NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Sosok di lautan kesadaran

Shen Yifan hanya tersenyum kecil. Melihat ekspresi bahagia Yue, rasa lelah yang memenuhi tubuhnya seolah sedikit terbayarkan.

​Namun, beberapa detik kemudian, senyumnya perlahan memudar.

​Pandangannya mulai kabur. Seluruh tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

​(Sial. Energi spiritual murniku benar-benar habis,) batin Shen Yifan.

​Ia mencoba menarik napas panjang, tetapi dadanya justru terasa sesak. Lautan energi spiritual murni di dalam Gerbang Misterius hampir benar-benar kering. Bahkan, setetes energi pun nyaris tak tersisa.

​"Yi Fan?"

​Yue yang masih memeluknya merasakan tubuh Shen Yifan perlahan kehilangan tenaga. Wajah pemuda itu semakin pucat. Bibirnya yang semula masih tersenyum kini kehilangan warna.

​"Yi Fan, ada apa?"

​Shen Yifan berusaha tersenyum agar Yue tidak khawatir.

​"Tidak apa-apa... cuma sedikit kelelah—"

​Namun, kalimat itu bahkan belum selesai.

​"Uhuk!"

​Seteguk darah segar menyembur dari mulutnya. Tubuh Shen Yifan langsung limbung.

​"Yi Fan!!"

​Yue buru-buru menopang tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. Kedua matanya langsung dipenuhi kepanikan.

​"Kenapa? Kenapa jadi begini?"

​Shen Yifan ingin menjawab.

​Tetapi, kelopak matanya terasa semakin berat. Suara Yue perlahan terdengar semakin jauh. Penglihatannya berubah gelap sedikit demi sedikit.

​(Ternyata... menenangkan Flame Devouring memang menghabiskan jauh lebih banyak energi murni daripada perkiraanku.)

​Ia hanya sempat melihat wajah Yue yang dipenuhi air mata. Kesadarannya benar-benar menghilang. Tubuh Shen Yifan terkulai lemas di dalam pelukan Nangong Yue.

​"Yi Fan!!" Suara panik Yue menggema memenuhi ruangan.

​Di luar, Bingxue dan Jian Chen yang mendengar teriakan itu langsung berubah ekspresi.

​Tanpa berpikir panjang, keduanya segera menerobos masuk ke dalam ruang alkemia.

​Di suatu tempat yang sunyi, hanya terbentang hamparan samudra tak bertepi. Airnya begitu tenang hingga menyerupai cermin raksasa yang memantulkan kehampaan. Tidak ada langit, tidak ada daratan, bahkan cahaya matahari pun tak terlihat. Yang ada hanyalah keheningan yang begitu dalam, seolah waktu sendiri telah berhenti mengalir.

​Shen Yifan berjalan perlahan di atas permukaan air itu. Setiap langkahnya hanya menimbulkan riak-riak kecil yang menyebar ke segala arah sebelum menghilang tanpa bekas, membuat lautan kembali tenang seperti semula. Ia memandang sekeliling dengan tatapan penuh kebingungan. Semakin jauh matanya menyapu cakrawala, semakin ia sadar bahwa tempat ini sama sekali tidak memiliki ujung.

​"T-tempat apa ini?" gumamnya lirih.

​Beberapa saat yang lalu, ingatannya masih begitu jelas. Ia sedang berada di ruang alkemia bersama Nangong Yue, membantu gadis itu menyempurnakan pil grade tiga. Mereka berhasil. Bahkan, Yue menangis bahagia karena akhirnya mampu mencapai impiannya. Namun, setelah itu... ingatannya terputus begitu saja.

​Kini, yang menyambutnya hanyalah lautan tanpa batas. Shen Yifan mengangkat kedua tangannya perlahan. Alisnya berkerut ketika merasakan sesuatu yang aneh. Kehangatan lembut mengalir dari dalam tubuhnya, menyebar ke setiap pembuluh darah hingga membuat seluruh rasa lelahnya perlahan menghilang. Kehangatan itu begitu nyaman, namun juga terasa asing.

