Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Celo di Bandara
Bahan-bahan pembuatan steak sudah lengkap, langkahku kemudian beralih ke tempat parfum.
Aku ingin membelikannya sebuah parfum spesial yang nantinya bisa Celo pakai setiap menjalani kesibukannya ataupun sekedar jalan denganku.
"Cewek penuh effort ini mau disaingi dengan seonggok Lady, mana paten!" Kibasan rambutku mendukung tingkat kepercayaan diri atas kalimat yang baru saja aku ucapkan.
Setelah aku memastikan bahwa semua yang aku butuhkan untuk menyambut kepulangan Celo telah masuk ke dalam troli belanjaku, maka langsung saja ku ambil urutan diantara barisan para pembeli yang sedang antre di meja kasir.
Ku hitung berapa banyak orang lagi yang harus dilayani sebelum tiba giliranku. Agar tak bosan menunggu antrean, aku mengalunkan lagu dengan suara yang hampir hanya bisa didengarkan oleh diriku sendiri.
Lagi asyik-asyiknya bersenandung sambil mengantre pembayaran, aku mendengar bunyi ponselku. Ku buka tas dan ku lihat siapa yang sudah berani menelpon di situasi seperti ini, rupanya Ayah yang melakukannya.
"Assalamualaikum yah, ada apa kok nelepon?"
"Waalaikumsalam, kamu dimana nak? Ayah sudah ada di depan butikmu." Jawab ayah yang membuktikan ucapannya dengan mengirim foto dirinya sedang ngobrol dengan satpam butikku.
"Ayah kenapa gak info dulu sih! Aku lagi di mall lagi antre bayar." Wajahku seketika menunjukkan perpaduan kesal dan panik dengan jawaban ayah.
"Apa yang kamu lakukan disana sayang?" Tanya ayah kembali dengan nada yang terdengar penuh sarkas.
"Ayahku tersayang di mall tentu saja belanja dan tenang saja aku gak belanja yang hura-hura, kali ini aku belanja untuk menyambut kepulangan calon menantu itu agar dia semakin betah denganku."
"Ayah tunggu saja di butik, aku naik taksi online saja." Responku juga tak kalah sarkas.
Terdengar dari balik layar suara tawa ayah yang sangat renyah, aku yakin jika beliau sangat senang bahwa apa yang didengar saat berangkat bareng tadi pagi benar-benar nyata dan ternyata beliau hanya salah duga padaku.
Beliau memang sempat memasang ekspresi seakan tak percaya dengan hal yang aku sampaikan tentang kepulangan Celo.
Apapun itu yang terlintas dalam pikirannya anggap saja angin lalu, kini giliranku berhadapan dengan kasir dan membayarnya.
Pembayaran selesai, saatnya memesan taksi untuk kembali ke butik dan menemui ayah untuk pulang bareng ke rumah.
Kali ini aku beruntung, taksi yang ku pesan datang sangat tepat. Aku segera masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Sesuai alamat tujuan ya pak." Aku memastikan kepada pak supir taksi.
Supir taksi mengangguk dan seakan mengerti jika aku sedang buru-buru maka dia juga langsung menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Jalanan juga cukup lengang yang membuat perjalananku ke butik lancar dan pikiranku pun tenang karena tak mengumpat pengemudi lain yang saling membunyikan klaksonnya karena tak sabar menunggu kemacetan.
Kurang lebih dua puluh menit aku sampai butik. Ayah terlihat sedang mengobrol dengan salah satu karyawanku dan ditemani secangkir kopi.
Saat ku turun dari mobil, tatapan mereka kompak ke arahku, lantas tak lama karyawanku meminta izin ke beliau untuk meninggalkan sebentar karena harus membantuku membawa tas belanjaan yang membuat kedua tanganku susah bergerak.
"Tunggu sama bu, biar saya saja." Karyawanku lari mendekat ke arahku.
"Gak usah lari juga lah, tolong bawa masuk ya. Saya bayar taksi dulu." Aku menyerahkan beberapa tas belanjaku kepadanya.
"Baik bu, saya permisi bawa ke dalam dulu." Karyawanku mengambil alih tas belanja dari tanganku.
"Terimakasih." Jawabku.
Sebelum menemui Ayah, aku membayar taksi yang sudah mengantarku dengan selamat sampai butik dan sebagai rasa terimakasih pada pak supir, aku memberikan sedikit tambahan tips.
Aku menyempatkan berpamitan kepada semua karyawanku dan memberikan beberapa kotak kue untuk menemani kerja.
"Let's go home, yah." Alisku terangkat ke atas saat mengajak ayah pulang.
Tepukan tangan di jidatnya adalah pertanda beliau sudah bosan melihat tingkah anak gadisnya yang paling cantik ini, mobil Ayah pun seketika melaju mulus dan alhasil kita bisa beristirahat dengan nyenyak di rumah.
Bunda sudah menanti di depan pagar, hal semacam ini sudah menjadi ciri khas beliau setiap kali anak dan suaminya pergi seharian dan tentu saja sajian santap malam sudah berbaris di meja makan.
"Yeee... Nikmat mana lagi yang mampu saya dustakan ya Allah." Celotehku dengan sesendok nasi sudah siap masuk ke mulutku.
"Sebelum makan itu seharusnya berdoa bukan berbicara." Ayah mengacak-acak rambutku gemas.
"Sudahlah, ayo kita makan keburu nasinya dingin, tetapi bunda heran kamu bawa tas belanjaan banyak emangnya darimana sih sayang?"
''Untuk apa juga belanja sebanyak itu apalagi ada buket juga sepertinya?" Tanya Bunda yang mungkin melihat tanganku tadi keberatan penuh tentengan di sisi kanan dan kiri.
"Biasalah bun, pangerannya kan segera pulang." Ayah melirik ke arahku.
"Hehehe... Bunda nanti kita bikin steak bareng ya." Jawabku penuh nada memohon.
Bunda tersenyum dan memintaku segera menghabiskan makanan sebelum lanjut ke dapur untuk marinasi daging dan mengolahnya menjadi steak.
"Selesai... Saatnya tidur." Kataku sembari membuka kran wastafel untuk mencuci tangan.
"Selamat tidur gadisnya bunda, besok usahakan bangun lebih pagi ya." Bunda mencium pipiku sebagai penghantar tidur.
Aku memeluk Bunda dan kemudian masuk kamar untuk menarik selimut dan mimpi indah, rasanya tidak sabar menunggu pagi.
Hari di tunggu pun tiba, badanku terasa segar saat bangun. Niat hati hari ini adalah hari yang membahagiakan, tetapi saat ku lihat jam dinding ternyata aku kesiangan.
"Oh my God, aku harus ke dapur sekarang untuk menyiapkan steak yang akan aku bawa." Aku turun dari kasur dengan penuh kepanikan.
Mataku membesar ketika melihat Bunda sudah ada di dapur dan segera ku dekap malaikat tanpa sayapku itu dari belakang sebagai ucapan terimakasih karena telah menyelamatkanku pagi ini.
"Sudah sana mandi saja, nanti telat jemput Celo di bandara." Ucap Bunda yang menyadari anak gadisnya bergelayut manja di belakangnya.
Aku kembali mencium bunda sebelum mandi dan bersiap. Tiga puluh menit aku pun keluar dari kamar tentunya dengan penampilan yang on point.
Semua barang sudah tertata di mobil, pelakunya siapa lagi jika bukan kedua orang tuaku.
Kita sekeluarga berangkat bareng ke bandara dan tak lupa juga menghampiri Rafka dan Rani serta kedua orang tuanya.
Kemarin sempat ada omongan dari Celo jika dia ingin mengajak orang-orang terdekatnya untuk makan bersama.
"Kenapa harus ada Rafka sih?" Tanya Ayah menegaskan.
"Ayah, ini semua atas dasar permintaan Celo. Dia ingin semua orang terdekatnya hadir menyambut kepulangannya." Aku mencoba memberi pengertian kepada beliau.
"Ayah, percayakan saja sama Katty jika dia memang gak ada apa-apa dengan Rafka, lagipula Rafka kan juga sahabat baik Celo." Bunda ikut mendukungku.
Perlahan Ayah mulai melunak dan membuka hatinya untuk Rafka, beliau hanya berpesan jangan sampai aku mengecewakan Celo yang sudah rela bekerja keras untuk kebahagiaanku.
..