Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU MOMEN
Drrrt...
Ponsel di saku celana Zaki bergetar panjang, memecah keriuhan suasana aula kelulusan yang masih dipenuhi derai tawa dan isak tangis perpisahan. Zaki segera mengeluarkan benda pipih itu, mendapati sebuah nomor tak dikenal yang cukup formal.
"Halo?" sapanya dengan nada siaga.
"Zaki. Ini dengan Pak Tomi. Bisa bertemu hari ini di kantor pusat?" Suara berat di seberang sana terdengar sangat mendesak.
"Oh, iya. Siap, Pak. Saya akan segera ke sana," jawab Zaki sigap, matanya menyipit karena curiga akan maksud panggilan tersebut.
Tuut.
Panggilan terputus.
"Siapa, Kak? Mbak Naya itu, kan?" tanya Mira tiba-tiba, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang jahil.
Zaki segera mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas, berusaha menutupi kegugupan yang tiba-tiba merayap. "Kamu dengar tidak tadi Kakak bilang apa? Pak. Pak Tomi! Bukan Mbak!"
"Siapa, Zaki?" tanya Desi.
"Ma, aku dipanggil Pak Tomi buat datang ke perusahaan hari ini. Gak tahu ada urusan apa, mungkin soal proyek desain," jelas Zaki dengan nada meyakinkan. "Mama sama Mira pulang duluan aja ya. Aku pesankan taksi biar kalian nyaman."
"Terus, kamu bagaimana?" tanya Desi cemas.
"Gampang, aku bisa naik ojek online," jawab Zaki santai.
"Hmm," deham Mira sambil menyeringai lebar. "Ciee, nggak ngabarin dulu pacarnya nih? Pasti lagi kangen-kangenan, ya?" goda Mira sambil mempraktikkan gestur menelepon dengan jarinya menempel di telinga. "Halo Sayang, aku ke perusahaan dulu ya, nanti aku jemput kamu..."
Godaan itu telak menghantam pikiran Zaki, membuat bayangan wajah Naya yang lembut seketika memenuhi benaknya. Ia mendesah panjang, merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Atau..." lanjut Mira dengan nada menggantung, "pacar Kakak orang sekolah ini juga? Makanya Kakak panik?"
Deg.
Darah Zaki serasa berhenti mengalir.
"Sudah, sudah," sahut Desi, menepuk lengan Mira. "Kamu ini, jangan menggoda kakakmu terus."
"Emang iya, Ma! Namanya Na... Ya!" seru Mira tak mau kalah.
"Sudah," tegas Desi sambil menatap Zaki tajam namun lembut. "Zaki, Mama dan Mira pulang duluan. Kamu hati-hati kalau gitu,"
Desi berbalik sejenak sebelum langkahnya menjauh. "Oh ya, kalau bisa kamu pulang cepat. Tadi kakakmu menelepon, katanya dia ingin pulang ke rumah. Gak tahu ada masalah apa, tapi suaranya terdengar gak tenang. Pokoknya, kamu harus pulang cepat."
"Iya, Ma," jawab Zaki patuh.
Ia pun berdiri mematung di dekat gerbang aula, melihat punggung ibu dan adiknya perlahan ditelan oleh lautan manusia.
Kata-kata Mira tadi benar-benar membekas. Ia harus menghubungi Naya, tapi bagaimana jika ada guru atau staf sekolah yang melihat pesannya?
Ah, chat saja. Lebih aman, batin Zaki. Ia segera mengetik pesan dengan jempol yang lincah...
Naya, aku dapat panggilan mendadak dari perusahaan untuk datang ke sana. Kamu hati-hati saat pulang nanti. Aku akan kabari kamu lagi.
Pesan terkirim, namun tanda centang biru masih belum muncul. Zaki menghela napas, mencoba tenang.
"Bro!" Suara Gani yang menggelegar memecah lamunannya.
Zaki menoleh dan mendapati Gani, Daniel, serta ketiga gadis yang salah satunya di rangkul oleh Daniel, Clara. Sementara, kedua temannya, Vina dan Fara, sedang berjalan di samping Gani.
Vina, gadis yang dikenal cantik setelah Clara di angkatan itu, tersenyum manis ke arah Zaki. Ia mengenakan kebaya yang pas di tubuh, wajahnya dipoles makeup dengan lipstik merah menyala yang sangat mencolok.
Zaki membalas senyum itu dengan sopan, namun hatinya merasa hampa. Tatapannya tertuju pada Vina, lalu ia membandingkannya dengan Naya. Naya jauh lebih memikat dengan kecantikan alaminya, tanpa polesan tebal, tanpa lipstik yang menantang, hanya keanggunan seorang wanita yang bersahaja.
"Rayain, yuk!" ajak Gani semangat. "Foto-foto, terus makan bareng kita!"
"Sorry, gue harus buru-buru pergi," balas Zaki cepat dan singkat.
"Yaaa, kenapa?" protes Vina dengan nada yang dibuat-buat menyesal. "Padahal kan ini momen terakhir kita sebelum sibuk sendiri-sendiri."
"Maaf banget, paling kita bisa foto sebentar," kata Zaki tidak enak hati.