​"Aneh... Kenapa tubuhku terasa begitu hangat?"

​Ia memejamkan mata sesaat, mencoba merasakan sumber kehangatan itu. Tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali dan menemukan secercah cahaya keperakan di kejauhan. Cahaya itu tampak redup, tetapi entah mengapa terasa begitu menarik, seolah memanggilnya untuk mendekat.

​Tanpa sadar, Shen Yifan mulai melangkah mengikuti cahaya tersebut.

​Semakin jauh ia berjalan, cahaya itu semakin terang. Riak air di bawah kakinya mulai memantulkan kilauan keperakan yang indah. Hingga akhirnya, langkahnya berhenti begitu saja.

​Pupil matanya mengecil. Di hadapannya berdiri sebuah bunga raksasa yang menjulang puluhan meter ke langit yang tak terlihat. Kelopaknya berwarna putih keperakan, memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti seluruh samudra. Sulur-sulur hijau zamrud menjulur dari batangnya, menembus permukaan air dan terus memanjang menuju dasar lautan yang sama sekali tidak terlihat.

​Shen Yifan perlahan mendongakkan kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat aneh ini, ia benar-benar merasakan kekaguman. "Apa ini? Besar sekali."

​"Namanya Bunga Penghangat Jiwa."

​Sebuah suara tenang tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

​Seluruh tubuh Shen Yifan menegang. Ia segera berbalik dengan waspada.

​Beberapa langkah di belakangnya berdiri sesosok manusia yang diselimuti kabut abu-abu. Tubuhnya terlihat samar, seolah keberadaannya berada di antara nyata dan ilusi. Wajahnya tidak dapat dikenali sedikit pun, namun postur tubuhnya... terasa sangat familiar.

​Yang lebih mengejutkan lagi adalah suaranya. Intonasi, nada bicara, bahkan cara pengucapannya, semuanya begitu mirip dengan suara Shen Yifan sendiri.

​"Kau... siapa?" Shen Yifan tanpa sadar mengambil satu langkah mundur. "Kenapa suaramu sama persis denganku?"

​Sosok itu hanya tertawa pelan. "Haha... Tidak perlu gugup."

​Aneh. Begitu suara itu memasuki telinganya, seluruh kegelisahan Shen Yifan mendadak lenyap. Jantungnya yang semula berdebar perlahan kembali tenang. Bahkan, nalurinya tidak merasakan sedikit pun ancaman dari sosok tersebut.

​Seolah-olah, tubuhnya sendiri telah mengenal orang itu sejak lama.

​"Kau bertanya siapa aku?"

​Shen Yifan mengangguk perlahan.

​Sosok itu tidak langsung menjawab. Ia justru memandang Bunga Penghangat Jiwa cukup lama, seakan sedang mengenang sesuatu yang sangat jauh.

​"Aku adalah orang yang paling dekat denganmu."

​"Hah?" Shen Yifan semakin bingung. "Apa maksudmu?"

​Sosok itu tersenyum tipis.

​"Lebih tepatnya..."

​"Aku adalah kamu..."

​"...dan... kamu adalah aku."

​Dahi Shen Yifan langsung berkerut. "Aku tidak mengerti."

​"Itu memang wajar."

​Sosok itu mulai berjalan perlahan melewati Shen Yifan. Aneh, setiap langkahnya sama sekali tidak menimbulkan riak pada permukaan air, seolah dirinya telah menyatu dengan lautan itu sendiri.

​Ia mengangkat tangan, menunjuk ke seluruh samudra yang terbentang tanpa ujung.

​"Kau tadi bertanya... tempat ini di mana."

​Shen Yifan mengangguk lagi.

​"Yang sedang kamu pijak sekarang..."

