Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modus Seorang Bos
Ayra berjalan mendahului Bagas tanpa rasa peduli kepada atasannya alias bos besar. Bagas yang diperlakukan seperti orang biasa merasa tidak suka dan menganggap Ayra bekerja tidak profesional. Lantas Bagas menegur Ayra yang notabene adalah mantan kekasihnya.
"Tidak sopan kau mendahului seorang bos," Tegur Bagas seolah ingin diperhatikan.
Lantas Ayra menoleh kebelakang dengan gaya berbicara seperti orang sedang kesal.
"Pekerjaan sudah selesai, jadi aku mau pulang!" tegas Ayra.
"Tidak bisa, kamu harus pulang denganku. Masih ada beberapa berkas yang harus kamu pelajari untuk rapat dengan klienku berikutnya," jelas Bagas.
"Apa? Berkas apa lagi yang harus dipelajari? Bukankah besok tidak ada pertemuan penting dengan klien?" Ayra jadi bingung. Dia mengerutkan keningnya heran.
"Pokoknya kamu harus pelajari semua berkas yang sudah disusun oleh Gian, dan itu perintah!" seru Bagas dengan sangat tegas.
"Biarkan Gian saja yang mengajariku," bantah Ayra tidak mau kalah.
"Bisa tidak kau ini menurut padaku? Aku ini atasan kamu, Ay!" titah Bagas.
"Bisa tidak jangan panggil Ay? Aku risih dengan sebutan itu, jadi panggil aku Ayra saja, paham!" ucap Ayra tak ingin kalah dengan Bagas.
"Tidak bisa, karena aku suka dengan panggilan Ay, paham!" tegas Bagas tak mengindahkan permintaan Ayra.
Ayra merasa sangat kesal dan dia seolah dikerjain habis-habisan oleh sosok Bagas yang sekarang menjadi bosnya sekaligus mantan kekasihnya itu. Dulu waktu mereka pacaran, sosok Bagas adalah lelaki yang sangat baik dan manis. Tapi sekarang setelah mereka putus dan bertemu kembali, kini sosok Bagas terlihat galak dan mau menang sendiri.
Ya namanya bos, wajarlah kalau Bagas sekarang sosoknya berubah menjadi sosok yang berwibawa. Tapi balik lagi dari permasalahan sekarang ini, kalau dipikir-pikir sepertinya Bagas menang banyak dari Ayra yang sekarang hanya seorang bawahan Bagas.
Ayra tak henti menatap wajah Bagas dengan wajah cemberutnya. Ayra sangat kesal dengan Bagas kalau dilihat dari ekspresi wajah Ayra saat ini.
"Dasar modus," gumam Ayra geram sambil memutar tubuhnya ke arah depan.
"Apakah modus jika seorang bos memerintah soal pekerjaan dengan sekretarisnya sendiri?" nyatanya Bagas mendengar gumaman Ayra barusan.
Tapi sayangnya Ayra hanya diam tak menjawab perkataan Bagas. Ekspresi Ayra pun biasa saja seperti orang yang tidak bersalah.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum setelah itu menghela nafasnya dengan damai, seolah melihat wajah cemberut Ayra membuat Bagas menjadi tenang dan sangat gemas.
Tak lama kemudian, datanglah mobil di depan mereka dengan seorang sopir yang keluar dari dalam mobil itu, lalu berjalan menuju Bagas.
"Ini Pak kunci mobilnya," ucap sang sopir sambil memberikan kunci mobil pada Bagas.
"Ok, makasih ya. Kamu naik taksi saja," ujar Bagas sembari memberikan uang kertas merah 4 lembar kepada sang sopir.
"Ya, terima kasih Pak. Kalau begitu saya permisi Pak," kata sang sopir yang beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Bagas.
Dari arah samping, Ayra melongo kebingungan. Dia pikir bahwa sopir yang barusan saja pergi akan mengantar dirinya dan Bagas sampai ke apartemen, nyatanya sang sopir malah disuruh pergi oleh Bagas. Jadi hanya tinggal lah dirinya berdua saja dengan Bagas. Kecanggungan pun kembali datang setelah kebersamaan mereka berdua tadi di restoran saat makan, dan sekarang berdua kembali di dalam mobil.
Sungguh Ayra tak habis pikir bahwa Bagas akan memanfaatkan dirinya seperti ini. Suasana saat ini adalah pertama kali dia rasakan setelah mereka putus beberapa tahun lalu. Suasana menegangkan plus canggung yang dirasa oleh Ayra semakin gugup. Dia ingin sekali memaki Bagas, tapi apa daya, dia sekarang adalah bawahannya.
"Dasar modus, lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan kali ini kepadaku, awas saja dia," batin Ayra tidak tenang.
Dari lirikan mata Bagas, dia bisa melihat dari kaca spion depan bahwa Ayra sedang tidak baik-baik saja. Dia mengerti kalau Ayra sedang mengutuki dirinya saat ini karena terpancar dari wajah Ayra yang sedang cemberut.
Bagas hanya bisa tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya sembari fokus dengan jalanan karena dia sedang menyetir mobil. Dia pun serasa tenang duduk bersampingan dengan Ayra.
Dan tak terasa, kini mobil yang dikendarai Bagas sudah sampai di apartemennya. Sedangkan Ayra hanya diam di mobil, dia seakan tidak mau keluar dari sana.
"Ayo keluar, di mobil berduaan bersamaku masih kurang ya? Tenang saja, bukankah kita akan berduaan di dalam apartemen, hemm?" kekeh Bagas dengan gombalnya pada Ayra.
Ayra hanya menelisik dengan muka kesal, tidak disangka bahwa Bagas ternyata lelaki menggombal yang luar biasa. Padahal dulu yang Ayra kenal Bagas itu adalah orang yang sangat cuek dan tidak pernah modus sama sekali padanya ataupun wanita lainnya.
"Dasar buaya," cicit Ayra tambah kesal.
Bagas langsung terkekeh geli mendengar umpatan dari sang mantan. Dan itu membuat hati Bagas senang menggombali Ayra.
"Gitu dong nurut sama aku," kekeh Bagas setelah melihat Ayra yang nyatanya menuruti perintah Bagas.
Ayra hanya mendengus kesal dengan tingkah Bagas. Tapi jujur sebenarnya Ayra sedikit tegang dan gemetar berdekatan dengan Bagas. Seolah jantungnya dag dig dug.
"Dasar otak mesum, awas saja nanti. Aku cincang dia nanti," gumam Ayra dalam hati.
Bagas sudah memasuki apartemen nya terlebih dahulu setelah membuka sandi kuncinya. Ayra hanya mengekor dibelakangnya sambil melihat sekeliling tatanan apartemen yang dihuni Bagas. Dia membandingkan hunian kost yang dia tempati dengan apartemen milik Bagas, sangat jauh berbeda.
Ya wajarlah, Arya dari dulu tahu bahwa Bagas adalah anak orang kaya, alias konglomerat. Ayra mulai sedikit nyaman dengan pemandangan yang dia liat di dinding ruang tamu, ada lukisan bunga tulip yang sangat cantik. Ayra tersenyum dan berjalan mendekat ke lukisan tersebut.
"Bagus kan, Ay? Aku membelinya karena lukisan itu sangat cantik. Itu adalah karya pelukis terkenal. Kamu suka, Ay?" Bagas membuyarkan senyuman Ayra ketika lelaki itu berbicara, apalagi Bagas telah berada disampingnya tiba-tiba.
Ayra sedikit tersentak karena jarak mereka cukup dekat dengan arah pandang wajah mereka berdua.
"Aku nggak suka, biasa saja, nggak bagus bagus amat kok!" cicit Ayra melengoskan tubuhnya menjauh dari Bagas.
"Aku nggak banyak waktu, jadi mulai saja sekarang dengan tugas yang akan aku lakukan besok. Bawa sini berkasnya," pinta Ayra sambil melirik jam ditangannya.
Bagas seolah mendengar Ayra sedang memerintahnya, seketika itu Ayra menjadi kikuk. Ayra sadar dengan perkataanya yang seakan dia adalah bosnya.
"Wahhh, aku nggak nyangka seorang Ayra yang dulu cukup lembut, sekarang berubah menjadi seberani dan segalak ini. Sepertinya aku melewatkan sesuatu setelah perpisahan kita. Sok kuat kamu, Ay!" ucap Bagas sambil berkacak pinggang.
"Ekhemm, i-itu masa lalu. Tidak ada sangkut pautnya. Lagi pula aku memang perempuan yang berani dan kuat kok," jawab Ayra sedikit kikuk.
"Kuat? Owh ya, kamu kuat? Boleh dicoba?" Bagas mendekat ke arah Ayra seolah ingin meminta sesuatu.
PLAKKK
"Awww, sakit!" Bagas meringis kesakitan karena bahunya di pukul oleh Ayra.
"Gimana? Aku kuat, kan?" nyatanya Ayra memberikan tinjunya ke Bagas sebagai bukti dia kuat.
"Ya maksudku bukan kuat seperti itu, Ay!" Bagas masih memegang bahunya yang sakitnya mulai berkurang.
"Lalu seperti apa? Baru saja di bahu, belum di perut, kamunya sudah kesakitan. Hemm, payah!" gumam Ayra seolah mengejek.
"Eh, jangan meremehkan aku ya, Ay. Aku GK selemah yang kamu kira. Sekarang ini aku lebih menghargai kamu, paham!" tekan Bagas.
Ayra melengos tak peduli ucapan Bagas. Karena sekarang ini, hatinya mulai tak nyaman dan rasa canggung mulai kembali menyerang.
Sedangkan Bagas, dia sedari tadi menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Apalagi kelakuan Ayra yang membuat Bagas hampir frustasi.
"Aku sudah menahan diri saat pertama kali kita ketemu kembali, Ay. Kalau aku nggak inget kamu adalah mantanku, maka sudah kupeluk erat kamu dalam pelukanku Ayra," batin Bagas hatinya sedikit goyah, serasa dirinya tidak lagi bisa membendung pertahanannya untuk memeluk Ayra karena kerinduannya yang amat sangat dalam.
Bersambung....