"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
when yah
...Jakarta, 13 Juni 2025...
Pukul 08.00 WIB
Langit Jakarta yang sejak kemarin dirundung mendung, pagi ini akhirnya luluh dalam rintik hujan gerimis. Aroma tanah basah dan ketukan ritmis air yang menerpa jendela, bersanding dengan denting spatula dari arah dapur, perlahan menarik kesadaran Samuel.
Ia mengerjapkan mata, mendapati dirinya masih meringkuk di atas sofa ruang tengah akibat begadang bermain game semalaman. Samuel melirik jam tangan digitalnya; angka menunjukkan tepat pukul 08.00 WIB.
Kali ini, isi kepala sang penyelidik tidak seribut biasanya. Tidak ada analisis yang berputar liar atau desakan untuk memecahkan kasus. Mas Dimas sudah memberikan lampu hijau kemarin. Samuel hanya perlu menunggu hari esok—tanggal 14 Juni—untuk memulai kembali penyelidikan resminya.
Saat hendak menegakkan tubuh, Samuel menyadari selembar selimut hangat telah menutupi badannya. Ia duduk sejenak, mengumpulkan nyawa yang masih berceceran di alam mimpi. Ketika kepalanya menoleh ke arah kiri, pandangannya langsung tertuju pada Riza yang tampak sibuk mengaduk nasi goreng di atas wajan.
Menyadari pergerakan Samuel yang berjalan gontai mengambil segelas air putih untuk membasuh tenggorokan, Riza menoleh. "Pagi, Sam," sapa Riza, sebuah senyuman tipis menghiasi wajah ayunya.
Samuel menurunkan gelasnya, lalu membalas, "Pagi, Riz."
Detik setelah kalimat itu terlontar, keheningan mendadak menyergap. Keduanya terpaku sejenak, baru menyadari bahwa ini adalah kali pertama mereka saling membalas ucapan selamat pagi dengan begitu natural sejak tinggal bersama. Semburat merah tipis mendadak muncul di pipi keduanya, memicu rasa tersipu yang buru-buru mereka sembunyikan.
Samuel mengalihkan kecanggungan dengan melangkah menuju balkon. Ia ingin memastikan apakah suara rintik itu benar-benar hujan atau sekadar visualisasi dari dapur. Di luar, Jakarta tampak basah dan abu-abu. Di bawah sana, beberapa pengendara motor terlihat menepi, sibuk mengenakan jas hujan plastik berwarna-warni.
Niat awalnya untuk lari pagi terpaksa urung karena cuaca tidak mendukung. Untuk mengisi waktu, Samuel memilih untuk membereskan apartemennya yang berantakan. Berkas-berkas penyidikan yang kemarin berserakan di atas meja kerja mulai ia rapi-rapi. Karena izin dari Mas Dimas baru berlaku besok, Samuel sengaja bermalas-malasan hari ini; ia hanya menata dokumen-dokumen itu agar lebih mudah dibaca esok hari.
Tepat saat lembar berkas terakhir masuk ke dalam map, suara Riza menggema dari arah ruang makan. "Sam! Sini, sarapan!"
Samuel melangkah santai menuju meja makan, mendapati Riza yang sudah duduk manis duluan. Menu pagi ini sederhana namun menggoda: nasi goreng yang memanfaatkan sisa nasi semalam.
Di sela-sela kunyahan mereka, Riza membuka percakapan. "Hari ini ke kantor?"
Samuel menatap Riza sejenak sebelum menggeleng. "Enggak, hari ini gue free lagi." Riza hanya mengangguk-angguk paham, melanjutkan sarapannya dalam damai.
Selesai makan, keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Samuel menggunakan kamar mandi di dekat dapur, sementara Riza menggunakan kamar mandi utama di dalam kamar Samuel.
Satu jam kemudian, Samuel yang benar-benar berniat menjadikan hari ini sebagai hari santai nasional, melihat Riza baru saja selesai menjemur handuknya di area dalam apartemen karena luar ruangan masih diguyur hujan.
"Riz, main yuk," ajak Samuel sembari mengangkat sebuah controller PlayStation di tangan kanannya.
Riza menoleh, berjalan mendekat, lalu tanpa ragu menyambar controller tersebut dan langsung mengambil posisi duduk tepat di samping Samuel.
Di tengah-tengah permainan yang sengit, Samuel tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan yang terdengar sangat aneh bagi orang normal. "Riz, kalau seandainya gue bisa pergi ke masa lalu... di mana lu belum kenal sama gue, apa yang harus gue lakuin atau omongin biar Riza di masa lalu percaya kalau gue datang dari masa depan?"
Mata mereka berdua tetap fokus menatap layar televisi. Riza sempat mendecak kesal karena karakternya terkena pukulan telak dari karakter Samuel di dalam game. Dengan nada yang dibuat serius, Riza menyahut, "Tch. Hmmm... Bilang ke diri gue yang di masa lalu, kalau gue semasa kecil pernah berkhayal bisa menjadi Super Saiyan."
Brak!
Samuel tersentak kaget. Konsentrasinya buyar seketika hingga membuat karakternya langsung dieksekusi mati oleh Riza di dalam game. Samuel spontan meletakkan stik gamenya, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan bahunya mulai bergetar hebat.
Menyadari karakter Samuel mendadak diam dan tewas, Riza menoleh. Begitu melihat Samuel yang sedang berusaha keras menahan tawa di balik telapak tangannya, Riza langsung paham apa yang sedang ditertawakan pria itu. Wajahnya seketika memerah padam karena malu.
"Apa yang lucu, hah?!" bentak Riza, suaranya naik satu oktav.
Pertahanan Samuel runtuh. Tawanya pecah memenuhi ruangan. "Enggak, enggak... MUHAHAHA!"
Samuel menatap Riza yang matanya kini mulai berkaca-kaca karena menahan malu. "Muhahaha! Enggak, Riz... Bayangin aja, gadis-gadis lain pas kecil mimpi jadi putri dongeng, lu malah pengen jadi Saiyan? Hahaha!" Samuel menepuk pahanya berkali-kali, perutnya sampai terasa kram.
Riza yang telanjur malu langsung melayangkan pukulan-pukulan manja ke lengan Samuel. "Bayangin aja, rambut gue berubah jadi kuning terus berdiri semua!" cerocos Samuel lagi, menirukan gaya rambut Goku.
Mendengar visualisasi konyol dari mulut Samuel, Riza justru tersadar betapa absurdnya khayalan masa kecilnya itu. Pukulannya terhenti. Ia menundukkan kepalanya, dan tubuhnya mulai bergetar.
Melihat Riza yang menunduk dan bergetar, Samuel seketika menghentikan tawanya. Ia mengira wanita di sampingnya ini beralih menangis karena tersinggung. Nada suara Samuel langsung memelan, panik. "Riz... gue bercanda kok. Jadi Saiyan keren banget, beneran..."
Tepat setelah kata-kata itu keluar, Riza mendongak. Wajahnya sama sekali tidak menangis, melainkan sedang tertawa lepas. Dengan gerakan kilat, jemarinya langsung mencubit gemas kedua pipi Samuel. "Hahaha! Nih, rasakan makan cubitan Super Saiyan!"
Setelah puas tertawa bersama dan meredakan ketegangan di pipi Samuel, sang penyelidik kembali memasang wajah serius. Ia menatap lekat netra Riza. "Gue serius, Riz. Kalau gue beneran bisa ke masa lalu, kalimat apa yang harus gue kasih tahu ke diri lu?"
Bagi Riza, pertanyaan ini tidak lebih dari sekadar kumatnya sisi chuunibyou dan delusi fiksi ilmiah milik Samuel. Ia menghela napas panjang, mencoba meladeni permainan kata pria itu.
"Huuuft. Lu bener-bener mau tahu, ya? Gue juga bingung, sih..." Riza mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir sejenak sebelum matanya berbinar. "Ah! Jawab begini aja: 'Aku adalah benang emas itu.'"
Samuel tertegun, lalu seulas senyum puas terkembang di wajahnya. Kalimat kunci itu kini telah tersimpan rapat di memorinya.
Narator
Hari itu, tidak ada kemajuan berarti dalam penyelidikan. Tidak ada konspirasi yang dipecahkan, tidak ada petunjuk baru yang dikejar. Hari itu hanyalah hari malas-malasan yang berjalan lambat di bawah lindungan hujan gerimis Jakarta.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbincang, berdebat konyol, dan bermain bersama, kedua anak manusia tersebut akhirnya jatuh tertidur saling bersandar di atas sofa yang sama. Sungguh sebuah kenyamanan yang meneduhkan.
Hari seperti ini—hari yang begitu tenang dan damai—bagi banyak orang mungkin hanyalah hari libur biasa. Namun bagi Samuel, ini adalah hari impian yang selama ini ia cari di tengah kepalanya yang selalu bising oleh kasus dan trauma.
Mungkin, ini adalah hari damai terakhir yang bisa mereka miliki di lini masa ini. Jadi, sebelum badai besar merenggut semuanya besok, apa salahnya menikmati sisa kebahagiaan ini, bukan?