​"Adalah Lautan Kesadaranmu."

​Shen Yifan terdiam.

​Kalimat itu terdengar begitu mustahil, namun entah mengapa ia tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk membantahnya.

​Pandangannya kembali tertuju pada bunga raksasa yang masih memancarkan cahaya lembut. "Lalu... benda itu?" sahut Shen Yifan.

​Sosok misterius itu ikut menoleh.

​"Itu bukan artefak..."

​"Itu adalah Bunga Penghangat Jiwa."

​Ia terdiam sesaat. Suasana di sekitar mereka menjadi semakin sunyi.

​Lalu, dengan nada yang tetap datar, ia melanjutkan, "Aku menempanya... selama jutaan tahun di dalam siklus yang terus berulang."

​Tidak ada sedikit pun kebanggaan dalam suaranya. Namun justru karena itulah, setiap kata yang keluar terasa begitu berat, seolah memikul sejarah panjang yang bahkan dunia tidak sanggup mengingatnya. Shen Yifan hanya mampu menatap bunga raksasa itu dalam diam.

​(Jutaan tahun? Siklus yang berulang?)

​(Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan orang ini?)

​Semakin ia mencoba memahami, semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk bertanya lagi ketika sosok misterius itu perlahan berbalik menghadapnya.

​Kabut abu-abu yang menyelimuti wajahnya tetap tidak memperlihatkan rupa sedikit pun. Namun, Shen Yifan dapat merasakan tatapan tajam yang seolah menembus langsung ke dalam jiwanya.

​"Kamu ingin mengetahui siapa aku?"

​"Kamu ingin mengetahui siapa dirimu?"

​"Kau ingin mengetahui mengapa bahkan Dao tidak mampu menyentuhmu?"

​Suara itu menggema ke seluruh lautan. Riaknya menyebar tanpa henti hingga mencapai cakrawala yang tak terlihat.

​"Tapi, dirimu yang sekarang... masih terlalu lemah."

​Perlahan, sosok misterius itu mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya bergerak pelan, lalu mengarah tepat ke dahi Shen Yifan.

​"Apa yang—"

​Sentuhan itu begitu ringan. Namun pada detik berikutnya, seluruh Lautan Kesadaran berguncang hebat.

​Permukaan air yang semula tenang berubah menjadi lautan bergelombang. Bunga Penghangat Jiwa memancarkan cahaya keperakan yang jauh lebih terang daripada sebelumnya, menerangi seluruh dunia hingga tidak ada lagi warna selain putih.

​Shen Yifan merasakan kepalanya dipenuhi oleh rasa sakit yang luar biasa, seolah ribuan informasi hendak dipaksakan masuk ke dalam pikirannya.

​Sebelum seluruh kesadarannya benar-benar ditelan cahaya, ia hanya sempat mendengar satu kalimat terakhir.

​"Jadilah lebih kuat."

​"Baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu."

​Shen Yifan tiba-tiba membuka kedua matanya.

​Napasnya memburu.

​Dadanya naik turun dengan cepat, sementara butiran keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia langsung bangkit dari ranjang dan memegang dahinya dengan satu tangan, mencoba memastikan dirinya benar-benar telah kembali ke dunia nyata.

​"Itu..."

​"...mimpi?"

​Ia memandang sekeliling kamar dengan tatapan kosong.

​Namun, entah mengapa, ujung dahinya masih terasa hangat.

​Hangat yang sama.

​Seperti ketika jari sosok misterius itu menyentuhnya. Seolah-olah semua yang baru saja ia alami bukanlah mimpi sama sekali.

​Di saat yang sama, Shen Yifan melihat Nangong Yue sedang tertidur di sampingnya, kepala Yue bersandar di tepi ranjang. Ternyata selama Shen Yifan pingsan, Yue sama sekali tidak pergi. Shen Yifan hanya tersenyum kecil. "Bodoh."