"Ya udah gak apa-apa. Btw, lo ada urusan mendesak ya?" tanya Gani pengertian.
"Iya, pihak perusahaan baru aja nelpon gue," jawab Zaki sambil mengangguk.
"Widiiiih, ngeri emang sohib kita satu ini!" seru Daniel bangga. "Baru mau ninggalin sekolah aja udah ditarik perusahaan besar,"
"Ah, bisa aja lo! mungkin cuma mau bahas soal desain gue aja," elak Zaki merendah.
"Ya udah, cepet kita foto-foto bentar!" ajak Gani yang langsung merangkul erat pundak Zaki, bersiap mengabadikan momen perpisahan di gerbang sekolah. "Mumpung salah satu temen kita belum sibuk sama dunianya!"
Zaki mendesis pelan, namun ia berusaha bersikap biasa saja. Ia pun menarik napas dalam-dalam, mengatur otot wajahnya untuk memasang senyum terbaik saat Daniel mengangkat kameranya tinggi-tinggi.
"Siap? Satu... dua..."
Jepret!
"Gue mau foto berdua sama Zaki juga, dong!" sahut Vina tiba-tiba, suaranya yang melengking memecah suasana.
Zaki tersentak. Sebelum ia sempat memberikan alasan untuk menolak, Vina sudah lebih dulu melangkah maju dan dengan berani mengaitkan tangan ke lengannya.
Zaki kaku seketika, ia bisa mencium aroma parfum menyengat yang bercampur dengan bedak tebal gadis itu. Sementara, Gani dan Daniel hanya bisa saling melirik, menahan tawa melihat kekakuan di wajah sahabat mereka.
"Ayo dong, cepetan!" protes Vina sambil menarik lengan Zaki lebih dekat, tidak memedulikan kegelisahan yang terpancar jelas di wajah pemuda itu.
"O-oke..." Daniel tergagap, menyadari situasi yang mendadak canggung ini. "Siap? Satu... dua..."
Pada hitungan ketiga, Vina bukan hanya berpose, ia justru menyandarkan tubuhnya semakin rapat ke arah Zaki. Keberadaannya membuat Zaki merasa sesak, seolah ruang geraknya dikunci. Ia hanya bisa memberikan senyum yang dipaksakan, kaku dan nyaris tak terlihat alami di depan lensa.
Klik.
"Udaaaah," sahut Clara dingin. Gadis itu sedari tadi hanya diam dengan tangan bersedekap, mengamati interaksi yang baginya sangat tidak perlu. Ia pun melirik Vina dengan sorot mata penuh protes. "Kecentilan banget lo, Vin. Malu-maluin!"
Fara yang berdiri di sebelahnya ikut menyambar, "Tahu! Ulet bulu lo, gatal banget!"
Vina tidak tersinggung. Ia justru mengulum bibir merah menyalanya, terlihat puas. "Yeeee!Syirik aja kalian berdua," protesnya santai. Ia kemudian menatap Zaki dengan pandangan yang dibuat-buat manis. "Lihat, warna kebaya gue sama motif batik Zaki aja serasi. Sehati kan, kita? Mungkin ini yang namanya jodoh."
Glek.
Zaki menelan ludah dengan susah payah. Ia baru benar-benar menyadari. Betul, batik yang ia kenakan memiliki dominasi warna yang senada dengan kebaya Vina. Tanpa ia sadari, kombinasi warna itu memang terlihat sangat serasi di mata orang awam, namun di matanya sendiri, ini terasa seperti jebakan yang memuakkan.
Ia merasa seolah-olah sedang dipaksa masuk ke dalam skenario yang sama sekali tidak ia inginkan. Bayangan Naya yang sederhana dan bersahaja kembali muncul, membuat penampilan Vina yang mencolok ini terasa semakin tidak menarik.
"Ah... sudah, ya," potong Zaki dengan nada dingin, melepaskan lengan Vina dengan gerakan halus namun tegas. "Gue cabut duluan."
Tanpa menunggu komentar atau jawaban lebih lanjut dari teman-temannya, Zaki segera berbalik dan melangkah lebar meninggalkan mereka. Ia tidak peduli jika sikapnya dinilai tidak sopan. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keluar dari sekolah ini, menjauh dari Vina, sebelum satu-satunya orang yang ia inginkan untuk menjadi bagian dari masa depannya itu mengetahui hal tersebut.
"Hati-hati, Bro!" seru Daniel dari kejauhan, suaranya sedikit tertelan oleh riuhnya suara musik kelulusan yang masih mengalun di pelataran aula.
Zaki tidak menoleh lagi. Ia hanya mengangkat satu tangannya ke udara, memberikan isyarat perpisahan singkat tanpa sedikit pun mengurangi langkahnya. Punggungnya yang tegap perlahan mengecil, membiarkan sosoknya terserap masuk ke dalam lautan manusia yang sedang sibuk berswafoto dan berbagi tawa. Bagi Zaki, perpisahan ini bukanlah akhir yang melankolis, melainkan sebuah gerbang yang baru saja terbuka menuju realita yang jauh lebih berbahaya dan ia harus memastikan satu orang yang paling ia cintai tetap aman di sisinya.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri