melakukan pembunuhan perdana di bab awal cerita!
Setelah beberapa detik berjuang melawan dekapan Julian, pasokan oksigen Bibi Petrisa akhirnya menipis. Perlahan, ia pasrah pada kekuatan takdir sang author, tubuh tambun wanita cerewet itu mendadak lemas, matanya mendelik ke atas sebelum akhirnya pingsan total dalam pelukan Julian.
Julian mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang, lalu perlahan meletakkan tubuh pingsan Bibi Petrisa di atas tumpukan karung wol yang empuk agar wanita cerewet itu tidak gegar otak.
Julian menoleh ke arah Yisla yang sedari tadi menonton adegan action dadakan itu dengan mulut melongo dan mata bulat yang hampir keluar dari rongganya.
"Nah, Yisla," bisik Julian sambil menyeka keringat dingin di dahinya, mencoba berlagak keren di depan sang female lead.
"Nenek sihirnya sudah kena efek stun. Ayo cepat cari barang ibumu sebelum durasi pingsannya habis!"