​"Urghh!!" Shen Yifan mengerang sakit sambil memegang perutnya. "Sial, ada apa lagi ini!"

​Erangan sakit Shen Yifan mulai membangunkan Nangong Yue.

​"Yi Fan! Kamu sudah bangun!!" sahut Nangong Yue sambil memegang tangan Shen Yifan.

​"Haha, iya. Aku hanya sedikit pusing!" Shen Yifan tidak menjelaskan bahwa ia berada di dalam lautan kesadarannya saat pingsan tadi.

​Setelah beberapa saat, tiba-tiba Nangong Yue menunduk. "Terima kasih banyak, Yi Fan!"

​"Hmm, buat apa?" Shen Yifan memiringkan kepalanya.

​"Itu... Kamu telah membantuku dan berhasil membuat pil grade tiga. Itu tidak luput dari bantuanmu!" Nangong Yue masih menunduk.

​"Ah, itu semua adalah hasil kerja kerasmu!" Shen Yifan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

​"Tidak... Tanpa bantuanmu saat itu, aku akan gagal membuat pil grade tiga. Jadi, tolong, itu semua berkatmu!" Nangong Yue masih keras kepala. Walaupun berasal dari keluarga besar Nangong, tidak berterima kasih kepada orang yang membantunya adalah hal yang sangat memalukan baginya.

​Melihat Yue yang keras kepala, Shen Yifan memegang dagunya dan memikirkan sesuatu. "Nah, Yue... Kalau mau berterima kasih..."

​Yue menatapnya.

​"Pinjamkan aku beberapa batu spiritual tingkat tinggi."

​Yue bengong. "...Hah?"

​Shen Yifan menggaruk pipi. "Aku... agak miskin."

​Yue sampai tidak tahu harus tertawa atau menangis. Baru saja membantu seseorang membuat pil grade tiga, tetapi permintaan hadiahnya cuma meminjam batu spiritual.

​Yue tersenyum, lalu mengalirkan energi spiritual ke dalam cincin spasialnya. "Ambil saja."

​Shen Yifan langsung menggeleng ketika melihat sekitar sepuluh kantung batu spiritual dikeluarkan oleh Nangong Yue.

​"Seribu batu spiritual tingkat tinggi!" sebut Yue santai, seolah-olah seribu batu spiritual tingkat atas ini hanyalah hal kecil.

​Karena jumlahnya terlalu banyak, Shen Yifan mempertegas lagi, "Tidak... Aku hanya meminjam. Akan kukembalikan."

​Yue makin bingung. Orang lain pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta harta, teknik kultivasi, atau bahkan posisi di Klan Nangong. "Tidak kah kamu mau hal lain? Seperti teknik, pedang, atau yang lain?"

​Shen Yifan hanya menggelengkan kepala. "Itu tidak perlu... untuk saat ini!"

​Nangong Yue pun tidak memaksa. "Mengerti!" Ia tersenyum setelah tercengang oleh pemuda polos bernama Shen Yifan ini. "Baiklah, aku akan menyiapkan makanan dulu. Kamu pasti lapar, kan?"

​Shen Yifan tidak bisa berbohong. Ia sangat lapar sampai perutnya keroncongan. Ia pun mengangguk.

​Nangong Yue ikut mengangguk dan langsung berjalan ke arah pintu. "Yi Fan, kamu tidak perlu membayarnya!" Yue tersenyum, lalu keluar dari ruangan.

1
obeng min
lanjut ketua
obeng min
mantap
sitanggang
hadeuhhh lemah bgt🙄
obeng min
lanjut💪💪💪💪💪
obeng min
💪💪💪👍👍👍👍
obeng min
upnya lama
obeng min
👍👍👍👍💪
obeng min
lanjut 💪💪💪💪💪
obeng min
manatap perbanyak upnya 🤣🤣💪💪👍👍👍
Jhon Saanz
up bang
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!