Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Guling Yang Bisa Bernafas
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun belum ada tanda-tanda Dominic menginjakkan kaki di rumah, padahal aroma masakan lezat masih tercium samar dari arah dapur.
"Key, apa kau sudah menghubunginya?" tanya Elise menghampiri Keyla yang masih setia duduk tegak di meja makan, menatap deretan piring yang tertutup rapi. "Kalau kau sudah mengantuk, lebih baik tidur duluan saja, Sayang. Jangan memaksakan diri."
"Aku tidak punya nomor ponselnya, Ma. Lagipula aku belum mengantuk, aku akan tetap menunggunya. Bukankah kata Mama, sebagai istri yang baik aku harus menyambut suami pulang?" jawab Keyla dengan kepolosan yang membuat hati Elise sedikit tersentuh.
Elise menghela napas panjang, lalu mengusap pundak menantunya dengan lembut.
"Memang benar, tapi apa kau belum tahu bagaimana pekerjaan Dom? Kadang dia pulang larut, kadang malah tidur di luar jika pekerjaannya menumpuk. Dan kalau kau tidak menghubunginya, mana kau tahu dia akan kembali atau tidak malam ini," ucap Elise menjelaskan dengan sabar, mencoba memberi pengertian bahwa hidup dengan pria seperti Dominic memang penuh dengan ketidakpastian.
Keyla terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri. "Boleh aku minta nomor ponselnya, Ma?" pinta Keyla lirih.
"Tentu saja, Sayang." Elise segera mengambil ponselnya dan mendiktekan deretan angka milik putra bungsunya itu. "Cepat hubungi dia. Mama ke kamar Zoey dulu, ya. Kau tidak mau kan bocah nakal itu tiba-tiba bangun dan mengganggu waktu mu malam ini?" ucap Elise sembari tersenyum penuh arti sebelum bergegas menaiki tangga ke lantai dua.
Kini tinggal Keyla sendirian di ruang makan yang luas itu. Ia menatap layar ponselnya, ragu apakah harus menekan tombol panggil atau tidak.
Bagaimana jika dia sedang rapat penting? Bagaimana jika dia marah karena nomor asing meneleponnya? pikirnya.
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri cukup lama, Keyla akhirnya membulatkan tekad. Ia menekan tombol panggil.
Tuut... tuut...
Cukup lama panggilan itu tersambung hingga sebuah suara bariton yang dingin dan berat terdengar dari seberang sana.
"Ya?" ucap Dom tanpa basa-basi.
"Tuan, ini aku, Keyla," jawab Keyla dengan suara yang nyaris tak terdengar karena gugup. "Maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya ingin tanya, jam berapa kau akan pulang?"
Di seberang sana, Dominic yang sedang memeriksa dokumen di kantornya sempat tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia mengangkat panggilan dari nomor asing yang ternyata adalah istri kecilnya.
Mendengar suara halus yang terdengar ragu itu, entah mengapa sudut bibir Dominic sedikit tertarik ke atas tanpa ia sadari.
"Kenapa? Kau merindukanku?" tanya Dom tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi sedikit menggoda.
"T–tidak! Siapa bilang aku rindu?Anda percaya diri sekali!" elak Keyla cepat karena salah tingkah. "Aku hanya ingin menanyakan jadwalmu agar aku tidak duduk seperti patung di meja makan!"
Dominic terkekeh. Suara tawanya malah terdengar seksi di telinga Keyla. "Kalau begitu, malam ini aku tidak akan pulang. Aku sibuk, banyak urusan yang harus diselesaikan."
Keyla membatu, merasakan dadanya sedikit sesak mendengar jawaban itu. Ada rasa kecewa yang nyata, padahal ia sudah susah payah memasak bersama Elise tadi.
Namun ia teringat ucapan mama mertuanya dan mencoba untuk mengerti.
"Bicaralah.Kau menghubungiku bukan hanya untuk diam begini dan mendengarkan napas ku, bukan?" ucap Dom membuyarkan lamunan Keyla.
Keyla mengerucutkan bibirnya, rasa kesal mulai merayap menggantikan rasa kecewanya. "Sebenarnya aku dan mama tadi memasak makanan kesukaanmu. Tapi karena kau bilang tidak pulang, ya sudah, aku akan membuangnya ke tempat sampah sekarang juga!" serunya.
Dom tersenyum tipis di ruang kerjanya. "Buang saja kalau kau mau. Aku sedang tidak selera makan dan tidak terbiasa makan malam selarut ini," balasnya datar, sengaja ingin memancing emosi gadis itu.
