Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Mikhail Orlov
“Apa?”
Mata Priya membelalak. Jawaban pegawai HRD itu tentu saja membuatnya terkejut. Dengan harapan besar wanita itu menuju Verentis.
Bahkan dia rela meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja selama ini demi menerima tawaran dari St. Helena University Hospital.
“Apa Anda yakin kalau namaku tidak terdaftar?” tanya Priya sekali lagi. Berharap kalau pegawai tersebut salah atau melewatkan namanya.
“Mohon maaf, saya sudah mengeceknya dua kali dan nama dokter benar-benar tidak terdaftar.”
Dengan langkah lunglai Priya meninggalkan ruangan HRD. Sudah hilang pekerjaan dan terkatung-katung di negeri orang membuat pikirannya buntu. Sambil mencari jalan keluar, wanita itu memutuskan melihat keadaan Alina dulu.
Saat masuk ke ruang perawatan, pandangannya langsung tertuju pada Alina yang sedang berbaring di ranjang. Sambil tersenyum Priya mendekati anak itu. “Hai Alina, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Priya.
“Baik, dokter.”
“Syukurlah.”
“Dokter Priya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ujar Mikhail seraya bangun dari duduknya. Dia menyerahkan kursinya pada Priya. “Oh ya, kemana dokter akan pergi? Saya akan meminta anak buah saya.”
“Ehm ….”
Priya tidak langsung menjawab. Wanita itu sejatinya masih bingung akan melakukan apa selanjutnya. Namun pilihan yang paling masuk akal kali ini adalah kembali ke London. Dia akan mencoba bekerja kembali di rumah sakit terdahulu.
“Mungkin aku akan kembali ke London.”
“London? Apa dokter berasal dari sana?”
“Ya. Sebenarnya kedatanganku ke sini karena mendapat tawaran pekerjaan di rumah sakit ini dan mendapat program fellowship. Tapi ternyata itu hanya tipuan.”
“Maksudnya?”
“Aku baru menemui bagian HRD, ternyata tidak ada namaku baik sebagai dokter atau penerima program fellowship.”
“Apa aku boleh melihat surat yang kamu dapat dari rumah sakit ini?”
Priya mengeluarkan amplop surat dengan logo St. Helena Hospital lalu memberikannya pada Mikhail. Pria itu mengamati amplop pemberian Priya kemudian melihat lembaran surat di dalamnya.
“Dilihat dari logo memang mirip. Sepertinya orang yang menipumu sangat profesional. Apa kamu mau menyelidikinya? Aku bisa membantumu.”
Mikhail Orlov adalah pengacara terkenal dan sukses di Verentis. Dia banyak memiliki klien besar dari kalangan pejabat dan public figure.
Bukan itu saja, dia juga menangani klien dari luar negeri juga. Dan firma hukumnya selalu menjadi pilihan perusahaan besar, salah satunya adalah Vexion Pharma Global.
“Tidak usah.”
“Lalu apa rencanamu?”
“Aku akan kembali ke London.”
“Bagaimana kalau kamu menjadi dokter pribadi Alina? Belakangan ini asmanya sering kambuh. Dan aku membutuhkan dokter yang bisa menjaganya selama 24 jam. Kalau dokter bersedia, dokter akan tinggal di rumah saya agar bisa lebih leluasa merawat Alina.”
Priya tidak langsung menjawab. Dia masih menimbang tawaran dari Mikahil. Untuk situasinya sekarang, sepertinya tawaran pria itu cukup menarik. Kalau dirinya kembali ke London, belum tentu bisa kembali bergabung di rumah sakit sebelumnya.
“Aku akan menggaji dokter 10.000 dolar,” lanjut Mikhail.
Mendengar nominal gaji yang ditawarkan Mikhail tentu saja membuat Priya langsung tertarik. Gajinya di rumah sakit terdahulu tidak sebesar yang ditawarkan Mikhail dengan jam kerja maksimal 40 jam dalam seminggu, dan mengurusi banyak pasien.
Namun jika dia menerima tawaran Mikhail, dia hanya perlu menangani Alina saja. Sungguh tawaran yang menggiurkan. Wanita itu langsung menerima tawaran Mikhail.
“Aku bersedia.”
“Baiklah. Setelah Alina diijinkan pulang, kita akan langsung menuju kediamanku.”
“Oke.”
Kesialan yang tadi dirasakan Priya seketika berubah menjadi keberuntungan. Bertemu dengan Mikhail Orlov merupakan sebuah anugerah untuknya.
***
Di saat Priya menerima tawaran menggiurkan dari Mikhail, Sergio masih mencari keberadaan wanita itu. Dia sudah mencari ke seluruh area bandara, tapi jejaknya seperti hilang ditelan bumi. Kenzo ikut membantu, dia meminta Armin mengakses CCTV di area sekitar bandara.
Bukan hanya Sergio, tapi Arman juga mencari keberadaan Priya. Dia mengerahkan banyak anak buahnya untuk mencari jejak dokter spesialis anak tersebut. Pria itu sudah kehilangan Timur, tentu saja Arman tidak mau kehilangan Priya juga.
Anak buah Arman terus berkeliaran di bandara. Mereka juga memeriksa rekaman CCTV, tapi belum menemukan jejak wanita itu.
Sergio yang masih berada di bandara, memutuskan beristirahat sebentar di kedai kopi sambil menikmati secangkir Americano panas.
Ponselnya yang digeletakkan di atas meja bergetar. Tertera nama Kenzo di layar. Dengan cepat Sergio menjawab panggilan.
“Saat pesawat City Airline mendarat, ada ambulans yang mendekat. coba kamu cari tahu. Siapa tahu dokter Priya pergi dengan ambulans itu,” ujar Kenzo setelah mendapat informasi dari Armin.
“Baiklah.”
Sergio menyeruput kopi di cangkirnya sambil menghubungi temannya yang bekerja di bandara. Sepuluh menit kemudian temannya datang. Pria itu langsung menarik kursi di samping Sergio.
“Apa yang kamu temukan?”
“Kamu benar, dokter Priya ada di ambulans yang membawa pasien darurat. Mereka menuju St. Helena University Hospital. Di pesawat, dia menyelamatkan anak yang terkena serangan asma. Dan kamu tahu siapa anak itu?” teman Sergio menjeda sejenak ucapannya. “Dia itu anak Mikhail Orlov.”
“Jadi sekarang dokter Priya ada di St. Helena University Hospital.”
“Ya. Dan bagasi miliknya diambil oleh asisten Mikhail Orlov.”
“Baiklah, terima kasih.”
Secepat kilat Sergio langsung meninggalkan bandara. Dia harus segera menuju rumah sakit. Kalau Arman mengetahui lebih dulu, keadaan bisa berbahaya.
Mikhail Orlov adalah pengacara untuk Vexion Pharma Global. Pasti pria itu akan menyerahkan Priya pada Arman dengan mudah.
Informasi yang diperoleh Sergio juga berhasil didapatkan oleh anak buah Arman. Mereka segera melaporkan hasil penemuannya pada Arman. Pria itu akan menemui Mikhail Orlov secara langsung di rumah sakit.
Sementara itu di rumah sakit, setelah dirawat selama tiga jam, akhirnya Alina diperbolehkan pulang. Sekarang anak itu sedang bersiap untuk pulang ke rumah bersama dokter Priya.
“Alina tunggu Papa di mobil bersama dokter Priya. Papa masih ada urusan sebentar.”
“Oke, Papa.”
Bersama dengan Priya, Alina segera menuju mobil sang ayah yang diparkir di basement. Sedangkan Mikhail menuju lobi. Barusan Arman menghubunginya dan mengajaknya bertemu di lobi rumah sakit. Setibanya pria itu di sana, Arman sudah menunggu bersama asistennya.
“Arman,” panggil Mikhail.
“Mikhail.”
Kedua pria itu saling bersalaman lalu menuju sofa yang tadi ditempati Arman.
“Maaf mengganggu waktumu. Aku tahu kamu baru saja tiba di sini dan aku juga mendengar soal kejadian yang menimpa Alina. Bagaimana keadaannya?”
“Sudah lebih baik.”
“Syukurlah.”
“Ada apa kamu ingin bertemu denganku?”
“Aku dengar ada dokter yang menolong Alina saat di pesawat.”
“Ya, namanya dokter Priya.”
“Apa kamu tahu di mana dia sekarang?”
“Kenapa kamu mau bertemu dengannya?” selidik Mikhail.
“Sebenarnya aku menawarkan pekerjaan di Vexion Pharma. Dia datang ke sini karena undangan dariku. Tadi anak buahku menjemputnya di bandara, tapi ternyata dia tidak ada. Apa dia sedang bersama Alina sekarang?”
***
Kira² apa jawaban Mikhail?
biar tugasnya enteng 😂....jd anak buahnya Arman di amanin dulu ya 🤭
🤭