SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KITA AMBIL
Ia naik ke lantai dua.
Naya menyusul cepat.
Di lantai dua ada tiga kamar. Satu kamar utama. Dua kamar lain yang lebih kecil, tetapi tetap nyaman. Salah satunya menghadap ke jalan cluster, dengan jendela besar dan cahaya yang cukup.
Naya berhenti di depan kamar itu.
Tidak ada perabot lengkap di dalamnya, hanya ranjang kosong, lemari, dan meja belajar sederhana yang mungkin disediakan sebagai bagian dari staging rumah.
Namun mata Naya langsung terpaku pada meja itu.
Arkan melihatnya.
“Kamar belajar,” ucapnya pelan.
Naya menoleh.
“Bang…”
“Kalau kita ambil rumah ini, kamar ini punya kamu.”
Naya tidak langsung bicara.
Ia masuk pelan, menyentuh permukaan meja belajar dengan ujung jari. Gerakannya hati-hati, seolah meja itu bisa hilang jika disentuh terlalu kuat.
“Dulu Naya belajar di ruang tamu sambil dengar motor lewat,” katanya pelan.
Arkan berdiri di pintu.
“Sekarang kamu bisa belajar di kamar sendiri.”
Naya mengangguk, tetapi matanya sudah basah.
Arkan tidak membuat adegan itu terlalu panjang. Ia tahu user hidup ini sudah terlalu banyak drama; bahkan di dalam hidupnya sendiri, ia mulai ingin bergerak lebih cepat.
Ia hanya berkata, “Pilih rak buku yang kamu suka nanti.”
Naya langsung menoleh. “Rak buku juga?”
“Meja belajar saja tidak cukup untuk anak yang mau kuliah di kampus terbaik.”
Naya menggigit bibir, menahan senyum.
Di kepala Arkan, sistem memberi komentar.
[Keputusan baik.]
[Investasi pendidikan emosional: tinggi.]
[Catatan: rak buku jauh lebih bermartabat daripada rak miring yang sedang menunggu pensiun.]
Arkan menatap layar ponsel sebentar, lalu menyimpannya.
Mereka turun kembali.
Bu Sari sudah duduk di sofa ruang tamu, masih melihat sekeliling. Wajahnya tidak lagi sepucat tadi. Ada takut, tentu. Namun ada juga kenyamanan yang mulai masuk diam-diam.
Arkan duduk di depannya.
“Bu, bagaimana?”
Bu Sari mengusap ujung kerudungnya. “Rumahnya bagus.”
“Suka?”
Bu Sari diam sebentar.
Lalu ia mengangguk kecil.
“Suka.”
Satu kata itu cukup.
Tidak perlu debat.
Tidak perlu air mata panjang.
Tidak perlu penolakan berulang.
Arkan langsung menoleh ke Olivia.
“Kita ambil.”
Maya yang berdiri di dekat pintu hampir tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Biasanya calon pembeli akan bertanya panjang, menawar, membandingkan, meminta waktu, membawa keluarga lagi, atau setidaknya berpikir beberapa hari.
Arkan hanya melihat, memastikan ibunya nyaman, melihat Naya punya ruang belajar, lalu memutuskan.
Olivia tidak tampak terkejut.
Ia hanya mengangguk.
“Baik, Pak. Saya proses.”
Maya cepat membuka tabletnya. “Untuk skema pembayaran, apakah Bapak ingin—”
“Tunai,” potong Olivia sebelum Maya selesai bertanya. “Dengan verifikasi legal dan escrow. Dokumen langsung kirim ke saya dan bank.”
Maya menelan ludah kecil.
“Baik, Bu.”
Arkan berdiri.
Ia menatap rumah itu sekali lagi.
Sistem muncul.
[Keputusan pembelian properti transisi dikonfirmasi.]
[Status: keluarga memperoleh tempat tinggal layak.]
[Efek sosial segera: tinggi.]
[Rekomendasi: siapkan strategi pemindahan agar tetangga lama tidak mengadakan konferensi pers informal.]
Arkan hampir tersenyum.
“Olivia,” ucapnya.
Olivia menoleh.
“Kita pindah hari ini?”
Bu Sari dan Naya langsung menatap Arkan.
Maya juga ikut menoleh.
Olivia hanya membuka tabletnya.
“Bisa. Barang penting dulu. Sisanya bertahap. Saya bisa kirim tim pindahan yang tidak mencolok.”
Arkan mengangguk.
“Lakukan.”
Kata itu keluar begitu saja.
Pendek.
Tegas.
Tanpa ragu.
Bu Sari menarik napas, tetapi tidak membantah.
Naya memegang mapnya lebih erat, namun kali ini wajahnya bukan takut. Lebih seperti seseorang yang tahu hidupnya sedang berbelok terlalu cepat, tetapi tidak ingin kembali ke jalan lama.
Arkan menatap mereka berdua.
“Kita tidak meninggalkan rumah lama,” katanya. “Kita cuma berhenti memaksa diri bertahan di tempat yang sudah terlalu sempit untuk kita.”
Bu Sari mengangguk pelan.
“Kalau begitu,” katanya lirih, “ambil beberapa barang penting Ibu nanti.”
“Nanti kita ambil semua yang perlu.”
Olivia memberi instruksi cepat kepada Maya dan seseorang di telepon. Dalam hitungan menit, transaksi mulai berjalan. Dokumen dikirim, bank dihubungi, verifikasi dilakukan, dan tim legal mulai bekerja.
Arkan berdiri di ruang tamu rumah baru itu, menyaksikan semuanya bergerak.
Cepat.
Rapi.
Tanpa drama.
Tanpa menunggu hidup memberi izin.
Ponselnya kembali menyala.
[Properti Transisi Opsi 2: dipilih.]
[Proses akuisisi: berjalan.]
[Langkah berikutnya: pembaruan kendaraan.]
[Catatan: setelah rumah layak, sangat tidak sopan jika Tuan Rumah kembali menjemput kehidupan baru menggunakan motor yang sudah menjerit sejak bab awal.]
Arkan membaca tulisan itu, lalu tertawa kecil.
Olivia menatapnya. “Ada hal lucu, Pak?”
Arkan menggeleng.
“Tidak. Setelah ini kita ke dealer.”
Naya langsung menoleh. “Dealer?”
Arkan memasukkan ponsel ke saku.
“Iya. Motor lama pensiun hari ini.”
Bu Sari terdiam.
Naya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Olivia tersenyum tipis.
Sistem berbicara di kepala Arkan dengan nada paling puas sejak pertama kali muncul.
[Akhirnya.]