"Baiklah! Memang dasar keras kepala!" Keyla langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak peduli lagi pada sopan santun.
"Dasar pria tua menyebalkan! Dia sama sekali tidak menghargai usahaku!" maki Keyla pada ponselnya sendiri.
Keyla menjejakkan kakinya ke lantai dengan keras, persis seperti Zoey saat sedang merajuk. Ia menatap makanan yang sudah dingin itu dengan tatapan tajam seolah makanan itu adalah wajah Dominic.
"Biar saja dia kelaparan! Aku tidak akan menyisakan sedikitpun pun untuknya!" gerutu Keyla.
Ia berbalik menuju kamarnya tanpa menyentuh makanan itu sama sekali. Anehnya, rasa lapar yang tadi melilit perutnya hilang seketika, berganti dengan rasa jengkel yang memenuhi dada.
Keyla membanting tubuhnya ke kasur dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal, mengumpat dalam hati pada
suami dinginnya yang benar-benar tidak peka itu.
*****
Di dalam mobil yang melaju membelah malam, Dominic duduk bersandar sembari menatap ke luar jendela. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang tak kunjung hilang.
Pemandangan langka itu tentu saja tidak luput dari radar Marco yang sedang menyetir.
"Bukankah anda bilang tadi akan menginap di kantor karena pekerjaan menumpuk? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran dan minta pulang?" tanya Marco penasaran, sesekali melirik spion tengah. "Lalu, kenapa anda tersenyum seperti itu? Menakutkan sekali melihat anda seperti orang gila."
"Seseorang sedang menungguku," sahut Dom singkat.
Marco mengernyit, alisnya nyaris bertautan. "Hanya karena seseorang menunggu, anda sampai senyum-senyum begini? Menggelikan sekali. Anda mirip seperti remaja yang baru saja mendapatkan balasan pesan dari gebetannya."
Dominic yang sedang dalam suasana hati yang sangat baik enggan membalas ucapan sinis asistennya itu. Baginya, Marco saat ini hanyalah tikus berisik yang tidak perlu ditanggapi.
Pikirannya sudah terbang jauh, membayangkan wajah kesal Keyla yang tadi mematikan teleponnya secara sepihak.
Sesampainya di mansion utama, suasana sudah sepi. Lampu-lampu besar sudah dipadamkan, hanya menyisakan lampu dinding dan beberapa penjaga yang masih berjaga di gerbang luar.
Dominic bergegas menuju kamar tanpa suara.
"Apa dia sudah tidur?" gumam Dom saat membuka pintu dengan sangat perlahan.
Kamar itu gelap gulita. Dom sengaja tidak menyalakan lampu karena tak ingin membangunkan gadis kecil yang mungkin sedang mengutuknya dalam mimpi.
Dominic segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak. Setelah berganti dengan pakaian santai, Dominic merangkak naik ke atas ranjang dan menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama dengan Keyla.
Merasakan ada pergerakan di sampingnya, Keyla yang setengah sadar berbalik. Dalam kantuknya, ia merasa butuh sesuatu untuk dipeluk. Tangannya melingkar di perut kokoh Dominic, sementara wajahnya ia benamkan di dada bidang pria itu.
"Lho, kok gulingnya hangat? Gulingnya juga keras, punya otot, dan dia bahkan bernapas? Apa aku sedang bermimpi memeluk guling raksasa yang wangi parfum mahal?" batin Keyla linglung. Otaknya yang masih terperangkap dalam kantuk mencoba mencerna situasi.
Keyla meraba-raba lagi, jemarinya menyentuh tekstur kulit yang nyata. Ia perlahan membuka matanya, mendongak sedikit, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.
Wajah datar Dominic berada tepat di depan matanya, hanya berjarak beberapa senti.
"Sudah bangun? Baguslah. Sekarang ayo turun dan suapi aku makan. Aku lapar," titah Dom dengan suara baritonnya yang khas.
Bibir Keyla menganga lebar. Matanya mengerjap berkali-kali, mencoba memastikan apakah pria di depannya ini benar-benar suaminya yang tadi bilang tidak akan pulang, ataukah ini hanya halusinasi akibat ia tidur dalam keadaan kesal.
"T–tuan?! Kenapa anda ada di sini?!" tanya Keyla.
"Aku berubah pikiran. Cepat bangun atau aku akan memakan mu sebagai ganti makan malamku," ancam Dom tenang.
Keyla mematung, tangannya masih memegang perut Dom, sementara otaknya berusaha memproses bagaimana caranya pria tua menyebalkan ini bisa berpindah dari kantor ke tempat tidurnya secepat kilat.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